Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Menangislah, Di sini

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari air mata yang tumpah. Kau lihat air terjun itu? Jatuhnya seperti air matamu, dan tebingnya adalah kelopak mata. Tempat air berkumpul. Bukankah menyenangkan bagi orang-orang yang merasakan sejuknya? Membuat damai telinga yang mendengar gemericiknya. Menenangkan bagi yang menikmati tetesnya. Kabutnya melenakan pandangan. Juga jiwa.Jangan khwatir, sebab hidup diawali dengan air mata dan diakhiri dengan air mata pula. Kau ingat cerita bayi yang baru lahir dan seorang tua yang melepaskan nafas terakhirnya? Semuanya mengundang tangis. Melelehkan air mata. Seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Tapi, kehidupan tak pernah berhenti sampai di situ.Air mata bukanlah simbol kelemahan. Bukan pula pertanda atas ketidak berartian. Apalagi perlambang kesialan seperti yang banyak diartikan orang-orang. Mereka-mereka itu tidak pandai bersyukur. Sedang kau, aku tahu kau bukan seperti mereka. Menangislah, sebab air matamu adalah terjun yang damaikan semua orang.…

Bangkai

BangkaiOleh : Ihan SunriseEntah sejak kapan aku mulai tak lagi merasakan kenyamanan di rumah ini. Mungkin sejak aroma-aroma aneh itu muncul di rumah kami. Aku tak ingat kapan persisnya. Tapi seingatku, sejak setahun lalu pohon Seulanga yang kutanam di depan rumah kami tak lagi mengeluarkan bau harum. Biasanya wanginya yang khas pelan-pelan akan masuk ke kamar tidur kami. Melalui jendela kecil yang sering kami biarkan terbuka.Lalu melati-melati kecil yang kutanam di halaman belakang, entah sejak kapan pula tak lagi mau berbunga. Padahal dulu bunganya tak pernah putus. Bila angin berhembus maka wanginya yang menenangkan akan masuk ke dalam rumah kami. Memberikan ketenangan dan kedamaian bagi seisi rumah. Terutama aku, karena akulah yang paling sering menghabiskan waktu di rumah. Aku bahkan tak memerlukan pengharum ruangan untuk membuat rumah kami menjadi wangi.Seiring dengan itu sering hadir bau-bau aneh yang kadang begitu menyengat. Mengaduk-ngaduk perut hingga membuatku hampir muntah.…

Mengulang Malam

Masih ingat sepotong lagu yang pernah kau dengar? Yang kemudian membuat kita saling mencintai? Yang kemudian kusenandungkan di telingamu. Di tengah malam setelah bangunku dari tidur. Di tengah kesepian. Di temani kesyahduan. Yang memerindingkan bulu roma. Menggetarkan telinga kita. Menyipukanku dalam malu karena sebelumnya tak pernah kulakukan itu. Dan aku menyelesaikannya untukmu. Lagu itu begitu sempurna.

Masih ingat percakapan-percakapan selanjutnya setelah itu? Setelah kita saling mencintai. Setelah kita saling merindui. Setelah kita mengucapkan janji. Bukan untuk sehidup semati. Bukan untuk saling menelikung. Bukan untuk saling memiliki atau apapun. Tapi perjanjian untuk saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling merindui. Perjanjian untuk saling mengingat, ketika kita dilingkupi kejauhan, ketika kedekatan membekap kita. Melintasi ruang dan waktu.

Masih ingat kan?

Pengulangan itu terjadi, ditemani rintik hujan, ditemani senyap yang syahdu, di…