Langsung ke konten utama

Kampung Surga !

Sebuah Memoar; Kampung Surga !

Oleh; Ihan Sunrise


Kampung ini kampung surga. Namun tak pernah kulisankan, sebab surga dalam benak setiap orang adalah perbedaan. Sedang bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa tumbuh dan hidup dengan nyaman, tanpa ketakutan, tanpa tangisan, tanpa air mata. Yang selalu memberi tenang dalam damai. Yang selalu tawarkan tawa.


Tempat di mana setiap bukitnya dapat ditunggangi layaknya kuda Sumbawa yang perkasa. Yang membentangkan permadani rumput hijau. Tempat untuk menyaksikan terbenamnya matahari yang merah. Ketika langit mengulumnya pelan-pelan, dan meninggalkan cupangannya sepetak-sepetak di atas tanah.


Ternak-ternak yang bahagia, karena setiap hari digembalakan oleh anak-anak dari kampung surga. Yang tak pernah memancangkan tali-talinya di patingan permanen.


Tempat di mana setiap lembahnya muncul mata air untuk diminum, dipakai mandi, mencuci atau untuk cebok sekalipun. Untuk berkubangnya kerbau dan babi hutan. Bahkan tempat bagi berkembang biaknya lintah yang menjijikkan.


Surga adalah tanah yang subur bagi segala jenis pohon, bahkan dedaunan tidak bernama yang bisa dimakan untuk lalapanpun dapat tumbuh di sana. Tempat batang-batang pisang beranak pinak. Tempat bagi perdu-perdu tebu yang gemuk dan segar. Dan padang ilalang.


Tanah yang banyak mempunyai jalan setapak tanpa beraspal. Ketika musim kemarau tanahnya kering berdebu dan ketika musim hujan menjadi becek. Dan kami terbiasa hidup tanpa keluhan. Itulah surga, kesederhanaan yang bisa melapangkan jiwa penghuninya. Tempat di mana burung bisa bertelur dan mengeramnya di mana saja. Di pinggir jalan, di semak-semak belakang rumah, di dahan-dahan pohon pinang. Surga memberikan ketenangan untuk tidak mengusik. Hingga burung-burung itu menetas, dan ramaikan kampung surga kami.


Kampung ini kampung surga. Tapi tak pernah kulisankan. Sebab surga hanya untuk dinikmati, bukan untuk diceritakan. Tetapi ia terus lekat dalam otakku, bahkan sejak aku belum mengerti apa itu surga. Bahkan ketika surga itu pelan-pelan tercabik aku tetap menamainya surga, karena surga itu sebenarnya ada dalam pikiranku.


Di kampung surga ini dulu aku belajar mengaji alif ba ta pada guru ngaji yang juga nenekku, di sekolahnya yang pernah dibakar aku belajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Bahasa Indonesia. Tetapi rupanya gara-gara aku bisa bahasa Indonesialah ada orang yang tidak kukenal pernah memarahiku. Kata mereka itu bukan bahasa kami. Orang-orang itu pastilah tidak tahu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila makanya mereka kurang bermoral.


Seingatku, kampung surga tak pernah melarang kami untuk berbahasa apa saja. Jika bisa mungkin kami juga akan diijinkan berbicara dalam bahasa hewan dan tumbuhan. Seperti pada masa jaman Nabi Sulaiman. Bila begitu, alangkah mudahnya menggiring sapi-sapi milik kami setiap sorenya pulang menggembala dari bukit surga. Kemudian aku mengerti, itulah awal prahara bagi kampung surga.


Pun di kampung surga ini aku pernah belajar mengaji mengenai rukun iman dan rukun islam. Tapi keimanan dan keislamankupun sepertinya biasa saja. Alhamdulillah aku masih bisa mengaji, kalau tidak aku akan sangat malu pernah hidup di kampung surga.


Kampung surga kami mengajarkan kemandirian, ciri khas anak-anak kampung. Kemana-mana selalu bersama-sama teman sebaya, menggembala (aku lebih suka menyebutnya ngangon), mencari kayu bakar, mandi, mencuci, pergi sekolah, mengaji, main petak umpet, main pasaran, main rumah-rumahan, main perang-perangan.


Kampung ini tak pernah mengajarkan perkelahian, tetapi mengapa darah akhirnya bisa mencucur dari tubuhnya yang terus dewasa? Tapi yang pasti ini bukan keinginan kami meski kami sering main perang-perangan, yang senjatanya dari pelepah pisang ataupun batang rumbia.


Kampung ini ajarkan kami untuk hidup dengan bekerja keras, membantu orang tua apa saja yang kami bisa, entah memetik coklat di kebun, atau menanak nasi di rumah, mungkin juga membantu mencuci sepatu sekolah kami sendiri.


Rumah-rumah kami adalah pondok-pondok yang dibangunkan Allah untuk kami di atas tanah surga. Tanah yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa, pinang, cokelat, dan rerumputan. Rumah-rumah yang diterangi matahari ketika siang dan disinari bintang dan rembulan ketika malam. Ketika lebaran, kampung surga kami ramai diterangi suluh-suluh bambu yang benderang. Dan juga lilin-lilin yang kami pasang di dalam tempurung.


Kampung ini benar-benar kampung surga. Kampung yang telah lekat dalam ingatan, sebab puing-puing kehidupan kami masih berserakan di sana. Di bukit-bukitnya yang anggun, di lembahnya yang menjuntai-juntai, di lorong-lorong jalannya yang mempesona, di sarang-sarang burungnya, di leguhan binatang malam.


Kampung surga adalah kampung yang tidak bisa dilupakan. Meski telah satu dasawarsa surga itu telah berpindah tempat. Bukit-bukitnya menjadi setengah belantara kini. Lembah-lembahnya telah menjadi tempat babi hutan berkembang biak. Mata-mata airnya telah sumbat. Parit-paritnya telah dangkal. Rumput-rumputnya mongering. Sebagian pohon-pohon kelapa kami berganti, menjadi karet dan kelapa sawit. Lalu gajah datang memamah hingga ke akar tunggalnya yang terbenam dalam tanah.


Kampung surga kami kampung ingatan. Karena disanalah aku belajar tentang rasa peduli dan kehilangan. Kampung surga adalah kampung yang selalu hadirkan rindu berkepanjangan. Untuk kembali mencumbui lekuk bukitnya, atau sekedar mencandai keluguannya. Atau untuk merasakan kehangatannya tatkala matahari setinggi dhuha.


Kampung surga adalah kampung kenangan. Tempat tersimpannya bait-bait dialog ketika masa sekolah dan mengaji. Rupa-rupa yang masih menggantung di setiap dinding kampung. Tawa yang masih menggelegar setiap detiknya, riang, sorai, riuh, tanpa beban. Dan cengkerama yang tak pernah usai dalam ingatan.


Aku mencari kampung surga ke mana-mana, tapi tak ada yang sama dengan kampung surga milikku. Kampung yang selalu berikan damai dalam tenang, bahkan dengung nyamuk dan leguhan jangkrik di malam haripun mampu menjelma menjadi kidung yang melenakan. Desau daun, lambaian nyiur dan desis angin adalah teater alam yang tak pernah putus.


Apakabarmu Padang Peutua Ali?


00:00 am

27 okto 2009



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis