Langsung ke konten utama

Postingan

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta
Postingan terbaru

Kisah Orang-Orang (Tak) Biasa

Kami--saya dan Hayat--langsung antusias saat mendengar penjelasan Pak Mustafa Sabri—Kepala Biro Mahasiswa dan Alumni Unsyiah—tentang niatnya yang ingin membukukan kisah para mahasiswa penerima Bidikmisi di Unsyiah--setelah sebelumnya mendapat informasi melalui telepon oleh salah satu guru literasi kami Pak Sulaiman Tripa. Ia menceritakan secuplik kisah tentang segelintir mahasiswa dari keluarga miskin dan kuliah di Unsyiah, membuat kami merinding dan nyaris tak bisa mengungkapkan kata-kata. Kisah-kisah yang mirip seperti di sinetron-sinetron. Penuh drama. Beraroma satire. Bergelimang air mata. Terbelenggu oleh kemiskinan. Nyaris tanpa harapan. Sayangnya, semua itu nyata. Bukan cerita mengada-ada. Namun, apa yang membuat kisah mereka patut dibekukan menjadi karya yang abadi? Semangat! Ya, para mahasiswa itu memiliki semangat dan daya juang yang membuat mereka memiliki gelar paling prestisius yaitu menjadi mahasiswa. Dengan menyandang gelar itu, kelak insyaallah mereka bisa menyibak tira

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Wakaf Saham, Cara Cerdas Investasi Akhirat di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi MOBIL yang dikendarai Humas Aksi Cepat Tanggap Aceh, Zulfurqan, melaju di Jalan Malahayati menuju arah Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Sabtu sore (12/10/2019). Sekitar 30 kilometer dari pusat ibu kota provinsi di Banda Aceh. Bersama seorang rekan lainnya, sore itu kami bergerak menuju ke lokasi rintisan lumbung ternak wakaf milik ACT Aceh di Gampong Ie Suum, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Lembaga ini, sebagaimana diketahui merupakan sebuah organisasi nonpemerintah yang fokus pada isu-isu kemanusiaan. Di samping itu juga fokus pada pemberdayaan ekonomi umat, di mana lumbung ternak wakaf dan lumbung pangan wakaf menjadi salah satu program andalannya. Lumbung ternak wakaf ini mulai dirintis sejak awal 2019 berawal dari lima ekor domba wakaf. Kini telah berkembang menjadi 44 ekor domba. Sebagiannya merupakan domba-domba wakaf dari para dermawan, sebagiannya lagi hasil kembang biak dari beberapa induk. "Lumbung

Ngobrol @tempo Bicarain Kesiapan Perbankan di Aceh Terhadap Qanun Lembaga Keuangan Syariah

Para pemateri dan sejumlah peserta yang hadir @Hayatullah Pasee ACEH kerap menjadi “buah bibir” karena qanun-qanun atau peraturan daerah yang dibuat di daerah ini sering kali dianggap antimainstream oleh masyarakat Indonesia. Bahkan ada yang dianggap kontroversial dan menjadi polemik. Tak hanya di jagat nasional saja lo, tetapi juga di Aceh sendiri. Pokoknya rame deh! Namun, dalam beberapa hal Aceh justru menjadi “pionir” bagi terobosan-terobosan yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan di tataran nasional sana. Sebut saja seperti lahirnya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang terinspirasi dari Bappeda Provinsi Aceh. Begitu juga untuk Badan Pelayanan Jaminan Sosial yang cikal-bakalnya dari program Jaminan Kesehatan Aceh. Ugh! Keren, kan? Nah, saat ini yang sedang hangat-hangatnya dibicarain ialah tentang lahirnya Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah atau Qanun LKS. Qanun ini menurut saya sendiri sangat menarik, pasalnya Aceh sebagai sa