Tentang Insomnia

seingatku, aku tak pernah mengidap insomnia yang membuatku masih terus terbelalak hingga malam mulai lengang dan orang-orang telah sibuk menghimpun mimpi. seperti yang sering kukatakan, bahwa aku adalah penikmat tidur yang (mungkin) bisa tidur di mana saja.

karena dalam tidur aku bisa menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan, tentang masa lalu yang telah terlewati, tentang masa sekarang yang sedang kujalani, dan tentang masa depan yang aku lewati nanti.

dalam tidur, aku bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna, dengan skenario yang diinginkan oleh hati, hasrat dan juga imajinasi. dalam tidur tidak ada yang membantah, tidak ada yang menolak, tidak ada yang memprotes, juga tidak ada yang mencibir, sebab dalam tidur aku tidak melibatkan siapapun untuk membantuku.

tetapi, semalam entah mengapa tiba-tiba aku diserang insomnia stadium akut, padahal sejak sore kantuk telah menyerangku dengan sangat parah, dan lelah yang merengkuh diri, melunglaikan seluruh sendi dan otot yang memang sedang tidak terlalu baik.

kombinasi kantuk dan lelah yang pekat, melahirkan rasa pusing yang menggelapkan pandangan, seperti berputar-putar, membuatku teringat bila aku telah lupa pada zat besi dan asam folat yang biasanya rutin kukonsumsi. semakin lengkap dengan gigil yang tiba-tiba menyerang tanpa permisi.

aku berulang kali bersirobok dengan waktu, koran minggu kemarin, beberapa judul buku, kamus bahasa indonesia, dan sebuah buku hadiah seseorang lima tahun yang lalu -yang baru sempat kubaca sekarang- tergeletak tak beraturan di tepi tilamku, dan beberapa lembar kertas berceceran berisi tulisan-tulisan pendek yang parah.

semua itu tiba-tiba berubah menjadi sangat manis dan menyenangkan, bukannya membuat kantuk tetapi malah membuat mata melebar seperti bola, menggelinding-gelinding ke langit-langit kamar. dan aku sibuk dengan buku Dr. Chapmann bersampul ungu.

aku paham, ini bukan insomnia biasa, tetapi ke-tak-kantuk-an yang ditimbulkan karena ada sesuatu yang membuatku memang seharusnya tak tidur. meski berkali-kali kupaksa, mungkin sudah terprogram di bawah alam sadar.

seperti yang kukatakan pada Tuhan kemarin sore, bahwa aku sedang menyimpan sebuah catatan, untuk kuperdengarkan di telinganya bila ada kesempatan, meski tak sampai kelak, dan tak sampai menjadi usang, akhirnya ia datang menyodorkan telinganya, ketika itu waktu telah renta.

dan meski, kukatakan padanya bahwa itu catatan terburuk yang pernah kutulis, tapi sebenarnya itu adalah catatan terbaik dan tercepat yang mampu kuselesaikan, seperti kombinasi insomnia dan rindu, semua mengarah untuknya.

12:03 pm

13 May 2011

sm

Komentar