Langsung ke konten utama

Pernah kena razia?

Foto by ATJEHPOSTcom
SEJAK jejaring sosial booming beberapa tahun belakangan ini, mudah sekali mendapatkan informasi. Walau hanya sepotong-potong, paling tidak itu bisa menjadi "bekal" dalam berkomunikasi. Paling tidak, tidak sampai sama sekali ketinggalan informasi lah!

Sepekan ini kuperhatikan pembicaraan hangat di Facebook seputar razia kendaraan yang katanya bertebaran di mana-mana. Misalnya saja di Jalan Panglima Nyak Makam Pango, di Jalan Teungku Chik Ditiro Peuniti dan di Jalan Teuku Umar Seutui. Di Banda Aceh, tiga ruas jalan yang kusebutkan tadi bolehlah dibilang "titik rawan" yang sering sekali digelar razia kendaraan. Selain di kawasan itu, razia juga sering dibuat di Jalan Teungku Daud Beureueh dan di perbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar di kawasan Meunasah Manyang.

Ngomong-ngomong soal razia kendaraan, aku sudah lupa kapan terakhir kali kena tilang dari pak polisi. Selama di Banda Aceh aku pernah beberapa kali kena tilang sampai harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk "menyelesaikan masalah tanpa masalah". Di satu sisi aku menyesalkan uang yang terpaksa keluar dengan sia-sia begitu, di sisi lain aku tak bisa "protes" karena memang tidak memiliki surat-surat lengkap. Selama bisa mengendarai sepeda motor, aku memang tidak pernah memiliki Surat Izin Mengemudi karena memang tidak pernah membuatnya. Bukannya aku tidak ingin memiliki SIM, tapi untuk mengurusnya itu yang membuatku malas. Aku malas berurusan dengan orang-orang berseragam. Itu makanya aku malas mengurus KTP, SIM, pajak, dan hal-hal yang berbau prosedural lainnya.


Karena tidak punya SIM, aku rajin mencari jalan tikus jika bepergian. Tapi bukan tidak pernah terperangkap. Pernah sekali waktu aku ingin pergi ke Montasik, berangkat dari Banda Aceh selepas asar. Sengaja mengambil alternatif dari jalan tepi kali yang melewati komplek Budha Tzuci di Pante Riek dan tembus ke pintu gerbang perbatasan Banda Aceh-Aceh Besar. Tapi yang namanya apes, aku malah terjebak dengan razia di ujung simpang. Mau berbelok ngga mungkin, takut dikejar. Maklum aku bukan pembalap.

Akhirnya terpaksa juga berhenti di sana. Kulihat banyak orang yang terjaring, ada ibu-ibu, anak muda. Begitu motor berhenti salah seorang petugas langsung meminta sura-surat lengkap. Melihat yang kuserahkan cuma STNK, om polisi memintaku masuk ke pondok yang hari itu kebetulan ngga berjualan. Dia tanya macam-macam. Aku menjawab sekenanya. Ujung-ujungnya minta duit. Karena memang ngga punya duit kubilang saja kalau aku tidak punya duit. Waktu itu di dompet hanya ada uang 40 ribu tok. Sementara yang mereka minta lebih dari seratus ribu.

Kukatakan aku sedang kuliah dan uang kuliah saja belum bayar. Boro-boro bayar uang tilang. "Kalau punya uang saya udah bayar uang kuliah, Pak," kataku waktu itu.

Tapi bukan mereka namanya kalau pasrah begitu saja, mereka menyarankanku untuk pinjam. Waktu itu aku baru ngeh ada beberapa yang sedang telpon dan minta datang ke lokasi untuk membayar tilang. Aku sempat terfikir untuk melakukan itu, tapi siapa yang mau kutelpon? Masak kusuruh mamakku yang dari Aceh Timur sana untuk datang ke Banda Aceh. Uhg... konyol dong!

"Saya anak kost pak, nggak punya sodara di sini," kataku lagi.

Hari semakin sore. Lebih dari setengah jam aku di situ. Di pondok aku duduk dengan santai. Sibuk main hape dan memperhatikan orang-orang yang satu persatu pergi karena urusannya sudah beres. Beres? Maksudku uang sudah membereskan masalah mereka. Aku?

Seorang polisi kembali mendekat. Katanya hari sudah sore, mereka mau pulang. Aku pun masih dengan jawaban yang sama; tak ada uang.

Akhirnya setelah lama "betekak" akhirnya muncul juga kata-kata seberapa adanya saja. Aku langsung terbayang pada uang dua lembar 20 ribuan di dompet. Dengan pertimbangan hari sudah sore, dan aku harus segera sampai ke tujuan maka uang itu akhirnya kuberikan juga. Setelah kembali meluncur ke jalan aku tersenyum kecil, rasa-rasanya aku kok berasa baru aja ngasi uang ke P*nge***.

***

Terlepas dari hal apapun, memberikan uang seperti itu bukanlah tindakan terpuji. Terserah mau memberi alasan apa, tetap saja namanya praktik suap. Jika aku ditilang karena memang pantas ditilang, ternyata tak semua orang mengalami nasib sama denganku. Nyatanya, ada yang semua surat-suratnya sudah lengkap tapi masih ditilang juga. Semua itu tak terlepas dari usaha mencari-cari kesalahan misalnya tak ada penutup pentil ban, kaca spion tidak lengkap, tidak menyalakan lampu. Kalau untuk mobil mereka bisa berdalih tidak menggunakan sabuk, tidak punya segitiga pengaman, pokoknya ada saja. Padahal sosialisasi dalam berkendaraan sangat minim diberikan untuk masyarakat.

Kami pernah mengalami hal ini waktu pergi ke Sumatera Utara. Waktu itu memang segitiga pengaman itu tidak ada di mobil, tapi razia yang dibuat subuh-subuh itu membuat kami tak yakin kalau itu razia resmi. Apalagi tidak ada penanda jika sedang ada razia. Lama berdebat si polisi itu tak juga mau menyerah. Sampai akhirnya salah seorang teman yang berprofesi sebagai wartawan keluar dan menunjukkan ID cardnya. Rupanya ID card TVRI itu sangat ampuh. Kami dibiarkan berlalu.

Trimester pertama awal tahun lalu hal serupa juga kualami. Karena suatu keperluan aku terpaksa keluar kantor, tujuanku waktu itu hendak ke kantor DPRA. Siapa duga jika di Jalan Teungku Chik Ditiro aku terperangkap razia besar, gabungan antara polisi dan polisi militer. Tak ingin kena tilang aku segera berhenti di depan Yayasan Cut Meutia. Dari jauh kulihat seorang aparat memanggilku. Langsung saja kukeluarkan kartu pers dan kubilang aku mau liputan. "Siapa yang harus saya jumpai untuk wawancara?" sosorku. Ia pun mengarahkanku kepada seseorang di depan Gedung Sosial.

Di belakangku seorang teman juga berhenti. Saat ditanyakan oleh aparat tadi dia langsung menunjuk ke arahku. "Saya wartawan magang, saya ikut dia untuk liputan," begitu kilahnya. Aku ingin tertawa tapi kutahan. Dan memang, waktu itu dia sedang magang di media tempatku bekerja. Tapi alasannya ikut denganku seratus persen direkayasa.

Kali berikutnya aku juga hampir terjebak razia kendaraan, tapi untungnya aku segera menemukan jalan tikus. Lolos! Aku juga pernah kena razia di depan Satlantas Lamteumen, di Lampenerut. Sebenarnya, jika mereka punya alasan untuk mencari-cari kesalahan masyarakat, masyarakat pun punya alasan untuk tidak mau berurusan dengan mereka.[]

Komentar

  1. memicu adrenalin saat bisa lolos dalam "dekapan" razia krn surat2 gak lengkap hahahaaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah... iya bang Ari, sebenarnya itu untuk melatih insting kita juga sebagai survivor di dunia nyata.... hahahahaaaa

      Hapus
  2. Selama punya kendaraan, aku sama sekali gak punya SIM, tapi sama sekali belum pernah kena razia, wkwkwk...
    mesti punya lah ni ke depan :D

    BalasHapus
  3. Bangga that kak Eky wkwkwkwkw

    BalasHapus
  4. Haha, tadi juga ada di Setui, hampir aja diberhentiin, ya walaupun surat2 lengkap, suka deg-degan kalo dirazia, takut ditanyain,"kamu papa piyoh kan?" :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tinggal balas aja, kamu fansnya Piyoh kan? :-D

      Hapus
  5. Kyaknya bisa d jadikan cara tu kak ihan,,, perlu id card pers nie... biar aman

    BalasHapus
  6. Saya juga pernah dirazia dan terakhir saya kirimkan tulisan ke media. Biar tahu rasa polisi itu. hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah... ya ada beberapa teman melakukan itu kak

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…