Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Dasar Pelupa!

APA kalian pernah mengalami hal sepertiku? Kelupaan menaruh barang tertentu dan itu membuatmu galau sepanjang malam sepanjang hari? Aku sedang mengalaminya (lagi) sekarang, dan rasanya sangat tidak enak. Beginilah nasib anak manusia yang dilahirkan dengan karakter 'agak' melankolis.

Ceritanya, sore kemarin aku nongkrong di sebuah kedai kopi bersama teman-teman. Kebiasaanku adalah selalu membawa bekal air minum ke mana-mana. Nah, pas mau pulang karena botolnya sudah kosong lantas kumasukkan ke dalam ransel. Sialnya aku lupa!

Begitu sampai di rumah seperti ada yang kurang, tapi nggak tahu apa. Ya sudahlah kupikir, ntar juga ketahuan sendiri apa yang kurang itu. Pagi tadi saat mau berangkat kerja, seperti biasa, aku ingin mengisi bekal minum, tapi tidak ada botol minum di meja. Di atas lemari juga tidak ada. Aku keluar dan melongok ke bagasi depan motor, juga tidak ada. Aku lupa memeriksanya di dalam tas.

Aku berusaha mengumpulkan ingatanku. Apakah botol minumku tertinggal di ke…

9 Tahun Tanpa Ayah

Sembilan tahun sudah ayah tidak lagi bersama kami. Ayah kembali kepada-Nya setelah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya pada 16 Januari 2008 silam. Di usia 45 tahun. Usia yang sangat muda.

Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal sudah terjadi selama masa itu. Tapi rasanya baru kemarin pagi aku duduk dengan ayah di beranda rumah. Saat itu kondisi ayah sudah parah, ia duduk di kursi bambu dengan tubuh berbalut jaket hitam. "Ayah sudah tidak sehat lagi," katanya ketika itu. Mungkin ayah sudah punya firasat mengenai dirinya sendiri.

Aku hanya bisa menunduk dengan hati penuh kecamuk. Ingin menangis, tapi tak ingin kutunjukkan kesedihanku. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa.

Aku masih ingat wajah pucat ayah yang kekuningan. Sesekali wajahnya meringis, menahan sakit yang kuyakin sangatlah menyiksa. Tiap kali mengingat ayah selalu saja hati ini menjadi gerimis. Mendadak menjadi cengeng. Apa saja yang mengingatkanku pada ayah selalu membuatku tak…

Oak... Oak... Oak...

Zenja, di antara tiang warna warni itu di mana kita akan bersandar?  Kita berdiri kaku, sementara angin menggerakkan dedaunan, rumput rumput bergerak perlahan, menunjukkan kegirangannya. 
Kita hanya termangu, saling menggenggam erat, tetapi tak bisa melangkah walau pun hanya sehasta.
Mampukah angin menerbangkan kita, sejauh angan kita terbang selama ini. Bahkan angkasa pun sulit menggapainya. Atau mungkin lelautan, yang akan mengirimkan kita ke samudra maha luas dan teduh.



Zenja, di mana kita di antara rintik hujan yang disambut gempita oleh semesta. Di bawah payung warna warni yang berbaris tak beraturan itukah? Atau berselubung payung hitam seperti yang digunakan orang-orang ke pemakaman. Kemudian disambut oleh suara gagak yang memilukan.
Oak... Oak... Oak... 



Gagak itu mencakar cakar tanah, kukunya patah, jemarinya terluka, darah menggenang di ujung jarinya.


Zenja, cukuplah angin yang menghibur. Olehnya kabar tak pernah berkurang sesenti atau dilebihkan berdepa-depa. Ia akan mengatak…

Zenja, Kuceritakan Padamu Secarik Kertas Rahasia

Zenja,
Ketika diam menjadi syarat, bisakah kita membatalkannya?
Mungkin demi riuh!

Zenja, kira-kira apa yang ada di benak mentari yang belakangan ini terus dikurung cakrawala? Saat aku terbangun di pagi hari, kudapati langit berwarna kelabu. Begitu juga ketika jarum jam berada di pukul dua belas. Harusnya mentari sedang berada di pucak kegarangannya. Yang kilaunya membuat kita terpicing berkali-kali. Membuat kita ingin berteduh dan merindui angin yang bergerak semilir.
Hingga jarum jam bergerak di pukul enam belas, langit masih tetap kelabu. Harusnya ia sedang berwarna jingga, atau emas, atau saga. Dan kilaunya di permukaan laut bagai tumpukan mutiara atau batu permata. Membuat siapa pun yang menyaksikannya akan terkagum-kagum.
Tetapi akhir-akhir ini kudapati langit lebih sering kelabu. Awan terus saja melahirkan butir-butir hujan yang ritmik. Angin berdesau lebih kencang dari biasanya. Malam terasa lebih cepat datangnya. Dan saat malam hadir kita juga tak menyaksikan wajah bulan di kej…