Langsung ke konten utama

Iklan Gita dan Caleg Facebook

print screen
Pemilu 2014 masih lama. Kita juga masih hidup di tahun 2013. Tapi, maaf, bau 'amis' politik mulai tercium. Ada yang samar-samar, hanya tercium jika ada 'angin' yang membawanya. Ada pula yang terang benderang, seterang lampu petromak di malam gulita. Tak heran jika semua mata tertuju ke lampu atau sumber bau 'amis' itu. 

Beberapa hari ini ada yang berbeda jika saya membuka halaman Kompasiana. Yaitu wajah pak Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang tiba-tiba ngablag begitu besarnya hingga bikin kaget. Untung saja cuma foto, kalau beneran orangnya pasti sudah pingsan karena terpesona :-D. 

Wajah besar pak menteri pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa detik. Jika tak sabaran menunggu sampai hilang sendiri, jangan ragu untuk tekan tanda skipp di pojok kiri atas gambar.  

Rupanya bukan saya saja yang terganggu dengan iklan besar pak menteri, ada Kompasianer lainnya bahkan membuat sebuah artikel yang meminta agar Gita sebaiknya menulis saja di sana, alias menjadi Kompasianer, seperti yang dilakukan Yusril Ihza Mahendra dan Jusuf Kalla. 

Tapi rupanya, Gita yang tak lain adalah calon presiden konvensi Partai Demokrat untuk pemilu 2014 lebih senang beriklan daripada berinteraksi lewat tulisan dengan para Kompasianer lainnya. Bukan hanya memasang iklan di media yang berskala nasional saja, Gita juga memasang iklan di media lokal. 

Di Aceh, iklan Gita pernah saya lihat nangkring di halaman depan Serambi Indonesia. Waktu itu, di perempatan lampu merah saya sempat mengira itu iklan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia atau BkkbN. Maklum, warna biru laut yang diusung Gita mirip-mirip dengan warna logo BkkbN. 

Jujur saja, jika iklan itu untuk mempromosikan pak Gita sebagai seorang Menteri Perdagangan RI, secara pribadi saya ngga keberatan. Tapi karena iklan ini terkait dengan ambisi Gita untuk pencalonan presiden pada 2014 mendatang, entah mengapa kok saya merasa kurang sreg. Sudah berlebihan. Dan, segalah sesuatu yang berlebihan tentunya tidak begitu baik juga. Di TV, Gita juga beriklan. Tapi saya agak sedikit kebingungan dengan iklan yang semula saya duga sebagai kampanye polisi bersih itu. 

Di sisi lain, sebagai rakyat saya berfikir ada semacam ketidakadilan. Bayangkan, untuk kepentingan pribadi/partainya mereka beriklan sedemikian hebohnya. Tapi untuk kepentingan rakyat rasanya kok ya setengah-setengah. Padahal kan bukan tidak ada uang untuk biaya promosi. Metode ini sebenarnya bukan cuma milik Gita seorang, kandidat lainnya juga begitu, katakanlah Abu Rizal Bakrie, Prabowo, Wiranto, Anies Baswedan dan Surya Paloh. 

Entah mengapa mereka-mereka itu tiba-tiba merasa perlu membentuk imej baru menjelang pemilu. Padahal, jika mereka sudah punya tempat di hati rakyat, tanpa iklan pun rakyat pasti akan memilihnya kok. Sebaliknya walau ngiklan sampai jungkir balik kalau ngga dipilih ya ngga menang juga. 

Lain calon presiden lain lagi calon penghuni gedung dewan, apa itu tingkat RI atau untuk tingkat provinsi. Iklan juga menjadi salah satu manuver mereka untuk memperkenalkan diri ke publik. Namanya juga iklan ya bisa macam-macam medianya, bisa di media mainstream, baliho, spanduk, brosur, atau minimal kartunama. Paling mudah ya memanfaatkan jejaring sosial seperti blog, facebook, atau twitter. 'Cuap-cuap' di jejaring sosial juga gratis, paling-paling cuma perlu modal untuk pulsa/internet. Akun-akun berbau politik pun bertebaran. 

Jika diperhatikan macam-macam model gerilyanya, ada yang membuat status-status bijak, note-note dengan aura positif, posting foto, dan ajakan-ajakan untuk berpolitik secara bersih. Ada yang terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai caleg, ada yang sama sekali tak menyinggung soal itu. Tapi sebenarnya mereka juga sedang mempraktekkan soft selling atau penjualan terselubung secara halus; dengan cara membangun imej positif tadi. 

Yang lucunya, pernah saya melihat sebuah akun yang 'mempertanyakan' keberadaan caleg-caleg di sebuah partai yang tak begitu menonjol di dunia maya. Entah apa maksudnya. Padahal, rajin setor muka di dumay juga ngga menjamin bakal dikenal sama masyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Bikin masyarakat jadi jengah karena sudah overdosis. Hemat saya, menjaga karakter agar tetap 'ekslusif' juga perlu. Jadi ke mana-mana yaa... :-D[]

Komentar

  1. Saya lebih menyoroti iklan di sisi kanan laman facebook, yang memuat postingan berita politik dari situs-situs berita terkemuka. Menurut pendapat saya, sebaiknya bahasa dalam iklan berita tersebut lebih diarahkan kepada pendidikan berpolitik alih-alih pembentukan opini. Di sisi lain, masyarakat mungkin lebih tertarik pada isu-isu politik, lantaran merupakan topik yang selalu "wow" untuk dibahas. Namun semestinya tidak boleh menjadikan masyarakat sendiri lupa akan tanggung jawab ekonomi yang diembannya. (jeut ta peugah haba masalah politik padum jeum bak warung kupi, tapi tetap keureuja untuk masalah ekonomi hanjeut dilupakan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyan lon seupakat ngon bang Azhar!

      Hapus
    2. Azhar, ya itu beda lagi konteksnya :-D dalam hal ini aku cuma ingin nyorot jor-jorannya para caleg atau kandidat calon presiden, di mataku mreka itu selalu setengah2 untuk ngurus rakyat tapi selalu all out untuk kepentingan pribadi... ngga adil

      Hapus
  2. Malah bisa bikin eneg ya kalo ngiklan di mana2 ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut hematku sih begitu mba Mugniar :-D kayak kebanyakan makan gitu, jadinya mual-mual lahhhh

      Hapus
  3. Menjual citra atau memasarkan cibtra tuh kayaknyalebih laku di'beli' dengan cara aksi nyata. Sempat denger ibu2 nyeletuk, ngurusin tempe tahu aja masih krrepotan kok mau maju nyapres.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia mbak Anik, padahal jadi menteri aja udah cukup bagus kok, kan job desknya juga se Indonesia tuhhh tapiiiiii huuuuuu

      Hapus
  4. Benar kak.. Saya juga benci dengan yg promosi di facebook seperti itu. Imej yang ingin mereka bangun malah runtuh dengan sendirinya. Aduh duh... padahal pemilu masih lama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, mari kita listing caleg2 di Aceh yang menabur simpati di fb hahahahahah

      Hapus
  5. bermacam cara ditempuh oleh mereka yang haus akan kekuasaan ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pengennya tampil elegan gitu, ehhh kok malah overdosis

      Hapus
  6. Balasan
    1. betul mba Leyla, banyak jalan menuju Roma bagi mereka, tapi bagi rakyat hanya ada satu jalan hehehe

      Hapus
  7. Kalau mau dekat pemilu masyarakat pun kebanjiran rezeki, dr baju, kalender, uang, seprei semua dibagi-bagi untuk cari muka, begitu menang atau kalah, lupa lah segalanya. tapi sekarang masyarakat udah bijak juga berpikir, mrk ambil apa yang dikasih tapi klo untuk memilih udah tahu mana yg pantas dgn yang ga pantas

    BalasHapus
  8. Kak Lisa; begitulah! Semuanya pada pengen yang instan :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…