Langsung ke konten utama

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet
SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa.

Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m.

Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, nilai-nilai ulangannya selalu buruk. Semua guru di sekolah mengeluhkan perilakunya; tak pernah fokus saat belajar, tak bisa membaca, suka membuat ulah. Dan hukuman merupakan menu sehari-hari yang diterimanya di sekolah. Sang guru dibuatnya kehabisan akal. Bahkan kedua orang tuanya merasa kehabisan cara dalam mendidik putra bungsunya itu.

Tapi, apakah benar Dharsel yang berperan sebagai Ishaan sedemikian buruknya?
Tidak! Nyatanya dia mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Dia pandai menggambar. Inilah yang tidak disadari oleh orang-orang di sekelilingnya. Bahkan sang ayah yang kerap menyebutnya sebagai "idiot" akhirnya memasukkannya ke sekolah asrama sebagai bentuk hukuman. Keputusan ini diambil karena pihak sekolah berencana mengeluarkan Ishaan di akhir tahun nanti.

Di sinilah konflik batin yang mengaduk-ngaduk emosi penonton mulai terasa. Sejak masuk asrama perilaku Ishaan berubah 180 derajat. Ishaan yang semua ceria berubah drastis menjadi pendiam dan penakut. Suka menyendiri. Bahkan untuk menatap dan berbicara dengan orang-orang saja dia tak berani. Ia seperti punya dunia sendiri yang diliputi dengan seluruh rasa takut. Di matanya tak ada sedikitpun cahaya optimisme. Guru-guru di sekolah membuat kondisinya semakin parah. Parahnya Ishaan juga telah berhenti melukis! Imajinasinya mati.

Praktek Tertib, Disiplin dan Bersaing yang menjadi motto sekolah ternyata tidak berpengaruh positif pada Ishaan. Yang mereka tahu setiap peserta didik harus memperoleh nilai bagus untuk semua pelajaran; Bahasa, Sains, dan Matematika.

Dalam kondisi terburuk itu Amiir Khan (Nikumbh) hadir untuk menyelematkan Ishaan sebagai guru pengganti bidang Seni di sekolahnya. Ia mencoba hadir dalam kehidupan Ishaan secara lebih manusiawi. Ia menghadirkan fakta bahwa banyak orang-orang hebat yang mulanya mengalami kesulitan yang sama seperti Ishaan. Ada Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison, Abisheek Bachchan, bahkan dirinya sendiri. 

Nikumbh juga memeriksa semua buku catatan Ishaan. Ia mengajarinya menulis, membaca, dan berhitung dengan cara yang realistis. Misalnya dengan naik turun tangga untuk pelajaran berhitung. Ia juga menemui orang tua Ishaan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada anak mereka. 

Taare Zameen Par merupakan film lama. Film ini dirilis 21 Desember 2007 silam. Artis cilik itu pun kini sudah beranjak remaja. Tapi tema pendidikan yang diangkat dalam film ini membuatnya selalu relevan dalam kondisi terkini. Tak pernah basi. Bahkan durasi yang hampir tiga jam itu tak membuat bosan.

Saya menyarankan para orang tua dan tenaga pendidik untuk menonton film ini. Lewat film ini para orang tua seolah diingatkan untuk lebih peduli pada anak-anak mereka. Tidak menuntut anak dengan angka-angka, karena masing-masing anak punya tingkat inteligensia berbeda. Tidak otoriter. Tidak membanding-bandingkan. Tidak melabelinya dengan sebutan bodoh, dungu atau idiot. Ah, sangat tak mungkin semua anak di kelas menjadi jurasa satu bukan?

Bagian termanis dalam film ini menurut saya ada di bagian akhir, di mana seluruh murid dan guru mengikuti lomba melukis bersama. Alangkah konyolnya saat seorang guru lukis hanya bisa menggambar gunung dan matahari, sementara semua murid dituntut untuk memiliki nilai memuaskan di setiap mata pelajaran. Film ini mengajarkan kita tentang nilai-nilai berempati.

Akting Aamir Khan dan Darshel di film ini sangat mengesankan. Khususnya Darshel, dengan wajahnya yang polos dan jenaka membuat kita terpingkal-pingkal dengan ulah konyolnya. Ia mampu membuat kita terharu, tersentuh, bahkan menangis saat melihatnya menangis diam-diam, berulang kali menitikkan air mata saat dihukum oleh guru, atau karena terharu atas perlakuan Nikumbh padanya. Darshel, dengan akting yang kadang-kadang tampak bodoh itu sungguh, mengingatkan kita orang dewasa agar "jeli" dalam menilai anak-anak.[]


Komentar

  1. Aku nonton ini sekitar setaun yg lalu kak. Bagus banget memang filmnya apalagi buat guru, orang tua, dan calom orang tua
    Tapi aku sempet agak2 bosen sih diawal filmnya karna lambat jalan ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-) kalau Ihan sejak awal sampai akhir sangat suka dengan film ini, suka dengan akting si Ishaan yang sangat natural heheh

      Hapus
  2. Jadi mutar balik memori waktu terharu (gak nangis, cuma netes airmata aja dikit) karena nontonnya sendirian.. judulnya gak ingat, tapi jadi terbayang lagi waktu baca tulisan ini.. Keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. film-film seperti ini harusnya bisa jadi rujukan bagi guru-guru yaaa, minimal buat acara nonton bersama. karena ngga bisa dipungkiri banyak di antara kita yang menjadi korban salah asuhan para pendidik

      Hapus
  3. Aku belum nonton film ini. kapan-kapan pinjamlah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh eky, ada filenya ma aku

      Hapus
    2. Jiah, kak eky belum nonton?? apa kata india?? :D

      Hapus
  4. wah, kata mbak Isyana untuk calon orang tua cocok nih,
    hehe,
    kalo saya udah cocok belum ya?

    BalasHapus
  5. film yang asli bikin saya nangis... huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pesan moralnya tinggi banget mba Binta, lihat akting si Ishaan bikin aku teringat sama anak-anak yang sering disebut idiot, polos, aduhhh menusuk-nusuk kalbu

      Hapus
  6. Film ini memang keren sangat kak :D

    BalasHapus
  7. Wah, Indiaa... Acha, achaa :-)

    #romantis nih ye :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…