Lyn mendaki bukit kecil yang dipenuhi oleh beragam jenis rumput. April mendatangkan kebahagiaan hingga bunga-bunga rumput mekar bersamaan. Tak terkecuali sebatang bungur tua di puncak bukit itu. Tajuknya rimbun. Mencuatkan bunga-bunga berwarna ungu di sela-sela daun yang lebat. Saat angin sore yang hangat berembus, kuntumnya bergoyang-goyang, seolah sengaja menggoda Lyn.
Lyn mempercepat langkahnya. Napasnya terengah. Lyn menertawai dirinya. Betapa mudahnya ia merasa lelah sekarang. Lyn sadar, dirinya bukan lagi Lyn belasan tahun silam. Lyn kala itu adalah remaja gesit dengan tungkai kaki yang kokoh dan lincah. Puncak bukit itu bisa dicapainya dengan mudah.
Lyn sering duduk di bawah pohon bungur itu manakala musim berbunga tiba. Ia menyukai tiupan angin yang menyapu lembut wajahnya. Sembari mendengar cericit burung yang hinggap di dahannya. Lyn merasakan kebebasan setiap kali berada di sana. Bisa memandangi cakrawala tanpa batas.
Di kaki bukit di arah barat sana, sebuah alur membelah ladang. Ke alur itu setiap pagi dan sore orang-orang kampung datang mengambil air. Termasuk Lyn. Saat musim kemarau tiba, air di alur kering total. Yang tersisa hanya lumpur kering. Orang-orang desa, termasuk Lyn, terpaksa mencari ceruk-ceruk di antara rumpun pisang yang masih digenangi air. Diceduknya air itu sedikit demi sedikit dengan gayung. Sangat hati-hati. Ayah Lyn berkali-kali menggali sumur, tapi airnya hanya terisi saat musim penghujan.
Lyn ingin segera sampai ke puncak bukit. Duduk di bawah pohon bungur yang sedang berbunga. Menikmati angin sore yang hangat. Setengah kenangan hidupnya tersimpan di sana. Itulah mengapa, meskipun Lyn sudah lama meninggalkan kampung, ia tetap sempatkan pulang tiap kali musim bungur berbunga tiba.
Belasan tahun lalu, di bawah pohon bungur yang sedang berbunga, Lyn termenung-menung. Matanya lurus menatap ke kaki bukit. Langit mulai memerah saga, tetapi Lyn belum ingin beranjak. Ia masih tenggelam dalam ingatan tentang percakapannya dengan Razak dua minggu lalu. Razak bilang suka padanya. Tiba-tiba saja. Razak juga ingin menikah dengannya. Lyn tersedak. Menikah? Razak baru dua puluh tahun dan dirinya baru kelas dua SMA. Lyn tertawa, pernyataan itu lebih mirip lelucon. Razak bilang ia serius. Lyn tertawa lebih keras hingga tubuhnya berguncang-guncang. Serius apanya?
Lyn, meskipun sekolah di kampung, tetapi punya pengetahuan yang bagus. Ia suka membaca koran-koran bekas yang sering didapatkan kala membeli bawang. Ia suka menonton Dunia Dalam Berita di sela-sela mengerjakan PR. Ia suka meminjam buku di perpustakaan sekolah, yang jumlahnya bisa dihitung jari. Dari buku-buku itulah Lyn tahu ada kota-kota dengan nama yang indah-indah dan unik di dunia ini. Ada kota yang sepanjang malam terus bergemerlapan. Lalu, muncul Razak, anak tetangganya, bilang ingin mengawininya, membangun rumah tangga dan punya anak. Bukankah itu menggelikan bagi Lyn?
"Aku masih punya mimpi-mimpi yang ingin kugapai, Bang Razak. Aku tentu ingin menikah, berkeluarga, dan punya anak, tapi bukan sekarang."
"Kapan?" desak Razak.
"Aku pun belum tahu kapan. Aku bahkan belum tamat SMA, memikirkannya saja membuatku malu," jawab Lyn jujur.
Setelah mengatakan itu, Lyn meminta Razak segera pergi. Tak elok jika kepergok orang kampung. Razak berpaling. Wajahnya memerah. Tangannya terkepal. Hingga urat-urat berwarna biru di tangannya tampak seperti menggeliat. Dan sebelum benar-benar meninggalkan Lyn, ia menggumamkan sesuatu yang terus membuat Lyn penasaran. Setahun kemudian Razak menikah. Dengan anak tetangga mereka yang lain. Teman sekolah Lyn.
Sepekan setelah pertemuan tak disangka-sangka dengan Razak, Lyn baru pulang mengambil air dari alur, saat ia lihat segerombol tentara berkeliaran di halaman rumah. Lyn mempercepat langkah, tak peduli meski air di dalam ember yang dijunjungnya bertumpahan.
Tentara-tentara itu mencari ayahnya, yang kebetulan belum pulang meskipun sudah sore. Mereka menggerebek seisi rumah. Kemudian membuka sebuah tong kayu berisikan beberapa goni gabah. Mereka saling pandang sambil menyeringai. Seperti sudah menemukan sesuatu yang dicari.
Hingga malam ayah Lyn belum pulang. Mungkin ada orang yang mencegahnya pulang. Tentara-tentara itu, setelah menunggu berjam-jam, memutuskan untuk pergi. Mereka membawa semua gabah sebagai "barang bukti". Lyn bingung, ibu Lyn dan adik-adiknya juga, barang bukti apa? Saat berusaha menahan agar tak semua gabah mereka diangkut, ibu Lyn malah menerima hentakan hingga membuatnya nyaris terjungkal.
Para tetangga hanya berani mengintip dari lubang-lubang dinding rumah mereka yang lapuk. Bukan tak ingin menolong, tapi nyali mereka seperti gumpalan es yang mencair. Ayam dan itik pun tak berani berkotek. Mendadak semuanya senyap. Hanya teriakan ibu Lyn yang melengking-lengking.
Ayah Lyn tiba di rumah menjelang tengah malam. Bajunya basah oleh peluh. Mukanya kusam oleh debu. Sebagian lekat di rambutnya yang keriting. Lyn dan adiknya segera menyongsong kepulangan ayah mereka. Ibu Lyn segera mengambil segelas air putih. Ayah Lyn meneguk minumannya sekali tandas. Tak ada yang berbicara. Tak ada yang bertanya. Semuanya hanya menungg....
"Honda Ayah putus rantai," kata ayah Lyn sepatah, berharap itu bisa jadi jawaban yang ditunggu-tunggu. Setelahnya ia pergi ke sumur untuk membasuh badan.
Esoknya, kabar yang merisaukan berembus. Toke Deurih, ayah Lyn, disebut-sebut dicari tentara karena membantu gerilyawan. Gabah di dalam tong kayu itu adalah buktinya. Isu itu berembus cepat. Ayah Lyn tidak menyangkal, tidak juga membenarkan. Saat kepala desa menemuinya, ia hanya bicara sepatah, "Siapa di kampung kita yang tidak pernah berbagi beras atau nasi, atau sekurang-kurangnya kopi kepada awak nanggroe?"
Sebagai penggalas, hari-hari ayah Lyn banyak habis di jalan. Menyusuri jalan-jalan kampung nan jauh dari pagi ke sore dengan honda* tuanya. Kadang-kadang dari pagi hingga malam. Dalam keranjang di jok sepeda motornya selalu tergantung satu atau dua selop rokok. Rokok itu nanti akan ia berikan kepada orang-orang berbaju loreng atau cokelat yang ada di pos-pos yang ia lewati. Sesekali kepada gerilyawan yang secara tidak sengaja berpapasan di jalan-jalan kampung yang sepi. Bukankah aneh jika ia dianggap hanya membantu gerilyawan?
Pak kepala desa tidak menjawab, ayah Lyn kemudian melanjutkan, "Yang saya penasaran, siapa yang melaporkan saya?"
Ayah Lyn masih bekerja seperti biasa, menggalas. Membeli apa saja hasil kebun warga, untuk kemudian dijual ke pasar kecamatan. Ia sudah menggalas sejak muda. Di tengah situasi kampung yang semakin kacau ini, berulang kali istrinya minta agar ia merantau saja, tapi Toke Deurih masih bergeming. Ia lebih tak mau meninggalkan keluarganya di tengah kekacauan yang menggila seperti ini.
Tepat di hari ketujuh, ayah Lyn pergi menggalas seperti biasa. Tapi ia tak pernah kembali.
Lyn ingat, sehari sebelum ayahnya hilang, Lyn dan ayahnya naik ke puncak bukit. Mereka duduk berdua di bawah pohon bungur yang sedang berbunga. Lyn dan ayahnya sangat dekat. Tapi dekat, bukan selalu harus diterjemahkan banyak bercakap-cakap. Lyn selalu merasa canggung saat berada di dekat ayahnya. Ia tak pernah merengek kepada ayahnya, seperti yang sering dilakukan adik-adiknya. Banyak yang ingin ia ucapkan, tapi kata-katanya selalu tertahan di kerongkongan.
"Jadilah perempuan cerdas yang punya pendirian, Lyn. Hanya orang bodoh yang mudah dikuasai oleh nafsu. Dan orang yang dikuasai nafsu cenderung mudah mengorbankan orang lain."
Lyn melirik ayahnya. Ayahnya berpaling, tersenyum lirih padanya. Matanya berbinar seperti biasa. Seperti telaga yang menyejukkan di tengah gersangnya kehidupan.
"Lihat pohon bungur ini, dia tahu kapan waktunya berbunga, dan dia tetap berbunga meskipun tidak ada orang yang menikmati keindahannya. Tapi, orang-orang yang mau bersusah payah tetap akan menemukan keindahan itu."
Lyn merasakan keganjilan dari kata-kata ayahnya. Ayahnya tentu bukan sedang membicarakan tentang pohon bungur.
"Ayah...?"
Lyn bermaksud menceritakan tentang Razak. Tapi ia teralihkan oleh sekuntum bunga bungur gugur dan diterbangkan angin. Lyn segera bangkit dan menangkapnya.
"Lyn mau bilang apa tadi ke Ayah?"
Lyn pura-pura lupa.
"Warnanya cantik. Lyn suka."
"Sekarang Ayah jadi tahu kenapa Lyn suka berlama-lama di sini."
Itulah hari terakhir yang dihabiskan Lyn bersama ayah. Di hari ketujuh setelah tentara mendatangi rumah mereka, ayah Lyn berangkat dari rumah saat matahari masih terang tanah. Dan tak pernah kembali. Lyn patah hati. Ia merasa dirinya seperti kelopak bungur yang terpaksa gugur sebelum waktunya.
Tapi, siapa lelaki berpenutup wajah yang ada dalam gerombolan tentara hari itu? Ia yang hanya berdiri di sudut rumah dengan gelagat gelisah. Lyn sempat bersitatap sekilas. Terasa familier, tapi siapa?
***
Lyn tiba di puncak bukit. Ia duduk persis di tempat ia dan ayahnya duduk belasan tahun lalu. Terngiang kembali pesan terakhir ayahnya. Pundaknya terasa hangat, seolah ayahnya sedang duduk di sisinya dan merangkulnya. Air mata Lyn menetes perlahan.
Ia pandangi ke seluruh bukit. Ladang-ladang dipenuhi kacang kuning yang sebentar lagi bisa dipanen. Matahari musim panas yang cukup terik. Membuat petani membalut muka mereka dengan secarik kain untuk menghindari paparan sinar matahari secara langsung.
Dalam perjalanan pulang, Lyn berpapasan dengan beberapa petani. Lyn menyapa mereka. Para petani itu adalah tetangga Lyn. Lyn menanyai apakah hasil panen tahun ini akan bagus? Hanya satu di antara mereka yang tampak diam saja. Gelagatnya gelisah. Lyn melirik petani itu, saat pandang mata mereka bertemu, Lyn teringat pada mata pria berpenutup wajah belasan tahun lalu ....[]
* honda adalah sebutan umum untuk kendaraan roda dua di Aceh.









