Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Keputusan*

Apa yang tersisa dari hujan sore ini? Adalah luka yang menganga dari rahim keadaan yang tak dapat dibendung. Membusuk serupa bisul yang memerah. Mungkin sebentar lagi ia akan pecah, mengeluarkan nanah bercampur darah yang amis. Hingga akhirnya aku sampai ke hadapanmu. Aku tak tahu energi darimana yang menyeretku menembus hujan dan temaramnya senja. Melewati jalanan sepi yang berlubang dan tergenang air. Suara-suara cacing tanah yang tengah bersiap-siap menyambut malam. Namun itu tak lebih mengerikan dari ultimatum yang berkelebat seperti kilat dan menyayat hati seperti percikan halilintar. Aku tak pernah mendengar suara ibu setegas itu, menusuk dan mencincang perasaanku.

Kepada Mel

Mel,
ah, mestinya kau di sini bukan? menamaniku mengarungi lekuk-lekuk ketak mengertian yang telah terakumulasi, seperti ombak yang menggulung jasad air lalu menghempaskannya ke tepian, beribu-ribu buih kembali menjadi reinkarnasi.
bahkan satu-satunya caren hati yang kupunya tak mampu melindungiku dari terik emosi yang terombang ambing, mengapa malam tiba-tiba menikahi lengang, dan aku percaya padanya, hingga akhir hari ini aku bahkan kembali menyelesaikannya sendiri, sepotong demi sepotong, tersusun nyeri-nyei batin yang nikmat, ah, adakah yang seperti itu?
Mel,
pada kali ini sungguh, aku tak dapat memprediksikan perasaanku sendiri, serupa terkapar karena menahan beban yang berat, lalu tersaruk-saruk berjalan dengan rantai yang membeliti mata kaki, tetapi aku tak mampu membuat diriku menangis, aku hanya mampu terheran-heran, benarkah seperti ini yang terjadi? menjadi bertumbuh ternyata memang pilihan.
ah Mel
maafkan aku karena telah melibatkanmu dalam pertarungan perasaan ini, mesti…

Kepada Laut, Engkau Kukembalikan

"Temani aku menemui Laut sore ini.""Iya, tapi untuk apa?""Untuk membuang kenangan.""Maksudmu?"aku tak menjawab,dan kau sepertinya sedang tak ingin berdebat, maka pada pertanyaan sepotong-sepotong itu kau mengiyakan permintaanku yang setengah memaksa.maka pergilah kita menemui lautan, ketika malam mulai menjelang, hanya sesaat sebelum aza magrib bergema memenuhi ruak-ruak jagat. dan kita sampai ketika awan telah merah, pertanda matahari telah sempurna habis terkulum oleh kerak-kerak langit."Apakah ini tempat yang pernah kita datangi waktu itu?""Iya, ini tempatnya, ada apa denganmu, mengapa tiba-tiba ingin kembali ke sini?"aku tak menjawab, yah, ternyata memang ini tempatnya, batu-batu besarnya masih sama, gelombang ombaknya masih sama, debur iramanya juga, cicak-cicak lautnya, dan juga siput-siput yang menempel di bebatuan, tak ada yang berubah, aku ingat sekali, suatu petang di hari kamis, antara maret dan may, tahun lalu.sam…

Debu Malam

Hanya kepada debu-debu malam yang liar aku dapat berterus terang, tentang semuanya, tentang semua rahasia, ukan hanya sepotong-sepotong, tentang semua keinginan, bukan hanya sepenggal-sepenggal, tentang semua harapan, bukan hanya sekepal-sekepal, tentang semua mimpi, bukan hanya sekerat-sekerat.Hanya debu-debu malam yang liar yang dapat menenangkan, menjawab semua gelisah, membungkus semua resah, mengoyak-ngoyak kemarahan, lalu ketika telah kembali semua menjadi seperti biasa.Serupa air yang kembali ke muaranya, serupa angin yang kembali ke pusarannya, serupa semesta yang kembali pada rotasinya, maka aku kembali pada diriku sendiri.Dan hanya debu-debu malam yang liar, yang dapat mengartikan semua tingkah, semua tawa, semua ucapan, semua keluhan, semua rintihan, meski semuanya kerap bertukar tempat.Punie09.35 pm26-May 2011

Rindu yang Sakral

rindu ini milikku, tidak akan kubiarkan seorangpun mencerabutnya dalam caren hatiku, ketika aku membiarkannya menetap di sana, maka aku hidup untuk waktu yang tak pernah terduga.rindu ini milikku, sekarang aku tahu bagaimana rasanya dilesak-lesak rindu, tidur-tidur yang tak terlalu nyenyak itu, mungkin seperti burung-burung lelah yang menunggu pagi, ketika langit terang, dan matahari membiaskan sinarnya, maka lesak-lesak itu sedikit menyusut, menguap bersama bulir-bulir embun yang melekat semalam, di pucuk-pucuk rumput, di pucuk-pucuk hati.masih tentang rindu yang belum berganti, tidak akan kubiarkan seorangpun mengusiknya, aku ingin ia terus tidur dan mendiami hati, tumbuh dan tidak terpengaruh oleh pekat-pekat emosi.ini rindu yang sakral, rindu yang lahir dari rahim prosesi yang tak biasa, bagaimana aku bisa membuatnya menjadi tak ada?

Tiga Hati, Tiga Rasa, Satu Cinta

Memutuskan untuk menjadi bahagia itu mudah, seperti saya yang memutuskan untuk menghabiskan sabtu (21/5) sore bersama dua orang sahabat saya, Cacan dan Martha. Kami terbawa pada arus komplikasi perbincangan yang membuat kami lupa pada waktu, kami bercerita tanpa sekat-sekat rahasia, tertawa tanpa perlu merasa terganggu, sekalipun kami sedang berada di tempat ramai, tak apa, sabtu malam itu milik kami; milik Cacan, Ihan dan Martha.“Saya rasa kita bertiga mempunyai kisah cinta yang hampir mirip,” kata Martha, jumat (15/5) petang yang lalu, sore itu kami menghabiskan waktu di sebuah Kafe di seputaran Simpang Lima, kami bertiga tertawa, tergelak dan mungkin sibuk dengan pikiran masing-masing, mungkin saja. Dan kami tetap tak peduli pada mata-mata heran yang melirik ke arah kami.Namun tanpa ada ikatan kimiawi apapun, Cacan, Ihan dan Martha tentu tidak akan menjadi sahabat seperti sekarang ini, dan itu terjawab kemarin sore, ketika Cacan bilang; “Saya lahir di Langsa.”Ahay, Martha tertawa. …

Seorang Lelaki dan Gitarnya (part 1)

Tuhan, beri aku kesempatan untuk berterimakasih kepadanya, dengan cara sederhana yang mampu kulakukan, aku hanya ingin memeluknya dan bilang; terimakasih telah melakukan semua ini untukku, dan aku ingin bilang; aku ingin seumur hidupku mengalami hal serupa itu, mendengarnya bernyanyi dan memetik gitar.
Seorang lelaki dan gitarnya, yang telah membuatku terperangkap dalam kesempitan berkata-kata, tak ada yang bias kulakukan selain menatap langit-langit ruang hatiku, tak ada yang bias kulakukan selain mempasrahkan pendengeranku pada klimaks intonasi suaranya, tak ada yang bias kulakukan selain diam, tak ada, sebab aku telah mabuk dengan seluruh apa yang ia punyai.
Lelaki, aku adalah daun yang berharap kau segera berubah menjadi angin yang lebat, agar aku segera hinggap di hatimu, dan aku tak ingin ada badai apapun lagi setelah itu.
Aku ingin menjadi sederhana untuk hidupku sendiri, aku ingin surat-surat cinta ini hanya untukmu, aku ingin rindu ini utuh untukmu, aku ingin, aku rindu bagaima…

Rihoen*

“Boleh aku memanggilmu sebagai Rihoen?” tanyamu.
Rihoen. Aku pernah menulis tentang rihoen, beberapa hari yang lalu, dan itu sengaja kutulis untukmu, tapi kau hanya sempat membacanya sepotong, karena sepotong yang lainnya tak pernah kuselesaikan hingga hari ini. Aku tak merasa perlu menyelesaikannya, sebab bagiku, kau tak boleh didahului oleh siapapun.
Dan, malam ini kita kembali membicarakan tentang rihoen, sesuatu yang membuatku terdiam dalam kebingungan maha berat, aku senang kau memanggilku menjadi rihoen, tapi aku tak senang pada diriku sendiri, sebab dengan begitu aku semakin mabuk dalam imajinasiku tentangmu.
Kau juga bertanya tentang rindu malam ini, apakah aku rindu padamu? Ah, kurasa tak setiap pertanyaan perlu kujawab, sungguh, aku tak ingin menjawab apapun malam ini selain bahwa aku hanya ingin mendengar suaramu.
Ya, aku rihoen!
21.46 pm
19 may 2011
*Rihoen=rindu

Doa restu

Aku bahkan tak sempat berfikir tentang kesedihan, dia yang hilang semalam serupa mentari yang akan kembali besok pagi, dengan cahaya dan kehangatan yang sama, paling, ia hanya tenggelam sesaat karena mendung mengurungnya dalam suasana semesta. Dan itulah yang kusebut sebagai ritme. Kehilangan adalah alpa sejenak.Hatiku adalah tempatku bertanya, pantaskah rindu masih ditasbihkan untuknya? Dan selama itu masih memberi lega, aku tak dapat menolak apapun tentang sesuatu bernama takdir yang tengah hinggap di diriku. Rindu masih miliknya malam ini.Aku tak akan membiarkan sepi terlalu lama meniduriku, karena aku tak ingin melahirkan sesuatu bernama diam. Maka pada kisah berikutnya, biarkan aku melanjutkannya dalam alur imaji. Biar kuselesaikan sendiri. Sesuatu yang berlaku tanpa syarat ini.18 may 2011midnight

Biar Kuselesaikan Sendiri

Aku bahkan tak sempat berfikir tentang kesedihan, dia yang hilang semalam serupa mentari yang akan kembali besok pagi, dengan cahaya dan kehangatan yang sama, paling, ia hanya tenggelam sesaat karena mendung mengurungnya dalam suasana semesta. Dan itulah yang kusebut sebagai ritme. Kehilangan adalah alpa sejenak.Hatiku adalah tempatku bertanya, pantaskah rindu masih ditasbihkan untuknya? Dan selama itu masih memberi lega, aku tak dapat menolak apapun tentang sesuatu bernama takdir yang tengah hinggap di diriku. Rindu masih miliknya malam ini.Aku tak akan membiarkan sepi terlalu lama meniduriku, karena aku tak ingin melahirkan sesuatu bernama diam. Maka pada kisah berikutnya, biarkan aku melanjutkannya dalam alur imaji. Biar kuselesaikan sendiri. Sesuatu yang berlaku tanpa syarat ini.18 may 2011midnight

Yang Kuingat dari Purnama Kali Ini

Apa yang kuingat dari purnama kali ini? Adalah aku yang telah kehilangan cintaku, Tuhan, maafkan aku, telah berani jatuh cinta pada makhlukmu yang satu ini; pemilik suara berat yang menyisakan rindu pada setiap telinga yang pernah mendengarnya.Benar, aku tidak mengenalinya sebagaimana mestinya, dan aku tidak pernah berusaha untuk menghadirkan dia sebagai sosok tertentu, dan menjadi apapun dalam benakku. Dia, adalah dia yang tumbuh dengan sendirinya, sangat apa adanya.Benar, aku hanya tahu bahwa dia memiliki suara yang indah, suara yang berkarakter, dan aku suka, tapi Tuhan, sungguh, bukan karena suara itu aku jatuh cinta padanya. Adalah kenaifan bila cinta hanya dikaitkan pada suara indah yang merdu, kelak ketika tiba-tiba ia menjadi parau dan suaranya menjadi kacau apakah cinta hanya sebatas itu? Kurasa tidak Tuhan.Tuhan, aku tidak punya alasan apapun tentang cinta yang satu ini, tapi aku sempat berfikir bahwa ini adalah sebenar-benarnya cinta, apa yang aku sebut sebagai sebuah kelay…

Muara Dua Rahasia

adalah sela-sela terakhir kebersamaan kita, setelah ini kita akan hidup untuk kehidupan kita masing-masing, bahkan mungkin mendengar suaramu adalah kerinduan panjang yang tak akan tersampaikan, apalagi menyelidiki wajahmu yang menyimpan banyak rahasia, meski sepotong-sepotong kau ceritakan tentangmu aku tak berniat menggugat, kau punya duniamu sendiri, yang aku tak berhak tahu. meski kau bilang aku seseorang yang kini menjadi penting bagimu.bahkan semalam, aku tak tahu kau seperti apa, karena sejak kemarin kita selalu selesai dengan ketergesa-gesaan, tanpa penyelesaian, bahkan hingga pagi ini, mengapa adalah pertanyaan sederhana yang ingin kusampaikan kepadamu. tapi hening sedang tak ingin menjadi riuh, maka kubiarkan saja kau menikmati kesendirianmu.kuharap kau bisa tidur dengan nyenyak semalam, aku mafhum bahwa malam-malam terakhirmu adalah malam-malam berat yang bukan hanya menyisakan kantuk esoknya, tetapi juga perih, luka, dan perasaan bersalah, tapi aku tak dapat menyembuhkan ap…

Sebentar Saja

ke-sebentar-an yang begitu berkesan, kita belum lagi sempat membicarakan apa-apa ketika seseorang meneleponmu, dalam gerakan-gerakan yang begitu sarkastik kita menyelesaikan semuanya dengan begitu cepat, aku bahkan belum sempat bertanya sampai kapan kau ada di sini. karena itu adalah pertanyaan terakhir pada setiap perjumpaan. sedang kita baru saja memulainya.
kau mengeluh, sambil mengulum senyum dan kedipan mata yang sedikit nakal, aku hanya bisa menyentuh wajahmu, sesempat yang mampu kulakukan, dan mengeringkan sisa-sisa air di rambutmu dengan jari-jariku. kau bahkan belum sempat menyiapkan teh untuk kita, belum sempat menceritakan tentang ke-tak sengajaan kebersamaan kita sore tadi, dan aku tak punya kesempatan untuk menyelami bulir matamu.
kita hanya bisa termangu untuk sesaat, mentertawakan ketergesaan ini. "Aku akan pergi sebentar, tunggulah di sini." katamu usai berkemas-kemas, kau telah wangi, dan wangi itu telah menempel di tubuhku. "Istirahatlah dulu, di sini.…

Tentang Insomnia

seingatku, aku tak pernah mengidap insomnia yang membuatku masih terus terbelalak hingga malam mulai lengang dan orang-orang telah sibuk menghimpun mimpi. seperti yang sering kukatakan, bahwa aku adalah penikmat tidur yang (mungkin) bisa tidur di mana saja. karena dalam tidur aku bisa menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan, tentang masa lalu yang telah terlewati, tentang masa sekarang yang sedang kujalani, dan tentang masa depan yang aku lewati nanti.dalam tidur, aku bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna, dengan skenario yang diinginkan oleh hati, hasrat dan juga imajinasi. dalam tidur tidak ada yang membantah, tidak ada yang menolak, tidak ada yang memprotes, juga tidak ada yang mencibir, sebab dalam tidur aku tidak melibatkan siapapun untuk membantuku.tetapi, semalam entah mengapa tiba-tiba aku diserang insomnia stadium akut, padahal sejak sore kantuk telah menyerangku dengan sangat parah, dan lelah yang merengkuh diri, melunglaikan seluruh sendi dan oto…

Langkah Kakimu

Tiba-tiba saja aku dikepung keinginan untuk kembali mendengar langkah kakinya yang berderap-derap di sepertiga malam, sejak kemarin sore, kemarin malam, dan hingga hari ini, keinginan yang belum terselesaikan. Suara-suara yang mistis tatkala alas kakinya menyatu saling mendahului, menyentuh kerikil atau mungkin pasir di jalanan yang gelap. Aku lupa menanyakan padanya, seperti apakah alas kakinya ketika itu? Serupa sandal jepitkah atau sepatu yang mampu menghangatkan kaki-kakinya.Yang kuingat adalah jawabannya yang ingin melihat malam dan para sahabatnya, bulan, bintang, dan merasakan angin-angin malam yang dingin dan lembut, tetapi menusuk tulang. Saat kutanya untuk apa malam-malam seperti itu ia menyusuri jalanan yang lengang dan sepi. Jawaban yang sebenarnya adalah ia ingin mencari penghangat dirinya yang lain, aku tahu, ketika sepi dan suntuk menyergapnya ada sesuatu yang bisa membuatnya lupa pada semua kepenatan itu, sesuatu yang bisa membunuh rasa lapar dan haus, se…

Laut itu engkau

Aku hanya ingin melihat lautan, sekedar untuk memastikan bahwa kecipaknya masih sama seperti kemarin, bau asinnya, dan derasnya angin yang menerbangkan debu-debu. dan juga engkau.
Setelah hujan sore ini, dan setelah lepas dari kebingungan menjelang petang, aku menyusuri jalan-jalan harum bekas hujan tadi, meninggalkan kalian yang heran mengapa aku tak menjawab sepotong tanyapun tentang kemana aku akan pergi. bukankah aku selalu begitu, memberi jawaban ketika kalian sedang tak berfikir apapun tentang aku.
Gemuruh laut, adalah rahasia diri yang kenikmatannya akan hilang ketika aku berbagi, maka biarkan aku menikmatinya sendiri, serupa aku mencintai dia yang selalu berdebar seperti ombak yang menindih pasang.
Melalui angin lelaut sore aku kembali merasakan sentuhannya yang sekali-kali, kabut-kabut putih yang menyembul di balik laut seberang sana, sepertinya matanya yang selalu bersih dan menenangkan.
Maka biarkan aku merasakan laut sore ini dengan caraku sendiri. Karena eng…

Lukisan Pengantin

Paesankuberikan dahiku untuk kau buatkan paesan* di atasnyalalu keringkanlah dengan nafasmu07-May 10:06 pmSetelahsetelah semalamaku percayakan malamuntuk memasung resahku.dan setelah hari iniaku percayakan sianguntuk menuntaskan rinduku08-May 03:34 pmYang kutungguapa yang kutunggu dari malam-malam setelah ini?adalah derap-derap langkah kakimuuntuk menuju kepadaku09-May 12:12 pm*paesan; lukisan di dahi pengantin perempuan(SM)

Ayah, tunggu aku di surga

Ayah, kapan ayah datang menjengukku lagi? Sudah lama kita tidak bertemu, bahkan senyum terakhir ayah yang menggantung di mimpiku mulai terburai, perlahan di bawa angin keadaan.
Ayah, nanti kalau datang tolong bawa balsem lang ya? Aku ingin ayah menaruhnya di punggungku dan mengurutnya perlahan, seperti yang selalu ayah lakukan kalau aku sedang sakit. Ayah, aku rindu sekali merasakan hangatnya sentuhan tangan ayah yang kasar, belaian tangan ayah di kepalaku dan tatapan mata memaksa ayah untuk menyuruhku ke rumah sakit. Aku merengut, tapi ayah tetap memaksa, kalau mau sembuh harus disuntik, tapi aku takut disuntik, begitulah selalu ayah mengultimatumku, dan hanya ayah lelaki yang bisa membuatku menurut pada perintah apapun. Lalu pergilah kita bersama-sama ke dokter, dan disuntiklah aku.
Sekarang tidak ada yang memaksaku lagi, bahkan semalam ketika aku terkulai dalam gigil yang hebat, aku hanya bisa menunggu ayah datang, hingga menjelang pagi tak kudapati ayah menjengukku. …

Ayah, tunggu aku di surga

Ayah, kapan ayah datang menjengukku lagi? Sudah lama kita tidak bertemu, bahkan senyum terakhir ayah yang menggantung di mimpiku mulai terburai, perlahan di bawa angin keadaan.Ayah, nanti kalau datang tolong bawa balsem lang ya? Aku ingin ayah menaruhnya di punggungku dan mengurutnya perlahan, seperti yang selalu ayah lakukan kalau aku sedang sakit. Ayah, aku rindu sekali merasakan hangatnya sentuhan tangan ayah yang kasar, belaian tangan ayah di kepalaku dan tatapan mata memaksa ayah untuk menyuruhku ke rumah sakit. Aku merengut, tapi ayah tetap memaksa, kalau mau sembuh harus disuntik, tapi aku takut disuntik, begitulah selalu ayah mengultimatumku, dan hanya ayah lelaki yang bisa membuatku menurut pada perintah apapun. Lalu pergilah kita bersama-sama ke dokter, dan disuntiklah aku.Sekarang tidak ada yang memaksaku lagi, bahkan semalam ketika aku terkulai dalam gigil yang hebat, aku hanya bisa menunggu ayah datang, hingga menjelang pagi tak kudapati ayah menjengukku. Tu…

Untuk Teh Uwi

aku masih tidur ketika itu, masih sibuk dengan mimpiku sendiri, tentang dia yang kutunggu semalam, baru beberapa waktu kemudian ketika matahari telah terang, aku bangkit dan segera bergegas, menuju tempat di mana aku bisa membasahi tubuhku dengan air yang dingin dan liar.
masih berbalut handuk, kulihat ada dua panggilan tak terjawab darimu, panggilan subuh tadi dan panggilan beberapa saat yang lalu. Sesaat kemudian sms yang kau kirimkan semalam masuk, 'handphonenya tidak aktif' tulismu singkat.
aku menghela napas, membetulkan lilitan handukku dan rambutku yang setengah basah, untuk kemudian meneleponmu. dan kita larut dalam percakapan pagi yang didominasi oleh diam. "coba saja lagi," kataku berulang-ulang, sebab memang tak ada yang dapat kukatakan.
meski dalam diam, aku bisa merasakan kegelisahan dan rasa khawatirmu yang sangat, kekalutan yang aku yakin membuatmu menggigil dan ingin menangis. sejak berhari-hari yang lalu, ketika mei muncul di tanggal sa…

Lelaki

duduk di sampingmu, lelaki muda yang riang, membuatku terkenang pada masa beberapa waktu lalu, yang kau hembuskan dari mulut kecilmu yang hitam, berputar-putar seperti labirin yang menyeruak di rongga paru, pelan-pelan menembus panca inderaku, merambati masuk, melalui celah hidung yang pengap, dan bermukim di bilah dada yang tak begitu lebar.aroma mabuk yang nikmat, tapi aku tak suka ketika kau memanggilku adik, sebab aku bukanlah adikmu, dan aku memang tak pantas menjadi adikmu, aku lebih pantas menjadi kakakmu, kataku, tapi kau tak peduli, katamu, begitulah lelaki. ah...lelaki...aku justru lebih peduli pada apa yang menyelip di jarimu yang menggelinjang. yang membuatku terkepung imaji setinggi angkasa, seluas cakrawala.hei, lelaki muda, duduk di sampingmu membuatku resah sepanjang waktu, ingin segera kutinggalkan engkau tapi aku tak bisa, ada yang memaku-ku untuk terus diam di sini, menyaksikan langit-langit malam yang beku, kataku pada seorang teman; aku telah bosan …

Klimaks Halusinas

menyusuri lekuk-lekuk kotamuaku pana dalam gugu yang gagapmenduga-duga di mana kau pernah berjalandi sini, di sini, atau di sanabau tubuhmu menyergap di ambang petangseperti aroma rindu yang melesat menembus imajimenysuri lekuk kotamuseperti menyusuri alam hayalku sendiriterengah-engah diantara lelah dan klimaks halusinasiaku telah senja sampai ke kotamuseperti kau yang hilang ditelan kabut08.08 pmon sunday, 02 May 2011(Mengenang Perjalanan)

Aku Lelah

aku lelah seharian iniberjalan ke sana ke maritersengal oleh napas yang patah-patahpun pada pertemuan itutak kudapati penawar rindu yang kacauaku tersesat di belantara rasa yang anehyang memaraukan suarayang menghilangkan katayang melahirkan desah nafas panjangberkali-kaliaku lelah seharian inilunglai di atas ranjang tuasakit oleh rinduku sendiri01 may 201109.18 pmafter NBT(*) SM

Catatan Terakhir di Bulan April

adalah engkau yang tersisa dari rindu setelah hujan semalam, yang memberiku kesempatan lebih untuk mendengar gumamanmu yang beruntun, serupa rintik hujan yang terus bergulir. dan tentang kelebat rindu yang masih bergantungan di pucuk-pucuk hati, meleleh mengaliri lekuk-lekuk jiwa yang absurd.di penghujung april yang basah, serupa malam-malam yang kalut oleh perasaan yang entah, tak dapat didefinisikan, sebab semuanya adalah akumulasi dari kegelisahan, rasa senang, bahagia dan suka cita, mungkin seperti rasa lega yang muncul setelah melepaskan nafas yang panjang berkali-kali.aku, yang menanti sesuatu darimu, mungkin seperti ciuman kepik di ranting-ranting daun, bergerak pelan dan merambati adrenalin. entahlah, membawaku pada perjalanan, untuk memenuhi keinginanmu (atau keinginanku), tentang sesuatu yang kau sebut kalung pinggang itu, aku telah mendapatkannya pagi menjelang siang tadi.aku cemburu pada ikan-ikan yang sering kau kunjungi, juga pada tanah-tanah yang sering …