Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian IX


Wajah Aliya sangat pucat, ia kelihatan tak berdaya dan putus asa. Tidak ada tanda-tanda semangat hidup lagi dimatanya. Matanya menerawang, memandangi loteng putih rumah sakit yang semakin membuat dadanya terasa sesak dan sakit. Ia masih beruntung, kami belum terlambat membawanya ke dokter. Kalau terlambat sedikit lagi jiwanya tidak bisa terselamatkan, begitu yang dikatakan dokter yang menanganinya.

Sejak semalam aku belum sempat beristirahat sejenak pun, aku menungguinya hingga pagi, Aliya tidak mau tidur. Ia terus menangis dan menceracau. Membuat ku semakin prihatin melihatnya. Namun aku juga tidak bisa melakukan banyak hal selain menyuruhnya untuk tenang. Syukurlah pagi tadi dokter menyuntiknya dengan obat penenang dan aku bisa bersih-bersih.

Hati ku benar-benar berkecamuk saat ini, trenyuh melihat kondisi Aliya, marah bila mengingat Firman dan ingin menjerit bila mengingat kejadian yang menimpa diri ku sendiri. Bersama Aliya membuatku tak sempat menangisi lebih lama kesedihanku. Dan kehadiran Juan benar-benar membuat ku tenang. Tadi pagi ia masih sempat menanyakan soal pernikahan kami, tapi aku tidak menjawab apa-apa. Aku belum sempat menceritakan persoalan ini pada nya.

Pukul delapan lebih seperempat Juan datang membawa sarapan untuk ku, dan Aliya tentunya. Aku jadi tidak tega juga melihatnya repot-repot begitu, padahal aku tahu pagi ini dia ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Tapi entah mengapa tiba-tiba Juan membatalkan pertemuan itu.

“Tidak ada yang lebih berarti untuk ku selain kamu Jingga.”

“Iya, tapi abang tidak sampai harus berkorban sebesar itu.”

“Kamu juga sudah berkorban untuk abang kan? Apa salahnya kalau abang juga ingin berkorban untuk mu?”

“Jingga berkorban apa?”

“Hati mu. Abang tahu kamu sudah bersusah payah melupakan Zal dan belajar mencintai abang. Itu pengorbanan yang sangat besar sayang…”

Aku menunduk. Hati ku kembali bergolak. Aku ingin menangis. Yah, aku sudh berkorban besar, melupakan Zal, meninggalkan orang tua.

“Abang?”

“Ya”

Ada yang ingin Jingga ceritakan pada abang.”

“Apa itu?”

“Mulai hari ini, Jingga sudah putuskan untuk memilih abang.”

“Bukankah sejak kemarin-kemarin kamu sudah lakukan itu?”

“Iya, tapi hari ini lain.”

“Lain bagaimana?” kening Juan berkerut.

Air mata ku menitik. Juan menggamit tangan ku dan menggenggamnya dengan erat. Ia menatapku dalam-dalam.

“Katakan ada apa?”

“Orang tua ku tidak merestui lagi hubungan kita. Sedang aku sudah putuskan untuk memilih abang, dan itu artinya…”

Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur napas agar aku bisa berbicara dengan enak. “Artinya….artinya….aku harus melepaskan orang tua ku.”

“Jingga, MasyaAllah. Mengapa bisa begitu? Kan abang sudah bertemu dengan ayah dan mama mu soal ini.”

“Jingga juga nggak tahu bang, alasannya ngga jelas. Aku sudah tidak boleh pulang lagi kerumah.”

“Mengapa jadi rumit begini ya?”

“Jingga Cuma minta, supaya abang tidak ikut meninggalkan ku. Aku takut bang…takut sekali. Takut abang mempermainkan ku dan meninggalkan ku. Seperti Aliya…” tangis ku pecah.

“Ssssttt….jangan bicara begitu, abang tidak akan membuat mu begitu. Kalau abang mau abang bisa saja, tapi untuk apa abang mengajak mu menikah kalau aban hanya ingin mempermain kan kamu?”

“Abang benar-benar mencintai Jingga?”

“Apa kamu berfikir abang tidak tulus mencintai kamu?”

“Aliya bang….dulu Firman juga bilang begitu padanya. Tapi lihat sekarang, setelah Aliya hamil, dia menghilang.”

“Sudah sudah, kamu jangan fikirkan yang lain dulu. Sekarang tenangkan diri mu dulu ya. Nanti kita pikirkan bagaimana setelah ini. Sekarang kamu sarapan dulu, jangan sampai kamu sakit, kasihan Aliya, tidak ada yang merawatnya nanti. Dia sangat membutuhkan kamu.”

“Terimakasih cinta…”

“Jingga?”

“Ya, ada apa?”

“Selama kita menjalin hubungan…baru kali ini abang mendengar mu memanggil abang sebaga cinta-mu.”

“Abang memperhatikan ku sampai ke ayat itu?” Tanya ku bergetar.

Ku akui, selama beberapa bulan terakhir menjalin hubungan dengan Juan memang baru kali ini aku mengucapkan cinta kepadanya. Sebelumnya aku seperti tak pernah rela kata itu terlontarkan kepada orang selain Zal. Tapi mendengar Juan berkata begitu membuat ku benar-benar merasa berarti, aku merasa ia menganggap ku penting bagi dirinya.

“Makanlah dulu.”

“Iya.”

Bubur ayam yang dibawakan Juan tak sanggup ku habiskan, begitu juga dengan Aliya, ia hanya sanggup menghabiskan beberapa sendok. Tapi itu sudah cukup untuk menambah asupan dalam tubuhnya. Besok atau lusa ia sudah boleh pulang, dan itu artinya aku harus merawatnya. Kasihan dia hidup seorang diri, aku tak pernah mendengar Aliya menceritakan tentang keluarganya, sejak aku mengenalnya hanya Firman yang selalu terdengar dari bibir mungilnya.

Dari kejauhan ku pandangi Juan yang tengah berbicara dari telepon. Entah mengapa hari ini aku merasakan cinta Juan begitu besarnya untuk ku. Dan rasa sayangku kepadanya bertambah beratus-ratus kali lipat. Semoga aku tidak salah memilihnya sebagai qawwam bagi ku.

“Jingga…”

“Aliya, ada apa?” aku senang ALiya sudah mau berbicara

“Kamu kelihatan pucat. Kamu kurang istirahat karena menjaga ku. Aku tidak bisa membalas semua kebaikan mu Ngga.”

Aku tersenyum. Tak mampu menjawab apa-apa.

“Kita kenal belum terlalu lama, bertemu juga baru beberapa kali. Tapi pengorbanan kamu pada ku sudah seperti ini.”

“Al sudah lah…”

“Aku tahu kamu sedang dalam masalah besar.”

“Aku tidak ada masalah apa-apa kok.”

“Ngga, kamu jangan bohong sama aku. Tadi aku mendengar obrolan kalian.”

“Bukannya kamu tidur?”

“Iya, aku memang tidur, tapi kemudian terbangun. Maaf, aku tidak sengaja.”

“Begitulah Al. orang tua ku sudah tidak mengizinkan lagi aku memanggil mereka orang tua.”

“Jadi itu benar?”

Aku mengangguk. Ku belai rambut Aliya dengan lembut. Segaris senyuman menghiasi bibirnya yang pucat. Aku senang bisa melihatnya kembali tersenyum.

“Aku jadi malu sama kamu Ngga. Aku begitu rapuh. Lemah. Aku mau dikalahkan oleh nasib.”

Aku juga rapuh, lemah dan tak berdaya Aliya….batin ku.

“Juan mana?”

“Sedang mengambil resep obat untuk mu. Kamu jangan menyakiti dirimu lagi seperti itu ya? Kasihanilah dirimu sendiri, buktikan pada Firman bahwa kamu masih sangat berarti dan tidak akan mati tanpanya.”

“Aku akan mencobanya.”

“Bagus itu.”

Aku memeluk Aliya dengan erat. Dalam balutan selimut putihnya aku seperti mendapatkan kekuatan untuk menunggu matahari terbit esok pagi. Warnanya yang jingga membuatku tak ingin berhenti hanya sampai pada hari ini saja. Aku beruntung segera bertemu dengan Aliya sehingga tidak berlarut-larut dalam kesedihanku. Melihat Aliya setidaknya menuntunku untuk terus berhamdalah, apa yang aku alami tidak seburuk yang ia alami.

Hhh…Tuhan memang maha adil.

Bersambung…

Komentar