Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2007

Check out my Slide Show!

Pesan Kepada Teman

"Salam. Terimakasih telah mengantarkan kopian Meretas Jalan Menuju Jingga
(saya menunggu2 anda online dari kemarin).
Saya betul2 gak menyangka, anda menitip itu untuk saya, saya kaget bercampur senang (beberapa saat kemudian terharu), teringat perjuangan anda menulis itu, dan perjuangan anda mengantarnya untk saya. Saya sudah membaca semuanya.
Terimakasih telah berbagi kpd saya.
Jika nanti anda sdh online, saya ingin dengar cerita anda kala mengantarnya kpd saya"



Empat baris pesan muncul dalam bentuk offline message begitu saya membuka program yahoo messenger dilayar komputer. satu dari empat itu tidaklah terlalu menarik untuk diperhatikan, bahkan langsung saya delete tetapi tidak untuk tiga pesan lainnya yang dikirimkan oleh nick name yang sama. membaca pesan tersebut membuat saya serta merta ingin menangis dan mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya. namun karena ditempat umum dan di ruangan terbuka itu tidak mungkin untuk dilakukan. menangis didepan orang? adalah hal yang ti…

Aku Diminta Bercerita

aku diminta bercerita tentang cinta
terus terang aku bingung
sama bingungnya seperti diminta bercerita tentang isi hati
sebab banyak sekali yang berkubang disana
ketika matahari tergelincir
kumpulan air mata membanjir
membentuk lumut-lumut berkerak disudut yang entah
mungkin juga berkolaborasi dengan bulan yang terbalut perak
yang ku katakan ada bola matanya disana
aku setengah sadar
terhuyung dan hampir terjerembab
tapi ku akui
kau memang hebat dan berani



senin, 27/08/07

Dialog Dua Perempuan

Tabloid Politik dan Hukum yang dipegang perempuan paruh baya tersebut langsung ia letakkan saat melihat putri semata wayangnya muncul diruangan tengah dengan wajah cemberut. Seperti biasa, Hani perempuan itu langsung menerima salaman dari anaknya disusuli dengan kecupan dikening anaknya. Begitulah cara ia menumpahkan kasih sayang pada anaknya.“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?” Tanya Hani pada anaknya, ZaliaZalia mengangguk. Tapi Hani tahu kalau anggukan itu lebih pada ekspresi tidak menyenangkan yang ingin dikatakan oleh Zalia.“Apakah tidak bisa kalau tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia Mama?” Tanya Zalia kemudian. Mulutnya masih moncong kedepan. Hani jadi geli melihat sikap anaknya. Kalau tengah begitu pasti dia disuruh mengarang lagi di sekolah. Tugas yang paling tidak disukai oleh Zalia. “Bisa saja, toh setiap hari kita sudah berbicara dalam bahasa Indonesia.” Jawab Hani pendek. Zalia tersenyum senang, ia merasa ibunya berpihak padanya. Mengarang memang tugas yang sangat menyebal…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIV (Tamat)

Lama ku pandangi wajah Juan. Belum ada sepatah katapun yang mampu ku ucapkan, padahal keberadaan Juan disini adalah karena undangan ku setelah tiga bulan lebih kami tidak pernah saling bertemu, tidak pernah berkirim kabar dan tidak pernah saling tahu bagaimana keadaan masing-masing. Sangat banyak yang ingin ku katakan padanya, tentang keinginan dan semua isi hati ku selama ini. Tapi entah mengapa bibir ini tiba-tiba mengatup. Suasana hati ku berganti dengan keharuan dan kesenduan yang sangat luar biasa.Pada saat-saat seperti ini kebimbangan dan keraguan kerap kali menyerangku. Membuatku terkurung antara iya dan tidak untuk mengambil keputusan. Tapi, kali ini aku tidak boleh gagal, apa yang beberapa waktu lalu pernah ku lakukan tidak boleh terulang lagi hari ini. Aku ingin semuanya menjadi baik, berjalan sebagaimana garis yang wajar, tidak menelikung, tidak merampas hak orang lain. Aku hanya ingin memiliki Juan sekarang.Tapi apakah ia masih menerima ku? Perempuan yang pernah mempermain…

Kuat

xxxx itu kuat, tetapi lebih bijaksana karena kesalehannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih mulia karena ketaqwaannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih terhormat karena imannya
xxxx itu kuat, tetapi lebih abang cintai karena memiliki ketiganya




on tuesday, 5 may 2005

AKU

aku malam yang rindukan bulan
aku siang yang rindukan matahari
aku gersang yang rindukan embun
aku padang pasir yang rindukan oase
aku jalan yang rindukan musafir
aku lautan yang rindukan pelayar
aku belantara yang rindukan penjelajah

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIII

Sudah sepuluh menit lebih aku berada didepan komputer, tetapi belum ada satupun pekerjaan yang ku kerjakan. Aku samasekali tidak bisa berkonsentrasi sementara beberapa proposal yang ku rancang harus siap dicetak hari ini. Sejak tadi aku hanya duduk diam dan memperhatikan layar monitor ku saja. Sementara lagu Making love out of nothing at all-nya air supply terus mengalun tak henti-hentinya membuat ku semakin larut dalam suasana hati yang tidak menentu. Aku tahu Direktur ku terus memperhatikan ku sejak tadi, tapi sepertinya ia juga mengerti dengan gelisah yang sedang menggulana dihati ku. Sehingga ia tidak mengatakan apa-apa dan diam saja. Sesungguhnya dikantor ini semuanya sama, kami bekerja lintas sektoral tetapi karena tuntutan organisasi tetap saja harus ada yang menjadi petinggi dan ada yang menjadi bawahan.“Kamu ada masalah Jingga?” Pertanyaan Andra si ibu direktur mengagetkan ku. Aku mencoba untuk tersenyum tapi terasa hambar dan getir. Aku membuka beberapa file unt…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XII

Arloji ditanganku sudah menunjukkan angka pukul enam lebih tiga puluh menit. Sebentar lagi magrib menjelang. Tapi aku masih belum ingin beranjak dari tepi pantai ini. Dentuman-dentuman ombak yang menghempas karang terasa sangat menarik untuk ku perhatikan. Bertahun-tahun, selama panjang usia waktu karang itu terus menerus dipukul oleh ombak yang keras. Diterjang oleh badai yang ganas, tapi ia tetap kokoh. Tak bergeming apalagi retak dan hancur.Tak sekalipun ia mengeluh menjadi karang, tak sekalipun ia protes mengapa Tuhan menjadikannya karang yang selalu berteman dengan laut dan gelombang. Dengan angin dan matahari. Dan ia tak pernah membantah saat Tuhan menyuruhnya menjaga pantai dari abrasi air laut. Ia tak takut oleh waktu yang membuatnya tua dan keropos. Berkali-kali aku menghela napas, merasa malu sekaligus cemburu pada ketegaran makhluk bernama karang. Aku manusia, punya akal dan pikirian, karunia yang diberikan Allah yang tidak dipunyai oleh makhluk mana pun. Tapi mengapa aku s…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XI

“Apa maksud abang menyinggung soal Juan? Abang kenal dia” Tanya ku curiga sambil melepaskan pelukannya. Aku memandangnya tak berkedip, menunggu jawaban darinya. Zal tersenyum.“Kamu tentunya bertanya-tanya kan, mengapa selama delapan bulan terakhir ini abang sepertinya menjauh dari kamu. Dan kamu mengenal Juan juga selama waktu itu bukan?” Zal memulai pembicaraannya. Aku diam saja mendengarkan.“Kamu belum lupakan kapan kamu menceritakan perihal abang kepada Juan?”“Iya, Jingga masih ingat. Dan setelah itu Juan menghilang. Apa ada kaitannya dengan abang?” buru ku“Abang juga yakin kamu belum lupa saat kamu bertemu dengan Juan di Kafe ini, dimeja ini beberapa bulan yang lalu. Setelah ia lama menghilang.”“Abang terlalu bertele-tele.”“Waktu dia menghilang setelah kamu menceritakan soal hubungan kita, Juan datang menemui abang, hanya untuk memastikan apakah Zal yang kamu maksud abang atau Zal yang lain. Ternyata Zal itu adalah abang, abang mengaku setelah dia mendesak dan memaksa abang. Waktu…

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian X

Aku wanitaYang punya cinta dihatiAda dirimu dan dirinya didalam hidup kuMengapa terlambat cinta mu telah termilikiSedang diri ku dengan dia telah begitu cintaMengapa yang lain bisa mendua dengan mudahnyaNamun kita terbelenggu dalam ikatan tanpa cintaAtas nama cintaHati ini tak mungkin terbagiWalau sampai nantiCinta ini hanya untuk engkauAtas nama cintaKu relakan jalan ku meranaAsal engkau akhirnya dengan kuKu bersumpah atas nama cintaLagu atas nama cinta-nya Rossa mengalun dengan indah dari hand phone ku, nama Zal muncul disana. Hati ku berdebar-debar hebat, bergemuruh dan gerimis. Zal, ada apa ia menelepon ku. Apakah ia juga merasakan rindu yang sama kepada ku? Apakah hatinya juga merasakan gelisah dan sakit yang ku rasakan? Disaat aku hampir bisa melupakannya mengapa ia muncul lagi? Sengaja kah ia membuat aku begini?Lama kubiarkan benda mungil itu meraung-raung, hingga akhirnya kembali diam. Namun saat panggilan ketiga aku tak tahan dan akhirnya ku terima juga. Suara Zal yang khas s…