Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Sajak Hujan

Kau! Katakanlah kau hujan, yang lahir dari pergumulan semesta. Yang selalu hadir setelah wajah muram sang jagat. Aku suka tempiasmu, yang jatuh satu-satu di pucak imajinasiku. Yang membasahi syaraf-syarafku. Yang melunturkan rasa, dan juga gelora!

Katakanlah kau hujan, yang selalu hadir dalam bentuk embun yang menempel di pucuk dedaunan. Lalu mengering bersama kehangatan yang tercipta antara aku dan engkau. Kau tahu, bulir-bulir itu mereinkarnasi menjadi keringat yang hangat. Yang muncul dari ruang pori percintaan semu.

Jika kau memang hujan, maka kau bisa ada dan tiada. Kau bisa muncul dan senyap, atau diam-diam hanya mengintip sebagai mendung. Aku? Apa bisa aku protes, meminta semesta terus menerus mengedan demi melahirkanmu. Ah, mana peduli dia tentang suasana romantis karena bulir-bulirmu yang melekat di keningku, atau di bibirku, atau di manapun. Ah....


Pernah kena razia?

SEJAK jejaring sosial booming beberapa tahun belakangan ini, mudah sekali mendapatkan informasi. Walau hanya sepotong-potong, paling tidak itu bisa menjadi "bekal" dalam berkomunikasi. Paling tidak, tidak sampai sama sekali ketinggalan informasi lah!

Sepekan ini kuperhatikan pembicaraan hangat di Facebook seputar razia kendaraan yang katanya bertebaran di mana-mana. Misalnya saja di Jalan Panglima Nyak Makam Pango, di Jalan Teungku Chik Ditiro Peuniti dan di Jalan Teuku Umar Seutui. Di Banda Aceh, tiga ruas jalan yang kusebutkan tadi bolehlah dibilang "titik rawan" yang sering sekali digelar razia kendaraan. Selain di kawasan itu, razia juga sering dibuat di Jalan Teungku Daud Beureueh dan di perbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar di kawasan Meunasah Manyang.

Ngomong-ngomong soal razia kendaraan, aku sudah lupa kapan terakhir kali kena tilang dari pak polisi. Selama di Banda Aceh aku pernah beberapa kali kena tilang sampai harus mengeluarkan uang ratusan ribu unt…

Idul Adha di kampung tak berpenghuni

Soal jika aku ditanyai orang, apa yang paling kuinginkan dari sebuah momen hari raya? Jawab bahwa, aku hanya ingin berkumpul bersama keluarga; ibu, adik-adikku, ipar dan juga keponakanku. Ayah? Beliau sudah lama berada di surga. Itulah mengapa setiap kali lebaran aku selalu mengusahakan mudik meskipun jatah libur mepet.

Siapa sih yang ngga ingin berkumpul bareng-bareng keluarga? Terutama aku yang sejak SMP sudah merantau. Jadi momen pulang ke rumah memang selalu ditunggu-tunggu. Libur Idul Adha kali ini, sama seperti libur hari raya sebelumnya, aku selalu pulang sehari sebelum makmeugang/punggahan. Biasanya aku sampai di rumah sekitar jam empat atau lima subuh.

Apa yang kulakukan begitu sampai di rumah? Tidur, menunggu sampai matahari terbit. Setelah itu aku langsung bersih-bersih rumah setelah sarapan dan membersihkan diri. Meski bukan hobi, membersihkan rumah menjadi kebiasaanku setiap kali berada di rumah. Salah satu nilai kebaikan yang diajarkan ibu saat aku masih kecil dan terus…

Dear Zorro

Dear Zorro...

Tiba-tiba aku merasa rindu, sangat! Tapi bukan kepadamu, melainkan pada lorong-lorong sembunyi yang pernah kulalui saat hendak melihat senyummu. Atau pada malam-malam bertabur bintang saat aku bergerak perlahan melewati jengkal demi jengkal tanah Tuhan, untuk sampai kepadamu.

Kau tahu, berkelebat cerita di benakku kala itu. Tak sabar rasanya ingin kutumpahkan di hadapanmu. Agar kau bisa melihat seluruh warna dari "rasa" yang membulir itu. Warna dari luapa emosi karena rindu yang bertubi-tubi menghujam diri ini.

Kau lihat, bulir-bulir itu sebagiannya mengkristal, menjadi kisah dalam baitk-bait berupa puisi, prosa atau cerita-cerita. Hingga pada akhirnya kita selalu percaya bahwa rindu tak pernah jauh dari inspirasi. Kita selalu percaya bahwa inspirasi, sekalipun terlahir dari rahim ketakutan selalu memberi kekuatan. Yang mengalir dalam diri kita untuk tetap bertahan.

Tiba-tiba saja aku ingin menerobos belantara gelap, melewati remang-remang cahaya untuk sampai …

5 Cara sederhana membuat rilis

Siapa yang sering bikin event atau kegiatan? Jawabannya sudah tentu lembaga/komunitas, kalau individu paling banter ya birthday party atau wedding party, yang lain silakan tambah sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apakah event itu mau dihadiri/diketahui banyak orang atau biasa-biasa saja? Kalau mau berarti kita harus melakukan publikasi yang maksimal. Untuk individu misalnya, kita bisa promosi lewat jejaring sosial, undangan, atau pesan singkat melalui SMS/BBM, dst.

Nah, kalau untuk organisasi kita bisa pilih cara lain yaitu publikasi di media mainstream seperti koran cetak atau koran online, dll. Kalau mau yang berbayar kita bisa pasang iklan, tapi kalau keuangan terbatas kita bisa kirimkan surat permohonan untuk meliput acara kita, nah, setelah itu berdoa agar media tersebut mau meliput acara kita heheheh. Kalaupun mereka ngga meliput jangan sedih, harap maklum saja, kita bisa kirimkan rilis kok.

Andai aku punya 50 miliar

Wah... hari ini Rabu yaaa, baru ingat ada tantangan menulis "Andai Aku Punya 50 Miliar" yang jatuh tempo hari ini. Jatuh tempo? Kayak pajak aja yaaa, ini gara-gara tulisan Ari Murdiyanto untuk tema yang sama yang sudah diposting pertengahan pekan lalu. Selain Ari, yang sudah memposting tulisan itu adalah Azhar Iyas dan Alvawan.

Kalau bukan aku yang usulin, mungkin aku ngga bakal buat tulisan ini. Bukan karena tak ingin membuatnya, tapi sepekan ini memang aktivitas lumayan padat. Tapi apa kata, demi "menunaikan" usulan tersebut, dengan tertatih-tatih tulisan ini kutuliskan juga. Dengan perut yang lapar karena belum makan siang. Semoga saja setelah tulisan ini selesai laparnya langsung hilang, bukankah topik uang selalu asyik untuk dibahas?

Siapa yang pernah berandai-andai? Dalam agama yang kuanut berandai-andai memiliki hukumnya sendiri yaitu haram dan dibolehkan. Dalam konteks ini aku mau bicarakan andai-andai yang dibolehkan saja seperti pengandaian karena keingi…

Overdosis kopi!

HARI ini, setelah beberapa bulan pantang kopi akhirnya aku kembali meneguk minuman berkafein itu. Ini bukan suatu kesalahan, mengingat saat memutuskan berpantang dulu aku tidak bernazar atau bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Saat itu, aku hanya berniat akan berhenti untuk sementara. Berikutnya untuk memenuhi anjuran dokter. Selanjutnya untuk membuat hati ibuku lega!

Seperti bertemu pacar rasanya, secangkir kopi yang kuambil di bar kusesap pelan. Kunikmati benar-benar, pahitnya, manisnya, terasa lengket di bibirku, setelahnya aku tersenyum senang. Ah, akhirnya kerinduanku selama ini terbayar sudah. Seperti habis berciuman, berkali-kali kujilat bibirku agar bekasnya benar-benar hilang.

Rindu? Ya, mungkin agak berlebihan tapi memang begitu adanya. Entah sejak kapan aku mulai menyukai kopi. Tapi yang pasti saat masih SD tiap kali pulang ke rumah nenek di Teupien Raya Pidie, aku selalu minta dibelikan racikan kopi di warung. Alasannya? Racikan kopi tersebut lebih kental, lebih pahit …

Hujan yang memusnahkan getar

Sungguh! Rasanya tak bisa kujelaskan, malam tadi aku baru saja "melumatmu" dari cerita demi cerita dalam buku yang kubaca, di akhir halaman kutemukan kenyataan yang membuatku tercengang, seolah-olah Tuhan memang sedang menyiapkan kejutan besar untukku, kejutan dan ketakjuban yang akan kusampaikan padamu hari ini, mungkin pagi, siang, sore atau malam nanti. 

Rasanya memang tak bisa kujelaskan, sebab pagi ini kudapati engkau telah "pergi". Jejakmu hanya berupa "pusara" yang tak bisa kugali, bahkan untuk sekedar menyelipkan pesan kepadamu.

Entahlah, tapi sepertinya hujan pagi tadi memang untuk menyapu habis kenangan tentangmu. Bahkan tak sedikitpun geletar yang tersisa. Dan sore ini semua puing-puing kenangan tentangmu ikut tenggelam bersama terbenamnya matahari.

Mungkinkah kau akan bereinkarnasi? Mungkin jadi semacam rumput liar, angin, badai, atau apapun? Agar aku bisa menyampaikan angka yang tertera di halaman terakhir buku yang kubaca semalam.

Senja yang red…