Rabu, 31 Oktober 2007

Mendobrak Sistem Patriarki

Mendobrak Sistem Patriarki

Pernahkah anda berfikir bila suatu saat nanti setelah anda menikah, anda maupun pasangan anda menjadi yang lebih dominan dalam rumah tangga? Di Aceh khususnya yang menganut sistem patriarki pengaruh laki-laki (suami) memang lebih mendominasi dalam keluarga. Laki-laki (suami) menjadi tokoh sentral yang mengatur semua keperluan keluarganya, mulai dari mengambil keputusan, menentukan kebijakan keluarga hingga mengatur uang belanja. Sepintas istri terlihat hanya sebagai pelengkap saja, yah, pelengkap sekaligus penderita karena fungsinya tidak maksimal selain hanya mengurus dan berkutat di sektor domestik saja. Jarang diberi kesempatan bergaul dan berkomunikasi dengan dunia luar, bahkan banyak para istri memilih meninggalkan pekerjaannya ketika sudah menikah dengan alasan ingin berbakti kepada keluarga.

Istri, baby sitter atau khadimat?

Realita diatas membuat saya sedikit lebih hati-hati sekaligus mencermati, benarkah tidak bisa optimal mengurus keluarga bila seorang istri bekerja? Maklum saya belum menikah dan masih harus belajar lebih banyak lagi tentang persoalan diatas. Saya banyak melihat, mempelajari dan membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Banyak berdiskusi dengan teman laki-laki baik yang sudah menikah maupun yang belum. Apakah mereka menginginkan istrinya bekerja setelah menikah, atau menginginkan mereka dirumah saja. Menunggunya pulang bekerja, menyiapkan kopi secara rutin setiap pagi, memasak makanan kesuakaan suami, menyiapkan pakaiannya, begitulah setiap hari hidupnya dilakoni. Untuk contoh seperti ini pada seorang teman saya pernah berceletuk ”Mau mencari istri atau mencari pembantu?” kedengarannya memang agak sedikit berlebihan dan kurang sopan, tapi bila kita mau berterus terang rasanya memang demikian. Lihatlah rutinitas yang dilakukan oleh para istri dari pagi hingga pagi berikutnya, dimulai dari sholat subuh, kemudian menyiapkan sarapan pagi, membangunkan anak-anak dan suami, menemani mereka makan, mengantarkannya ke sekolah, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, belum lagi tuntutan-tuntutan lainnya yang tidak bisa dielak seperti melayani suami.

Bila kita memaparkan uraian diatas lebih detil maka akan banyak timbul komentar beragam seperti ”suami kan sudah capek cari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga” atau ”itu kan memang sudah tugas istri dan sudah kodratnya sebagai perempuan”. Oow...lagi-lagi menjelaskan sesuatu dengan penjelasan dan pemahaman yang salah.

Apa itu kodrat?

Sering sekali kata kodrat didengungkan dimana-mana, bukan hanya oleh laki-laki tapi juga oleh perempuan itu sendiri. Ada yang mengungkapnya denga cara yang benar sesuai konteks ada pula yang melenceng dari arti yang sebenarnya. Ibu Yuni, aktivis perempuan dari Jakarta dalam sebuah pelatihan menjelaskan bahwa kodrat adalah ketentuan yang dibawa sejak lahir sebagai pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa dan tidak bisa diubah oleh manusia. Lebih rinci ia mencontohkan kodrat seperti vagina, payudara, rahim, menyusui dan siklus menstruasi yang dialami oleh perempuan. Sedangkan kodrat terlahir sebagai laki-laki adalah mempunyai sperma, jakun dan penis.

Dari penjelasan diatas mengertilah kita sekarang bahwa kelembutan maupun keperkasaan bukanlah kodrat sebagaimana yang sering diartikan selama ini. Tetapi itu lebih daripada impact yang ditimbulkan dari lingkungan tempat seseorang itu hidup dan tinggal. Sama halnya seperti pekerjaan rumah tangga dan suami mencari nafkah tadi, masyarakat meyakini bahwa semua itu adalah kodrat padahal semua itu hanyalah kebiasan yang terjadi turun-temurun dan adat yang berkembang dalam satu komunitas.

Dalam konteks lainnya banyak sekali tokoh yang menjadikan nilai-nilai religiusitas sebagai upaya pembenaran, dalam penentuan sikap yang lebih ekstreem dapat dikatakan mendekati doktrin. Bahwasanya tugas perempuan hanyalah melingkupi wilayah domestik saja (ranjang, kasur, dapur), mengabdi sepenuh hati kepada keluarga (bahkan mengabaikan hak-hak pribadinya), pokoknya mengerjakan tugas rumah sebaik-baiknya. Ini tentu saja tidak akan berdampak apa-apa bila kedua belah pihak saling memahami dan mengerti dan menerima semua keputusan rumah tangganya dengan lapang hati. Ini adalah pembagian tugas yang adil, masing-masing pihak mampu menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing. (bersambung...)

Selasa, 30 Oktober 2007

Sulitnya Sportif Pada Diri Sendiri

Sulitnya Sportif Pada Diri Sendiri

Tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi seseorang, bukan pula bermaksud untuk menjelek-jelekkan siapapun. Tidak sama sekali karena itu nama orang yang dimaksud sengaja tidak ditampilkan disini demi kenyamanan semua pihak.

Siapapun percaya bahwa terlahir sebagai manusia maka berarti tak luput dari setiap kesalahan, sekecil apapun itu. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah apakah kesalahan tersebut mempengaruhi hubungan sosial kita dengan orang lain atau tidak, apakah dengan kesalahan itu semuanya akan baik-baik saja atau bahkan semakin baik (ini termasuk kategori kesalahan yang diinginakan), atau dengan adanya kesalahan tersebut berdampak negatif terhadap jalinan persahabatan kita dengan orang lain (ini jenis kesalahan yang sangat tidak diharapkan kehadirannya).

Cerita ini diawali oleh pertemuan saya dengan seseorang yang bekerja di media secara kebetulan pada awal tahun lalu. Dari sana komunikasi terus berlanjut dan interaksi positif terbangun karena ia meminta saya membantunya disebuah organisasi sosial. Setelah memikirkannya dengan matang akhirnya saya menerima tawaran itu dan mengundurkan diri ditempat kerja yang sebelumnya. Tadinya saya berfikir bahwa lembaga tersebut sudah berjalan normal, tapi ternyata tidak, dan saya tidak menyesal dengan keputusan ini walaupun harus men-setting lagi semuanya dari awal. Lembaga ini masih sangat merah dan benar-benar harus ditata ulang mulai dari struktur organisasi, visi, misi dan program kerja. Saya senang melakukan itu semua karena memang menaruh minat yang besar dilembaga sosial. Dan kesenangan itu bertambah karena saya mendapat partner kerja yang visioner dan pintar.

Kembali ke si wartawan yang tadi mengajak saya bergabung dilembaga tersebut -dia hanya pendiri disana- dia mengajak saya menjadi salah satu kontributor di surat kabar tempatnya bekerja saat itu. Ini merupakan tawaran yang menantang pikir saya saat itu, dengan menerima tawaran ini berarti hobby menulis saya bisa tersalurkan dengan rutin dan dipastikan saya tidak akan melakukan hal-hal lain yang menyimpang diluar itu. Tanpa berfikir dua kali saya langsung mengatakan iya dengan catatan saya tetap memprioritaskan lembaga sosial yang sudah duluan saya kelola.

Hari-hari menyenangkan pun saya lakoni tanpa beban apa-apa, hingga akhirnya dengan beberapa teman yang lain kami memutuskan untuk mempunyai wadah sendiri untuk menyalurkan hobby tersebut secara formal. Maka tak lama setelah itu dibentuklah sebuah media dwi mingguan. Tapi siapa nyana bila disinilah awa ketidak-enakan itu. Hanya persoalan sepele, menyangkut dengan idealisme dan kode etik jurnalistik itu sendiri menurut saya. Sebagai orang yang sudah mengikuti beberapa kali pelatihan dasar dibidang jurnalistik dan banyak belajar dari para senior tentunya saya tahu betul tentang kode etik seorang jurnalis. Apa saja yang boleh dilakukan, bagaimana seharusnya seorang jurnalis memperlakukan narasumber, termasuk soal hal yang remeh temeh seperti apakah seorang jurnalis boleh menerima amplop atau tidak. Disinilah muncul keruncingan masalahnya, saat saya menawarkan dimedia tersebut dicamtumkan sebagaimana yang ada dimedia lain; tidak boleh menerima apapun dalam bentuk apapun bla...bla..bla...

Saya tidak menyangka dengan jawaban yang ia lontarkan, dengan gigi gemeretak, wajah tuanya terlihat sangat marah menahan emosi ia mengatakan begini: Mau dikasih makan apa wartawan kita kalau tidak boleh menerima amplop dari nara sumber!

Dengan suara bergetar namun berusaha untuk tenang saya menjawab: kalau mau dapat duit ya usahakan produk yang kita keluarkan berkualitas, supaya masyarakat mencari dan membeli, lalu dimana letak idealisme kita kalau cari makan dari amplop.

Setelah itu dia pergi dan saya kembali menekuni pekerjaan, saya berfikir bahwa obrolan hari itu sampai disitu saja tapi ternyata tidak. Siapa sangka kalau dia menyimpan dendam untuk saya, walaupun tidak diutarakannya secara verbal. Edisi perdana tetap terbit begitu juga dengan yang kedua, semakin lama semakin kentara bahwa diantara kami ada perbedaan visi dan misi, punya idealisme yang berbeda. Dan akhirnya pada sebuah forum ia menyatakan bahwa saya sudah mengundurkan diri secara resmi padahal saya tidak pernah melakukan itu. Pernyataannya tidak membuat saya kecewa, saya hanya berfikir bahwa tidak ada untungnya menjalin kerjasama dengan orang egois dan kolot seperti itu (maaf, agak kasar sedikit).

Kejadian baru-baru ini membuat kaget teman saya sendiri-bukan saya- dalam sebuah proposal jurnalistik saya menyindirnya secara halus, dan beruntungnya dia membaca proposal tersebut dan langsung berkomentar ”Proposal ini tidak akan diterimaa!” padahal beberapa waktu sebelumnya teman saya sudah beraudiensi dan proposal jurnalistik tersebut diteriman. Ah, saya jadi geli begitu juga teman saya sampai-sampai dia mengatakan ”ternyata dia sangat tidak suka ya dengan dikau....”

Tidak ada konklusi yang berarti dari tulisan ini selain...betapa sulitnya bersikap sportif terhadap diri sendiri. (ihan)

UNESCO adakan training ICT di Banda Aceh

Belasan penulis dan jurnalis yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi di Banda Aceh mengikuti kegiatan training Information, Communication and Technology (ICT) di ruangan Multimedia Learning Center (MLC) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 29-31/10. kegiatan ini diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan Nurul Fikri, lembaga yang memfokuskan diri pada pengembangan pendidikan khususnya dibidang informasi teknologi.

Bapak Rusmanto, perwakilan UNESCO dari Jakarta dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan memperdalam wawasan mengenai perkembangan ilmu komunikasi, informasi dan teknologi. khususnya bagi para jurnalis dan penulis. "Perkembangan kemajuan informasi komunikasi sangat membantu tugas-tugas para jurnalis dan penulis karena secara langsung dapat menyampaikan ide-idenya melalui media internet." katanya dalam sambutan pada hari pertama, 29/10.

hal senada juga diungkapkan oleh Alfi Rahman, ketua panitia dari Nurul Fikri cabang Banda Aceh, ia mengatakan bahwa melalui kegiatan ini para jurnalis dan penulis dapat mempublikasikan sendiri tulisan-tulisannya melalui kemajuan teknologi informasi. sehingga proses penyampaian informasi kepada publik menjadi cepat.

ia juga mengharapkan para peserta nantinya dapat mentransformasikan lagi ilmu yang sudah mereka peroleh karena para peserta telah dibekali materi Training of Trainer (TOT). selain itu juga ada materi dasar tentang pengenalan internet seperti tata cara membuat e-mail, mengelola mailinglist, dan membuat website/blog hingga html.

para peserta mengaku sangat senang mengikuti pelatihan ini meskipun sebagian besar diantaranya sudah memahami dan sudah dapat mengaplikasikan materi yang disampaikan. Nelly, salah satu peserta pelatihan mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat baginya, selain memperdalam pengetahuannya mengenai seluk beluk internet "sekarang saya juga sudah dapat membuat web log sendiri." katanya senang.



Ciuman yang melekat dikerudung ku*

Ciuman yang melekat dikerudung ku*

Pukul 08:15 pm aku telah sampai dirumah, agak lebih cepat dibandingkan malam sebelumnya, sampai dirumah menjelang pukul sebelas malam. Beruntung karena aku kost dan induk semangnya tinggal terpisah dengan kami, lebih beruntung lagi karena aku keluar untuk keperluan yang berarti. Menjumpai seorang teman yang siang tadi baru tiba dari luar kota. Karenanya aku tidak perlu merasa bersalah dan merasa tidak enak pada tetangga karena pulang agak telat. Aku selalu berusaha mempertahankan cara ku yang satu ini, mengenyahkan semua rasa jengah dan takut ku bila yang ku lakukan menurut ku benar.

Ku geletakkan ransel yang seharian menggantung dipundakku dilantai didekat pintu kamar, ku lepas kerudungku, menciumnya sejenak lalu meletakkannya diatas box buku. Lalu tanpa mengganti pakaian langsung merebahkan diri di ranjang. Tubuh ku terasa sangat lemas, perutku rupanya tidak main-main, sudah dua hari terakhir ini terasa seperti diaduk-aduk dan berkali-kali merasa seperti hendak muntah. Suhu tubuh ku mulai naik lagi tapi juga terasa dingin menusuk tulang. Kepala terasa pusing dan berat. Rasanya jarang sekali aku merasa tidak bertenaga seperti sekarang ini.

Sembari tidur ku baca majalah setebal 56 halaman terbitan lokal yang diberikan oleh pemimpin umum majalah tersebut sore tadi. Liputan utamanya menarik perhatian ku namun sangat ku sesali karena tak bisa ku selesaikan membacanya sampai habis. Biji mata ini seperti mau keluar saja rasanya. Dengan setengah rela ku letakkan kembali majalah tersebut dilantai. Tapi karena hentakan yang kuat beberapa lembarannya bergoyang dan berganti halaman. Sebuah judul baru yang lain lagi-lagi mampu membuat mataku mendelik. Dan, sambil menahan perih ku ambil kembali majalah tersebut. Ku lirik ke pojok kanan bawah, melihat siapa penulis berita tersebut.

Sesaat aku terpana, niat untuk membaca ulasan tersebut berganti dengan rasa lain yang lebih menggebu-gebu. Kini, aku benar-benar meletakkan majalah tersebut. Lalu segera tidur dan memejamkan mata. Mencoba menghadirkan kembali bayangan si pemilik inisial yang tertera dipojok kanan halaman majalah tadi. Detak jantungku semakin keras, segaris senyuman tanpa terasa membuat hayalan ini terasa begitu indah dan menakjubkan. Untuk sesaat aku merasakan sakit yang tadi menderaku benar-benar hilang. Berganti dengan kesenangan yang sulit diterjemahkan.

Seolah tak ingin berhenti sampai disitu, aku segera bangkit dan meraih kerudung yang ku letakkan diatas box tadi. Menciumnya lebih lama lagi dan menikmati aroma rokok yang masih menempel disana. Ini benar-benar aneh, bagaimana mungkin aku bisa menyukai aroma rokok yang bisa merusak kesehatan. Aku seperti lupa bahwa dalam sebatang rokok terkandung berjuta-juta jenis racun yang membahayakan. Dan itu artinya aku tengah melakukan transfer racun ke pernapasan ku. Aku bahkan tak sempat mengingat bahwa cara ini lebih buruk daripada yang dilakukan oleh si perokok aktiv sekalipun.

Ciumannya masih melekat dikerudung ini, aku membatin. Berusaha menghadirkan kembali bibirnya yang kehitaman karena terlalu sering bergumul dengan nikotin. Ah, mengapa pula bibirnya yang berkelebat dibenakku. Mengapa pula harus membayangkan kembali detik-detik menegangkan yang sudah berlalu.

Aku menyebutnya laki-laki kurang ajar pagi tadi, tapi bukan dengan ekspresi kemarahan melainkan ungkapan atas ketidak percayaanku pada apa yang tengah terjadi. Rasanya seperti mimpi bila kami harus duduk sedekat itu dan ia memeluk ku. Lebih tidak percaya lagi tiba-tiba kami berciuman seolah sudah lama saling kenal. Aku masih saja sibuk dengan pikiran ku saat ciuman pertama usai, begitu juga yang kedua, ketiga.

Bukan kah itu kurang ajar? Ah, lebih kurang ajar lagi tentunya karena masing-masing dari kami tidak ada yang menolak. Aku tidak mengerti dengan diri ku, begitu juga dengan dia menurut ku. Magma yang berkecamuk dijiwa kami telah mengejawantahkan akal dan pikiran untuk beberapa waktu. Seharusnya ia tak menempelkan ciumannya di kerudungku.

”Kamu laki-laki kurang ajar yang istimewa,” kata ku pagi tadi. Dia tersenyum, begitu juga aku.

”Dalam hal ini mungkin kita sama.” ucapnya tenang. Aku tak menampik

”Ya, sama-sama kurang ajar.” kata ku menambahkan. ”Ternyata semua laki-laki punya potensi yang sama, ya?”

”Potensi apa?”

”Potensi untuk berbuat kurang ajar”

”Tapi aku tidak”

”Ah, bukankah kau baru saja berlaku kurang ajar terhadap ku?” aku tak mau kalah.

”Kurang ajar yang diinginkan barangkali” ucapnya tenang.

Kami sama-sama tertawa.

Dering suara hp membuat ku terhenyak, ah, ternyata aku melamun cukup lama. Bayangan mengenai si pemilik bibir yang hitam telah mengabur. Tapi entah mengapa kali ini aku merasa sangat jijik!

MLC Unsyiah, 30/10/07



* catatan keprihatinan

Innalillahi wa Innailaihi Rajiun


kawan....
kemarin kau telah mendahului aku, mereka dan yang lainnya
kau telah terbebas pada satu ujian hidup terbesar

sedang aku disini menunggu dengan harap-harap cemas
dengan jantung yang berdebar-debar
sungguh, berita yang ku terima tengah malam tadi bukanlah kabar yang menyenangkan
lama aku tercenung, bertanya berkali-kali
benarkah kau telah tiada?

sulit aku meyakinkan diri bahwa kau telah benar-benar tiada
aku terkenang kembali seorang Haikal yang ku kenal setahun lalu
yang suka mengomentari rumah maya ku dengan cara mu yang konyol
ah, kau memang seorang periang yang sulit dilupakan


penyempitan pembuluh darah mu ternyata tak membiarkan kau melihat matahari untuk waktu yang lebih lama lagi
aku bukan menolak takdir
tapi kau masih sangat muda
usia mu baru 27
masih banyak yang bisa kau lakukan dengan kepintaran mu

mendoakan mu adalah cara terbaik kawan
semoga Allah melapangkan tempat peristirahatan terakhirmu
aku hanya menunggu waktu dan melakukan persiapan menjemput mu
kesana....

Jumat, 26 Oktober 2007

Seruni Merah Jambu

Seruni Merah Jambu

Seruni Merah Jambu merupakan judul sebuah novel setebal 460 halaman yang ditulis oleh Pearl S. Buck. Perempuan kelahiran tahun 1982 di Hillboro, Virginia Barat.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Jonsu Sakai, perempuan muda kelahiran Amerika namun berdarah Jepang. Orang tuanya lama hidup di Amerika dan kembali ke Jepang saat usia Jonsu 15 tahun karena gejolak perang. Saat orang-orang Jepang di Amerika di kucilkan dan dipindahkan ke kamp konsentrasi. Tuan Sotan Sakai, ayah Jonsui lebih memilih pulang ke negerinya daripada harus diikut sertakan ke kamp konsentrasi. Jonsui muda tak ada pilihan selain mengikuti kemauan orang tuanya meskipun ia sangat mencintai Amerika.

Sebagai anak tunggal –kakak lelaki Jonsui meninggal dalam perang di Italia- Jonsui sangat disayangi bahkan cenderung sangat dilindungi. Termasuk soal jodoh, tapi mereka tidak pernah memaksakan hal itu kepada putri mereka. Tapi disinilah titik awal persoalannya, saat Jonsui mengenal apa yang disebut dengan cinta. Ia mengenal seorang serdadu Amerika di Jepang dan ia jatuh cinta. Seolah hal yang sudah lumrah, cinta kerap menghadirkan keberanian tersendiri bagi para pemangkunya. Jonsui pun menentang ayahnya yang jelas-jelas tidak menyetujui hubungannya dengan Allen Kennedy, hal ini sangat beralasan mengingat Tuan Sakai sangat membenci Amerika. Bukan hanya itu Jonsui bahkan memutuskan pertunangannya dengan Kobori, pemuda Jepang yang sangat mencintainya

Jonsui menikah dengan Allen dan menyusul suaminya ke Amerika. Namun cinta tak selamanya berwarna merah jambu, ia bias saja luntur, pudar dan akhirnya sama sekali tidak berwarna. Begitupula cinta Allen terhadap Josui, lebih-lebih karena ibunya yang sangat membenci gadis Jepang. Kisah tak menyenangkan terpaksa harus dirasakan oleh Jonsui, ia bahkan menyembunyikan kehamilannya pada Allen dan melahirkan bayinya di klinik seorang diri lalu menyerahkannya pada yayasan yatim piatu.

Josui menyadari, cinta telah membutakan hatinya. Cinta saja tak cukup, ia rindu orang tuanya hingga akhirnya memutuskan untuk kembali pada orang tuanya. Ia sadar Amerika tak pernah bisa menerimanya dengan baik

Membaca novel ini membuat saya langsung terkenang pada masa-masa tahun 1999 – 2002 dimana gejolak perang tak ubahnya seperti sarapan pagi bagi seluruh penduduk Nanggroe Aceh Darussalam. Desingan peluru sama indahnya seperti terompet dimalam 1 januari pukul nol-nol. Hingga ada kerinduan bila lama tak mendengarnya.

Kekerasan, ketakutan, kebuasan adalah pemandangan sehari-hari, seterpaksa menikmati roti berselaikan empedu. Hari-hari penuh kebencian dan dendam yang melahirkan tembok bukan hanya kedua belah pihak yang bertikai tetapi juga masyarakat sipil yang secara eksplisit tidak terlibat didalamnya. Tetapi kematian tak wajar suami perempuan, ayah dari anak-anak mereka, kakak, abang dan saudaranya membuat bibit dendam itu tubuh subur dan rindang.

Mereka tak salah, popor senjata yang terpaksa ikut mereka nikmati sakit karenanya, pembunuhan keji yang brutal, penganiayaan yang tidak berkeprimanusiaan adalah alas an yang masuk akal. Kunci rapat-rapat pintu hati untuk mereka, para serdadu Indonesia meskipun pada waktu yang bersamaan pintu hati si empunya rumah tetap menganga lebar. Senyum yang terlihat manis tak ubahnya seperti seringai serigala menyimpan dendam.

Tapi siapa duga bila ada hati-hati yang tak sepenuhnya terkunci rapat, mereka membiarkan sedikit hatinya terkuak untuk mendengar keluhan dan kegetiran hidup ditengah kecamuk perang para serdadu. Setidaknya sedikit terbantukan, ditengah seribu serigala lapar masih ada domba yang tak layak dibenci. Bahwasanya, masih ada diantara serdadu itu yang layak dikasihi dan dicintai.

Maka muncullah Jonsui-Jonsui baru di Aceh kala waktu itu yang mengenyampingkan segala praduga dan tatapan sinis masyarakat. Bahkan ada yang diculik dengan asumsi setiap individu yang menjalin hubungan khusus dengan mereka adalah musuh para milisi.

Nasib Jonsui berdarah Aceh juga tak selamanya baik dan happy ending. ada yang habis manis sepah dibuang, ada yang dibawa pergi ke kota lain lalu dibiarkan terkatung-katung disana, ada pula yang seperti Jonsui, kembali lagi ke orang tuanya.

Perang, apapun alasannya tetap saja melahirkan ketidaknyamanan dan ketakutan yang luar biasa. Namun dilain kondisi perang juga melahirkan simpati dan empati yang berakhir dengan pertautan dua hati. Ini tentu saja persoalan yang rumit, mampukah kita bertahan dan dicap sebagai pengkhianat atau merana karena cinta yang teramini? ***

Kamis, 18 Oktober 2007

Sebuah Catatan Kecil

Sebuah Catatan Kecil
cinta, masih ingat kah kamu dengan kalimat-kalimat yang dulu pernah kita ucapkan? kalimat kerinduan dengan campuran haru dan gelora yang berderu-deru dihati kita. yah, aku ingin mengulangnya kembali hari ini, saat menjelang siang, hand phone mungil di tangan ku bergetar, persis sama seperti diakhir-akhir percakapan kita pada waktu-waktu yang telah lalu, tergesa-gesa oleh waktu, terputus oleh jarak, dan hanya untuk mengabarkan, aku sudah sampai dan kau akan pergi, cinta!


membayangkan itu kembali membuatku serasa ingin menangis, bukan karena sedih, tapi entah apa, aku sendiri tidak pernah berhasil memberi nama perasaan yang ku rasakan seperti siang tadi, takut kehilangan, tapi kau memang selalu jauh dari ku, tapi juga merasa dekat, sekalipun ber mil-mil jarak yang terbentang. aku seperti bermimpi pernah ada keleluasaan yang sangat untuk bisa bersama mu, kebersamaan yang sulit dibayangkan orang-orang, karena hanya kita sendiri yang bisa mengartikan kebersamaan itu. aku tak pernah lupa subuh itu...


aku...takjub pada alur hidup yang ku lalui ini, apa namanya ini cinta? penuh kebahagiaan tapi pelengkapnya adalah air mata, penuh suka cita tapi pemandunya adalah perjuangan keras yang harus ku lalui setiap kali purnama berganti. aku...yang selalu mengatakan ingin sekali menangis dalam pelukan mu, mengapa tak pernah terjadi sampai sekarang. aku tidak bisa melakukannya, sekalipun untuk mencemberutkan wajah ku pada mu.


ku kira, dulu aku tidak benar-benar jatuh cinta kepada mu. sekarang aku tahu, cinta memang hadir dan tumbuh sendiri, kita tidak pernah membiarkannya menjadi besar, tapi ia tumbuh dan rimbun sendiri.

ah, aku menjadi benar-benar ingin menangis cinta! kau masih ingat apa yang kita obrolkan subuh itu? kau dengarkan semua apa keinginan ku, kau dengarkan semua apa harapan ku? kau dengar kan..............semuanya, sejak dulu memang tidak ada yang ku sembunyikan dari mu.

aku hanya ingin memutar ulang semua kejadian-kejadian dulu, mencoba mengumpulkan kembali puzzle-puzzle kehidupan yang dulu pernah kita susun, lalu kita uraikan kembali, karena kita yakin puzzle ini tidak boleh terbentuk utuh.

mmm....
aku...semoga kau baik-baik saja disana, di negeri baru yang akan membuat mu merenda rindu saban hari, rindu untuk mereka...dan...barangkali juga rindu untuk ku. aku telah persiapakan sesuatu jauh sebelum kau menginjakkan kaki disana, tapi kau melarangku untuk menyelesaikan sesuatu itu. dan aku tetap selesaikan, tetapi hanya untuk ku dan untuk mu berdua saja, tidak biarkan orang lain tahu seperti apa bentuk sesuatu itu, biarlah rupanya hanya kita yang tahu.


kau tahu cinta...
beberapa minggu yang lalu, betapa giatnya kita saling menguatkan, tapi itu terlewatkan dengan sendirinya, aku lupa hari...benar-benar lupa sampai harus meyakinkan diri berkali-kali. hati ku terus berdebar, karena ku pikir kau telah terbang jauh....

ini catatan kecil yang harus kau baca,
ku titipkan pada selembar kertas yang akan diterbangkan angin-angin padang pasir yang mengantarnya ke kamar tidur mu.
disini, ada cinta yang selalu menunggu mu....entah untuk apa

Bukan melarang rindu

Bukan melarang rindu
belum lagi rasa rindu dan kangen terobati sudah harus kembali ketempat ini, sudah harus kembali mengisi hari-hari dengan segudang pekerjaan yang sudah menunggu untuk diselesaikan, sudah harus kembali mengisi hari-hari dengan kesendirian tanpa keluarga, tanpa ayah, ibu, dan adik. sudah harus melakukan semuanya seorang diri, bepergian seorang diri, dan beristirahat sendiri tanpa pernah ada celotehan dan sendaan adik kecil yang selalu membuat senang dan ceria di hati. tidak ada lagi yang menguntit dibelakang kala bepergian, dan tidak ada lagi yang memesan ini dan itu. dan tentunya tidak ada lagi yang merengek-rengek...." Kapan kita ke laut lagi, Kakak?"

semuanya berjalan begitu cepat, lahir, kecil, remaja, dewasa, dan tibalah saatnya harus melepas semua kerinduan-kerinduan itu dengan cara yang tidak biasa, pelan-pelan, berpisah waktu untuk sekolah, lalu kemudian berpisah hari, berminggu-minggu, berbulan hingga akhirnya bertahun-tahun. sedalam apakah rindu yang tersimpan untuk semua waktu terpisah itu? hanya rindu itu sendiri yang bisa mengatakannya.


matahari disini dan disana berbeda, matahari disini panas dan menyengat tetapi tidak bisa memberikan kehangatan, sebaliknya sekalipun disana lebih sering mendung, namun selalu ada kehangatan yang menyelimuti hati dan jiwa. mengukir senyum dan bahagia.

Sabtu, 06 Oktober 2007

Lomba Menulis Essai

Lomba Menulis Essai

Kesempatan Besar Untuk Membuktikan Bahwa Anda Memang Penulis Berbakat!!!

Ikuti “Lomba Menulis Essay” dan Menangkan Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah

Tema ”Peran Lembaga Internasional dan Nasional Terhadap Individu dan Masyarakat Korban Tsunami”

Panduan dalam menulis esai:

  • Berikan pandangan pribadi tentang bagaimana lembaga-lembaga bantuan atau pembangunan telah memberikan dampak terhadap kehidupan diri sendiri
  • Gambarkan dan analisa peran dan dampak langsung dari kehadiran ADB, BRR atau lembaga-lembaga bantuan atau pembanguna yang lain dalam usaha rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias
  • Dalam analisa tersebut, pilih satu dari sektor rekonstruksi sebagai berikut:

1. pertanian

2. perikanan

3. kesehatan

4. pendidikan

5. pembangunan ekonomi

6. infrastruktur

7. perumahan dan pemukiman

8. tata kelola pemerintahan yang baik

peraturan perlombaan

1. menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar

2. bersifat gagasan asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dimuat dimedia manapun serta tidak pernah diikutkan dalam lomba apapun

3. karya tulis tidak mengandung SARA dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu

4. peserta dibagi menjadi 2 kelompok:

1. SMU/sederajat (individu dan kelompok)

2. Mahasiswa (Individu dan kelompok)

5. setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah orisinil

6. tulisan diketik 1,5 spasi, times new roman 12, kwarto. Jumlah halaman; untuk individu 4-5 halaman, kelompok 6-8 halaman

7. untuk judul menggunakan font 14, bold dan diletakkan ditengah halaman

8. melampirkan biodata penulis (bagi kelompok melampirkan semua biodata anggotanya), alamat, telepon/hp yang bisa dihubungi, disertai dengan foto copy kartu pelajar atau kartu mahasiswa

9. semua tulisan yang dikirim menjadi hak penuh panitia dan keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat

10. tiga karya terbaik dari setiap kategori akan diterbitkan dalam sebuah booklet dalam acara ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 8-11 november 2007

11. para pemenang akan diumumkan adalam acara penutupan ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 11 november 2007

12. karya tulis dikirim dalam bentuk hardcopy (4 eksemplar) paling lambat tanggal 20 oktober 2007 (cap Pos) dan juga melalui email (soft copy) untuk antisipasi ke:

alamat pos : Jl. T. iskandar no. 80 a Lambhuk Ulee Kareng Banda Aceh

alamat email : tjute_konsultan@yahoo.com cc ke ihansunrise@gmail.com

13. pemenang yang berasal dari daerah akan diundang ke Banda Aceh pada acara penutupan ”ETESP Photo Exhibition” pada tanggal 11 november 2007 (akomodasi ditanggung oleh panitia, untuk pemenang kelompok panitia hanya menangungg satu orang saja)

14. hadiah

Kategori

Pemenang I

Pemenang II

Pemenang III

SMU individu

2.000.000

1.500.000

1.000.000

SMU kelompok

4.000.000

3.500.000

2.500.000

Mahasiswa Perorangan

3.500.000

3.000.000

2.500.000

Mahasiswa Kelompok

7.500.000

6.000.000

4.500.000

untuk informasi silahkan hubungi ke no 0813-60504909 atau 0852-76081046

15. kegiatan ini dilaksanakan oleh ETESP ADB (Asian Development Bank) dan di organize seluruhnya oleh Tjute (Konsultan, Event Organizer dan Promotion)

Kamis, 04 Oktober 2007

Kepada matahari dan bulan

Kepada matahari dan bulan

Matahari,

Mengertikah kau arti kegelisahan ini

Aku hanya takut mendung akan terus memeluk mu

Dan aku kehilangan hangat mu seperti subuh 29 september itu

Aku melihat cahaya bergerai diwajah mu

Menggelantung seruling-seruling merdu

Berdendang indah di telingaku

Menggelitik urat-urat saraf

Purnama,

Aku hanya ingin menatap mu dari atas pasir berkilau itu

Memandang hitam mata mu dengan seribu gejolak

Mendekap dan biarkan cahaya membasuh jiwa kita

Ini bukan kegelisahan biasa

Yang bisa diterjemahkan dengan kata

Ini bukan ketakutan biasa

Yang bisa diterjemahkan dengan gigilan

Lamdingin, 2007-10-01

09:48 am

Elegi Dua Hati

Elegi Dua Hati


Tuhan,

Jika Kau berikan manusia dua hati

Apa mereka bisa mencintai dua hati yang berlainan?

Apa ada jaminan hati mereka tak bercabang lagi

Menjadi tiga, empat dan seterusnya?

Tuhan,

Seperti apakah ketulusan?

Seperti apakah kesetiaan?

Seperti apakah ...

Tuhan ...

Lamdingin, 30-01 Oktober 07

09:17 am

Rendezfous

Rendezfous

Pada pertemuan sehabis magrib

Langit yang masih basah dan tempias yang belum kering

Aku seperti pernah melihat laki-laki itu

Samar-samar bagai kelebat bayang

Yang jelas kami sama-sama tergelak

Saat ia mengatakan

Ternyata kamu seorang perempuan

Iya,

Dia menyapaku sebagai laki-laki beberapa hari lalu

Ia perkenalkan aku dengan Cordelia-nya

Padanya aku ucapkan selamat

Karena telah berikan aku inspirasi

Untuk memulai puisi ini

Lamdingin, 30 Sep. 07

10:02 pm

Lakon Diri

Lakon Diri

Aku sendiri yakin

Tidak ada kesedihan yang kekal

Begitu juga dengan kesenangan

Hargailan nafsu

Karena darisanalah hidup terus berlanjut

Genggamlah matahari

Yang kau namai jiwa

Hiduplah dengan itu

Serupa air yang terus mencari muara

Tak pernah berhenti

Tak pernah merasa lelah

Aku selalu menyemangati diri

Dengan segudang cinta yang kupunya

Dengan sejuta kasih sayang yang ku terima

Kadang juga dengan nafsu yang ku miliki

Adakah hidup ini lebih indah selain dari mimpi-mimpi?

Lamdingin, 29 Sep. 07

08:10 pm

Obrolan Subuh

Obrolan Subuh


Proses selalu ada masa habisnya

Entah berakhir dengan kesuksesan, bisa pula dengan kegagalan

Kau mencuci otak ku dengan kecemburuan-kecemburuan baru

Melahirkan seribu padang bunga di subuh yang basah

Memberikan keyakinan bahwa hidup adalah kumpulan pelangi

Warna-warni bagi yang mencintai dan dicintai

Lamdingin, 29 Sep. 07

08:04 pm

Arti sebuah kesabaran

Arti sebuah kesabaran
Sebagai ilustrasi ringan saya pernah mengalami waktu-waktu yang boleh dikata sangat menyebalkan, saya bahkan sampai menangis saking kesalnya, pasalnya sangat sepele sekali, seseorang yang sudah berjanji akan menghubungi saya ternyata tidak menepati janjinya pada waktu itu karena kesibukannya yang padat. Bagai cacing kepanasan saya terus gelisah, bertanya-tanya mengapa harus ada waktu-waktu yang tidak mengenakkan seperti saat itu.

Namun ada ilustrasi lain lagi yang menurut saya sangat luar biasa dampaknya, berpengaruh sangat tidak baik bagi masa depan seseorang dan dalam hubungannya dengan orang lain. Yang sampai sekarang saya terus bertanya-tanya dalam hati dan menyesalkan dalam hati, ah, jika saja ia sedikit mau lebih sabar.

Beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan, kami berjumlah enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Beruntungnya saya termasuk organ inti dalam usaha tersebut sehingga saya bisa bebas berkreativitas dan mengeluarkan ide-ide demi kemajuan usaha tersebut. Secara riil bisa dikatakan penggerak roda usaha tersebut hanya saya dan seorang teman yang menjabat posisi sebagai direktur, apa, bagaimana, dan akan dibawa kemana usaha tersebut juga sudah jelas tujuannya. Tiada hari yang kami lewati tanpa diskusi yang tujuannya hanya satu, bagaimana usaha ini bisa berkembang pesat? Entah itu dimobil, dirumah, dijalan, disekolah, bahkan diwarung kopi atau dipantai. Kami senang membicarakan semua itu karena kami sangat yakin usaha ini endingnya akan sukses.

Namun, dalam perjalanannya, ada satu orang teman yang boleh dibilang kurang terlibat dalam setiap diskusi yang kami lakukan, hampir tidak pernah memberikan ide-ide, dan “uniknya” selalu menjawab “apa ya?” saat ditanya punya ide apa? Bisa melakukan apa? Dan apa rencana kedepan untuk usaha ini? Ini bukanlah aset yang menguntungkan pikir saya, tetapi saya tidak pernah mengutarakan pendapat itu kepada siapapun, hingga saya mencoba mencari alternatif lain yang pas untuknya dan kami sepakat menjadikannya sebagai bendahara saja di organisasi tersebut karena memang latar belakang pendidikannya ekonomi.

Namun, persoalan tidak hanya sampai disitu, suatu hari saya menyuruhnya untuk menyusun timeline kegiatan yang tinggal diatur waktu menit per menitnya saja, tetapi....teman itu juga tidak bisa. Lama kelamaan semua teman-teman juga merasakan ke-aneh-an, setiap kali kami berdiskusi ada yang tidak nyambung rupanya, kita sudah sampai ke L terpaksa harus balik ke D lagi. Dan ini terus berulang, hingga akhirnya sepakat bahwa ia hanya sebagai pelengkap saja dilembaga ini, sejujurnya kami tidak inginkan ini tetapi mau bagaimana lagi. Tetapi walaupun begitu soal salary dan fee kita sudah sepakat untuk 6 orang ini akan sama setiap bulannya. Intinya kita tidak ingin melakukan perbedaan kepada siapapun.

Hukum alam ternyata tak pernah habisnya, yang tidak tahan dengan kondisi sulit, yang ingin memperoleh hasil secara instant, yang tidak mau berpayah-payah, ia akan tereliminir sendiri. Itulah yang terjadi dengan teman tadi, suatu hari ia mengeluhkan kondisi lembaga yang menurutnya jalan di tempat, belum mampu menggaji karyawannya secara tetap, dan ia tidak bisa bertahan dengan kondisi seperti itu.

Dalam meeting itu kami semua terdiam, merenungi, yah, apa yang dikatakannya memang benar, lembaga kami masih sangat merah, seperti bayi yang baru lahir, usianya saja belum sampai tiga bulan. “untuk itulah kita memerlukan orang-orang kreatif disini, yang bisa memberikan ide dan terobosan brilian untuk kemajuan usaha kita, kita semua menyadari kesulitan seperti yang dirasakan oleh teman-teman, tapi apakah ada yang instant di dunia ini?” ucap saya bertanya entah kepada siapa.

Semua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Singkat cerita sampai hari ini teman itu tidak pernah datang lagi untuk berdiskusi bersama kita.

Satu hal yang sangat kami sesalkan adalah, saat dia meninggalkan kami, lembaga tersebut sudah ada beberapa proyek yang jumlahnya lumayan untuk permulaan, sampai-sampai kepada direktur saya sering mengatakan “jika saja dia mau bersabar beberapa hari lagi, tentu kita akan menikmati bersama-sama jerih payah ini.”

Dua ilustrasi diatas adalah contoh kecil, bisa dialami oleh siapa saja dan lembaga mana saja. Tetapi yang perlu dikaji adalah efek domino dari sebuah sikap tadi.

Pada Ilustrasi pertama yang merasakan dampak dari ketidak sabaran itu hanya saya sendiri, korban perasaan, dan hanya pada waktu itu saja. Tetapi pada ilustrasi kedua pengaruhnya sangat luar biasa sekali, bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain, bagaimana sikap seseorang ternyata sangat berpengaruh pada proses berfikir kreatif orang lain.

Inilah yang sangat jarang dipahami oleh sebagian besar orang, melakukan kesalahan tanpa memperhitungkan untung ruginya, lalu, apakah kita masih berani berfikir bahwa orang akan tetap memerlukan kita untuk memperlancar usahanya? Untuk mengembangkan bisnis?

Siapa yang tidak pernah mencicipi lezatnya ayam goreng KFC? Gurihnya, renyahnya, nyaris sempurna. Sampai-sampai semua orang rela antri hanya untuk sepotong ayam goreng (termasuk anda). Tetapi siapa yang peduli perjuangan berat sang kolonel saat pertama kali memulai usahanya? Kolonel tersebut memulai usahanya pada usia diatas 60 tahun, menawarkan resep ayam gorengnya lebih dari seribu restoran makanan dan baru diterima pada restoran ke 108, bisa anda bayangkan betapa jumlah restoran mkanan pada waktu itu tidak sebanyak sekarang? Dan dia baru menikmati hasil kerja kerasnya pada usia 90 tahun. Pertanyaannya sangat sederhana, bagaimana bila kolonel tersebut patah semangat saat menawarkan resepnya pada restoran yang 107 dan dia tidak mencoba lagi? Jawabannya juga sederhana, kita tidak pernah melihat ada gambar kakek tersenyum di Simpang Lima Banda Aceh.

Semua gambaran diatas hanya media untuk memotivasi semangat kita, bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jauh dekatnya kesuksesan hanya ditentukan oleh seberapa tekun dan kreatifnya kita. Bukan pada besarnya biaya yang kita keluarkan. Artinya, siapapun akan sukses, bila ia pandai mengelola potensi yang ada dalam dirinya. Tetapi, pernahkah kita berfikir bahwa kegagalan juga bisa hadir oleh kesalahan yang sangat sepele, begitulah orang-orang yang tidak menghargai “proses”.

[i]



[i] Lamdingin, 29 Sep. 07

07:58 pm