Langsung ke konten utama

Seruni Merah Jambu


Seruni Merah Jambu merupakan judul sebuah novel setebal 460 halaman yang ditulis oleh Pearl S. Buck. Perempuan kelahiran tahun 1982 di Hillboro, Virginia Barat.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Jonsu Sakai, perempuan muda kelahiran Amerika namun berdarah Jepang. Orang tuanya lama hidup di Amerika dan kembali ke Jepang saat usia Jonsu 15 tahun karena gejolak perang. Saat orang-orang Jepang di Amerika di kucilkan dan dipindahkan ke kamp konsentrasi. Tuan Sotan Sakai, ayah Jonsui lebih memilih pulang ke negerinya daripada harus diikut sertakan ke kamp konsentrasi. Jonsui muda tak ada pilihan selain mengikuti kemauan orang tuanya meskipun ia sangat mencintai Amerika.

Sebagai anak tunggal –kakak lelaki Jonsui meninggal dalam perang di Italia- Jonsui sangat disayangi bahkan cenderung sangat dilindungi. Termasuk soal jodoh, tapi mereka tidak pernah memaksakan hal itu kepada putri mereka. Tapi disinilah titik awal persoalannya, saat Jonsui mengenal apa yang disebut dengan cinta. Ia mengenal seorang serdadu Amerika di Jepang dan ia jatuh cinta. Seolah hal yang sudah lumrah, cinta kerap menghadirkan keberanian tersendiri bagi para pemangkunya. Jonsui pun menentang ayahnya yang jelas-jelas tidak menyetujui hubungannya dengan Allen Kennedy, hal ini sangat beralasan mengingat Tuan Sakai sangat membenci Amerika. Bukan hanya itu Jonsui bahkan memutuskan pertunangannya dengan Kobori, pemuda Jepang yang sangat mencintainya

Jonsui menikah dengan Allen dan menyusul suaminya ke Amerika. Namun cinta tak selamanya berwarna merah jambu, ia bias saja luntur, pudar dan akhirnya sama sekali tidak berwarna. Begitupula cinta Allen terhadap Josui, lebih-lebih karena ibunya yang sangat membenci gadis Jepang. Kisah tak menyenangkan terpaksa harus dirasakan oleh Jonsui, ia bahkan menyembunyikan kehamilannya pada Allen dan melahirkan bayinya di klinik seorang diri lalu menyerahkannya pada yayasan yatim piatu.

Josui menyadari, cinta telah membutakan hatinya. Cinta saja tak cukup, ia rindu orang tuanya hingga akhirnya memutuskan untuk kembali pada orang tuanya. Ia sadar Amerika tak pernah bisa menerimanya dengan baik

Membaca novel ini membuat saya langsung terkenang pada masa-masa tahun 1999 – 2002 dimana gejolak perang tak ubahnya seperti sarapan pagi bagi seluruh penduduk Nanggroe Aceh Darussalam. Desingan peluru sama indahnya seperti terompet dimalam 1 januari pukul nol-nol. Hingga ada kerinduan bila lama tak mendengarnya.

Kekerasan, ketakutan, kebuasan adalah pemandangan sehari-hari, seterpaksa menikmati roti berselaikan empedu. Hari-hari penuh kebencian dan dendam yang melahirkan tembok bukan hanya kedua belah pihak yang bertikai tetapi juga masyarakat sipil yang secara eksplisit tidak terlibat didalamnya. Tetapi kematian tak wajar suami perempuan, ayah dari anak-anak mereka, kakak, abang dan saudaranya membuat bibit dendam itu tubuh subur dan rindang.

Mereka tak salah, popor senjata yang terpaksa ikut mereka nikmati sakit karenanya, pembunuhan keji yang brutal, penganiayaan yang tidak berkeprimanusiaan adalah alas an yang masuk akal. Kunci rapat-rapat pintu hati untuk mereka, para serdadu Indonesia meskipun pada waktu yang bersamaan pintu hati si empunya rumah tetap menganga lebar. Senyum yang terlihat manis tak ubahnya seperti seringai serigala menyimpan dendam.

Tapi siapa duga bila ada hati-hati yang tak sepenuhnya terkunci rapat, mereka membiarkan sedikit hatinya terkuak untuk mendengar keluhan dan kegetiran hidup ditengah kecamuk perang para serdadu. Setidaknya sedikit terbantukan, ditengah seribu serigala lapar masih ada domba yang tak layak dibenci. Bahwasanya, masih ada diantara serdadu itu yang layak dikasihi dan dicintai.

Maka muncullah Jonsui-Jonsui baru di Aceh kala waktu itu yang mengenyampingkan segala praduga dan tatapan sinis masyarakat. Bahkan ada yang diculik dengan asumsi setiap individu yang menjalin hubungan khusus dengan mereka adalah musuh para milisi.

Nasib Jonsui berdarah Aceh juga tak selamanya baik dan happy ending. ada yang habis manis sepah dibuang, ada yang dibawa pergi ke kota lain lalu dibiarkan terkatung-katung disana, ada pula yang seperti Jonsui, kembali lagi ke orang tuanya.

Perang, apapun alasannya tetap saja melahirkan ketidaknyamanan dan ketakutan yang luar biasa. Namun dilain kondisi perang juga melahirkan simpati dan empati yang berakhir dengan pertautan dua hati. Ini tentu saja persoalan yang rumit, mampukah kita bertahan dan dicap sebagai pengkhianat atau merana karena cinta yang teramini? ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.