Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2009

Kampung Surga !

Sebuah Memoar; Kampung Surga !Oleh; Ihan Sunrise
Kampung ini kampung surga. Namun tak pernah kulisankan, sebab surga dalam benak setiap orang adalah perbedaan. Sedang bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa tumbuh dan hidup dengan nyaman, tanpa ketakutan, tanpa tangisan, tanpa air mata. Yang selalu memberi tenang dalam damai. Yang selalu tawarkan tawa.
Tempat di mana setiap bukitnya dapat ditunggangi layaknya kuda Sumbawa yang perkasa. Yang membentangkan permadani rumput hijau. Tempat untuk menyaksikan terbenamnya matahari yang merah. Ketika langit mengulumnya pelan-pelan, dan meninggalkan cupangannya sepetak-sepetak di atas tanah.
Ternak-ternak yang bahagia, karena setiap hari digembalakan oleh anak-anak dari kampung surga. Yang tak pernah memancangkan tali-talinya di patingan permanen.
Tempat di mana setiap lembahnya muncul mata air untuk diminum, dipakai mandi, mencuci atau untuk cebok sekalipun. Untuk berkubangnya kerbau dan babi hutan. Bahkan tempat bagi berkembang biakny…

Aku Rindu

Aku ingin bersemedi dalam hatimu. Karena rupanya di sana bermukin segala macam telaga. Bening yang suguhkan damai bagi hati gundahku. Gemericik yang senantiasa pesonakan keteguhan. Untuk selalu berdetik meski sarat gelombang.
Aku ingin tenggelam dalam jiwamu. Jiwa seluas dunia tanpa dinding berkabut. Yang selalu pancarkan sinar harapan meski aku tahu sering kali mendung hinggap di sana. Kekhawatiran dan kecemasan bertubi, layaknya batu yang bertindih-tindih di atas punggung bumi. Tapi kau terus bertahan. Patahkan semua itu dengan senyum dari layar pinisi kehidupan kita.
Aku ingin tidur di pangkuanmu. Meski hanya dalam hayal kupenuhi semua keinginan. Pangkuan yang menenangkan. Sentuhan pada ubun-ubun yang hilangkan gemuruh.Aku rindu!
Rindu untuk bersemedi di hatimu. Rindu untuk tenggelam dalam jiwamu. Rindu untuk tidur di pangkuanmu.
Aku rindu memeluk ibu!

Biarkan Aku Mencintaimu dengan Caraku

“Boleh aku menciummu? Aku kangen!”“Silahkan”“Muach!”“Cukup”“Aku masih rindu, dan ingin menciummu sekali lagi”Dan aku menciummu. Sekali lagi, maka tertebuslah rasa rindu yang telah tertahan seharian ini. Malam yang berlainan. Kau kembali hadir, dalam ruang diri yang selalu basah. Membuat hatiku seketika bergetar hebat dan otakku berfikir cepat. Meraih sejuk dari sekitar untuk segera tenangkan jiwa yang bergemuruh. Sungguh! Aku rindu. Aku tak bohong. Maka kuminta untuk segera menciumimu.Bertukarlah cerita seharian ini, aku dengan ceritaku yang semalam, dan kau dengan kisah lemburmu yang menjelang tengah malam. Selalu ada kenikmatan dari pergumulan cerita itu. Seolah seperti bermandikan kembang tujuh rupa, selalu ada kesegaran, wewangian yang menghampiri dan gelora yang memanjangkan asa.Menjumput-jumput dalam labirin benak, memutar-mutar liang ingat, biarkan aku mencintaimu dengan caraku. ---Mungkin mengingatmu adalah bara. Tapi dengan bara itu aku hidup. Seperti kepulan asap batubara ya…

Rumah Yang Tak Lagi Kesepian

Desah mengiring mentari menuju ambang malam, sebentar lagi kalam-kalam suci akan mengepak-ngepak hingga langit ke tujuh. Menyemerbak hantarkan pujian pada sang Rabb pemilik semesta.
Seperti biasa aku menaiki anak tangga sebelum akhirnya sampai pada pintu kamar yang telah kutempati sejak bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ada yang berbeda dari hari-hari kemarin, kemarinnya lagi bahkan kemarinnya lagi, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Terang menyambut begitu pintu utama kubuka, rupanya ruang tamu yang dulunya gelap dan telah alih fungsi menjadi motorcycle port kini telah dipasangi lampu. Entah kapan, karena malam kemarin ruangan ini masih kudapati gelap gulita.
Dua kamar kulalui seperti biasa, namun setumpuk benda aneh yang terletak dipinggir sumur mengalihkan perhatianku. Benda yang dulu pernah ada di rumah ini, namun kejadian besar lima tahun yang lalu membuatnya menjadi terkebiri dan tak lagi berfungsi. Iapun telah berganti wujud menjadi besi tua berkarat yang tak lagi dibutuhkan.…

Ajarkan Aku Jadi Pembunuh

“I will kill him if he leave me, couse he take it my something special in my life. I really love him, i can’t life wihout him”aku tertegun, mencoba menghadirkan sosok orang yang mengirimkan pesan tersebut, perempuan muda yang tak pernah kukenali seperti apa rupanya, yang kutahu suaranya begitu nyaring dan lembut, apalagi ketika ia sedang menceritakan siksa batinnya. Kucoba resapi galaunya dengan jiwaku yang tak sepenuhnya berhasil, sebab pikiran ini masih harus terbagi untuk beberapa butir pekerjaan yang belum selesai. Tak ada keputusan dari pemikiran disela ketergesaan ini, antara menyelesaikan pekerjaan dan keputusan untuk memberikannya sepatah dua patah kata yang mungkin bisa membuatnya tenang.Aku mulai mengantuk, dan tubuhku mulai terasa berat ditambah dengan perut yang lapar belum terisi makanan sejak lepas siang tadi. Penunjuk waktu tepat berada di angka 10.30 pm. Kukemas ranselku yang masih berat begitu pekerjaanku selesai, aku menoleh ke luar, langit gelap dan jalanan terasa b…

Tak Ada Yang Beranjak

Menjelang magrib di sebuah warung kopi, di tepi jalan, di depan sebuah Masjid bermenarakan kupiah. Lalu lalang jalanan yang bising, menyuratkan bahwa peredaran waktu seperti tak berpengaruh. Masjid besar yang megah, tempat dikumandangkan kalam-kalam suci yang syahdu, hanya untuk dilalui, dan seolah-olah seperti membisiki; biarkan saja orang-orang suci mempasrahkan dirinya pada sang Illahi di sana.

Pun pintu warung yang dibiarkan tetap menganga, ditepuki denging nyamuk yang menyorak sorai, barangkali mereka sedang mentertawakan kebodohan manusia, bahwa rejeki adalah milik-Nya, tetapi mengapa takut untuk mengistirahatkan aktivitas barang sejenak sekedar untuk menghormati agama yang tercantum dalam kartu tanda pengenal.

Koran yang enggan ditinggal oleh pembacanya, sudah lusuh masai karena seharian berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mungkinkah bapak itu yang terakhir menyentuhnya hari ini? Bahunya bersandarkan pada punggung kursi plastik yang mengkilat. tak ada tanda-tanda ia…

Maka Lupakan Atas Nama Kesembuhan

maka lupakan atas nama kesembuhan"

kawan, maukah kau mendengar sebuah kisah?
tentang seekor merpati liar yang senang berpetualang, dia senang terbang dari satu negeri kenegeri lainnya, dari satu penjuru mata angin ke mata angin yang lain, dari satu lembah ke lembah yang lain. dari petualangannya ia megnenal banyak burung, ia kenal dengan kakak tua, kenal dengan burung perenjak, kenal dengan burung puyuh dan burung-burung lainnya. hingga suatu hari ketika ia sedang bersiul-siul kecil diatas dahan pohon Sentang seekor burung beo menyapanya, sekilas ia menangkap bahwa burung beo ini bukanlah sembarang beo, dia tampak sopan dan pintar, bukan berarti burung-urung yang lain tidak pintar tetapi beo yang satu ini sepertinya sangat mengedepankan tatakrama, begitulah...

dari hari je hari, dari obrolan demi obrolan, akhirnya keduanya sah menjadi sahabat, mereka menjadi dekat, mengenal beo memang sebuah keistimewaan tersendiri bagi merpati liar itu, apalagi beo secerdas ini, meskipun beo tidak …