Langsung ke konten utama

Ajarkan Aku Jadi Pembunuh

“I will kill him if he leave me, couse he take it my something special in my life. I really love him, i can’t life wihout him”

aku tertegun, mencoba menghadirkan sosok orang yang mengirimkan pesan tersebut, perempuan muda yang tak pernah kukenali seperti apa rupanya, yang kutahu suaranya begitu nyaring dan lembut, apalagi ketika ia sedang menceritakan siksa batinnya.

Kucoba resapi galaunya dengan jiwaku yang tak sepenuhnya berhasil, sebab pikiran ini masih harus terbagi untuk beberapa butir pekerjaan yang belum selesai. Tak ada keputusan dari pemikiran disela ketergesaan ini, antara menyelesaikan pekerjaan dan keputusan untuk memberikannya sepatah dua patah kata yang mungkin bisa membuatnya tenang.

Aku mulai mengantuk, dan tubuhku mulai terasa berat ditambah dengan perut yang lapar belum terisi makanan sejak lepas siang tadi. Penunjuk waktu tepat berada di angka 10.30 pm.

Kukemas ranselku yang masih berat begitu pekerjaanku selesai, aku menoleh ke luar, langit gelap dan jalanan terasa begitu lengang. Bulanpun entah ke mana, dan bintang sepertinya enggan bertandang.

Sesaat setelah itu aku melesat di jalan raya. Masih dalam sepi dan lengang. Kembali ingatanku menjalang, pada beberapa kalimat miris tadi. Terbayang wajah pemiliknya yang gusar dan kalut, mungkin juga rasa sakit hati dan kecewa yang berperbankan kesedihan dan rasa takut.

Ah....

Aku berhenti di depan sebuah gerobak penjual roti bakar di tepi jalan, kupesan satu dan mencari kursi plastik untuk menunggu. Masih ada sisa waktu untuk berfikir sebelum pesananku selesai. Berfikir untuk segera pulang dan menikmati roti bakar berisikan selai nanas dan strawberry, sekaligus berfikir kepada seseorang yang mengirimkan pesan tadi.

Benarkah ia akan membunuhnya? Tapi, apakah itu tidak berlawanan dengan kata hatinya? Bahwa ia sangat mencintai seseorang itu. Lalu mengapa ia ingin membunuhnya? Bukankah cinta –dari sumber apapun- selalu mengatakan bahwa sesuatu yang begitu sakral dan berharga, tumbuh atas dasar kerelaan dan sikap mau menerima tanpa pengecualian.

Lalu mengapa akhirnya timbul kebencian dan rasa sakit yang tak terperi, bukankah seharusnya mengikhlaskan saja jika cinta tidak lagi sesuai dengan keadaan yang diinginkan oleh pikiran, hati, mungkin juga nafsu.

Dua menit kurang dari pukul sebelas aku sampai ke rumah. Pikiran tentang sosok perempuan itu masih mengiang dalam ingatan.

Jika saja aku mengenalnya, jika saja ia ada di hadapanku sekarang, jika saja kami bisa berdialog saat ini. Aku ingin sekali bertanya padanya, ingin belajar, ingin berdiskusi, aku ingin diajarkan cara membunuh yang tulus.

Cara membunuh tanpa paksaan, tanpa kebencian, tanpa sakit hati apalagi kecewa. Aku ingin diajari cara membunuh perasaan yang kadung bercokol dalam diri ini. Yang tak lekang meski saban hari aku menggerusnya, yang tak pernah usang meski faselita demi faselita terlewati.

Perempuan yang entah! Ajari aku cara membunuh ingatan agar aku bisa meninggalkannya dengan sempurna., maka akan kuajari kau cara menyederhanakan hidup agar kau bisa mencintai dengan keikhlasan. (Ihan)

00:23 am

15 okto 09

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis