Langsung ke konten utama

Postingan

TERBARU

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id 

Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone, tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini.

Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop.

Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini?

Berprofesi sebagai jurnalis membuat saya…
Postingan terbaru

Bulan Tak Lagi Menarik

Sudah lama bulan tak lagi menarik buatku. Mungkin sejak aku ingin melupakanmu dengan sungguh-sungguh.

Luka. Luka. Luka

Luka. Luka. Luka.
Kurasakan asin air mata hinggap di sudut bibir
Jatuh dari indra. Merasuk kembali ke indra.




Aku Milik Siapa?

Ada hal-hal kecil yang selalu menjadi pertanyaan menggelitik bagi sepasang kekasih yang saling mencintai: seberapa berartinya aku untukmu?tapi aku tidak berani bertanya padamu tentang itu. aku sudah tahu jawabannya. jadi kunikmati saja semua ragam perasaan ini:cinta yang meletup-letup! rindu yang meruak-ruak! dan cemburu. cemburu yang amat sangat menyiksa!cemburu. sekalipun bercampur semilir angin, dia takkan pernah mengirimkan kesejukan. apalagi berpikir akan berubah menjadi oase tatkala dicampur berdebit-debit air.ingin sekali aku menjadi kamuyang dicintai sepenuh hatidirindui sepenuh jiwadisebut-sebut di setiap doatetapi selalu disembunyikan di balik cakrawala di hatinya selalu menetapberdiam laksana karangtak tersentuh oleh apa punbegitu rapat ia sembunyikansebab kamu hanya miliknyaaku milik siapa?

Selamat Tinggal Januari

Selamat tinggal Januari. Selamat tinggal semua kisah masa lalu. Segala sesuatu yang telah dimulai pasti selalu ada akhirnya. Ada endingnya. Terserah, suka atau tidak dengan ending itu. Mau menerima dengan hati legawa atau dengan kerelaan yang terpaksa.

Aku menerimanya. Dengan lapang dada. Karena aku percaya, Tuhan mempercayakan aku untuk semua yang telah terlalui.

Aku ingat. Belasan tahun lalu. Ah, sudah sangat lama ternyata. Sudah belasan Januari pula yang terlalui. Banyak cerita demi cerita yang tercipta. Cerita itu kita tutup dengan satu pertanyaan sederhana dan jawaban yang sederhana pula.

"Apa keinginanmu di tahun ini?"

"Ingin menjadi lebih baik."

Ya. Sama. Kau dan aku menginginkan kehidupan yang lebih baik. Baik. Sulit untuk kita menerjemahkannya, ya? Sulit untuk kita mendefinisikannya.

Seperti apa kehidupan yang baik itu? Entah. Aku hanya merasa sekarang lebih baik. Aku lega. Hatiku seperti hamparan mahaluas. Tak sedikit pun kulihat ada ceruk yang membuatku…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…

Dianggap Ada dan Penting

Di tengah obrolan santai kami melalui Whatsapp, tiba-tiba Zenja memintaku untuk membuatkan sebuah tulisan yang menurutnya cukup representatif untuk memperingati gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Aku yang langsung ngeh dengan permintaannya segera merespons.

"Status di mana?"

"WA."

Berselang menit kukirimkan sebuah kalimat beraroma kontemplasi. 

"Thanks, Say," balasnya.

"Iya, Cinta."

"Kenapa kamu memintaku yang membuatnya. Padahal kamu bisa bikin sendiri, kan?"

"Kamu jagonya," jawabnya.

Seketika hatiku jadi mekar.

"He he he. Aku jadi tersanjung."

"Hmmm..."

"Makasih atas pujiannya. Aku senang kalau itu kamu yang bilang."

"Benar kok."

Lalu kami jadi sibuk bernostalgia. Membicarakan kembali percakapan-percakapan indah yang pernah kami bincangkan.

Memang bukan sekali ini saja Zenja memintaku membuatkan kalimat-kalimat yang ingin ia bagikan kepada publik. Barangkali karena ia tahu …