Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

ketika jiwa kita bercinta part 7 (tamat)

lelaki kekasihku, tidur, tidurlah lelakiku, nyenyaklah walau tanpa pesan cinta dan sapa rindu.

kita telah kembali pada peraturan awal, juga untuk kali ini aku hanya bisa menarik segaris senyum datar.

rasa yang kita miliki mempunyai banyak aturan yang padat. cinta selalu menemui bentur yang tak lunak.

maka hanya kuingat kau sebagai lelaki baik yang menyapaku sebagai bidadari surga.

di dadamu aku ingin luruh, seperti melati yang jatuh di pangku sepasang pengantin.

di matamu aku ingin melesak, dan juga tenggelam, bagai jangkar yang mencengkeran buritan.

di nafasmu aku ingin hanyut, bermuara ke parumu, dan menetap di jantungmu.

lelaki kekasihku, lelaplah dalam mimpi yang telah kukirim bersama senyap.

ada sekerat hasrat yang tak sempat terselesaikan, dan masih tersekat di pangkal lidah, menunggumu untuk melepas rantainya.

cinta, aku adalah aku di mana engkau adalah engkau di hatiku, namamu telah menjadi jelaga, suaramu telah beku, senyummu telah menggumpal.

semuanya bersemayam…

Ketika Jiwa Kita Bercinta (6)

“Apa ini?” tanyamu saat aku menyerahkan sebuah paperbag untukmu.

“Kau akan melihatnya sendiri nanti.” Jawabku dengan sepotong senyum datar, dengan air mata yang hampir terjatuh, tapi aku tidak boleh menangis. Sebab kau tak pernah ajarkan aku untuk menyerah, juga pada keadaan.

“Terimakasih banyak.” Katamu lagi. Aku mengangguk. Tak sanggup mengeluarkan walau sepotong katapun untukmu. Hanya tarikan nafas panjang yang kusodorkan untukmu satu persatu.

“Paling tidak ketika kita tidak bisa bersama lagi, ada sesuatu dariku yang bisa kau kenang.” Kataku kemudian. Kau tidak menjawab, mencoba untuk tersenyum tetapi terasa getir. Memang, di antara kita tidak ada yang menegaskan, tetapi kita sama-sama tahu inilang penghujung dari semua prosesi, jalan panjang itu telah menemui perhentiannya.

Ini adalah saat di mana aku harus menjadi penulis yang baik, agar tidak ada sesuatupun yang terlewatkan dari engkau, aku menulisi engkau dengan pandangan mata yang tak pernah beranjak dari dirimu…

Ketika Jiwa Kita Bercinta (5)

tak ada yang berubah dari bau kekasihku, tak ada yang berkurang dari senyum manisnya, semua masih sama saat kami terakhir bertemu, saat ia menghembuskan asap rokoknya, saat ia memegang handphonenya, saat ia menyentuhku.

tak ada yang berbeda dari keadaan yang tercipta ketika kami bersama, saat ia melirikku, saat aku menyentuh jemarinya.

semua masih sama, pada permintaannya, pada keinginanku, untuk tak ingin segera menyudahi.

semua masih sama, kecuali takdir yang kami tidak tahu kapan berpihak pada kami.

untukmu lelakiku, seluruh cinta adalah untukmu, dari tiada menjadi ada, maka kita akan kembali dari ada menjadi tiada.
10 oct 2011
midnight

Ketika Jiwa Kita Bercinta (4)

bahkan aku telah sakit saat aku masih bersamamu, aku sakit setiap kali engkau menanyakan pertanyaan yang sama; kapan aku bisa melihat wujud cinta kita, han?

aku sakit setiap kali harus menjawab dengan jawaban yang sama; bersabarlah cinta, aku sedang membetulkan letak wujud cinta kita yang sungsang.

aku sakit, karena ketika cinta kita menemui wujudnya maka kitalah yang tidak dapat menyaksikannya bersamaan.

aku sakit karena harus kembali belajar berhitung, menghitung mundur kebersamaan kita dan itu hanya tinggal sepenggal nafas.

cinta, pergilah, sejauh-jauhnya, karena aku akan menyusulmu dengan pasir di tanganku.

terbanglah, setinggi-tingginya, karena aku akan mengejarmu dengan tangga kata yang mampu menembusi sekat-sekat langit.

pergi, pergilah cinta, bukankah engkau telah menjelma sebagai waktu yang akan mengawalku hingga kelak?

pergi, pergilah cinta, bukankah engkau telah yakin bahwa aku mencintaimu, dan aku telah yakin bahwa engkau mencintaiku.

pergi, pergilah cinta, untuk takd…

Ketika Jiwa Kita Bercinta part 3

Tuhan tahu kita telah berjuang, sebab ia pertemukan kita bersamaan dengan bulan yang bulat penuh, agar kita  mudah mengingatnya.


Sepanjang malam ini aku ingin menulis untuknmu, menceritakan kekonyolan kita ketika saling mengejek, mentertawakan diri kita yang mesti menelikung keadaan, betapa semua rasa telah begitu lengkap denganmu.


Bila tak ada engkau, dengan siapa lagi aku berani kurang ajar, bila tak ada engkau siapa lagi yang aku rajuki, bila tak ada engkau, maka aku tidak bisa menulis lagi.


Purnama tepat di atas kepalaku, seperti aku yang luruh tepat di jantungmu, sehingga detaknya dapat kurasakana merayapi adrenalinku.


Cinta, bila tak ada engkau aku akan terus tersenyum, kujadikan sebagai kamuflase untuk perasaan kita yang terkorbankan.


Kekakasih, bila tak ada engkau aku akan terus berjalan, untuk menyusuri lekuk tubuhmu dalam imajinasiku.


Lelakiku, bila tak ada engkau aku akan terus berbuat, karena dari balik bukit sana engkau akan terus memandangku; sebagai perempuan yang m…

Ketika Jiwa Kita Bercinta Part 2

Jika engkau matahari, maka engkau akan tenggelam sesuai takdirmu, dan aku hanya penikmat yang hidup dengan hangatmu.

Rasanya baru kemarin pagi tuhan kirimkan engkau, baru kemarin aku berpuas-puas menikmati peluh yang disebabkan olehmu, baru kemarin aku menyadari kulitku telah terbakar oleh sinarmu.

Senja terlalu cepat datang, padahal kita masih ingin bercinta, masih ingin menikmati kopi kental dan rokok di antara riuh mereka yang tak mengetahui kisah kita.

Aku belum lagi lelah memanggilmu cinta, aku belum lagi bosan memintamu menciumku, aku belum lagi puas memahatmu dengan imajinasiku.

Tak ada tawa setelah pertemuan kali ini, sebab kita harus tunduk pada penulis skenario hidup. Juga untuk tanya yang kujawab dengan isyarat mataku; bahwa engkaulah kekasih lahir dan batinku.

Lelakiku, maafkan aku yang tidak dapat mempersembahkan cintaku padamu sesuai waktumu, maafkan aku yang tidak berniat untuk memperlambat semuanya.

Kelak, akan kukatakan pada dunia bahwa aku mengumpulkan semua catatan ini un…

Ketika Jiwa Kita Bercinta Part 1

Bau tubuhmu Cinta, masih sama saat terakhir kita bertemu, masih seharum rindu yang tak pernah aus.Binar wajahmu lelakiku, masih seterang bulan yang sedang purnama di langit Tuhan.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun kuinginkan, kita bisa menikmati separuh malam di bawah tempias purnama.
Memang, bukan di atas pasir laut yang melengketi tubuh kita, bukan pula di atas padang rumput yang menjadi alas tempat duduk kita.
Meski tak banyak kata, aku sudah cukup kenyang dengan melahap wajahmu dalam hening.
Betapa rindu selalu punya jalan untuk menyelesaikan urusannya, seperti kopi pahit yang rindu pada bau kental asap rokok kita. 


Gadis Bernama Seulawah(*)

Ini DOM jilid dua bagi engkau Tubuhmu terbungkus fajar yang pengap oleh asap Termegap-megap dalam lidah api yang menjilat-jilat Serupa lidah ular yang mengeluarkan desis nestapa Engkau pasrah dalam ketidak berdayaan
Satu persatu tungkaimu lunglai Nyaris terkapar dalam jiwa yang telah tercabik hormat Kau meleguh, melolong dalam gulita Meronta-ronta merenungi nasib
Tetapi tidak seorangpun peduli pada air matamu Jeritmu kalah oleh titik-titik api yang jalang Paraumu tersendat-sendat di antara kemarau
Dan, kau simpuh pada lara yang panjang
Banda Aceh, 11 Agustus 2011


(*) puisi ini telah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad

Tergores Ilalang

Ilalang tau, aku terluka dengan bekas goresan pinggir daunnya, tetapi ilalang juga tau aku terpesona pada liuknya ketika ia bersebadan dengan angin.

Luka-luka kecil ini tak membuatku terlalu sakit, tapi kemudian membuatku menangis sambil berjalan. Karena dia adalah akumulasi.

Aku telah mabuk pada cara alam membuatku terlena, melalui tarian ilalang ia membuatku lupa diri dan mabuk.

Mabuk yang sebentar, tetapi kita sempat bercinta, lalu bunga-bungamu yang tawar terbang bagai anai-anai.

Pada saat aku terjaga, hanya tinggal bekas lagumu di hatiku, biru dan beku.

Wahai, engkau ilalang yang selalu terlihat gemulai, biru dan bekumu telah sematkan rindu yang riuh.

Wahai, ilalang yang selalu melintas bersama angin, aku jatuh cinta dengan sebenar cinta kepadamu.



Permata Punie
Midnight, 2 oct 11

Sajak HUjan

Pada hujan yang turun telah banyak menginspirasi kisah, pada selepasnya kita pernah terburu-buru menyelesaikan sesuatu, memang selalu begitu, sebab sebagian dari kita adalah milik takdir.

hujan adalah ritmik alam yang mistis, sejuknya mengembun hingga ke jiwa, basahnya pernah hampir kuyupkan sketsa wajahmu, padahal sorenya baru saja kuambil dari seorang teman senimanku yang pandai menggambar.

hujan selalu genangi hatiku, membuat rindu mengapung-ngapung, hampiq termegap-megap ia menahan sesak.


permata punie
30 sept 11
00:03 am