Langsung ke konten utama

Sebuah Catatan Kecil

cinta, masih ingat kah kamu dengan kalimat-kalimat yang dulu pernah kita ucapkan? kalimat kerinduan dengan campuran haru dan gelora yang berderu-deru dihati kita. yah, aku ingin mengulangnya kembali hari ini, saat menjelang siang, hand phone mungil di tangan ku bergetar, persis sama seperti diakhir-akhir percakapan kita pada waktu-waktu yang telah lalu, tergesa-gesa oleh waktu, terputus oleh jarak, dan hanya untuk mengabarkan, aku sudah sampai dan kau akan pergi, cinta!


membayangkan itu kembali membuatku serasa ingin menangis, bukan karena sedih, tapi entah apa, aku sendiri tidak pernah berhasil memberi nama perasaan yang ku rasakan seperti siang tadi, takut kehilangan, tapi kau memang selalu jauh dari ku, tapi juga merasa dekat, sekalipun ber mil-mil jarak yang terbentang. aku seperti bermimpi pernah ada keleluasaan yang sangat untuk bisa bersama mu, kebersamaan yang sulit dibayangkan orang-orang, karena hanya kita sendiri yang bisa mengartikan kebersamaan itu. aku tak pernah lupa subuh itu...


aku...takjub pada alur hidup yang ku lalui ini, apa namanya ini cinta? penuh kebahagiaan tapi pelengkapnya adalah air mata, penuh suka cita tapi pemandunya adalah perjuangan keras yang harus ku lalui setiap kali purnama berganti. aku...yang selalu mengatakan ingin sekali menangis dalam pelukan mu, mengapa tak pernah terjadi sampai sekarang. aku tidak bisa melakukannya, sekalipun untuk mencemberutkan wajah ku pada mu.


ku kira, dulu aku tidak benar-benar jatuh cinta kepada mu. sekarang aku tahu, cinta memang hadir dan tumbuh sendiri, kita tidak pernah membiarkannya menjadi besar, tapi ia tumbuh dan rimbun sendiri.

ah, aku menjadi benar-benar ingin menangis cinta! kau masih ingat apa yang kita obrolkan subuh itu? kau dengarkan semua apa keinginan ku, kau dengarkan semua apa harapan ku? kau dengar kan..............semuanya, sejak dulu memang tidak ada yang ku sembunyikan dari mu.

aku hanya ingin memutar ulang semua kejadian-kejadian dulu, mencoba mengumpulkan kembali puzzle-puzzle kehidupan yang dulu pernah kita susun, lalu kita uraikan kembali, karena kita yakin puzzle ini tidak boleh terbentuk utuh.

mmm....
aku...semoga kau baik-baik saja disana, di negeri baru yang akan membuat mu merenda rindu saban hari, rindu untuk mereka...dan...barangkali juga rindu untuk ku. aku telah persiapakan sesuatu jauh sebelum kau menginjakkan kaki disana, tapi kau melarangku untuk menyelesaikan sesuatu itu. dan aku tetap selesaikan, tetapi hanya untuk ku dan untuk mu berdua saja, tidak biarkan orang lain tahu seperti apa bentuk sesuatu itu, biarlah rupanya hanya kita yang tahu.


kau tahu cinta...
beberapa minggu yang lalu, betapa giatnya kita saling menguatkan, tapi itu terlewatkan dengan sendirinya, aku lupa hari...benar-benar lupa sampai harus meyakinkan diri berkali-kali. hati ku terus berdebar, karena ku pikir kau telah terbang jauh....

ini catatan kecil yang harus kau baca,
ku titipkan pada selembar kertas yang akan diterbangkan angin-angin padang pasir yang mengantarnya ke kamar tidur mu.
disini, ada cinta yang selalu menunggu mu....entah untuk apa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.