Langsung ke konten utama

Lebaran di kampung kami

foto by ipad.fajar.co.id
AKU lupa menengok jarum jam. Perkiraanku masih sekitar pukul sembilan malam ketika aku sibuk-sibuk di dapur. Merajang cabe, kacang panjang, bawang, tomat, membuat bumbu, mengukur kelapa. Sudah beberapa kali lebaran ini kami tak alpa membuat lontong untuk hari raya. Maka aku selalu kebagian tugas ini, membuat sambal tauco, menggoreng kerupuk, membuat mie, sampai memasak kuahnya. Biasanya baru selesai sekitar pukul sepuluh lewat.

Aku sendirian di dapur. Mak sedang menjahit di ruang depan. Iparku sedang sibuk mengganti karpet di ruang tengah bersama beberapa anak muda teman suaminya. Masing-masing kami menjadi komando untuk pekerjaan kami sendiri.

Pekerjaanku hampir selesai ketika Mak turun ke dapur. Aku sedang mencuci piring. Mak mengeluarkan daging masak merah dan masak putih dari lemari, kemudian memanaskannya. Tak lama kemudian terdengar suara takbir selintas lalu. Aku dan Mak seperti teringat, oh, ini ternyata malam lebaran.

Kami berdua seperti terlempar ke masa belasan tahun silam. Di mana lebaran menjadi momen yang sangat istimewa. Lebaran menjadi hari-hari yang paling ditunggu-tunggu dengan penuh suka cita.

"Seperti bukan lebaran, tidak terdengar suara takbir di kampung ini," kata Mak. Aku mengangguk. Apa yang dikatakan Mak benar. Menjelang magrib tadi sudah diumumkan bahwa 1 Syawal jatuh pada Kamis, 8 Agustus 2013. Mestinya malam ini suara takbir menggema di mana-mana. Di meunasah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahku, tak ada suara takbir. Sepi senyap. Di Masjid yang terletak di utara kampung juga sama. Iparku yang baru pulang dari kota bilang tak ada aktivitas apa-apa di masjid.

"Cuma ada di pesantren saja," kata iparku menyahuti pernyataan Mak.

"Jadi rindu suasana kampung yang dulu ya Mak," kataku.

Kami berdua lantas bernostalgia. Saat aku masih kecil, orang tuaku menetap di desa yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer ke selatan dari desa ini. Aku masih ingat betul bagaimana kami sangat mengistimewakan lebaran, kemeriahan itu mulai terasa saat malam harinya. Sore harinya, aku yang waktu itu masih SD bersama adik dan teman-teman sebaya lainnya mulai menyiapkan tempurung kelapa. Sisa-sisa kelapanya kami bersihkan, begitu juga sisa-sisa sabutnya di bagian luar. Pinggirnya kami ratakan dengan pisau. Tempurung itu kami jadikan wadah untuk membakar lilin. Dengan cahaya lilin kami para anak-anak akan berkeliling kampung.

Rumah-rumah penduduknya, waktu itu belum ada listrik, diterangi dengan obor-obor yang terbuat dari bambu atau kaca limun. Ada juga yang terbuat dari bambu dengan beberapa sumbu sekaligus. Di meunasah kami yang sederhana, sebagian orang tua mengurus pembagian dan penerimaan zakat fitrah. Sebagiannya lagi bertakbir. Sedangkan anak-anak mudanya sebagian berkeliling ke rumah warga untuk meminta penganan kue-kue hari raya. Kue-kue itu nanti akan dihidangkan kepada amil zakat dan pentakbir. Ibu-ibunya juga tak mau kalah, mereka sibuk memberesi rumah agar besoknya saat tamu-tamu datang rumah sudah rapi.

Saat hari raya tiba, suasana kampung seolah-olah ikut berubah. Pagi-pagi seluruh penghuni kampung sudah ke meunasah. Sambil menunggu seluruh warga berkumpul, jamaah laki-laki bertakbir. Setelah semua tiba, takbir disudahi dan salat Ied langsung dimulai. Jangan pikir mereka langsung bubar setelah salat usai. Tetapi, semua jamaah berbaris melingkar mengikuti luas meunasah. Dimulai dari anak-anak, satu persatu kami menyalami para orang tua yang sudah berbaris tadi. Begitu seterusnya sampai akhirnya kami turun dari meunasah.

"Walaupun kita tidak sempat bertamu ke rumahnya, tapi kita sudah bersalaman," kata Mak kepada menantunya. Di hari raya, dari pagi sampai sore tak pernah berhenti kami bersilaturahmi ke semua rumah.

Ya, aku terpekur. Zaman memang sudah berubah. Lilin-lilin kecil yang dulu kami pakai sebagai penerang di malam hari raya telah berganti dengan listrik yang terang benderang. Masyarakatnya semakin individualis, bahkan sampai ke kampung-kampung seperti kampungku. Bertamu hanya ke rumah saudara masing-masing, selebihnya di rumah, sibuk dengan dunia sendiri. Menonton televisi atau menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran sambil menikmati kue-kue lebaran. Ah...[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…