Langsung ke konten utama

Nostalgia cinta di Yahoo! Messenger

WAKTU setahun terasa sangat singkat yaa, ngga berasa udah mau September aja. Tapi bagi yang sedang terbelit rindu setahun itu jadinya sangat lama sekali. Sesekali aku mau bicara soal rindu, yang sampai sekarang ngga pernah bisa kumengerti. Rindu kadang bikin aku senyum-senyum sendiri, kadang juga diam terbengong-bengong, kadang manyun. Biar pun begitu, si rindu telah mengajarkan aku arti cinta, rasa sayang dan juga konsistensi, Ugh... :-D

Seperti biasa, hari-hariku selalu dilaburi rindu yang berat. Rindu pada sesosok makhluk Tuhan yang menurutku sangat luar biasa. Luar biasa karena meski banyak bikin aku manyun tapi dia tahu sekali bagaimana menerbitkan rindu di hatiku hehehehe. Sosok itu terakhir kali kulihat matanya 25 September tahun lalu, sebelas bulan lalu. Waktu itu sempat kubisikkan sepotong kalimat pendek; happy birthday dan i love you hihihihih....walaupun kecepetan sehari karena mestinya dia ulang tahun tanggal 26 September.

Tentu saja aku sangat mengingat hari itu, karena setelahnya ada satu cerpen yang kubuat. Cerpen itu lantas kukirimkan ke Kompas, ditolak. Lalu ku edit lagi dan kukirimkan ke Femina, ditolak lagi!!! :-D Dan setelah hari itu sampai hari ini belum ada satu cerpen pun yang kubuat. Tapi, aku masih tetap menulis kok.



Biasanya kalau rindu paling telepon, sms atau email-an. Tak banyak yang kami bicarakan, aku paling cuma bilang kalau aku rindu dia, atau aku memimpikan dia, seperti yang hari ini kulakukan. Pernyataan yang dijawab dengan kalimat-kalimat pendek khas lelakiku. Setelah itu ya sudah masing-masing sibuk dengan sendirinya.

Entah kenapa sejak semingguan ini aku tiba-tiba ingat lagi pada program Yahoo! Messenger. Padahal sudah bertahun-tahun akunku di Yahoo ngga pernah disentuh karena aku sudah pindah ke gmail. Paling-paling cuma buka untuk hapus spam biar akunnya ngga ditutup. Itupun cuma akun email, kalau akun YM asliiii aku ngga pernah buka.

Mendadak aku jadi ingin bernostalgia, boleh lah yaaaa sesekali mengenang cerita manis dan menghadirkannya ke masa sekarang :-D, sekedar mengingat kalau aku dan doi pertama kali berkenalan lewak program chatting itu hihihihihi....(korban kecanggihan teknologi :-P). Setelah facebook booming kami mulai mengalihkan komunikasi lewat facebook, tapi itu pun ngga lama karena doi menutup akunnya. Selanjutnya kami hanya komunikasi lewat ponsel dan email saja.

Dan sudah sepekan ini kami banyak ngobrol di YM, walau hanya sepotong-sepotong tapi cukup lumayanlah mengembalikan kami pada masa delapan tahun silam hahahahaha.... mencintai kamu itu sesuatu...

Komentar

  1. Aku nggak pernah buka lagi YM, udah nggak asik lagi.
    facebook dan twitter udah kayak surga, hahaaa

    BalasHapus
  2. Cinta bahkan bisa membuat si pendiam tiba-tiba berseru, "Yahoo...!"

    BalasHapus
  3. hahahahaha bro ini bisa sajaaaa

    BalasHapus
  4. asl pls ,,brb :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja