Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Dear, Zenja...

Kupanggil kau Zenja... Yang datang kala malam mulai menjelang Mengirimkan burung-burung camar yang hendak pulang ke sarang Mengirimkan angin semilir yang menusuk sanubari paling pribadi Mengirimkan sengau waktu yang diseret mentari Oh, Kau Zenja paling kudamba Yang meluruhkan seluruh daun-daun Yang menjinakkan seluruh keliaran Yang membuat takluk debu-debu beterbangan Yang membuat hati berdegup riuh Zenja, Kau yang hadir saban waktu bergulir Dan aku yang pulang saban waktu bergilir Kita berpisah saat ujung bibirku bertemu dengan ujung matamu Kau datang dengan mata terkatup Aku pergi dengan bibir menganga Zenja, Kau tak pernah melihat apa yang seharusnya kau lihat Sedang aku tak pernah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan Kita menatap dalam diam Saling bicara dalam isyarat Takdir membuat kita patuh pada semuanya Zenja, Ya, kau Zenja paling kudamba Karena setelahmu purnama hadir di penanggalan ke-15  Purnama yang binarnya terpancar di matamu Karena s

Kau Tahu, Cinta!

Kau tahu, Cinta Pagi tanpa menyapamu seperti pagi tanpa kicau burung, hening dan sepi. Membuat dunia seolah terasa begitu menjemukan. Kau selalu kurindukan, seperti pucuk-pucuk daun yang berharap embun selalu datang di pangkal pagi. Dan dengannya cinta semakin tumbuh dan hijau. Dengan cinta itu aku mengukur nafasku dan menghitung denyut nadiku. Karena di setiap detakan jantung aku merasakan kehadiranmu. Dan kau tahu, Sayang Apa pun denganmu entah itu bercanda, atau kita bertengkar sekalipun, selalu membuatku bahagia. Karena setelah itu selalu ada cinta yang meletup-letup, seperti percik bara api yang menghiasi malam yang pekat. Seperti kunang-kunang yang berkerlipan di ranting pohon di malam hari. Dengannya hatiku menjadi serupa bunga yang mekar. Kau dengan segala kelebihan dan kekuranganmu selalu bisa memekarkan hatiku yang sedang kuncup. Cinta, Aku bahagia menjadi bagian hidupmu Kurasa aku telah kehabisan kalimat untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu

Cinta Tak Pernah Sudah

Cinta tak pernah sudah. Sekalipun kita tidak bisa bernegosiasi dengan waktu. Cinta dalam definisiku bukan berarti pertemuan dua mahluk untuk kemudian menyulam banyak puisi. Bukan pula kontak fisik yang dengannya kita bisa mendendangkan semua harmoni. Bagiku cinta adalah cinta itu sendiri. Yang tidak perlu kuterjemahkan apalagi mereka reka mengenai maknanya. Cinta adalah angin yang bisa kurasakan hadirnya. Yang ada dan nyata meski wujudnya tak pernah berbentuk. Buatku cinta tak pernah sudah. Meski kita harus mencari definisi baru untuk mengartikan ketidakbersamaan. Kebersamaan hanya akan melahirkan pengharapan dan pertanyaan. Sedang aku ditakdirkan bukan untuk bertanya apalagi berharap. Aku takkan pernah bertanya pada merak yang bersayap indah. Meski padanya sering kuceritakan tentang mimpi mimpiku. Padanya sering kukatakan tentang segala hasrat. Aku takkan pernah bertanya apalagi berharap. Sekalipun waktu akan meluruhkan sehelai sayapnya yang selama ini membuatnya enggan berpa