Langsung ke konten utama

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D



Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung. 

Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel.

Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, tetapi sesekali butuh juga udara segar, kan? Warung kopi selalu jadi alternatif mengingat tempat-tempat terbuka lainnya kurang mendukung untuk bekerja. Di sana pula biasanya saya duduk berjam-jam untuk mengikuti webinar.

Pagi tadi, saya kembali menemukan sebuah kedai kopi yang menurut saya cukup asyik jadi tempat menyendiri. He he he. Kedai kopi ini berbeda dengan kedai kopi-kedai kopi sebelumnya yang saya datangi. 

Kedai kopi ini sederhana saja. Kedai kopi kampung. Seluruh konstruksinya dari kayu yang seadanya saja. Tanpa nama pula. Berada di Gampong Jawa, tepatnya di bantaran Krueng Aceh. Sebagian bangunannya menjorok ke badan sungai. Kedai kopi ini menjadi tempat persinggahan bagi para nelayan yang hendak maupun pulang melaut. Di sini tidak ada internet. Jadi, kalau mau bekerja di sini ya harus punya modal sendiri (baca: kuota internet). 

Ada kapal besar lewat


Ceritanya, saat bangun tidur pagi tadi saya mendadak ingin duduk di pinggiran sungai. Terbayang oleh saya duduk di taman tepi sungai di depan Bank Indonesia pasti asyik. Namun, mengingat matahari pagi yang pastinya kian beranjak naik, saya pun urung untuk ke sana. Akhirnya, saya menyusuri jalan menuju arah Gampong Jawa. 

Awalnya saya hanya ingin duduk di bawah pohon cemara saja. Dengan laptop satu. Beberapa potong kue dan susu kedelai yang sudah saya beli, pasti asyik sekali merasakan nikmatnya siraman matahari pagi sambil duduk bertelekan alas rumput. Namun, di tengah keasyikan menyusuri jalan sambil melihat-lihat lokasi yang strategis, mata saya menangkap sebuah pondok yang ternyata adalah sebuah warung.

Aha! Sesuai benar dengan keinginan saya. Tanpa pikir panjang, saya pun segera parkir dan masuk ke pondok alias kedai kopi tersebut. Saat saya datang hanya ada dua pengunjung di sana, satu pemuda dan satu lagi orang tua. 

Saya duduk di kursi dengan meja panjang yang langsung rapat ke dinding. Dari sini saya bisa melihat langsung penampakan Krueng Aceh yang bermuara ke laut. Perahu-perahu nelayan parkir di sebelah sini dan di seberang. Sesekali tampak perahu lewat. Di seberang tampak bangunan-bangunan permanen. Suasana di sekitarnya tampak asri karena banyak pohon bakau.

Duduk di sini menyenangkan sekali. Angin semilir hilir mudik. Duduk di sini hilang rasanya kebosanan saya pada suasana kedai kopi modern yang menawarkan aneka hidangan premium. Di sini, secangkir kopi sareng hanya empat ribu rupiah. Duduk di sini, saya jadi lupa pada banyaknya tenggat yang sedang kejar tayang. Hehehe. Makin ke sini, saya makin merindukan suasana kampung tempat saya menghabiskan masa kecil dulu. Berada di sini rasanya jadi mendekatkan dengan kampung halaman, walaupun kampung saya bukan di pesisir.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…