Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Workhsop Menulis Tiga Hati

Dua puluhan anak muda dari berbagai komunitas di Banda Aceh mengikuti workshop menulis di Kafe A Plus, Batoh, Banda Aceh, Rabu, 1 februari 2012. Pendiri TigaHati Community, Ihan Sunrise mengatakan mayoritas peserta berasal dari berbagai komunitas seperti Komunitas Pecinta Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Convis Aceh, dan juga dari rekan-rekan jurnalis muda serta masyarakat umum. Dalam workhsop berdurasi tiga jam tersebut TigaHati Community menghadirkan Salma Indria Rahman sebagai pembicara. Salma Indria Rahman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Jakarta dan pendiri RumahPohon Activity Jakarta. Dengan mengambil tema "Menuai Profit Dengan Menulis" Salma mengarahkan para peserta agar membuat tulisan yang memiliki informasi cukup dengan selalu memunculkan ide-ide atau hal-hal baru pada setiap tulisan yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. "Dengan cara seperti ini tulis

Persembunyian Takdir

“Bersiap-siaplah.” Katamu Ketika itu Aku baru saja selesai menyisir rambutku, lalu menguncirnya dengan pengikat rambut warna merah hati. Kuletakkan handphoneku di kasur, kemudian menyelesaikan riasan wajah berupa polesan celak di mataku.  Aku mematung sebentar di depan cermin, sekedar memastikan bahwa bedakku rata, dan lipstick di bibirku tidak ada yang keluar garis. Saat itu handphoneku kembali berbunyi. “waktu kita terbatas.” Katamu. Aku meleguh. Menarik napas panjang sebagai bentuk keberatan dari ketergesa-gesaan yang kau tawarkan. Tapi itu hanyalah luapan emosi sesaat manakala aku harus menempuh jarak yang tidak sebentar untuk bisa segera sampai di hadapanmu. Dan memang, waktu selalu terasa singkat bagi kita; aku dan engkau.

Sehari Setelah Purnama

Selalu ada cerita yang membuat kisah kita tak pernah selesai. Sehari setelah purnama, matahari begitu lantang dan mengirimkan denyut di atas ubun-ubun. Melewati lorong-lorong sembunyi sehari setelah purnama, di pucak siang yang begitu gagah, memiliki nikmat berbeda daripada menyusurinya ketika langit baru saja basah, dan langit mulai temaram. Debarannya terasa lebih kencang, sebab lorong-lorong yang kulalui sepi dari lalu lalang manusia, kesepian yang membuat mereka menaruh perhatian lebih kepada siapa saja yang melintasi mereka. Gemericik air terdengar lebih jelas, sebab mereka mendominasi suasana ketimbang beberapa manusia yang memilih untuk diam, berdialog dengan diri sendiri atau sekedar membolak-balikkan Koran, mengamati perkembangan politik terkini. Dan suara ketukan sepatuku di lantai terasa semakin nyaring saja, seiring dengan berakhirnya lorong sembunyi, hingga akhirnya sampai di muara yang membawaku menuju dunia lain. Dunia di mana alasnya terbuat dari karpet tebal ya

Raja Tuan Namamu

“Aku menyayangimu. Aku rindu saat-saat kita menghabiskan waktu bersama, mungkin sampai kita tua. Memotong kuku-kukumu. Mencabuti ubanmu. Menikmati senyummu yang manis. Merasakan nyaman dipeluk olehmu.” Kataku menerobos sunyi. Memang telah benar-benar sunyi, bahkan dengung nyamuk pun tak lagi terdengar, kecuali sesekali senggukanku terdengar mengiba. Mengiris-ngiris hati yang telah penuh sesak oleh beban rindu yang kusimpan untukmu. Dan juga kemarahan yang tak pernah terlampiaskan. “Meski tak pernah terjadi, tetapi engkau telah lebih dari sekedar seseorang yang mampu menghibur laraku. Yang harus aku hormati, aku sayangi, aku banggakan di hadapan semua orang.” Lanjutku. Aku menyeka air mata yang meleleh di pipiku. Tetapi semakin kusapu semakin lancar saja ia keluar, seolah tak peduli pada buku-buku jariku yang telah menyeka butir-butirnya. Hingga akhirnya kubiarkan saja ia tumpah, biarlah esok pagi muncul sebagai sembab di mataku yang bulat telur. “Aku merasa waktu kita semak