Langsung ke konten utama

Rumah Yang Tak Lagi Kesepian

Desah mengiring mentari menuju ambang malam, sebentar lagi kalam-kalam suci akan mengepak-ngepak hingga langit ke tujuh. Menyemerbak hantarkan pujian pada sang Rabb pemilik semesta.


Seperti biasa aku menaiki anak tangga sebelum akhirnya sampai pada pintu kamar yang telah kutempati sejak bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ada yang berbeda dari hari-hari kemarin, kemarinnya lagi bahkan kemarinnya lagi, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.


Terang menyambut begitu pintu utama kubuka, rupanya ruang tamu yang dulunya gelap dan telah alih fungsi menjadi motorcycle port kini telah dipasangi lampu. Entah kapan, karena malam kemarin ruangan ini masih kudapati gelap gulita.


Dua kamar kulalui seperti biasa, namun setumpuk benda aneh yang terletak dipinggir sumur mengalihkan perhatianku. Benda yang dulu pernah ada di rumah ini, namun kejadian besar lima tahun yang lalu membuatnya menjadi terkebiri dan tak lagi berfungsi. Iapun telah berganti wujud menjadi besi tua berkarat yang tak lagi dibutuhkan. Benda itu masih tetap bernama pompa air namun aku tak tahu merknya apa, masih berkilat dan baru. ”Tadi sore” jawab teman yang sedang di kamar mandi saat kutanya kapan benda itu dipasang.


Kaki ini melangkah, memijaki tubuh tangga yang begitu pasrah tanpa penolakan. Ada yang berubah dari tatanan rumah ini. Kardus-kardus besar masih berserakan, berisikan perkakas yang belum disusun. Memenuhi sebagian ruangan yang tidak terlalu luas, rak piring, kompor.


Ah...Tuhan mengijabah doa rumah ini sepertinya, yang telah lama kesepian dan merindukan decah kaki yang berlainan. Ia rindukan keriuhan seperti dulu, rindukan asap-asap dari tanakan nasi dan tumisan sayur. Rindukan belaian banyak tangan pada dindingnya yang mulai kusam dan tua. Rumah yang ingin berikan kehangatan pada tubuh-tubuh yang kedinginan dipeluk tangan pagi. Rumah yang rindukan sapuan dari tangan yang berbeda pada setiap lantainya yang terpijak.

Rumah yang telah lama panjatkan doa, ucapkan selamat datang pada dua gadis itu. Biarlah aku yang menepi untuk tak lagi merasai kehangatanmu pada malam-malam yang dingin. Aku mengikhlaskanmu untuk dirawat olehnya, sebab aku tahu, aku tak bisa menjadi sempurna untukmu. Biarlah ia yang selalu membuatmu tersenyum karena ada yang menemani sepanjang hari. (Ihan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis