Langsung ke konten utama

Tak Sesederhana Puisi Sapardi



Nyatanya, mencintaimu tak sesederhana puisi yang pernah dituliskan Sapardi Djoko Damono.

Aku memanggil namamu dalam helaan hening. Sebagai isyarat jutaan ucap yang ingin kusampaikan lewat kata-kata. Lalu aku menunggu. Sampai pagi tiba. Bunga-bunga mimpi mengambil alih semua khayaliku tentangmu.

“Aku rindu,” kataku. “Aku ingin bertemu,” kataku lagi.

Pertemuan itu pun, tak sesederhana pertemuan pada lazimnya. Pertemuan itu mengulum mendung, yang bisa melahirkan hujan sewaktu-waktu. Menyekap kata-kata, hingga akhirnya kita nyaris seperti makhluk bisu.

Aku menyesap kopi. Kau menikmati secangkir cokelat panas. Aku mencicipi minumanmu, bukan karena aku sangat ingin menikmati cokelat itu. Tapi agar aku bisa mengecup bibirmu melalui perantara cangkir itu. 

Lihatlah, bahkan untuk saling mengecup pun kita harus meminta bantuan cangkir. Lalu di mana sederhananya mencintaimu?

“Aku ingin menikmati kota ini denganmu.”

Sesederhana itu keinginanku. Tidur beralaskan rumput. Memandangi pendar-pendar keperakan bercampur emas di atas kepala kita. Dan kilau cahaya di sepasang matamu. Mata yang selalu ingin aku tatap. Mata yang ingin kutenggelamkan diriku ke dalamnya.

Jawabanmu mematahkan keinginanku yang sederhana itu. Nyatanya tak sesederhana itu. Kadang-kadang ‘ya’ saja tak cukup sebagai jawaban.[]

-->

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.