Langsung ke konten utama

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian XII


Arloji ditanganku sudah menunjukkan angka pukul enam lebih tiga puluh menit. Sebentar lagi magrib menjelang. Tapi aku masih belum ingin beranjak dari tepi pantai ini. Dentuman-dentuman ombak yang menghempas karang terasa sangat menarik untuk ku perhatikan. Bertahun-tahun, selama panjang usia waktu karang itu terus menerus dipukul oleh ombak yang keras. Diterjang oleh badai yang ganas, tapi ia tetap kokoh. Tak bergeming apalagi retak dan hancur.

Tak sekalipun ia mengeluh menjadi karang, tak sekalipun ia protes mengapa Tuhan menjadikannya karang yang selalu berteman dengan laut dan gelombang. Dengan angin dan matahari. Dan ia tak pernah membantah saat Tuhan menyuruhnya menjaga pantai dari abrasi air laut. Ia tak takut oleh waktu yang membuatnya tua dan keropos.

Berkali-kali aku menghela napas, merasa malu sekaligus cemburu pada ketegaran makhluk bernama karang. Aku manusia, punya akal dan pikirian, karunia yang diberikan Allah yang tidak dipunyai oleh makhluk mana pun. Tapi mengapa aku serapuh ini? Mengapa aku tidak sekuat karang itu menghadapi kehidupan ini? Mengapa aku tak mau berjuang untuk merubah nasib ku sendiri? Mengapa cinta sampai bisa mempermain kan ku? Kurang bersyukur kah aku? Kurang berterima kasih kah aku?

“Sudah terlalu malam untuk terus berada ditepi pantai.” Sebuah suara menghentak kan ku. Aku menoleh. Seorang perempuan datang menghampiri ku. Aku jelas tak mengenalnya, tapi ia terlihat begitu bersahaja dan ramah.

“Saya juga mau pulang Bu,” jawabku sambil tersenyum

“Jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi dalam kehidupan ini, semua itu hanya akan membuat kita semakin tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Membuat kita semakin berjarak dengan Nya.”

“Ah ibu…”

“Pulanglah…matahari jingga mu sudah menunggu dirumah mu.”

“matahari jingga?”

“Iya.”

Lagi-lagi perempuan itu tersenyum. Aku menurut. Bangkit dan menyapu butiran pasir yang ada dibagian belakang rok ku.

“Tapi siapa matahari jingga yang ibu maksud?” tanyaku sambil menoleh.

Dan…alangkah terperanjatnya aku saat melihat perempuan tadi tidak ada lagi ditempatnya. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling pantai. Tidak ada seorang pun. Dan…kalaupun perempuan itu pergi tentu tidak akan secepat ini ia menghilang. Aku jadi merinding, bulu kuduk ku berdiri. Siapa perempuan itu? Dan apa maksudnya mengatakan demikian?

Ku percepat langkah kaki ku meninggalkan pantai, matahari telah tenggelam, berganti dengan gelap yang sebentar lagi akan pekat. Aku jadi merasa takut, padahal sesaat yang lalu ku rasakan tempat ini maish terang benderang. Mengapa berubah secepat ini pikirku berkali-kali.

Apakah ini yang dimaksudkan oleh perempuan tadi ditepi pantai? Matahari jingga telah menunggu dirumah ku. Dan saat aku pulang memang Juan tengah menunggu ku diteras depan. Apakah dia matahari jingga itu? Apakah ini pertanda baik untuk ku? Atau apa?

“Sudah lama bang?” tanya ku sambil duduk disebelah Juan

“Lumayan.” Jawab juan singkat

“kenapa tidak menelfon ku?”

“Abang tidak mau mengganggu aktivitas mu”

Aku tersenyum. Begitu juga dengan Juan. Wajahnya terlihat sangat tenang dan teduh. Matanya yang bersinar membuat ku ingin terus memandanginya lama-lama. Tapi entah mengapa kali ini hati ku tidak bergetar saat memandang mata nya. Aku juga tidak merasakan rindu yang berlebihan untuk nya. Walaupun ku akui aku ingin bersama dengannya.

“Jingga, ada yang harus kita bicarakan”

“Tentang apa?”

“Tentang hubungan kita.”

“Apa yang ingin abang bicararakan?”

“Apa tidak sebaiknya kamu mandi dulu, biar segar dan enakan.”

“Tidak usah, jingga sudah mandi tadi sore kok.”

“Soal pernikahan kita…”

“Abang mau bilang dibatalkan saja kan? Jingga sudah duga itu kok bang, dan Jingga terima keputusan itu.”

“Lho!” juan tampaknya sangat kaget dengan pernyataan ku barusan. Matanya memicing, alisnya berkerut. “Kamu ini kalau ngomong suka asal saja, bukan itu yang akan abang sampaikan. Tapi soal lain, kita kan akan menikah lusa, siapa yang akan menjadi wali kamu. Itu yang ingin abang bicarakan dengan kamu.”

“Kalau begitu ya tidak usah menikah saja.”

“Tidak usah menikah bagaimana? Kamu ini kok semakin aneh saja sih Jingga?”

“Sudah tahu Jingga aneh, tapi kenapa masih mau berhubungan dengan Jingga.”

“Abang tidak ngerti maksud kamu.”

“Abang sudah mengerti jauh sebelum kita seperti ini.”

“Maksud kamu?”

“Tanyakan semuanya pada diri abang.” Aku jadi tambah emosi dengan Juan yang pura-pura tidak tahu apa-apa. “Aku tidak ingin menikah dulu bang, dengan siapapun itu. Aku ingin menenangkan hati ku dulu, menenangkan pikiran ku.”

“Ruwet! Semuanya jadi runyam.” Gumam Juan

“Yang bikin runyam dan ruwet juga abang sendiri. Mengapa abang tidak katakan dari awal kalau abang temannya Zal? Mengapa abang menyembunyikan itu dari Jingga? Kenapa bang?” aku mulai merandek.

“Tapi…bukan kah Zal sudah bercerita semuanya?”

“Iya, memang sudah! Tapi itu bukan penyelesaian. Jingga merasa abang dan Zal telah mempemainkan Jingga. Abang sudah bohongi Jingga.”

“Tidak ada yang mempermainkan kamu.”

“Abang bisa beri Jingga waktu?”

“Sampai kapan?”

“Jingga tidak tahu bang.mungkin sampai jingga percaya dan yakin kalau abang benar-benar tulus mencintai ku.”

“Jingga…Jingga…harus seperti apa abang yakin kan kamu? Kalau abang benar-benar sayang dan cinta sama kamu?”

“Abang harus bisa mengembalikan orang tua ku.” Ucap ku asal. Padahal sebenarnya aku hanya ingin menghindar untuk sementara waktu dari Juan. Aku menjadi ragu akan cintanya.

“Iya, abang akan membuktikan itu.”

Aku mengangguk pelan. Bayang-bayang rembulan membuat ku cemburu, ia begitu setia pada malam. Ditemani bintang gemintang. Diam-diam ku amati wajah Juan, ada kesedihan dan mendung menggelayut diwajahnya yang bersih. Namun sinar harapan masih terpancar dimatanya yang hitam. Aku jadi kasihan dan tidak tega padanya. Tapi membohongi diri sendiri juga tidak ada gunanya.

Demikian besarkah kekuatan cinta Zal terpatri didalam hati ku? Hingga aku tidak sanggup menukarkannya dengan laki-laki sebaik Juan sekali pun. Sepelik ini kah jatuh cinta? Serumit inikah menyayangi? Sesakit inikah mengasihi?

“Benar apa yang dikatakan Zal pada abang. Kesetiaan mu memang luar biasa Jingga. Zal boleh berbangga hati mempunyai kekasih seperti mu, tapi sayangnya dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak.”

“Abang, jangan ungkit-ungkit lagi soal itu. Jingga dan Zal sudah berakhir.”

“Justru karena itulah abang ingin menggantikan posisi Zal dihati mu. Abang ingin kesetiaan yang kamu miliki itu bisa abang peroleh.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Yah,”

Angin bertiup semilir, lembut dan sejuk. Merayap hingga ke palung jiwaku yang paling dalam. Namun semua itu belum mampu mendamaikan hati ku untuk menerima Juan. Aku akan mencobanya beberapa waktu lagi. Aku tidak ingin tergesa-gesa menikah dan menyesal kemudian hari. Dan aku…ingin melihat apakah Juan serius dengan apa yang dia ucapkan barusan. Mengembalikan kedua orang tua ku.

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.