Lelaki

duduk di sampingmu, lelaki muda yang riang, membuatku terkenang pada masa beberapa waktu lalu, yang kau hembuskan dari mulut kecilmu yang hitam, berputar-putar seperti labirin yang menyeruak di rongga paru, pelan-pelan menembus panca inderaku, merambati masuk, melalui celah hidung yang pengap, dan bermukim di bilah dada yang tak begitu lebar.

aroma mabuk yang nikmat, tapi aku tak suka ketika kau memanggilku adik, sebab aku bukanlah adikmu, dan aku memang tak pantas menjadi adikmu, aku lebih pantas menjadi kakakmu, kataku, tapi kau tak peduli, katamu, begitulah lelaki. ah...lelaki...aku justru lebih peduli pada apa yang menyelip di jarimu yang menggelinjang. yang membuatku terkepung imaji setinggi angkasa, seluas cakrawala.

hei, lelaki muda, duduk di sampingmu membuatku resah sepanjang waktu, ingin segera kutinggalkan engkau tapi aku tak bisa, ada yang memaku-ku untuk terus diam di sini, menyaksikan langit-langit malam yang beku, kataku pada seorang teman; aku telah bosan dengan situasi ini.

kau tak juga pergi, dan labirin kepulan itu semakin jelas masuk ke alam ingatku, membuatku bergelimang pada kejadian masa lalu, aku ingin mengulang masa itu; kataku pada seorang teman yang lain.

diakah yang membuatmu begitu? tanyanya. bukan, jawabku ragu. lalu? entahlah.

aku tak pasti dengan jawabanku sendiri, mungkin juga seperti engkau yang kukuh memanggilku adik, panggilan yang tak ingin kudengar disebut oleh siapapun, kecuali orang asing yang tak mengenal siapa aku.

ketika akhirnya aku lega setelah pergumulan yang panjang, aku tidur dengan resah yang sama.

Komentar