Langsung ke konten utama

Dasar Pelupa!




APA kalian pernah mengalami hal sepertiku? Kelupaan menaruh barang tertentu dan itu membuatmu galau sepanjang malam sepanjang hari? Aku sedang mengalaminya (lagi) sekarang, dan rasanya sangat tidak enak. Beginilah nasib anak manusia yang dilahirkan dengan karakter 'agak' melankolis.

Ceritanya, sore kemarin aku nongkrong di sebuah kedai kopi bersama teman-teman. Kebiasaanku adalah selalu membawa bekal air minum ke mana-mana. Nah, pas mau pulang karena botolnya sudah kosong lantas kumasukkan ke dalam ransel. Sialnya aku lupa!

Begitu sampai di rumah seperti ada yang kurang, tapi nggak tahu apa. Ya sudahlah kupikir, ntar juga ketahuan sendiri apa yang kurang itu. Pagi tadi saat mau berangkat kerja, seperti biasa, aku ingin mengisi bekal minum, tapi tidak ada botol minum di meja. Di atas lemari juga tidak ada. Aku keluar dan melongok ke bagasi depan motor, juga tidak ada. Aku lupa memeriksanya di dalam tas.

Aku berusaha mengumpulkan ingatanku. Apakah botol minumku tertinggal di kedai kopi kemarin sore. Kurunut setiap waktu yang kuhabiskan kemarin sore. Tapi aku tak dapat mengingatnya sama sekali. Entahlah, aku yakin sekali botol itu pasti tertiggal di kedai kopi itu. Beberapa bulan yang lalu juga pernah terjadi hal yang sama soalnya.

Tadi sore sepulang kerja, menerobos gerimis, buru-buru aku menuju kedai kopi tempat kami nongkrong kemarin. Kebetulan jaraknya nggak begitu jauh. Betapa kecewanya aku, saat kutanyakan pada yang punya warung apakah ia melihat botol minum tertinggal di salah satu meja.



"Botolnya bening Bang. Tutupnya warna hijau, ada tulisan Nutrilite-nya," kataku menjelaskan ciri-ciri botol minumanku.

"Nggak ada Dek. Kalau ada yang ketinggalan biasanya sudah diletakkan di sini," abang pemilik kedai memberi keterangan.

Aku masih menunggu. Berharap ia punya inisiatif lain. Seolah mengerti apa yang aku pikirkan, si abang itu bergerak keluar dari balik mejanya. "Sebentar saya lihat, mungkin ada di bawah meja."

Aku mengangguk. Menunggu penuh harap. "Nggak ada Dek," katanya beberapa detik kemudian. "Yang ada botol pencuci tangan, apa punya Adek?"

"Botol pencuci tangan?"

"Iya, yang mini itu. Itu..." katanya menunjuk ke meja di dekat pintu keluar. Di meja itu memang ada botol mini berisi cairan antiseptik. Sudah jelas itu bukan milikku karena aku nggak pernah pakai antiseptik :-D.
Botol minum kesayangan yang sudah menemani sejak 2008

Akhirnya aku pamit dengan perasaan semakin galau. Melangkah gontai. Di mana botol minumku....

Sepulang dari sana aku bergerak menuju Blower, mengantarkan pesanan pelanggan. Setelah mengantar barang aku muter-muter Seutui dan kawasan Putroe Phang untuk mencari makanan pengganjal perut. Tadi siang aku 'cuma' makan siomay, kurang cas rasanya karena nggak kena nasi. Emang kita orang Aceh ini parah kali kalau soal jenis karbohidrat yang masuk ke tubuh. :-D

Beruntung, ketemu gerobak mpek-mpek Palembang nggak jauh dari gerbang Taman Putroe Phang. Aku berhenti dan memesan seporsi kapal selam yang gurih. Satu porsi kapal selam seharga Rp 10 ribu habis kusantap, perut jadi kenyang. Membayar, lalu pergi. Tujuanku berikutnya adalah Gedung Sultan Selim yang ada di jalan belakang taman ini. Malam nanti ada acara bareng teman-teman pengusaha.

Seperti biasa, menunggu acara dimulai pukul 20:15, aku nyambi bekerja, sekalian nunggu salat magrib di situ. Pikiranku masih teringat sama botol minuman. Masih belum tenang hati ini. Tak lama kemudian azan magrib pun berkumandang.

Serta merta aku teringat pada sekotak cokelat Arabika yang kupesan di Cilet Coklat dan kuambil pagi tadi. Aku memasukkan kotak itu ke dalam kantong plastik dan seingatku sudah kucantolkan ke motor. Baru setelah itu aku pergi ke kedai kopi. Tapi kenapa plastik itu tidak ada sekarang? Segera kumatikan laptop, kulepas kabel charger, dan memasukkan ke dalam ransel. Dan..... ohhhh..... ternyata si botol minuman bertutup hijau itu ada di dalam ransel. Bagaimana bisa?

Aku sudah berkali-kali membuka ransel ini sejak semalam, tadi pagi, tadi siang, bahkan sore tadi. Bagaimana mungkin aku tidak melihatnya sama sekali? Syukurlah, yang penting sudah ketemu. Aku tidak perlu galau lagi. Tapi.... di mana kotak coklatku?

Ini dia cokelatnya alhamdulillah masih terduduk manis di kantor

Aku lantas keluar gedung, ke parkiran dan segera memeriksa motorku. Dah owhh..... tidak ada kantong plastik di sana. Aku kembali ke dalam gedung. Lalu salat magrib. Usai salat aku menghubungi teman di kantor, syukurlah kotak cokelatku tertinggal di kantor. Ugh.... memang payah kalau pelupa yaa.....[]

Komentar

  1. Aku sering banget gitu, Kak. Kunci di tangan, kucari entah kemana-mana. Tersadar kunci di tangan, mau marah sama diri sendiri rasanya. Pelupaku tingkat akut. Fiyuh :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…