Langsung ke konten utama

Mendobrak Sistem Patriarki

Pernahkah anda berfikir bila suatu saat nanti setelah anda menikah, anda maupun pasangan anda menjadi yang lebih dominan dalam rumah tangga? Di Aceh khususnya yang menganut sistem patriarki pengaruh laki-laki (suami) memang lebih mendominasi dalam keluarga. Laki-laki (suami) menjadi tokoh sentral yang mengatur semua keperluan keluarganya, mulai dari mengambil keputusan, menentukan kebijakan keluarga hingga mengatur uang belanja. Sepintas istri terlihat hanya sebagai pelengkap saja, yah, pelengkap sekaligus penderita karena fungsinya tidak maksimal selain hanya mengurus dan berkutat di sektor domestik saja. Jarang diberi kesempatan bergaul dan berkomunikasi dengan dunia luar, bahkan banyak para istri memilih meninggalkan pekerjaannya ketika sudah menikah dengan alasan ingin berbakti kepada keluarga.

Istri, baby sitter atau khadimat?

Realita diatas membuat saya sedikit lebih hati-hati sekaligus mencermati, benarkah tidak bisa optimal mengurus keluarga bila seorang istri bekerja? Maklum saya belum menikah dan masih harus belajar lebih banyak lagi tentang persoalan diatas. Saya banyak melihat, mempelajari dan membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Banyak berdiskusi dengan teman laki-laki baik yang sudah menikah maupun yang belum. Apakah mereka menginginkan istrinya bekerja setelah menikah, atau menginginkan mereka dirumah saja. Menunggunya pulang bekerja, menyiapkan kopi secara rutin setiap pagi, memasak makanan kesuakaan suami, menyiapkan pakaiannya, begitulah setiap hari hidupnya dilakoni. Untuk contoh seperti ini pada seorang teman saya pernah berceletuk ”Mau mencari istri atau mencari pembantu?” kedengarannya memang agak sedikit berlebihan dan kurang sopan, tapi bila kita mau berterus terang rasanya memang demikian. Lihatlah rutinitas yang dilakukan oleh para istri dari pagi hingga pagi berikutnya, dimulai dari sholat subuh, kemudian menyiapkan sarapan pagi, membangunkan anak-anak dan suami, menemani mereka makan, mengantarkannya ke sekolah, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, belum lagi tuntutan-tuntutan lainnya yang tidak bisa dielak seperti melayani suami.

Bila kita memaparkan uraian diatas lebih detil maka akan banyak timbul komentar beragam seperti ”suami kan sudah capek cari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga” atau ”itu kan memang sudah tugas istri dan sudah kodratnya sebagai perempuan”. Oow...lagi-lagi menjelaskan sesuatu dengan penjelasan dan pemahaman yang salah.

Apa itu kodrat?

Sering sekali kata kodrat didengungkan dimana-mana, bukan hanya oleh laki-laki tapi juga oleh perempuan itu sendiri. Ada yang mengungkapnya denga cara yang benar sesuai konteks ada pula yang melenceng dari arti yang sebenarnya. Ibu Yuni, aktivis perempuan dari Jakarta dalam sebuah pelatihan menjelaskan bahwa kodrat adalah ketentuan yang dibawa sejak lahir sebagai pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa dan tidak bisa diubah oleh manusia. Lebih rinci ia mencontohkan kodrat seperti vagina, payudara, rahim, menyusui dan siklus menstruasi yang dialami oleh perempuan. Sedangkan kodrat terlahir sebagai laki-laki adalah mempunyai sperma, jakun dan penis.

Dari penjelasan diatas mengertilah kita sekarang bahwa kelembutan maupun keperkasaan bukanlah kodrat sebagaimana yang sering diartikan selama ini. Tetapi itu lebih daripada impact yang ditimbulkan dari lingkungan tempat seseorang itu hidup dan tinggal. Sama halnya seperti pekerjaan rumah tangga dan suami mencari nafkah tadi, masyarakat meyakini bahwa semua itu adalah kodrat padahal semua itu hanyalah kebiasan yang terjadi turun-temurun dan adat yang berkembang dalam satu komunitas.

Dalam konteks lainnya banyak sekali tokoh yang menjadikan nilai-nilai religiusitas sebagai upaya pembenaran, dalam penentuan sikap yang lebih ekstreem dapat dikatakan mendekati doktrin. Bahwasanya tugas perempuan hanyalah melingkupi wilayah domestik saja (ranjang, kasur, dapur), mengabdi sepenuh hati kepada keluarga (bahkan mengabaikan hak-hak pribadinya), pokoknya mengerjakan tugas rumah sebaik-baiknya. Ini tentu saja tidak akan berdampak apa-apa bila kedua belah pihak saling memahami dan mengerti dan menerima semua keputusan rumah tangganya dengan lapang hati. Ini adalah pembagian tugas yang adil, masing-masing pihak mampu menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing. (bersambung...)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n