Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2008

Yang Terlupakan*

Seperti biasa, pagi itu Nek Limah bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya, ia mengunci semua pintu, menutup jendela lalu keluar dengan sebuah ember hitam ditangan kanannya. Selembar kain panjang yang sudah pudar melingkar menutupi urat-urat lehernya yang menonjol, songkok hitam yang sudah bertahi lalat menutupi rambut-rambutnya yang memutih, dan sebagiannya kelihatan. Untungnya songkok tersebut berwarna hitam sehingga tahi lalatnya tidak kelihatan. Nek Limah meletakkan kunci rumahnya diatas toek-toek yang dicat dengan dua warna; merah dan putih. Namun sudah terkelupas disana-sini dan hanya tinggal bekasnya saja, maklum itu peninggalan beberapa tahun yang lalu. Kendatipun Nek Limah tidak mengunci rumahnya bisa dipastikan tidak ada pencuri yang masuk kerumahnya karena tidak ada barang berharga apapun dirumah yang layak disebut gubuk. Dengan agak tertatih dan sedikit bungkuk Nek Limah segera berjalan menuju kearah barat, tujuannya tidak lain adalah kebun melinj…

Yusnidar Tak Berhenti Belajar

Bingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencBingung! Itulah ekspresi yang tersurat dari mimik wajah Yusnidar. Matanya lurus menatap ke layar LCD yang terbentang beberapa meter di hadapannya. Sesekali ia membaca modul yang diberikan panitia kepadanya. Kadang kepalanya mengangguk-ngangguk, berusaha mencerna setiap informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Jumat, 28 November 2008, Yusnidar bersama puluhan peserta lainnya sedang mengikuti “Workshop Singkat Mengenal Photoshop” yang diselenggarakan oleh Tjute Event Organizer di Kafe Ummy Malaya, Jl. P. Nyak Makam No. 40, Lampineung Banda Aceh.

Pelatihan ini ditujukan bagi mereka yang sudah mengerti minimal program dasar komputer seperti Microsoft office. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memang berminat namun masih …

Ayahku Sayang

Ayah sayang…
Siang itu aku mengantarmu, tanpa memeluk dan mencium wajahmu seperti yang dilakukan oleh orang-orang dan Ijal, adik lelakiku. Aku mengintipmu dari balik jendela mobil yang akan membawamu ke barat negeri ini. Setelah mempersiapkan semua keperluan ayah dan ibu, waktu itu aku banyak merenung. Kupaksa bibirku tersenyum, kupaksa tegar hatiku. Tak ingin gambarkan takut dan luka hati ini. Hati kecilku berbisik ketika itu, mungkin siang itu adalah pandangan terakhir mata kita ayah, aku, anak perempuanmu, dan kau, ayah yang kubanggakan.
Aku berdoa, terus menerus, hingga mobil yang membawamu hilang dari pandangan. Dan jerit dalam hati kian lebar. Ketakutan menganga Yah, merajai ruang hatiku yang sempit. Semoga di barat negeri ini ada penawar atas deritamu. Semoga sakitmu cepat berakhir, Yah.
Kutinggalkan rumah nenek, tempat sebulan terakhir ayah menetap. Ini pula yang sering kutangisi, sakitmu membuatmu jauh dari rumah. Aku tahu kau begitu rindu pada rumah yang telah kau bangun dengan…

Untuk Mak dan Ayah

Mak!Mak bekerja seperti ayahMenawar harga, menimbang lelahBila malam ia sering tak tidurMemikirkan hujan yang tak juga redaBila begitu terusMaka matahari yang sebenarnya akan redupSenyumnya!Maka redup pulalah senyumkuSenyum adikkuTapi Mak bekerja seperti ayahMengulum jerih dan perih dengan senyumMembungkus luka dan lara dengan kerja kerasMak seperti ayah!Hingga aku merasa seperti masih punya ayah03:19 pmOn sun, 30 nov 08

Kangen!Aku punya cara sendiri untuk mengangeni ayahYaitu dengan meninggalkan rumah buatan ayahLalu sesekali aku pulangKetika lebaran atau ketika kenduri untuk ayahDengan begitu ayah selalu menemuikuDalam mimpi yang nyaris nyataKadang berturut-turutDengan begitu aku tak perlu berbagi kangenPada ibuku, pada adik perempuanku, pada adik lelakikuAyah! Aku anak perempuanmu, ingin berterimakasihTelah kau ajarkan aku kemandirianDengan diammuDengan katamu yang sepatah sepatah, duluSekarang, melalui mimpi-mimpiAyah semakin muda! Semakin gagah!03:28 pmOn sun, 30 nov 2008


Mimpi!Aku…

Nama Yang Menjadi Prasasti*

Di telinga istrinya, dulu berpuluh-puluh tahun yang lalu setelah ia menikahi Syaheera. Laki-laki itu pernah berjanji, berbisik mesra: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu. Lalu ia membisikkan kata-kata tersebut pada sebelah telinganya yang lain. Perempuan itu tersenyum senang. Hatinya bagai dihinggapi seribu Marpho Amattonte. Tubuhnya bergetar ketika lelaki yang sangat dicintai menyentuh kedua pundaknya. Lalu merengkuhnya dalam pelukan yang panjang dan damai.

Tetapi sekarang, setelah ia merasa umurnya tak lagi panjang. Laki-laki itu baru menyadari bahwa ia telah menjadi pengkhianat sejati. Ia telah melanggar janjinya sendiri. Celakanya, ia baru menyadari semua itu sekarang. Ketika ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, lalu memeluk Syaheera dan berkata: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu.

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Ranjang termahal yang dulu ia beli beberapa bulan setelah menikah telah menopangnya selama puluhan tahun tanpa pe…

Jari Jari Istriku*

“Tanganmu indah sekali, Dik,” ucapku suatu malam.

Saat itu kami tengah makan malam berdua di sebuah kafĂ©. Kami sengaja mengambil tempat agak di pojokan agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian orang-orang. Sebaliknya kamilah yang menjadi leluasa untuk memperhatikan orang lain. 

Kebetulan malam itu agak sepi karena bertepatan dengan Minggu malam, anak-anak muda tidak banyak berdatangan karena besoknya mereka harus sekolah dan mungkin malam ini harus menyiapkan tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

“Aku selalu bernafsu setiap kali melihat tanganmu dengan kuku-kuku yang indah terawat.” Kata ku lagi melihat tidak ada respons apapun dari istriku. Sesungguhnya ini bukanlah kali pertama aku berkata begitu di depan istriku, sangat sering bahkan dan tak peduli di mana pun berada.
“Sudah, sudah, makan saja dulu.” Jawabnya agak tersipu malu.
Aku tersenyum tipis melihatnya.
Mataku masih belum beralih dari jari-jari tangannya yang lentik, aku justru menatapnya dengan semakin liar.…

Catatan Rindu Jilid Pertama

Mengapa Selalu Bulan??

mengapa selalu bulan, kata ku waktu itu, sabtu malam yang basah. mengalirkan air-air bening dari kelopak mata yang sembab. mengapa selalu bulan yang pertama kali ku pandang saat hati ini rindu? adakah bayang mu disana? adakah senyummu menggantung disana? adakah kehangatan mu kau titip kan disana? meski mata mengatup karena aliran air yang berat.

ku langkah kan kaki menuju ranjang kecil, ku bentangkan kembali catatan-catatan usang tentang kita. semuanya menceritakan tentang kemesraan dan sedikit air mata. air mata bahagia, kesedihan, dan juga air mata kemarahan.

bahwa malam itu, dengan kesadaran penuh, dengan susah payah ku katakan, bahwa semuanya harus berhenti sampai disini. waktu yang telah kusepakati dengan hati ku sendiri. waktu beberapa tahun silam, saat kita baru menanam benih dari pohon bernama cinta.

hanya berselang beberapa saat, bibir ini kembali tersenyum, menyenangkan hati bahwa tidak ada yang perlu ditangisi, waktunya telah tiba, semuanya sudah berakhir…

Sabda Cinta

cinta,
ku tahu ia tak seputih kapas
tidak juga seperti noda
tapi kau bisa membuatnya lebih pekat dari noda
kau juga bisa membuatnya lebih putih dari kapas
suci, murni, bersih

cinta,
tak seindah yang kau bayangkan
tapi kau bisa membuatnya menjadi sangat indah
cinta juga tidak seburuk yang kau byangkan
tapi kamu sendiri yang menjadikannya lebih buruk

karena cinta alam ini ada
karena cinta aku terlahir
karena cinta kau dan aku bertemu
karena cinta pula kau dan aku berpisah


aku mau
kau tak persempit makna cinta
cinta itu seluas samudrasedalam lautan
setinggi awan
sekuat perasaan kita untuk saling memahami
setulus nurani kita


11-24-2006, 01:28 PM

Dialog Menjelang Malam

dari jauh ia kembali bercerita
aku jatuh cinta tapi entah kepada siapa
aku rindu kepada anak dan istriku yang jauh
bahkan aku menangis sekarang
maafkan aku bila terlalu cengeng
tidak!
laki-laki bukan robot yang haram menangis
menangislah
dan berceritalah pada laut
walau tak bisa menjawab
ku yakin dia akan mendengar jeritan mu


11-19-2006, 10:20 AM

"Pohon, Perahu layar, Burung dan Tanah"

pohon

aku adalah pohon
yang sangat tergantung pada bibit, tanah, air, dan matahari juga pupuk
kadang aku kurus,
tatkala aku kekurangan nutrisi dan kurang perawatan
kekuranan air juga bisa membuatku layu
aku menjadi tidak sanggup melawan kencangnya angin karena tubuhku yang lemas
aku
adalah pohon
yang ingin tumbuh subur dan besar
hijau
berbuah lebat sehingga menjadi peristirahatan burung-burung
berkicau dan mereka bahagia


perahu layar

aku juga sebuah perahu yang tengah berlayar dilautan luas
aku bisa menyaksikan matahari terbit
indah
tapi tak urung aku berhadapan dengan badai
ombak yang besar
dan karang yang menjulang
yang kadang kadang tidak terlihat oleh mata
hampir saja aku menabraknya
lalu orang orang menjerit dan aku tersadar
aku sedang melamun



burung

aku burung kecil
yang selau ingin terbang dengan keterbatasan sayapku
dengan keterbatasan daya jangkau ku
mencari satu dua biji bijian
sebagi bekal kubawa pulang nanti
kadang aku harus berebut dengan elang besar atau rajawali yang buas
lalu aku mengepakkan sayapku…

Terjemahan Kehidupan

apa yang kurasakan saat ini
adakah yang bisa melukiskannya
pertautan demi pertautan yang melahirkan gejolak dan rasa
membuatku membumbung tinggi
sejenak mengarungi nirwana dan keindahan mega mega
mengantar ku pada rasa yang tidak terperi
mengantar ku pada kesempuranaan rasa

memeluk rindu dan cinta
dalam bayang bayang diri yang
tak pernah sempurna
tapi cinta menjadikanku begitu sempurna
menjadikanku begitu berarti
menjadikan setiap debaran debaran menjadi sangat bermakna
dan langkah langkah kaki adalah gumpalan gumpalan kebahagiaan


entahlah
aku tidak ingin menterjemahkan semuanya
biar waktu pelan pelan yang mengabarkannya padaku
dia akan menceritakan mulai dari A
hingga Z
setiap kata
setiap bait
setiap teriakan
dan setia tangisan
karena dari sanalah semua kelengkapan itu bermuara


biarlah terulang ulang kembali
karena warna kehidupan memang tidak selalu sama
ada hitam dan putih
ada merah dan hijau
ada warna warna yang kadang melahirkan seribu tanya
serahkan pada waktu
karena waktu tidak pernah salah menterjemahkan w…

Rindukah itu?

hei, rindukah itu yang mencabik-cabik perasaan?
yang mengoyak-ngoyak logika
yang menyeret-nyeret hati

hei, rindukah itu
yang mengerat-ngerat jasad
yang mencincang-cincang batin

hei, rindukah itu
yang mampu mengalahkan logika
yang bisa membutakan mata
yang mampu mengelabui akal

apakah itu rindu?
yang menyerupai Scylla*
yang tumpah berserakan tak tentu arah
yang mengalir dan terus mengalir tak mau berhenti

ah, itulah rindu rupanya

*Scylla: dewi yang berubah wujud menjadi monster dalam mitologi yunani, yang meneror pelaut diselat messina


09-02-2006, 09:18 AM

Dua Jiwa Yang Bertarung

Aku perhatikan kau dalam diam
Ada yang bertarung disebalik ke-kekaranmu
Tak juga ingin kau tunjukkan kelemahanmu
Kecuali kecil-kecil selingan katamu

Akalmu hampir saja lepuh
Naluriku berhasil menjeling itu

Bukan aku senang
Sebab aku juga rasakan gejolak itu
Tapi betullah dugaku
Semua bisa saja terbalik
Kepala dan kaki
Kaki dan kepala

28/10/08
19:17 pm

Ketika AKu Berani Bilang, Aku Mencintai Mu

Bertrand Russel dalam sebuah pepatahnya mengatakan "Orang yang takut jatuh cinta berarti takut hidup, sedangkan orang yang takut hidup berarti sudah mati sepertiganya". Bukan karena ingin menuruti kata Bertrand, tapi aku memang harus meneruskan hidup agar aku dapat mengerti hakikat hidup yang sebenarnya; untuk mencintai dan dicintai.

Untuk itulah aku belajar mencintai, dengan cara yang dewasa tentu saja, agar aku bisa menerima segala keadaan dan kondisi. Termasuk ketika harus menyaksikan hatiku patah berkeping-keping lalu kubangun lagi menjadi cinta. Belajar untuk tidak terlalu senang ketika cinta itu datang seperti yang diinginkan oleh hati dan perasaanku. Karena, dari caraku mencintai-lah aku belajar tentang kenyataan hidup yang harus dijalani.

Ketika aku berani bilang, bahwa Aku mencintai Mu. Pada saat itulah aku telah mengetahui sesuatu, sesuatu yang akan berakhir jika waktunya tiba. Tetapi bukankah bagi yang selalu mencintai dan mengasihi waktu adalah keabadian? I…

Sebab Kata Adalah Doa

Meski kesal dan sakit hati saya mencoba menahannya untuk tidak menggerutu, karena sadar bahwa sepenuhnya ini adalah kesalahan saya. Dengan mencoba bersikap tenang saya berusaha untuk tidak menuruti apa yang diminta oleh petugas Polisi Lalulintas yang pagi itu sedang mengadakan sweeping. Tetapi karena kesalahan ini begitu telak sayapun tidak dapat mengelak, Akibatnya saya harus mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu rupiah untuk kesalahan saya itu. Dan juga kekonyolan, karena berani mengendarai sepeda motor tanpa SIM dan STNK.

Ini pelajaran penting buat saya, bahkan jauh lebih penting dari nominal yang saya keluarkan tanpa kerelaan untuk sebuah keteledoran seperti itu. Saya merasa ini adalah teguran dari Allah kepada saya, karena pagi tadi saya sudah membohongi seseorang. Tentu saja ketika berbohong pagi tadi saya tidak sempat berfikir akan secepat ini 'hukuman' yang saya terima.

Pagi tadi ketika saya akan berangkat kerja seorang teman datang ke rumah,…

Lelaki Lelaki Tikus*

Sore yang memikat, langit-langit merah menggiring senja, diikuti rintik-rintik hujan gerimis setengah basah. Keduanya terlihat begitu kompak dan akur. Tak ada tanda-tanda saling berebut, baik matahari maupun hujan. Dari kekompakan keduanya lahirlah segaris pelangi yang melengkung indah dilangit sebelah barat sana. Melengkapi kesyahduan senja itu. Memuat siapapun yang melihat pasti berdecak kagum atas maha karya Tuhan yang dahsyat ini.Namun tidak begitu halnya dengan Sheila, gadis itu justru ingin segera menyudahi sore itu agar bisa lekas pulang. Bukan karena dia tidak suka hujan gerimis, bukan juga karena dia membenci pelangi. Musik yang mengalun lembut pun sama sekali tidak bisa memaksanya untuk duduk lebih lama lagi ditempat itu. Camellia-nya Ebiet G. Ade yang menjadi lagu favorite nya sejak dulu terdengar biasa-biasa saja.Kopi ginseng yang ia pesan tadi sudah dingin, masih tersisa setengahnya tapi ia tak berniat menghabiskan minumannya. Ia menjadi tak berselera. Keha…