Langsung ke konten utama

Overdosis kopi!

Foto by @infojkt
HARI ini, setelah beberapa bulan pantang kopi akhirnya aku kembali meneguk minuman berkafein itu. Ini bukan suatu kesalahan, mengingat saat memutuskan berpantang dulu aku tidak bernazar atau bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Saat itu, aku hanya berniat akan berhenti untuk sementara. Berikutnya untuk memenuhi anjuran dokter. Selanjutnya untuk membuat hati ibuku lega!

Seperti bertemu pacar rasanya, secangkir kopi yang kuambil di bar kusesap pelan. Kunikmati benar-benar, pahitnya, manisnya, terasa lengket di bibirku, setelahnya aku tersenyum senang. Ah, akhirnya kerinduanku selama ini terbayar sudah. Seperti habis berciuman, berkali-kali kujilat bibirku agar bekasnya benar-benar hilang.

Rindu? Ya, mungkin agak berlebihan tapi memang begitu adanya. Entah sejak kapan aku mulai menyukai kopi. Tapi yang pasti saat masih SD tiap kali pulang ke rumah nenek di Teupien Raya Pidie, aku selalu minta dibelikan racikan kopi di warung. Alasannya? Racikan kopi tersebut lebih kental, lebih pahit dan rasanya tidak terlalu manis. Berbeda dengan seduhan kopi Cap Rusa yang biasa disuguhkan ibu pada masa itu. Rupanya rahasia kelezatan dan kegurihan kopi Teupien Raya itu kabarnya diberi tambahan beras, gambir dan jagung sebagai campuran. Jadi tastenya lebih kuat. Aku memang kurang suka dengan racikan kopi yang greu alias encer.

Di rumah jika aku menyeduh kopi sendiri, kupastikan bubuk kopinya lebih banyak dari takaran biasa dengan takaran gula yang lebih sedikit. Pernah beberapa waktu aku membawa botol minuman yang isinya bukan air putih melainkan kopi, entah itu kopi yang kubeli di warung, atau kopi sachet seperti cappucino atau teh tarek, atau coffee mix.

Sekali waktu aku minum kopi dalam keadaan perut kosong, rupanya itu berpengaruh. Sayangnya waktu itu aku belum mengetahuinya. Jadi, ketika beberapa saat kemudian aku sempoyongan, jantung berdebar-debar, pusing, dan mual kupikir itu keracunan kafein. Aku pun pantang kopi. Tapi tak lebih dari dua minggu. Setelah itu aku kembali seperti biasa, setiap ke warung kopi tak pernah alpa aku memesan kopi.


Suatu malam, seorang teman menraktir kopi. Setelah habis satu cangkir, ia kembali memesan secangkir lagi. Meski sempat kutolak akhirnya kopi tersebut akhirnya kuhabiskan juga. Sialnya kopi yang kupesan itu lebih pahit dan lebih kental dari yang biasa disuguhkan. Intinya setelah pertemuan itu selesai aku segera pulang. Begitu sampai di rumah aku lemas, badanku berkeringat, pusing, mual dan jantung berdebar tak karuan. Dalam kondisi setengah sekarat itu aku ingat kalau perutku juga kosong sebelum ngopi tadi. Di situlah baru ngeh kalau perut kosong sebaiknyanya jangan minum kopi. Bisa meningkatkan asam lambung. Sejak itu aku selalu menjaga, kalau perut kosong kuusahakan untuk ngga minum kopi.

Sampai akhirnya Sabtu 29 Juni lalu, seorang teman mengundang untuk minum kopi. Tawaran yang ngga bisa ditolak, apalagi yang ditawarkan kopi arabica Gayo yang terkenal itu. Hari itu aku memesan espresso. Kali ini aku cukup percaya diri untuk mencicipi espresso, pasalnya aku sudah makan siang. Dijamin ngga bakal kembung atau keracunan kafein deh. Setelah secangkir kecil espresso habis, aku memesan kopi saring. Rugi jika tidak mencobanya, karena kafe yang kudatangi satu-satunya tempat yang menyediakan kopi saring arabika. FYI aja, di Banda Aceh kopi saring menggunakan biji kopi robusta. Dari segi taste, arabica dan robusta punya perbedaan yang menyolok. Katanya kopi arabica baik untuk kesehatan.

Malamnya ngga ada perubahan apa-apa, cuma ngga bisa tidur saja. Kupikir, itu wajarlah, wong kopi yang kuminum double porsinya. Besoknya aku masuk kerja seperti biasa. Menjelang magrib aku baru merasakan seperti ada yang aneh dengan tubuhku. Jantungku mulai berdetak kencang, sakit, menjalar dari lengan kiri sampai ke punggung belakang. Perutku mual, kepalaku puyeng luar biasa. Aku tak berani menduga-duga jika penyebabnya karena terlalu banyak minum kopi. Aku berfikir sedang terkena serangan jantung!

Selepas isya jantungku semakin sakit. Perih dan berdenyut-denyut. Karena tak sanggup lagi kutahan akhirnya kutelepon ibu. Kuadukan rasa sakit tersebut. Sejak sebelas tahun merantau baru kali itu aku mengadu sakit pada ibuku. Mengadu dengan penuh kekhawatiran. Dengan napas yang tersengal-sengal. Dan dengan air mata yang kutahan agar tak jatuh. Sementara suaraku sudah sangat bergetar, kugigit bibirku agar ibu tak mengetahuinya. Intinya ibu menyuruhku ke dokter yang segera kuiyakan dan telepon segera kututup.

Dalam kondisi seperti itu aku tiba-tiba begitu kalut. Yang terbayang saat itu hanya kematian. Kematian. Dan kematian.! Tak ingin mengganggu konsentrasi kerja teman yang lain, aku ke toilet dan menangis di sana. Aku sesenggukan sambil menahan sakit di dada sebelah kiriku. Nyut-nyut. Aku tak bisa bernapas karena setiap kali menarik napas dadaku sangat sakit. Bagai dihimpit beban berat. Aku juga menelepon beberapa teman untuk meminta saran. Saat itu aku masih tak mau "mengaku" pada diriku sendiri bahwa penyebabnya adalah over dosis kopi. Entah mengapa, aku jadi sentimentil dan ketakutan itu makin membayang-bayangi. Terbayang malam-malam aku susah tidur karena kesulitan bernapas. Terbayang rongga paru-paruku yang terasa sempit tiap kali aku menegak-negakkan badan. Huff....

Besoknya aku benar-benar ke dokter, meski kondisiku agak lebih baikan. Tapi saat aku bernafas rongga dadaku masih terasa sesak. Sakit. Masik bagai ditimpa beban yang berat. Di ruang praktik, dokter bertanya beberapa hal. Aku menjawab sejujurnya, tapi tentang kopi itu tak kuceritakan yang sebenarnya. Kubilang biasanya aku tak pernah mengalami hal seperti ini.

Akhirnya dokter bilang "Tubuh memang biasa saja, tapi jantungnya yang ngga kuat. Bayangkan saat jantung mestinya beristirahat tapi karena pengaruh kafein tetap harus dipaksa bekerja. Berhenti saja dulu sampai semuanya membaik". Aku tak membantah lagi, selanjutnya kuikuti sarannya. Sesaat kemudian aku sudah berada di depan apotik. Mengantri.

Bagaimana rasanya berpantang kopi? Tidak enak, bagai menahan diri dari pelukan atau ciuman kekasih saja rasanya. Apalagi setiap hari teman-teman di ruangan selalu terhidang kopi di mejanya. Setiap sore mereka menyantap gorengan dengan suguhan kopi yang mengepulkan asap. Aromanyaaa.... hm... menggelitik indera penciumanku. Menggoda adrenalinku. Tapi bayangan rasa sakit tempo hari rasanya masih terasa, karena itu kutahan diri. Kadang-kadang saat angin bertiup, aroma kopi gongseng dari Gampong Garot bertiup hingga ke ruanganku. Jangan tanya bagaimana rasanya, bagai orang sange yang tak terpenuhi hasrat seksualnya.

Tapi hari ini, setelah beberapa bulan off dorongan untuk segera minum kopi begitu kuat dalam diriku. Rasanya pagi tadi tak sabaran lagi segera ke bar lalu menuang kopi di termos ke cangkir bening. Dan aahhhhh... bagai bertemu kekasihku, sekali hap! Segera kutautkan bibirku dengan bibir cangkir. Selanjutnya... hanya leguh nikmat dan puas. Kopi oh kopi![]

Komentar

  1. kak suka kopi dek tapi klo udah minum kopi dan teh pasti kumat angin dan asam lambung, apa karena pengaruh kafein ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Lisa, bisa jadi kak, pokoknya kalau minum kopi jangan perut kosong karena bisa memicu asam lambung. Ihan biasanya kalau minum kopi2 sachet yang campur2 susu gitu juga berangin kadang-kadang, makanya lebih suka kopi hitam

      Hapus
  2. kamu itu siapa? cewek atau cowok? huff.....

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…