Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Dua Jam Bersama Senja

Senin sore kemarin, 15 Oktober 2018 tiba-tiba saja ingin bertemu Senja. Maka bertemulah kami di sebuah kedai kopi di pinggiran jalan protokol di Jalan Ali Hasyimi Banda Aceh. Menunaikan janji temu yang sebelumnya sempat tertunda karena kesibukan masing-masing. Menikmati petang dengan secangkir kopi pilihan masing-masing. Memberi jeda bagi diri untuk menikmati waktu di sela-sela rutinitas. Saat aku tiba secangkir espresso telah terhidang di hadapan Senja yang lebih dulu tiba. Teksturnya yang pekat berfungsi ganda, sebagai medium bagi Senja untuk membuat skestsa. Aku memilih memesan sanger, sajian kopi dengan cita rasa yang lebih ringan karena bercampur krim kental manis. Melengkapi sajian spesial itu, aku memesan semangkuk bakso dan seporsi bakwan korea dengan kuah manis dan rajangan seledri yang segar. Sesaat kemudian Senja menyodorkan kertas . "Ayo kita bikin sketsa..." Hah! Aku terpelongoh. Apa yang akan kugambar? Senja tertawa. Itulah komentar paling mainstream yang sering ia…

Tak Sesederhana Puisi Sapardi

Nyatanya, mencintaimu tak sesederhana puisi yang pernah dituliskan Sapardi Djoko Damono.
Aku memanggil namamu dalam helaan hening. Sebagai isyarat jutaan ucap yang ingin kusampaikan lewat kata-kata. Lalu aku menunggu. Sampai pagi tiba. Bunga-bunga mimpi mengambil alih semua khayaliku tentangmu.
“Aku rindu,” kataku. “Aku ingin bertemu,” kataku lagi.
Pertemuan itu pun, tak sesederhana pertemuan pada lazimnya. Pertemuan itu mengulum mendung, yang bisa melahirkan hujan sewaktu-waktu. Menyekap kata-kata, hingga akhirnya kita nyaris seperti makhluk bisu.
Aku menyesap kopi. Kau menikmati secangkir cokelat panas. Aku mencicipi minumanmu, bukan karena aku sangat ingin menikmati cokelat itu. Tapi agar aku bisa mengecup bibirmu melalui perantara cangkir itu. 
Lihatlah, bahkan untuk saling mengecup pun kita harus meminta bantuan cangkir. Lalu di mana sederhananya mencintaimu?
“Aku ingin menikmati kota ini denganmu.”
Sesederhana itu keinginanku. Tidur beralaskan rumput. Memandangi pendar-pendar keper…