Langsung ke konten utama

Workhsop Menulis Tiga Hati

Dua puluhan anak muda dari berbagai komunitas di Banda Aceh mengikuti workshop menulis di Kafe A Plus, Batoh, Banda Aceh, Rabu, 1 februari 2012.

Pendiri TigaHati Community, Ihan Sunrise mengatakan mayoritas peserta berasal dari berbagai komunitas seperti Komunitas Pecinta Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Convis Aceh, dan juga dari rekan-rekan jurnalis muda serta masyarakat umum.

Dalam workhsop berdurasi tiga jam tersebut TigaHati Community menghadirkan Salma Indria Rahman sebagai pembicara. Salma Indria Rahman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Jakarta dan pendiri RumahPohon Activity Jakarta.

Dengan mengambil tema "Menuai Profit Dengan Menulis" Salma mengarahkan para peserta agar membuat tulisan yang memiliki informasi cukup dengan selalu memunculkan ide-ide atau hal-hal baru pada setiap tulisan yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. "Dengan cara seperti ini tulisan akan memiliki nilai jual sehingga layak untuk dipublikasikan di media massa." demikian tegas Salma.

Salma juga menegaskan bahwa aktivitas menulis adalah pekerjaan paling mudah yang tidak terikat dengan waktu, dapat dilakukan di mana saja dan memiliki orientasi profit yang menjajikan.

Muhammad Hamzah Hasbalah, salah seorang peserta yang juga jurnalis di Aceh Kita mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang cara dan teknik-teknik menulis. "Apalagi dengan praktik dan koreksi langsung dari pembicara, membuat kita langsung tahu di mana kekurangan dan kelebihan tulisan kita." katanya.

TigaHati Community adalah komunitas yang digagas oleh tiga sahabat Ihan, John dan Martha, sebagai wadah untuk berkreativitas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…