Langsung ke konten utama

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XIII


Sudah sepuluh menit lebih aku berada didepan komputer, tetapi belum ada satupun pekerjaan yang ku kerjakan. Aku samasekali tidak bisa berkonsentrasi sementara beberapa proposal yang ku rancang harus siap dicetak hari ini. Sejak tadi aku hanya duduk diam dan memperhatikan layar monitor ku saja. Sementara lagu Making love out of nothing at all-nya air supply terus mengalun tak henti-hentinya membuat ku semakin larut dalam suasana hati yang tidak menentu.

Aku tahu Direktur ku terus memperhatikan ku sejak tadi, tapi sepertinya ia juga mengerti dengan gelisah yang sedang menggulana dihati ku. Sehingga ia tidak mengatakan apa-apa dan diam saja. Sesungguhnya dikantor ini semuanya sama, kami bekerja lintas sektoral tetapi karena tuntutan organisasi tetap saja harus ada yang menjadi petinggi dan ada yang menjadi bawahan.

“Kamu ada masalah Jingga?”

Pertanyaan Andra si ibu direktur mengagetkan ku. Aku mencoba untuk tersenyum tapi terasa hambar dan getir. Aku membuka beberapa file untuk menutupi ke-kikukan-ku.

“Kalau kamu menganggap aku sahabatmu, berbagilah Ngga. Kita bisa cari solusinya bersama-sama kan?” kembali ucapan Andra masuk ke gendang telinga ku.

Aku kembali tersenyum. Tapi dengan air mata yang mengambang dipelupuk mata. Terpaksa aku berkedip-kedip berkali-kali agar air mata itu tidak jadi jatuh.

“Kalau memang tidak sanggup mengerjakan pekerjaan mu, sebaiknya jangan dikerjakan dulu. Biar nanti Sarah saja yang mengerjakan. Kan tinggal di print out saja.”

“Aku memang sedang tidak enakan. Akhir-akhir ini aku kurang istirahat dan banyak pikiran Kak. Tapi bukan karena pekerjaan, tapi soal yang lainnya.” Aku mulai bersuara. Ku pikir ada baiknya juga bila aku berbagi dengan Andra, dia sudah menikah dan paling tidak bisa memberikan jalan keluar pada persoalan yang sedang ku hadapi ini.

Dan tidak enaknya air mata ini mulai berloncatan lagi begitu aku mulai mengawali ceritaku. Rongga hati ku serasa sesak dan sengkak, lidah ku menjadi kelu. Andra memperhatikan ku dengan serius, ia tidak lagi berkomentar apapun, hanya menunggu kelanjutan cerita ku.

“Aku sedang menghadapi masalah yang membingungkan, Kak. Kepalaku mau pecah rasanya menghadapi semua ini.”

“Masalah apa itu?”

“Kakak masih ingat dengan Juan yang pernah bertemu di Kafe Kita yang aku kenalkan sama kakak beberapa bulan yang lalu?”

“Ya. Kakak ingat. Kenapa dengan dia?”

“Aku dan Juan sebenarnya punya hubungan khusus, kami saling menyukai dan berniat meneruskannya ke jenjang pernikahan. Tapi orang tua ku tidak menyetujuinya.” Mata ku menerawang, menatap langit-langit ruangan kantor yang berwarna biru muda. Ku gigit bibir bawah ku kuat-kuat agar air mata ku tidak lagi keluar.

“Tidak setuju kenapa, Dek?” jawab Andra. Ia memang begitu, kalau sedang serius selalu memanggil ku begitu. Dek!

“Karena Juan sudah menikah.”

“Apa? Sudah menikah? Dan kamu mau?” Tanya Andra beruntun.

Sudah ku duga. Dia pasti akan kaget. Aku mengangguk.

“Tapi dia sudah bercerai dengan istrinya sejak lima tahun yang lalu, dan menurutku tidak ada yang cela dari Juan yang bisa membuat ku untuk menolaknya.” Kata ku lagi. Andra tampaknya sedang berfikir, ia pasti tidak mau salah memberikan pendapat dalam hal ini. Takut aku tersinggung.

“Dan sekarang, aku diusir dari rumah karena aku tidak mau menolak Juan.”

“Apa!? Diusir?! Sejak kapan? Kok kamu ngga pernah bilang sama kakak?”

“Sudah satu bulan kak. Memang tidak ada yang tahu, dan aku tidak mau orang-orang tahu.”

“Apa aku orang lain Jingga? Jingga….sudah selama itu kamu diusir keluarga mu, mengapa baru sekarang kamu cerita sama kakak?” Andra terlihat gemas.

“Aku tidak mau persoalan pribadi ku diketahui oleh orang lain Kak. Aku merasa sanggup mengatasi semua itu, tapi ternyata tidak. Sekarang aku menjadi bingung, bingung untuk membuat keputusan.”

“Apa Juan tahu?”

“Juan tahu, itulah persoalannya. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa batas waktu pasti. Saat Juan mengajak ku menikah sekarang, aku jadi ragu, tapi bukan karena persoalan orang tua ku melainkan karena persoalan lainnya.”

“Masalah apalagi?”

“Kak?”

“Ya”

“Kakak janji ya, kalau aku bercerita yang sebenarnya kakak tidak akan mencela ku.”

“Apa selama ini kakak pernah berbuat begitu?”

“Tidak. Tapi ini masalahnya lain.”

“Ayo katakan saja,”

“Sebenarnya sebelum ada Juan, ada laki-laki lain dihati ku. Dan sampai sekarang pun masih. Aku sangat mencintainya, dan aku yakin dia juga begitu. Tapi karena sesuatu dan lain hal kami tidak mungkin bersama. Karena itulah aku tidak bisa sepenuhnya menerima kehadiran Juan. Namun, saat aku mencobanya dan keputusan ku sudah mantap untuk menerima Juan, aku baru tahu kalau ternyata Juan teman dekat lelaki yang ku cintai itu. Kakak bisa bayangkan bagaimana robeknya hati ku? Menikah dengan teman dekat kekasih ku sendiri, yang dengan sendirinya kami akan semakin menjadi sering bertemu nantinya. Itulah yang membuat ku takut dan tidak berani meneruskan hubungan dengan Juan. Tapi…dilain hal aku juga tidak ingin kehilangannya.”

“Kakak juga tidak tahu mau beri komentar apa Dek, tapi, kalau boleh kakak tahu apa yang membuat kamu dan kekasih mu tidak mungkin bersama.”

“Karena dia sudah menikah.”

“Jingga…” desis Andra kaget

Aku mengangguk.

“Kakak bukan bermaksud menyalahkan mu, tapi ini memang rumit.”

“Menurut kakak, apa sebaiknya yang harus aku lakukan?”

“Kakak hanya bisa memberi saran, tidak bisa mendikte keputusan pada mu. Tapi…coba kamu fikirkan lagi, apa untungnya bagi kamu mempertahankan laki-laki yang tidak bisa kamu nikahi, dan apa buruknya menerima Juan dengan setengah hati mu. Awalnya memang terasa sedikit berat, tapi seiring dengan berjalannya waktu, kalau kamu sudah bersamanya nanti rasa suka dan cinta yang sebenarnya itu akan hadir.”

“Itulah yang aku tidak yakin Kak.”

“Keraguan mu itu sebenarnya adalah racun bagi masa depan mu, sampai kapan kamu akan terus memenjarakan perasaan mu begitu? Apa kamu tidak ingin punya keluarga sendiri yang utuh dan bisa kamu atur sendiri? Dan…ini hanya sebagai perbandingan saja, apa kamu mau dan rela kalau suami mu nanti diam-diam menyimpan cinta untuk perempuan lain Jingga?”

“Kak…aku tidak tahu. Aku bingung sekali.” Aku mulai menangis

“Kakak tidak ingin melihat mu menderita di kemudian hari. Katakanlah kamu menikah dengan laki-laki itu, kamu memang akan bahagia karena menikah dengan belahan jiwa mu, tapi bagaimana kedepannya? Apa kamu mau hidup sendiri nanti dimasa tua mu? Membesarkan anak-anak sendiri tanpa suami? Sementara dia entah ada dimana?”

“Kakak…”

“Sakit diawal memang tidak begitu enak, tapi itu masih jauh lebih baik daripada berantakan pada akhirnya.”

“Apa menurut kakak, sebaiknya aku menerima Juan?”

“Kalau kamu sudah yakin dengan keputusan itu, jangan menunda-nunda sesuatu yang akan membuat mu menyesal suatu hari nanti.”

Aku menatap Andra dalam-dalam. Dengan lembut ia menyeka air mata ku dan menuntunku dalam pelukannya. Tangis ku pun kembali pecah dan terisak-isak.

“Makasih ya kak…”

“Sama-sama Jingga. Jadikanlah ini pelajaran, jangan takut berbagi dengan orang lain. Paling tidak itu akan membuat mu merasa tidak sendiri.”

“Aku takut orang-orang akan mencemooh ku.”

“Tidak semuanya begitu”

“Aku percaya pada Kakak.”

“Kakak juga tidak seluruhnya mengerti pada persoalan kamu, tapi kakak pikir memang seharusnya kita berfikir realistis. Persoalan cinta memang misteri Jingga…kalau kita tidak pintar-pintar memilahnya bukan tidak mungkin kita terjebak pada hal-hal yang tidak kita ingin kan.”

“Itulah yang membuat ku terkatung-katung sejak dulu kak. Kalau saja aku terlalu mengikuti keinginan ku, barangkali aku telah menjadi istrinya dan bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal buruk lainnya.”

“Sekarang buatlah pilihan yang berarti untuk hidup mu. Jangan sampai salah arahan, apa yang kamu alami sudah pernah dirasakan oleh orang tua ku dulu. Karena itu kakak sangat mengerti bagaimana kondisi psikologis seorang perempuan seperti mu. Bukan hanya kamu, tapi juga anak yang akan kamu lahirkan nanti.”

“Benar kah Kak?”

“Iya, ibu kakak sangat menderita karena itu, tapi karena rasa cintanya yang besar kepada ayah dia selalu menutupi rasa kesepiannya dan penderitaannya dengan kebesaran cintanya itu. Sebagai anak yang sudah dewasa tentu saja kakak tidak bisa dibohongi untuk itu. Tapi…kakak tidak pernah mempertanyakan soal itu pada ibu. Karena ayah kakak juga sudah tidak ada lagi, ibu juga sudah tua.”

“Aku benar-benar merasa lega sekarang Kak.”

“Banyak-banyaklah berdoa…”

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.