Langsung ke konten utama

Sahabat, andai saja kalian tahu...

BEBERAPA bulan lalu saya pernah posting tulisan tentang beberapa teman yang sampai sekarang masih terus menjalin komunikasi. Meski ada yang sudah berada di luar kota, tapi kami cukup akrab, untuk menjalin komunikasi kami pun memanfaatkan jejaring sosial.

Sejak kemarin sore, Selasa 13 Agustus 2013, saya teringat pada mereka; Nita, Rusmi, Ety dan Yuyun. Ingin kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol, sambil makan-makan. Tapi berhubung nggak tahu mereka ada di mana ya kerinduan yang muncul menjelang magrib itu pun saya biarkan begitu saja. Saya sempat berniat menghubungi Ety, untuk mengajaknya makan bakso. Tapi karena hujan saya pun mengurungkan niat itu. Mengajak Nita, itu nggak mungkin karena ia tinggal di Aceh Besar, sekitar 14 kilometer ke arah utara Banda Aceh. Rusmi, kemarin saya lupa kalau doi yang jaraknya paling dekat dengan saya. Yuyun, setahu saya Yuyun masih di Jakarta.

Sore ini, kerinduan saya pada mereka pun kembali membuncah. Meski yang tinggal di luar daerah hanya Yuyun, tapi saya, Rusmi, Ety dan Nita jarang sekali bertemu. Kebetulan pekerjaan pun sedang tidak terlalu banyak, saya mengambil hape dan mencoba menghubungi Rusmi. Tentu saja mengajaknya untuk makan malam, sembari nongkrong dan cerita-cerita.

Tapi, jawaban Rusmi mengecewakan. Dia sudah makan, baru saja. Itu artinya ajakan saya terlambat beberapa waktu dari acara makan-makannya. Ya, kalau dipikir-pikir memang terlambat saya mengajaknya. Sudah pukul enam lewat, hampir azan magrib. Tapi bukan jawaban itu yang buat saya kecewa, melainkan acara makan-makannya bersama dua teman lainnya; Ety dan Yuyun.

Ah, terbersit rasa kecewa di hati kecil ini. Jika saja mereka mengajak saya untuk makan sore ini, pasti saya tak bertanya banyak, langsung saya iyakan ajak tersebut. Bahkan Yuyun, tega sekali tak memberi tahu kalau dirinya ada di kota ini. Hm, kadang-kadang terfikir juga, apa susahnya mengirimkan pesan, atau sekedar inbox di facebook, sekedar ngasih tahu. Kalau pun ia sibuk tak bisa ketemu, ya ngga apa-apa juga. 

Saya pun 'protes' kepada Rusmi, kenapa dia nggak ngasi tahu saya, jawabannya terlalu...terlalu...terlalu apa ya, susah jelasinnya. Karena dia pikir saya masih di kampung, oh kawan....padahal tinggal sms, atau telp saja sudah bisa untuk mengetahui di mana posisi seseorang.

Jadi teringat ceramah almarhum KH Zainuddin MZ. Katanya jangan memasukkan sesuatu ke hati terlalu berlebihan. Karena ketika hilang bikin sakit hati dan sedih banget. Saya memang tidak kehilangan teman-teman ini, tapi entahlah...seperti ada yang berembun di hati saya. Mungkin karena mereka sahabat-sahabat saya yang telah mendapat tempat khusus di hati saya.[]

Komentar

  1. Kadang aku masih suka juga merasakannya kayak gitu Han, terutama untuk sahabat yang sudah mendapat tempat khusus di hati. Namun sejak menikah, kadar rasa seperti itu sudah mulai berkurang, hehee..
    Arti sahabat bagiku saat ini sama seperti sebelum-sebelumnya, bahwa mereka tentu istimewa..tapi..mengingat banyak hal, aku mulai mengubah persepsi tentang arti sahabat sesungguhnya :D
    Aku pun pernah menuliskannya di blog:
    http://fardelynhacky.blogspot.com/2013/07/arti-sahabat_6229.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eky, ya begitulah, tapi tidak semua bisa kita sama ratakan :-D ada orang-orang istimewa yang memang tanpa diistimewakan pun sudah istimewa hehee

      Hapus
  2. mungkin ada baiknya kejadian ini dijadikan introspeksi diri menurutku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…