Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Nostalgia cinta di Yahoo! Messenger

WAKTU setahun terasa sangat singkat yaa, ngga berasa udah mau September aja. Tapi bagi yang sedang terbelit rindu setahun itu jadinya sangat lama sekali. Sesekali aku mau bicara soal rindu, yang sampai sekarang ngga pernah bisa kumengerti. Rindu kadang bikin aku senyum-senyum sendiri, kadang juga diam terbengong-bengong, kadang manyun. Biar pun begitu, si rindu telah mengajarkan aku arti cinta, rasa sayang dan juga konsistensi, Ugh... :-D

Seperti biasa, hari-hariku selalu dilaburi rindu yang berat. Rindu pada sesosok makhluk Tuhan yang menurutku sangat luar biasa. Luar biasa karena meski banyak bikin aku manyun tapi dia tahu sekali bagaimana menerbitkan rindu di hatiku hehehehe. Sosok itu terakhir kali kulihat matanya 25 September tahun lalu, sebelas bulan lalu. Waktu itu sempat kubisikkan sepotong kalimat pendek; happy birthday dan i love you hihihihih....walaupun kecepetan sehari karena mestinya dia ulang tahun tanggal 26 September.

Tentu saja aku sangat mengingat hari itu, karena …

Belajar dari cara ibu dan nenekku mencintai

BAGI aku yang masih single, pernikahan selalu menjadi tanda tanya sekaligus membuat penasaran. Seperti apa sih pernikahan itu? Bagaimana kehidupanku nanti setelah menikah? Apakah pernikahan itu seindah dan sewangi layaknya bunga yang sedang bermekaran. Seperti yang banyak diilustrasikan dalam novel-novel roman yang indah dan puitis.

Atau... apakah pernikahan itu seram dan menyeramkan? Sehingga banyak terjadi hal-hal yang menurutku bukan termasuk cita-cita pernikahan itu sendiri. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan sampai perceraian. Jawabannya tentu saja menikah dan mengalaminya sendiri, lalu temukan jawabannya sendiri.

Beberapa tahun silam aku pernah mencemburui kehidupan seseorang, ia mengilustrasikan kehidupan rumah tangganya dengan sangat sempurna. "Pasangan hidup yang rupawan, anak-anak yang cerdas dan cakep, serta harta yang berkecukupan," tiga hal itu yang terus mengiang dalam benakku. Betapa beruntungnya makhluk Tuhan yang satu ini. Dan tentunya ba…

Sahabat, andai saja kalian tahu...

BEBERAPA bulan lalu saya pernah posting tulisan tentang beberapa teman yang sampai sekarang masih terus menjalin komunikasi. Meski ada yang sudah berada di luar kota, tapi kami cukup akrab, untuk menjalin komunikasi kami pun memanfaatkan jejaring sosial.

Sejak kemarin sore, Selasa 13 Agustus 2013, saya teringat pada mereka; Nita, Rusmi, Ety dan Yuyun. Ingin kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol, sambil makan-makan. Tapi berhubung nggak tahu mereka ada di mana ya kerinduan yang muncul menjelang magrib itu pun saya biarkan begitu saja. Saya sempat berniat menghubungi Ety, untuk mengajaknya makan bakso. Tapi karena hujan saya pun mengurungkan niat itu. Mengajak Nita, itu nggak mungkin karena ia tinggal di Aceh Besar, sekitar 14 kilometer ke arah utara Banda Aceh. Rusmi, kemarin saya lupa kalau doi yang jaraknya paling dekat dengan saya. Yuyun, setahu saya Yuyun masih di Jakarta.
Sore ini, kerinduan saya pada mereka pun kembali membuncah. Meski yang tinggal di luar daerah hanya Yuyun, tapi saya…

Puisi rindu

Hei, apa kabarmu hari ini?
Di tanah ini rindu sedang bergemuruh
Menusuk-nusuk relung dalam kalbu yang kian beku
Bukan, bukan karena hujan kemarin sore
Tapi karena embun yang kau kirim ke ceruk hatiku

Ah,
Hampir lupa aku bagaimana mengirimimu puisi
Bukan karena tak ingin
Tapi rindu itu sendiri adalah puisi paling maha
Yang mampu menggerakkan ingat, pikir dan juga rasa
Melangkahkan imaji, menembus ruang dan waktu
Untuk bersemayam di dirimu



for my beloved Z

Lebaran di kampung kami

AKU lupa menengok jarum jam. Perkiraanku masih sekitar pukul sembilan malam ketika aku sibuk-sibuk di dapur. Merajang cabe, kacang panjang, bawang, tomat, membuat bumbu, mengukur kelapa. Sudah beberapa kali lebaran ini kami tak alpa membuat lontong untuk hari raya. Maka aku selalu kebagian tugas ini, membuat sambal tauco, menggoreng kerupuk, membuat mie, sampai memasak kuahnya. Biasanya baru selesai sekitar pukul sepuluh lewat.

Aku sendirian di dapur. Mak sedang menjahit di ruang depan. Iparku sedang sibuk mengganti karpet di ruang tengah bersama beberapa anak muda teman suaminya. Masing-masing kami menjadi komando untuk pekerjaan kami sendiri.

Pekerjaanku hampir selesai ketika Mak turun ke dapur. Aku sedang mencuci piring. Mak mengeluarkan daging masak merah dan masak putih dari lemari, kemudian memanaskannya. Tak lama kemudian terdengar suara takbir selintas lalu. Aku dan Mak seperti teringat, oh, ini ternyata malam lebaran.

Kami berdua seperti terlempar ke masa belasan tahun silam…

Puasa untuk melatih diri? Ah, yang benar saja

Ramadan hanya tersisa empat hari lagi, hari ini, besok, lusa, dan lusa raya. Artinya bulan penuh hikmah yang menjadi bulan penempa umat Muslim ini akan segera berakhir. Bagi yang benar-benar memaknai bulan Ramadan tentunya akan berakhir dengan kekhawatiran, masihkah tahun depan bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini? Atau sebaliknya, Ramadan berlalu begitu saja dengan berakhirnya ibadah puasa dan datangnya hari raya.

Bulan puasa juga sering diartikan bulan “latihan”, latihan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Dengan puasa kita diharapkan bisa merasakan kepedihan para miskin yang selama ini selalu hidup dalam kekurangan, kadang makan kadang tidak. Kadang punya uang kadang tidak. Kadang nyaris berpuasa setiap hari.

Tapi rasanya hal itu kok terdengar muluk-muluk ya? Setelah seharian berpuasa, sorenya banyak di antara kita (mungkin) berbuka dengan menu super wah yang bahkan di hari biasa pun jarang kita nikmati. Lihat saja, selama bulan puasa di setiap ruas jalan protokol tak ubahn…