Rabu, 13 Oktober 2021

Surat-Surat untuk Arunika

Ilustrasi studybahasainggris.com


 

INI hari kelima Arunika menghabiskan dua puluh empat jam waktunya di rumah. Hari pertama, ia merasa happy-happy[1] saja, bahkan sangat menikmatinya. Bisa tidur dengan puas. Sesuatu yang terasa sangat mahal selama ini. Lalu bangun dan makan. Bisa leyeh-leyeh sambil menonton acara-acara favorit di situs penyedia layanan media streaming digital. Hari kedua Arunika mulai bereksperimen di dapur. Membuat puding dan sup iga favoritnya. Makan dengan hidangan yang dimasak sendiri ternyata bisa senikmat itu. Ia makan sampai dua kali tambah. Arunika jadi sedikit menyesal, mengapa selama ini ia membiarkan kesibukan merenggut nyaris seluruh waktunya. Hingga tak punya lagi tenaga untuk memasak.

Usai bersantap, Arunika bisa menghabiskan waktu sambil membaca buku-buku yang sudah kusam dan berdebu karena tak pernah disentuh selama ini. Keasyikan membaca hanya ia sudahi ketika azan bergema. Arunika tak pernah menyangka, di rumah saja selama berhari-hari ternyata senikmat ini. Otot-ototnya terasa regang dan longgar. Pikirannya yang selama ini selalu keruh karena beban pekerjaan menjadi lebih jernih. Sebagai seorang pekerja di lembaga bantuan hukum, Arunika telah menjelma menjadi sosok yang supersibuk. Makanya, momen di rumah ini sangat ia nikmati.

Namun, di hari-hari berikutnya Arunika mulai merasa jenuh. Aktivitas yang ia lakukan mulai terasa monoton. Tidur, bangun, mandi, makan, menonton, membaca, memasak, atau chatting, menjadi tidak asyik lagi. Arunika jadi kangen suasana kantor yang ramai. Kangen ketemu Inga yang masakannya juara dan sesekali memasak untuk mereka. Kangen celotehan Aryana yang mengalahkan cericit burung beo. Kadang-kadang terbit juga rasa kangen diomeli Bu Rani, bosnya yang sering kumat-kumatan galaknya. Kangen juga pada sapaan Pak Isa, satpam kantor yang tak pernah benar menyebut namanya.

“Selamat pagi, Bu Arungka.” Begitulah ia selalu menyapa Arunika.

“Arunika,” jawab Arunika yang tak pernah bosan mengoreksi.

“Eh, iya, Bu Arungka. Maaf, khilaf,” jawab Pak Isa lagi sambil tersenyum dan mengangguk-anguk.  

Kalau sudah begitu Arunika hanya bisa menggeleng-geleng sambil mengulum senyum yang tak mampu ia sembunyikan. “Khilaf apanya. Lidah Pak Isa perlu dikerok sama koin emas tuh kayaknya, seperti burung jalak, biar nggak khilaf lagi,” jawab Arunika sambil berlalu. Ia meninggalkan Pak Isa dengan wajah tersipu-sipu.

Membayangkan semua kebersamaan itu membuat Arunika semakin merasa terbelenggu. Semakin ia berusaha menghalau kejenuhan itu, semakin besar pula rasa jenuh itu muncul. Menjelma menjadi kerangkeng raksasa yang membuatnya tak bisa ke mana-mana. Kerangkeng itu adalah rumahnya sendiri. Dan ini baru hari kelima, sementara ia masih harus mengerangkeng dirinya di rumah selama belasan hari lagi.

Arunika merutuki dirinya. Ia kembali memutar otak. Dari siapa ia terinfeksi virus bermahkota itu. Namun, semakin dicari-cari rasanya tak kunjung ketemu di mana titiknya. Sebelumnya ia memang pernah bertemu dengan beberapa klien, tetapi ia merasa sudah mematuhi semua protokol kesehatan. Tak pernah lupa memakai masker, rajin cuci tangan, dan rutin menggunakan disinfektan. Hingga pekan lalu, saat bangun tidur Arunika merasa tubuhnya menggigil, penciumannya sedikit terganggu. Merasa curiga, ia pun memeriksakan dirinya ke laboratorium. Hasilnya? Sudah bisa ditebak.

Arunika bahkan tak berani membayangkan. Dia yang mobilitasnya sangat tinggi, tiba-tiba harus dipingit seperti ini. Kalau dipingit sebagai calon pengantin barangkali akan lain ceritanya. Pingitan ini membuatnya takut. Sulit sekali menyugesti diri kalau semuanya akan baik-baik. Kematian sesekali membayanginya. Mati sendirian. Dikubur tanpa dihadiri sanak keluarga. Arunika bergidik.

***

Nyaris seharian ini Arunika tidak melakukan apa-apa. Bahkan hampir tidak keluar kamar kecuali untuk ke kamar mandi ataupun salat. Rasa malas mulai menderanya. Ia merasa kehilangan gairah. Pesan-pesan yang masuk ke ponselnya untuk memberikan dukungan moral terus masuk. Kiriman makanan, buah, vitamin, susu, dan sayuran juga tak pernah putus. Arunika bersyukur banyak yang memperhatikannya. Namun, tetap saja ia merasa nelangsa. Arunika juga dibebaskan dari tugas-tugas kantor agar bisa fokus pada pemulihannya. Namun, beban kantor yang bertumpuk-tumpuk rasanya lebih baik daripada di rumah sendiri seperti ini tanpa seorang pun diperbolehkan menjenguk. Arunika merasa roda hidupnya berputar bukan karena virus sedang bersarang di tubuhnya, tetapi karena dia tidak bisa melihat hiruk pikuk di luar sana. Dia berusaha untuk bersikap normal, tetapi tetap saja semuanya tak sama.

Parahnya lagi, efek kebanyakan tidur di siang hari, sudah dua malam ini Arunika dilanda insonia. Dia baru tertidur setelah dini hari. Kondisi ini bukan saja membuat tubuhnya terasa lelah, tetapi juga pola istirahatnya jadi terganggu. Rasa suntuknya mulai bercabang-cabang.

Hari berikutnya Arunika baru bangun saat jarum jam genap pukul sebelas. Mungkin karena semalam ia baru bisa tidur menjelang pagi. Bisa juga karena sisa hujan semalam yang membuat langit hari ini dikulum mendung. Membuatnya tak sadar hari sudah siang. Cuaca seperti ini memang membuat malas. Namun, Arunika memaksa diri untuk tetap bangkit. Gontai ia melangkah dan membuka jendela kamar. Udara dan sedikit cahaya berebut masuk ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, hidungnya menangkap aroma petrikor yang segar. Bersenyawa dengan aroma melati yang tumbuh di dekat jendela. Arunika menghirupnya berkali-kali. Suasana hatinya sedikit lebih baik.

Keasyikan menghidu perpaduan aroma itu membuat Arunika jadi berlama-lama berdiri di dekat jendela. Hingga netranya menangkap ada benda yang tergantung di pintu pagar. Sebuah beluam dari serat berwarna cokelat muda. “Apa itu?” batin Arunika.

Rasa penasaran membuatnya segera berlari ke luar untuk mengambil beluam itu. Beluam itu pasti sengaja ditaruh di sana dan memang ditujukan untuk Arunika karena posisinya ada di bagian dalam pagar. Arunika yakin itu sehingga diambilnya beluam itu tanpa ragu. Dipandanginya sebentar beluam yang di bagian lehernya diikat dengan pita merah. Arunika penasaran. Apa isi di dalamnya? Demi menenangkan rasa penasarannya yang mulai meronta-ronta, Arunika membuka beluam itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu isinya hanya sebuah pesawat kertas.

Di bagian sayap sebelah kanan tertulis “Untuk Arunika”. Tak salah lagi. Beluam dengan isi pesawat kertas ini jelas-jelas tertuju untuknya. Namun, siapa yang mengirimnya? Apakah ini pesawat mata-mata? Arunika meneliti ke sayap sebelah kiri dan bagian perut pesawat. Tidak ada tulisan apa pun. Akhirnya ia putuskan untuk membongkar tubuh pesawat yang terbuat dari kertas HVS biru muda itu. Terdapat banyak kata-kata di dalamnya.

“Untuk Arunika Nirmala.”

Arunika membaca kalimat pertama itu dengan hati berdebar-debar. Siapa sih orang iseng yang menuliskan namanya dengan sangat lengkap. Dia selalu merasa tersanjung setiap kali namanya disebut dengan utuh. Ada kebahagiaan tersendiri yang merayapi relung batinnya. Saraf-saraf bibirnya mengendur.

“Andai kau tahu arti namamu. Atau kau memang sudah mengetahuinya?”

Arunika berhenti membaca. Ia malah jadi menyebut-nyebut namanya sendiri. Arunika Nirmala. Arunika Nirmala. Apa artinya?

Selama ini ia tak pernah berpikir tentang arti namanya. Orang-orang bilang namanya bagus, tetapi itu sama sekali tidak menggelitiknya untuk mencari tahu artinya. Arunika hanya tahu, nirmala adalah nama salah satu panti asuhan di kota ini. Arunika? Mungkinkah itu saudara jauhnya Srebenika? Ibunya juga tak pernah bercerita mengenai sejarah di balik pemberian nama itu.

“Barangkali kau tidak akan membiarkan matahari pagi berlalu begitu saja.” Refleks Arunika mengerutkan alis. Apa maksud orang ini menuliskan begitu?

“Memingit dirimu itu baik, karena itu artinya kau menjaga orang lain agar tidak ikut sepertimu. Tetapi mengurung diri terus-terusan di dalam rumah itu yang tidak baik.”

Alis Arunika semakin berkerut. Orang ini sudah menceramahinya. Ada sesuatu yang bergolak di dalam diriku. Arunika tidak terima. Bukannya Arunika tak tahu kalau berjemur di pagi hari baik untuk kesembuhannya.

“Keluarlah. Biarkan arunika menyiramimu.”

Hei. Orang ini menyebut namanya lagi. Eh, tapi tunggu dulu. Dia menuliskan arunika dengan huruf a kecil. Kalau sebuah nama seharusnya a besar, kan? Apa maksudnya arunika menyiramimu. Arunika semakin penasaran.

“Dua puluh atau tiga puluh menit di bawah matahari pagi tidak akan serta-merta membuatmu menjadi cokelat. Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kau justru akan terlihat seperti Rihanna atau Chef Farah Quinn?”

Ha ha ha. Arunika tiba-tiba jadi terbahak-bahak. Padahal baru saja beberapa detik sebelumnya emosinya sedikit terusik. Namun, kini ia malah bisa tertawa lepas seperti itu. Otaknya langsung menghadirkan dua sosok mungil selebritas dengan kulit yang eksotis. Lalu ia alihkan perhatian pada kulitnya yang pucat.

Arunika masih ingin membaca surat itu, tapi sayangnya sudah tak ada kata-kata lagi yang bisa dibaca. Semuanya terasa menggantung. Si pengirim surat kaleng tampaknya sengaja membuat Arunika penasaran dan mencari sendiri apa makna dari namanya itu. Lalu buru-buru ia buka Google dan mengetikkan kata “arunika dan nirmala” secara terpisah di pencarian. Betapa takjubnya dia. Artinya sangat indah. Rasa hangat menjalari hatinya. Ingin dia berterima kasih pada orang itu.

Setelah membaca surat kaleng itu Arunika seperti mendapat suplai energi baru. Dilipatnya kembali kertas itu hingga menjadi seperti semula dan diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sedangkan beluam tadi ia gantung di paku di ruang tamu. Arunika bergegas mandi. Dia jadi merasa lebih segar. Dan sepanjang itu pula senyum kecil senantiasa menghias bibirnya. Sesekali Arunika kembali tertawa lebar. Bagaimana bisa dia terpesona pada surat tak jelas itu?

Pagi ini Arunika bangun lebih awal. Pagi yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tanpa cuci muka terlebih dahulu Arunika segera melongok ke pagar lewat jendela kamarnya. Kembali tergantung sebuah beluam dari kain beludru putih bersih. Buru-buru Arunika melesat ke halaman untuk mengambil beluam itu. Kali ini isinya sebuah buku. Sebuah novel terbitan terbaru dari penulis kenamaan. Dia tahu penulis itu, tapi belum pernah membaca buku-bukunya. Arunika tak suka buku-buku bergenre sastra.

“Wow!” Arunika takjub sambil membolak-balikkan novel tersebut.

Sampulnya manis. Seorang perempuan berkimono ungu dengan rambut tergerai memegang payung motif bunga sakura. Segera dibukanya buku itu. Namun, saat Arunika sedang membolak-balik halamannya, seperempat lembar kertas terjatuh. Juga tertulis: Untuk Arunika.

“Dalam keadaan seperti ini, bacalah buku-buku yang lebih ringan. Topik-topik tentang hukum atau yang berat-berat lainnya nanti saja dibacanya, Arunika Nirmala. Suplai pikiranmu dengan bacaan-bacaan yang menyenangkan. Buku ini asyik. Aku jamin!”

“Siapa sih kamu?” wajah Arunika jadi berubah serius.

Hari-hari berikutnya Arunika selalu mendapatkan kiriman tak bertuan setiap paginya. Arunika bingung, kapan seseorang yang menurutnya tak ada kerjaan itu menaruh beluam-beluam itu di pagar. Suatu malam, Arunika mematung di jendela kamarnya hingga lewat tengah malam untuk mengintai. Arunika ingin menangkap basah orang itu. Namun, tak ada siapa pun. Ia hanya melihat tetangganya yang bekerja di sebuah laboratorium baru pulang kerja. Seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter. Jarang sekali mereka berinteraksi karena memang sama-sama sibuk.

Pernah juga setelah salat Subuh ia coba memantau kembali, tetapi tetap tidak ada gelagat yang mencurigakan. Namun, saat hari sudah terang dan dia membuka jendela, selalu didapatinya ada yang tergantung di pintu pagar. Isinya macam-macam. Ada gantungan kunci. Lukisan mini. Beberapa butir permen. Bahkan pernah isinya cuma batu pipih yang sudah dilukis gambar daun. Pesannya pun sangat menggelitik: masih ada beberapa hari lagi, aku sudah bingung ingin memberimu apa. Bagaimana Arunika tak penasaran.

Tanpa sadar Arunika sudah berada di rumah genap tujuh belas hari. Empat belas hari masa karantina plus tiga hari untuk memastikan bahwa dirinya sudah benar-benar sehat. Tiba-tiba saja ia jadi menyadari satu hal. Bagaimana mungkin waktu selama itu bisa terlalui begitu saja? Ke mana rasa jenuh dan frustrasi yang pernah menyerangnya hebat di beberapa hari pertama karantina? Mengapa hari-harinya yang sempat terasa gloomy[2] tiba-tiba menjadi secerah mentari pagi. Meskipun seorang diri melewati semua itu, tetapi Arunika merasa seperti ada teman yang khusus menemani. Siapa dia? Hati kecil Arunika berbisik. Setiap kali bertanya pada diri sendiri, setiap kali pula ia teringat pada beluam-beluam yang tergantung di pagar. Selalu terbit pula senyumnya. Namun, pagi ini ia tidak melihat ada beluam yang tergantung di pagar. Hatinya sempat pias.

Buru-buru ia tepis perasaan tidak nyaman itu. Arunika pun pergi ke kamar mandi dan perlu bersiap-siap untuk ke laboratorium. Dia ingin melakukan rapid test, untuk memastikan bahwa dia sudah tidak reaktif lagi.

Di luar apa yang Arunika pikirkan, tetangga depan rumahnya yang sudah siap dengan setelan dinasnya tampak terburu-buru menggantungkan beluam biru muda di pagar rumah Arunika. Semalam dia tidur sangat pulas sehingga terlewatkan menggantungkan beluam yang biasa dilakukannya setiap kali bangun untuk salat Tahajud. Dialah yang sebelumnya memeriksa sampel Arunika di laboratorium. Dokter muda itu sempat kaget saat melihat nama tetangganya berada di daftar antrean tabung sampel yang harus diuji. Saat hasilnya keluar dan Arunika diketahui positif Covid-19, dia sempat ingin memberitahukannya secara langsung. Namun, ia tak cukup punya nyali.

Lalu sebuah ide konyol tiba-tiba muncul di pikirannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk “menemani” hari-hari Arunika selama masa karantina. Dia tahu Arunika gadis yang sibuk, tapi dia juga tidak begitu kuat untuk melewati semuanya. Dia harus mendukungnya.

 

Untuk Arunika:

Hebat! Kamu sudah melewati tujuh belas hari dengan baik. Semoga ke depan tak ada lagi yang memenjarakanmu seperti ini. Kecuali... kecuali terpenjara oleh rasa penasaran. :-D

 

Jantung Arunika jadi tak karuan setelah membaca isi surat kaleng itu yang disertai dengan sebuah cokelat premium. Berkali-kali ia meyakinkan diri kalau sesaat sebelum dirinya ke kamar mandi tadi, tak ada apa pun di pagar. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu sudah ada beluam di sana? Tiba-tiba ia mendengar suara sepeda motor tetangganya yang berangkat kerja. “Dokter Oding?” ia menebak-nebak.[]

 

Cerpen ini mendapatkan penghargaan Terbaik II Lomba Penulisan Cerita Wana be the Best Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh 2020

 

[1] Senang

[2] Muram 



Sabtu, 02 Oktober 2021

Permen Kopi di Bandara




 "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?"

Pertanyaan itu. Aku lupa, entah siapa di antara kita yang melontarkannya. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan dalam satu perjalanan dengan tujuan yang sama. Kita sama-sama terjebak di bandara ini. Uhm, kata terjebak rasanya terlalu berlebihan. Tapi, apa bedanya, toh kita memang harus menunggu lama untuk keberangkatan subuh nanti.

Malamnya, seperti juga aku, kau memutuskan menginap di bandara. Ada rest area yang nyaman untuk tidur selama beberapa jam. Ada charging box juga, jadi aku bisa menambah daya dengan leluasa di sana.

Sayangnya, sofa bed yang tersedia, meski empuk, tak bisa membuatku leluasa untuk meluruskan kaki. Jadinya, aku harus tidur sambil meringkuk. Kucoba alihkan perhatian pada tayangan televisi LED yang ada di ruangan. Nyaris semua chanel menayangkan kondisi Kota Palu dan beberapa kabupaten lain di Sulawesi Tengah yang sepekan lalu baru saja dihantam gempa dan tsunami. Tayangan itu sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik.

Suhu di ruangan ini tak ubahnya seperti di dalam kulkas saja. Dan, seperti juga kamu, rasa dingin yang menggigit-giti tulang membuatku tak bisa memejamkan mata walau sesaat saja. Padahal, tubuhku terasa sangat letih. Perlu tidur. Aku memang kurang bersahabat dengan suhu yang terlalu rendah. Jaket dan kupluk yang kupakai untuk membalut tubuh tak begitu menolong. Hawa dingin dari sejumlah standing air conditioner rasanya seperti masuk ke rongga-rongga telinga dan hidungku. Bisa mati kalau aku terus bertahan di ruangan ini. 

Sama juga sepertimu, lalu kuputuskan untuk keluar dari ruang istirahat. Aku menuju ruang tunggu yang terasa lebih hangat. Mungkin karena ruangan yang lebih luas. Juga masih ada orang yang berlalu lalang, jadinya hawa sejuk itu terserap oleh banyak tubuh.  

Sudah pukul setengah dua malam. Ruang tunggu yang tadinya ramai dengan lalu-lalang manusia mulai tampak lengang. Sejumlah penumpang terlihat merebahkan tubuh di kursi-kursi. Satu-satunya yang kulihat masih teronggok di kursi hanya kamu. Kalau bukan karena senyummu yang menawarkan pertemanan, barangkali aku urung melangkah.

"Kedinginan juga?" pertanyaan itu membuatku memutuskan untuk duduk sejajar denganmu. Kata orang, mengobrol bisa mengatasi kebekuan. Aku tidak terlalu yakin, tetapi kenapa tidak dicoba saja, kan?

"Mau ke mana?" 

Pertanyaan basa basi khas orang orang yang bepergian. 

"Palu."

"Sebagai relawan?"

Aku mengangguk. Meski sebetulnya bukan, tetapi hingga detik itu kau masih orang asing bagiku. 

"Aku juga akan ke Palu."

"Sebagai relawan juga?"

Kau mengangguk. Aku menangkap keraguan pada anggukanmu, tetapi seperti halnya aku, sampai detik itu aku pun orang asing bagimu. 

Kau menawarkan aku kopi. Permen kopi tepatnya, yang kuterima dengan senang hati. 

"Orang-orang yang suka kopi konon memiliki hati yang hangat."

"Dan karena itu hati mereka nyaman untuk didiami?"

Aku tak berharap kau menanggapi seserius itu. Tetapi memang, berawal dari situlah semuanya bermula. Kita bukan lagi orang asing yang beberapa menit lalu baru saja berkenalan, tetapi kita adalah sahabat lama yang bertemu kembali di ruang tunggu terminal bandara. Banyak cerita yang mengalir. Dari yang remeh temeh hingga hal-hal yang menurut kita serius, seperti asal usul kita. 

Namun, entah mengapa, tidak ada seorang pun di antara kita yang berusaha untuk mengenalkan atau menanyai nama masing-masing. Terbersit di hatiku untuk bertanya, tetapi sejurus kemudian aku teringat. Mengapa nama seolah-olah menjadi begitu penting. Apakah haram bercerita karena kita tidak tahu siapa nama lawan bicara kita?

Bukankah menyenangkan bercerita pada orang asing. Tidak perlu merasa malu karena toh kita tak akan pernah ketemu lagi dengan mereka?

Kulihat kau menerawang. Aku mengekori tatapanmu tanpa sedikit pun ingin menyela. Meski begitu benderang, tetapi wajahmu terlihat agak samar. Aku benar-benar sudah tidak merasa mengantuk lagi. Padahal seharian ini waktuku habis untuk perjalanan. Tidak ada istirahat yang begitu berarti. Di pesawat siang tadi pun sebentar saja aku bisa tidur.

"Palu... Bukankah terlalu berisiko untuk seorang sepertimu? Maksudku, bukankah ini perjalanan pertamamu ke sana, dan keadaannya sekarang sedang bencana. Sewaktu-waktu masih bisa terjadi gempa... Atau tanah bergerak."

Aku tidak menampik. Tetapi aku juga tidak pergi tanpa persiapan. Aku menunjukkan lembaran berisi cek list berbagai persiapan yang telah kulakukan. 

"Wow! Kau begitu detail." 

Aku senang mendengar suaramu yang antusias. Seolah-olah yang kulakukan ini di luar kebiasaan. Padahal, siapa pun yang terbiasa bepergian, lazim melakukan ini. Disadari atau tidak.

"Memang tidak ada yang merisaukan aku selain ibuku, tetapi kupikir, aku tidak ingin menyesal jika terjadi hal hal buruk padaku. Makanya aku buat cek list sebanyak ini, setidaknya aku tahu harus menghubungi siapa dan menghindari kondisi yang bagaimana saat di sana nanti. Aku juga sudah mencari tahu hotel yang masih bisa diinapi."

"Aku bahkan tak lagi punya orang tua. Masih punya beberapa kerabat, tetapi kuyakin mereka tidak peduli padaku. Aku terbiasa hidup sendiri... Setidaknya sejak beberapa bulan terakhir. Mungkin karena itu, nyaris tidak ada persiapan yang kulakukan, selain beberapa helai pakaian, beberapa obat untuk pertolongan pertama, dan... Tentu saja uang yang banyak. Hahahaha."

"Sebelumnya?"

"I have some one yang... setidaknya ada yang merecoki hidupku. Membuat hari-hariku sedikit lebih berwarna. Sesekali aku mengiriminya foto-foto hasil karyaku di dapur, atau kadang kadang kami bercerita tentang aktivitas masing-masing."

"Kau pandai memasak?"

"Aku terbiasa mandiri sejak kecil, menurutku memasak bukan kepandaian, tetapi itu kecakapan hidup yang harus kita kuasai. Paling tidak, memasak mi instan atau menanak nasi, kan?"

"Ya, kau benar. Seharusnya, reaksiku biasa-biasa saja, ya, tak ada yang perlu diistimewakan," aku seolah mengklarifikasi reaksi spontanku tadi.

Kau tergelak. Mengangguk sebagai tanda persetujuan.

"Oh ya, ke mana seseorang itu sekarang?"

"She is gone."

"Ups..."

"Setidaknya itulah kesimpulanku, sebab sebelumnya komunikasi di antara kami baik-baik saja. Aku bahkan tak pernah menduga dia pergi dengan tiba-tiba. Tak ada masalah, tak ada perdebatan, semuanya menjadi dingin dan canggung tiba-tiba."

"Mengapa kau berpikir kalau dia meninggalkan kamu?"

"Uhm.... entahlah, tapi soal itu aku mempunyai perasaan yang tajam. Suatu hari aku menemukan sesuatu di media sosialnya."

Kau membuat tanda telinga kelinci saat menyebutkan sesuatu. Aku mengangguk, meski tak paham apa yang kaumaksud, tapi yang pasti itu sungguhlah membuatmu kecewa dan sakit hati.

"Sejak itu  aku tidak lagi menaruh harapan padanya. Kupikir, tugasku sudah usai... "

"Tugas?"

"Ya, membantunya melewati masa-masa sulit, membantunya menemukan jati diri setelah terpuruk dan terpukul oleh kehidupan. Aku bersyukur karena dia masih bisa melihat dunia yang lebih terang dan indah..."

"Kamu tidak berusaha mengonfirmasi?"

"Aku bukan wartawan," ucapmu dengan senyum lirih.

Ya ampun, kau bahkan masih berusaha untuk melucu. Atau memang begitulah cara orang-orang sepertimu menghibur diri?

"Mereka dengan hati yang hangat konon lebih sering tersakiti."

"Mengapa harus?"

"Karena mereka memiliki kepedulian yang tinggi, apalagi terhadap orang yang suka merecoki hidupnya. Aku mengenal beberapa orang yang punya hasrat berkorban tinggi sepertimu."

"Apa termasuk dirimu sendiri?"

Hahahah. Giliran aku yang tergelak. Sial! Pandai sekali kau memancing segala yang kusembunyikan di dalam diriku. 

"Orang-orang yang merecoki hidup kita dalam tanda kutip memang seperti pisau bermata dua. Sewaktu-waktu memang bisa berbalik melukai," lanjutmu kemudian.

"Dan karena itu kau ke Palu?"

"Uhmmm..."

"Seseorang pernah bilang padaku, saat hati terluka kita hanya perlu mencari kesibukan, itu sebabnya banyak orang yang terluka memutuskan untuk mengembara..."

"Apa kita pengembara?"

"Hahahaha...."

"Ada kesakitan yang paling sakit, saat kita menyadari yang hilang dalam diri kita bukanlah sesuatu yang berbentuk..."

Lalu hening. Dan saat tak ada suara-suara yang merambat, hawa dingin kembali terasa menusuk-nusuk. Aku membuka WhatsApp. Membaca status teratas dari beberapa teman. Sudah dinihari, tetapi masih saja ada yang belum tidur. Masih ada yang membuat status. Status-status bernada muram.

"Barangkali mereka juga seperti kita."

Sepertinya kau tahu apa yang bermain di pikiranku.

"Orang orang sekarang lebih beruntung karena punya media untuk meluapkan emosi, bisa bikin status di medsos atau WhatsApp. Itu termasuk ampuh untuk mengurangi beban psikologis."

"Ya, aku setuju, tetapi tetap saja, tempat bercerita yang menyenangkan adalah kepada manusia. Manusia bisa merespons. Bisa menunjukkan empati. Sedangkan benda, secanggih apa pun tidak pernah bisa..."

"Tetapi saat kita tidak bisa menemukan seseorang yang tepat untuk bercerita bagaimana?"

"Kita bisa menciptakan manusia. Pikiran kita bisa menciptakan apa saja..."

Tepat setelah kau mengatakan itu, aku jadi tersentak. Aku terkejut saat kudapati tidak ada seorang pun di sampingku. Kosong. Kuedarkan pandangan ke ruangan yang terhampar. Orang-orang masih tergeletak di kursi. Tidak ada satu manusia pun yang berlalu-lalang. Juga tidak ada tanda-tanda ada pernah ada orang di sampingku sebelumnya... tetapi...bungkus permen kopi ini...

Lamat-lamat, pertanyaan "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?" muncul kembali di dalam diriku.[]


Jumat, 24 September 2021

Life Begin After Coffee with Scarlett Series

Foto Ihan Sunrise


FELICYA ANGELISTA. Nama artis yang satu ini memang akrab di kupingku. Bukan cuma nama, melainkan wajahnya pun sangat sering kulihat di layar kaca. Itu karena salah satu chanel televisi di rumah kami menayangkan sinema elektronik yang diperankan oleh Feli. Yap! Dunia Terbalik judulnya. Di sinetron itu, Feli memerankan karakter Tuti yang ikonik dan kejenakaannya sukses mengocok perut. Apalagi saat dia memanggil Momski dengan gaya manja untuk ibunya yang diperankan Mike Amalia.

Belakangan nama Feli menjadi ramai dibicarakan. Bukan, bukan karena dia terlibat gosip murahan seperti beberapa selebritas lainnya. Atau membuat gimmick tertentu untuk menarik perhatian publik. Namun, karena ia berhasil membuat brand beauty miliknya menjadi ramai diperbincangkan publik. Scarlett by Felicya Angelista. Begitulah jenama yang dipilih untuk mewakili aneka produk kecantikan, kosmetik, dan perawatan diri yang lahir dari tangan dingin artis muda kelahiran seperempat abad silam itu. 

Sampai di sini, tanpa bermaksud berlewah-lewah, saya kagum dengan sosoknya yang cukup merepresentasikan anak muda yang pantas ditiru. Feli adalah perpaduan sosok anak muda yang energik, mandiri, dan produktif. Sama seperti empunya, Scarlett pun berhasil tampil sebagai jenama produk yang merepresentasikan kemewahan dan ekslusif.

Felicya Angelista @Pikiran Rakyat


Sebagai new comer, Scarlett bisa dibilang cukup cepat diterima masyarakat. Ini bisa dilihat dari banyaknya jenis produk Scarlett yang berseliweran di lini masa media sosial (ku). Surprise-nya lagi, pada suatu malam, di grup WhatsApp yang isinya teman-teman lamaku, mereka membahas beberapa produk Scarlett yang sudah mereka pakai. 

"... dibanding dengan produk artis lain, Scarlett cukup rekomended dan harganya terjangkau," kata seorang teman setelah menyebutkan jenis produk yang dia pakai. 

"... Saya juga pengin coba yang warna putih. Mana tahu lebih wangi dari orange. Haha," kata teman yang ternyata sudah lama memakai Scarlett body lotion.  

"Saya pakai warna ini, sebelumnya warna kuning, sekarang waktunya coba warna ini, suka ditanya orang2 aku pakai parfum apa, padahal cuma pakai hand body Scarlett," komen teman yang lain.

Begitulah. Obrolan demi obrolan dengan topik perawatan tubuh dari Scarlett terus berlanjut di grup. Aku cuma menyimak, soalnya sampai detik itu, belum ada satu pun produk Scarlett yang pernah kucoba. Namun, testimoni dari teman-teman membuatku akhirnya mencoba tiga jenis produk perawatan kulit dasar dari Scarlett, yaitu body scrub, brightening shower scrub, dan body lotion masing-masing dengan aroma kopi yang memikat dan jolly yang lembut. Tiga produk ini termasuk rangkaian body care atau perawatan tubuh dari Scarlett.

Tiga varian produk Scarlett untuk perawatan tubuh dasar harian dan mingguan @Ihan Sunrise


Aku memang bukan tergolong orang yang telaten merawat kulit dengan pergi ke tempat spa atau klinik kecantikan lainnya, tetapi untuk perawatan dasar seperti scrubing dan memakai body lotion, rutin kulakukan. Jadi, meskipun kulitku cenderung eksotis, tetapi tetap sehat lo. Tidak kering dan kusam.

By the way, sebagai pencinta kopi, aku begitu klik dengan varian produk yang ini. Aromanya membuatku teringat pada roti boi. Andai bisa dicolek dikit dan dinyam-nyam... ha ha ha.

Life Begin After Coffee

Yess! Kopi memang cocok banget sebagai mood booster untuk memulai aktivitas harian. Sebagai pencinta--kalau tidak dibilang pencandu--kopi, aku tahu betul efek sugesti kopi. Secangkir kopi di pagi hari, akan menjadi penanak energi untuk sepanjang hari. Rutinitas pekerjaan yang kadang terasa menjemukan, menjadi lebih relaks kalau sudah meneguk secangkir kopi hitam atau sanger. Nah, jika biasanya menyesap kopi baru kumulai setelah tiba di kedai kopi atau kafe, dengan hadirnya dua varian produk berupa Scarlett scrubb dan shower scrub varian kopi, aku sudah bisa menyesap semerbak kopi sejak di kamar mandi.

Memiliki kulit yang sehat memang harapan semua orang, khususnya perempuan. Kulit yang sehat juga akan memberikan efek positif berupa meningkatnya rasa percaya diri. Namun, untuk mendapatkan kulit sehat tak cukup hanya dengan mengasup makanan dari dalam tubuh saja, tetapi juga penting memberikan sentuhan eksternal untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagai organ terluar manusia, kulit menjadi "lapangan" tempat mendaratnya partikel-partikel debu atau kotoran lainnya. Efeknya kulit jadi kusam, tak jarang malah ada yang sampai bersisik. Salah satu sebabnya karena menumpuknya sel-sel kulit mati dan berkembang biaknya kuman atau bakteri.

Namun, tak perlu khawatir, sel kulit mati ini bisa dikikis kok dengan eksfoliasi atau pengelupasan yang lazimnya dikenal dengan istilah scrubbing. Syaratnya cuma perlu telaten melakukan minimal dua kali seminggu. 

Scarlett Body Scrub mengandung vitamin E dan glutathione yang bermanfaat untuk: 

1. Membantu mengangkat sel kulit mati, 

2. Mengembalikan kelembaban kulit, 

3. Membantu mencerahkan kulit, 

4. Membantu melancarkan peredaran darah, 

5. Sebagai sarana untuk relaksasi tubuh, 

6. Meregenerasi kulit setelah eksfoliasi, 

7. Meningkatkan kadar hidrasi yang dibutuhkan kulit.

Bagi kamu yang suka varian lain juga tersedia varian Romansa dan Pomegrante dengan floral-fruity gourmand.

Cara scrubbing juga sangat mudah, kamu bisa melakukannya di pagi hari dan hanya perlu mempercepat jadwal mandimu beberapa menit saja dari biasanya. Pertama, balurkan scrub ke bagian tubuh yang ingin di-scrubbing, kemudian diamkan sekitar 3-5 menit atau setengah mengering (sembari ini kamu bisa gosok gigi :-D), selanjutnya gosok perlahan scrub sehingga sel-sel kulit mati di tubuhmu bisa terangkat.

Shower scrub
Setelah selesai bilas tubuh dengan menggunakan shower scrub untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Berbeda dengan scrub, kamu bisa menggunakan shower scrub setiap hari. Setelah selesai mandi, baru deh kamu mengaplikasikan body lotion ke seluruh tubuh untuk menutrisi kembali. 

Shower scrub ini mengandung colagen, glutathione, vitamin E, dan beads yang berfungsi untuk membantu memaksimalkan saat membersihkan tubuh, membantu mengangkat sel-sel kulit mati, membuat kulit jadi lebih halus setelah eksfoliasi, membantu mengembalikan kelembaban kulit, dan membantu mencerahkan kulit. Selain yang varian coffee, juga ada wangi mango, cucumber, dan pomegrante.

Body lotion varian Jolly 

Sedangkan yang body lotion variannya lebih beragam, seperti romansa, fantasia, charming, freshy, dan jolly. Berbagai aroma ini bisa disesuaikan dengan kepribadian kamu. Kalau yang jolly, seperti yang saat ini kupakai, aromanya lembut dan menurutku sangat feminin. Meski begitu, tetap menyatu meskipun aku mandi dengan shower scrub aroma kopi. Dengan Shower Scrub dan Body Scrub Perfect Coffee Edition ini, aku bisa mendapatkan double manfaat: untuk kulit dan mood yang menenangkan. Horeee......

Oh ya, sebagai info tambahan untuk kamu yang penasaran dengan rangkai body series dari Scarlett, produk ini sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia lo, sudah teregister juga di Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) RI. Selain itu juga aman dipakai oleh ibu hamil, tetapi untuk lebih yakin ada baiknya konsultasi dengan dokter kamu dulu. Harganya, seperti yang dibilang sama temenku juga ekonomis. Body scrub isi 250 mili,  shower scrub isi 300 mili, dan body lotion isi 300 mili masing-masing hanya Rp75 ribu. Kamu juga bisa mendapatkan produknya dengan membeli secara online via:

Line @scarlett_whitening
Shopee: Scarlett_Whitening
Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop
Whatsapp: 0877-0035-3000

***

Jumat, 09 Juli 2021

Love Me Like There's No Tomorrow


 

Cintai aku seperti tidak ada hari esok.

Kira-kira, seperti itulah terjemahan dari judul tulisan ini. Kalimat itu kutemukan di awal paragraf salah satu bab dalam Time of Your Life--Bagimu, masa muda hanya sekali-- yang ditulis Rando Kim, seorang profesor di Seuol National University. Kalimat itu terdengar romantis. Bagi penggemar Freddie Mercury, mungkin lagu ini sudah familier di telinga mereka. Namun, tidak denganku. Satu-satunya lagu Freddie-Queen yang akrab di telingaku cuma I want to break free. Yeah! Aku ingin bebas!

Kalimat itu membuatku gayang. Tentu bukan dalam arti sebenarnya. Setidaknya, membuatku tergerak untuk membuka laman ini dan terbersit ingin menuliskan sesuatu. Walaupun, walaupun setelah layar terbuka dan jari-jemari sudah bertengger di atas kibor, aku malah dilanda kebingungan. Apa yang harus kutulis? Pada akhirnya, aku cuma bisa menatapi layar ....

Dua tahun lalu, aku mewawancarai seorang pria paruh baya. Kami sepakat membuat janji temu di salah satu kafe premium di kota ini. Soal tempat, kubiarkan dia yang memutuskan. Walau bagaimana pun, kenyamanan orang yang akan diwawancarai tetaplah menjadi prioritasku. Selama, tempat itu mudah diakses, terbuka untuk publik, dan, tentu saja, ini yang paling penting: tidak berisik.

Kami janji ketemu sore hari setelah asar, tetapi pria itu datang agak terlambat. Itu tidak masalah buatku karena sepanjang sore hingga magrib memang sudah kusediakan waktu untuknya. Jadi, kalaupun dia datang terlambat, masih ada waktu untuk berbincang. 

Pria itu mengenakan setelah jin dan kemeja lengan pendek. Meskipun kepalanya tertutupi topi sejenis beret, jelas sekali kalau kepalanya sudah dipenuhi uban. Usia memang tak bisa menipu. Namun, ia masih terlihat gagah. Posturnya yang tinggi besar meneguhkan kesan itu. Jalannya masih tegak. Selera humornya juga bagus. Barangkali itu resep dia tampak lebih segar dan bersemangat meski usianya sudah setengah abad lebih. Sepanjang wawancara berlangsung, suasana terasa sangat cair. Lebih mirip obrolan dengan seorang kenalan baru. Dia juga tak canggung saat menceritakan tentang kehidupan pribadinya, tentang keluarganya, tentang siapa dirinya.

"Keluarga kami bukan orang berada," katanya di tengah perbincangan, "ayah saya meninggal dunia terlalu cepat," katanya lagi.

Itu sebabnya, sebagai anak lelaki tertua, dia mengambil peran dan tanggung jawab yang lebih besar menggantikan ayahnya. Adik-adiknya perlu sekolah, mereka juga perlu biaya hidup, dialah yang harus memenuhi biayanya. 

"... itu sebabnya anak saya masih kecil," dia menunjuk ke arah seorang remaja berusia sekolah menengah atas, menuntun seorang balita yang tak lain adalah adiknya. 

Keduanya adalah anak pria yang duduk di hadapan saya. Dia lantas menyuruh mereka menunggu di kursi lain.

Aku menyimak ceritanya. Pria itu, saat teman-teman sebayanya sibuk menjalin kisah asmara, bersekolah tanpa perlu dipusingkan dengan biaya SPP, dia malah mengabaikan segala kesenangan masa mudanya untuk mengurus adik-adiknya. Di akhir cerita, adiknya lulus sebagai sarjana, saat itu, dia merasa etape terberatnya sebagai seorang abang sedikit berkurang. Barulah kemudian dia memikirkan dirinya sendiri, menemukan belahan jiwa, menikah, dan... meniti kariernya yang memang telah dibangun sejak awal.

Ketika malam ini aku membaca Time of Your Life dan menemukan judul tembang lagu yang menjadi judul tulisan ini, entah mengapa ingatanku malah melayang pada pria paruh baya itu. Aku menemukan makna dari kalimat itu. Makna yang sangat dalam. Itulah ekspresi cinta yang sebenarnya. Yang membuat kita selalu tak sabaran, bahkan terpikir bahwa tak ada lagi hari esok untuk mengekspresikan cinta. Cinta yang besar, yang tak bisa menunggu waktu, selalu berbarengan dengan pengorbanan, kan? Meskipun pria itu tak pernah mengatakan "i love you", tetapi bukti cintanya pada keluarga tentulah sangat besar.

Sebagai individu yang pernah merasakan jatuh cinta. Aku pun kerap begitu. Cinta selalu membuatku tak pernah bisa bersabar. Misalnya, aku selalu merasa malam selalu panjang; hanya agar aku bisa mengucapkan selamat pagi pada kekasihku. Atau, aku merasa waktu dua belas bulan di Bumi seperti di Pluto, karena aku ingin selalu menjadi yang pertama memberi ucapan ketika kekasihku berulang tahun. 

Namun, ternyata ketidaksabaranku itu masih tidak ada apa-apanya dibandingkan ketidaksabaranku jika menyangkut dengan ibu. Satu-satunya orang tua yang kupunya sekarang. 

Aku masih ingat betapa jarak Banda Aceh--Idi Rayek terasa sangat jauh saat pulang untuk menengok ibu yang telah dibawa ke rumah sakit. Begitu juga jarak Idi Rayek--Banda Aceh, yang rasanya seperti tak sampai-sampai saat mendampingi ibu di dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit terbesar di Banda Aceh. Menyaksikannya termegap-megap seperti ikan menggelepar di daratan, aku bahkan tak sempat berpikir jika hari esok masih ada. Saat berbulan-bulan ibu dirawat di ruang intensif, aku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Dan karena terlalu banyak berdiri, betisku sudah seperti balok kerasnya. Aku bahkan tak lagi bisa merasakan seperti apa rasanya lelah. Begitulah, aku selalu merasa bahwa esok adalah misteri, waktu yang kupunya untuk menunjukkan bahwa aku sangat mencintai ibuku hanya hari itu. Saat itu. Jadi aku tak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan. Jangan ada sedetik pun yang sia-sia. Ibu harus tahu kalau aku mencintainya. 

Itulah, itulah yang selalu kulakukan pada orang-orang yang kucintai; aku tak pernah sungkan menyatakan perasaanku. Entah dengan sikap, perlakuan, emosi, atau dengan sesuatu. Selalu berusaha mendahulukan selama memungkinkan. Walaupun, kadang-kadang, ego juga melunjak. 

Sekali waktu di Hari Ibu. Sambil memeluk dan menciumnya, kuselipkan sepotong kertas bertuliskan perasaan cinta yang dalamku padanya. Di waktu yang lain, ketika aku sudah punya uang lebih, kubelikan sepotong kue tar dan selembar baju gamis untuk ibu di Hari Ibu. Tangisnya pecah. Kata terima kasih disertai doa panjang terucap di bibirnya. Itulah, itulah cinta yang seolah seperti tak ada hari esok.

Begitu juga pada kekasihku. Sekali waktu, aku memberikan lukisan sebagai kado hari ulang tahunnya. Di lain waktu, aku hanya bisa menuliskan pesan pendek yang kukirim ke ponselnya. Tentang hari esok... aku tidak tahu, apakah aku masih mencintainya, ataukah dia masih mencintaiku. Esok, entah dia masih mau bertemu denganku, atau justru aku yang sudah enggan bertemu dengannya. Karena esok, aku tidak pernah tahu, cinta yang dalam dan besar entah masih perlu disampaikan dengan pesan dan lisan, atau cukup dikirimkan lewat doa-doa yang pendek saja; semoga selalu bahagia, selalu hidup dalam cinta, selalu ... selalu... selalu....

Jadi, kupikir, berusaha datang lebih awal dalam setiap janji temu, adalah ekspresi dari cinta. Berusaha memberi meskipun tak pernah dipinta, juga ekspresi cinta. Tetapi kadang-kadang, merelakan juga bagian dari ekspresi cinta... sebab, jika hari ini kita tak pernah bisa merelakan, besok pun mungkin tak pernah bisa...[]

Jumat, 02 Juli 2021

Kapan Terakhir Kali Kita Berdua?

Sumber foto: pixabay


Kapan terakhir kali kita berdua? Duduk, untuk saling sekadar menautkan jari jemari di atas meja. Saling menatap dalam diam. Membiarkan perasaan melanglang buana. Seperti elang yang mengepakkan sayap di cakrawala.

Kau, mungkin, sambil menikmati secangkir cokelat panas. Yang dihidangkan dalam cangkir porselen bergambar abstrak. Aku? Mungkin hanya memesan secangkir kopi. Mungkin. Karena akhir-akhir ini kami mulai tak bersahabat. 

Setiap minum kopi, malamnya aku selalu terjaga, bahkan hingga menjelang pagi. Itu menyiksa. Bukan, bukan karena tak bisa tidur. Tetapi karena insomnia selalu melahirkan konspirasi. Menghadirkanmu dalam berbagai fragmen kebersamaan kita. Itu sangat menyiksa.

To the Bone-nya Pamungkas mengalun lembut. Aku suka bait-baitnya. Merepresentasikan apa yang kurasa saat ini. Matahari mulai tinggi. Tetapi aku masih di sini, menikmati hangat yang bercampur semilir angin. Duduk di tepi sungai. Memandangi permukaannya yang bergelombang dipermainkan angin. Ikan-ikan kecil sesekali tampak bergerombol. Mereka sedang bercanda atau ada pemangsa yang sedang mengejar?

Beberapa perahu tertambat di pinggir sungai. Aku memperhatikannya satu-satu. Berwarna-warni. Ada merah, hijau, kuning, putih. Tapi itu bukan pelangi. Meskipun itu pelangi, aku bukanlah pengagum pelangi. 

Perahu itu... apa bedanya dengan manusia. Kita, dilahirkan untuk kemudian berkelana di laut lepas. Kehidupan ini adalah lautan mahaluas, kan? Pada saatnya, kita tetap perlu menepi dan berlabuh. Perlu dermaga untuk melempar sauh. Atau jangkar. 

Saat itu, mungkin kita akan memulai kehidupan baru. Mungkin juga karena terlampau lelah. Perlu waktu sejenak untuk beristirahat. Atau karena sudah terlampau rapuh dan tak berdaya? Siapa yang sanggup terus-terusan digumul gelombang? Siapa yang sanggup terus-terusan dipanggang matahari. Yang, ketika di samudra ukurannya terasa lebih besar dan cahayanya terasa seperti besi yang meleleh.

Berlabuh artinya berhenti seumur hidup? Berlabuh, artinya, pergi untuk selama-lamanya? Entahlah ....

***

Kapan terakhir kali kita berdua. Pertanyaan itu sangat klise. Aku pun mulai enggan bertanya. Di tepi sungai, aku masih duduk sambil memandangi rumput sebagai alas duduk. Ujung-ujungnya lancip, serupa pensil yang diraut dengan pisau lipat. Dengannya seseorang bisa menuliskan apa saja tentang kisah hidupnya; di atas lembar daun sewarna cengkih kering, atau di atas papan lusuh sewarna sabut kelapa. 

Angin masih bertiup. Matahari makin meninggi. Cahayanya menyilaukan. Di seberang sana jejak-jejak masa lalu kembali muncul. Dan kau muncul sebagai seorang musafir.[]


Minggu, 25 April 2021

Edukasi Bencana di Produk Kerupuk Teripang Raja Gubang

Kerupuk Teripang Raja Gubang @Bukalapak


KERUPUK teripang? Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan nama olahan kerupuk yang satu ini. Tetapi bagi masyarakat Kabupaten Simeulue, ini menjadi salah satu produk UMKM andalan yang telah mengangkat nama kabupaten itu. Teripang merupakan jenis hewan laut dengan tekstur tubuh yang lunak (avertebrata) dan menyukai dasar laut. 

Di tangan kreatif warga Simeulue, hewan ini mampu disulap menjadi kudapan yang gurih dan bergizi tinggi. Produk ini turut menghiasi stan Kabupaten Simeulue dalam UMKM Expo 2019 yang dihelat oleh Dinas Koperasi dan UKM Aceh pada 22-26 November 2019 lalu di Banda Aceh.

Usaha kerupuk teripang ini dirintis oleh seorang pria bernama Zulfikar Zaintisa dengan istrinya yang dimulai antara tahun 2006-2007 silam. Kini telah lebih dari sepuluh tahun, produk yang dipasarkan dengan jenama Kerupuk Teripang Raja Gubang ini masih mampu bertahan. 

Saat berbincang-bincang dengan Sukma pada 23 November 2019 lalu, Zulfikar mengakui bila dalam merintis usaha ini ada tantangan tersendiri. Terutama dalam mendapatkan bahan baku, ia harus menyelam hingga kedalaman 30 meter di bawah permukaan laut. Apalagi saat cuaca buruk, tak jarang nyawa menjadi taruhannya. Itu pula yang membuatnya kadang-kadang juga membeli teripang dari nelayan yang harganya sangat mahal untuk kualitas terbaik, mencapai Rp3 juta per kilogram.

“Untuk produk ini kita menggunakan teripang kualitas terbaik,” ujarnya kepada Tabloid Sukma.

Selain teripang, bahan baku lain yang digunakan untuk mengolah produk ini adalah tepung sagu dan rumput laut. Diracik dengan rempah-rempah lain seperti bawang putih, sedikit gula dan garam untuk menambah cita rasa. Selain memiliki rasa original, Zulfikar juga membuat varian lain di antaranya kerupuk teripang rasa jengkol. 

“Kami tidak menggunakan penyedap, pengawet, maupun pewarna buatan, jadi ini sangat alami, sehat dan aman dikonsumsi,” ujarnya.

Teripang ini kata Zulfikar, tidak hanya nikmat di lidah, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan seperti kandungan kolagen yang dipercayai mampu memperbaiki sel-sel tulang rawan dengan cepat, membantu percepatan penyembuhan luka, reumatik, encok, asam urat, diabetes, maaf, dan hepatitis. 

Saat ekspo digelar, Zulfikar tidak hanya menyajikan kerupuk untuk pengunjung, tetapi juga sup teripang yang disajikan dengan campuran mi hun. Produknya juga sudah lulus uji LPPOM Majelis Ulama Aceh. Sehingga dari segi kehalalan tak perlu diragukan lagi.

 Saat ini, usaha yang dikelola Zulfikar mampu mempekerjakan enam pegawai yang sebagian besarnya adalah keluarganya sendiri. Pria itu mengaku memiliki ketertarikan khusus pada semangat berwirausaha, oleh karena itu setelah menikah ia fokus mengembangkan usaha berbasis bahan baku lokal.

“Walaupun untuk saat ini produk kami masih dipasarkan di Aceh dan sesuai dengan permintaan konsumen saja, apalagi ini produk baru bukan seperti kopi yang memang sudah dikenal luas, membuat produk ini memiliki tingkat kesulitannya sendiri,” ujarnya. 

Namun, yang disyukuri oleh Zulfikar, pemerintah telah turun tangan dalam membantu usahanya melalui dukungan peralatan dan melibatkannya dalam pameran-pameran UMKM seperti itu.

Dengan distribusi produk yang masih terbatas, omzet yang didapatnya masih berkisar di angka Rp3-5 juta per bulan. Soal distribusi ini kata Zulfikar, turut dipengaruhi oleh letak Simeulue yang masih sulit dijangkau. Memerlukan waktu lama untuk sampai ke sana. Ia mencontohkan, kalau dari Banda Aceh bisa sampai dua harian baru sampai ke Simeulue, itu pun tergantung cuaca.

“Jadi kalau ingin berkunjung ke Simeulu itu harus mempunyai mental baja,” kata Zulfikar lagi sambil tertawa ramah.

Namun sebagai pengusaha ia mengaku harus siap dengan segala kondisi. Oleh karenanya, meskipun jarak yang cukup jauh, tetapi ia bertekad bisa berpartisipasi dalam event yang digelar Pemerintah Aceh ini. Dengan begitu produknya bisa semakin dikenal luas oleh masyarakat.

“Saya berharap pasar-pasar UMKM diperbanyak, ini bukan saja untuk memperkenalkan produk lokal, tapi juga membuat usaha masyarakat hidup,” katanya.

Menariknya, Zulfikar juga menyelipkan pesan-pesan edukasi mitigasi bencana dalam produknya. Ini merupakan terobosan baru dalam pengemasan produk UMKM. Melalui inovasi ini Zulfikar setidaknya telah mengajarkan kepada kita bahwa kearifan lokal yang mengangkat nilai-nilai maupun pesan-pesan tradisi bisa disandingkan di mana saja.

Berikut syair yang terdapat di kemasan produk Kerupuk Teripang Raja Gubang:

Smong dumek-dumekmo

Linon uwak-uwakmo

Elai kedang-kedangmi

Kilek sulu-sulumo

 

Tsunami mandi-mandimu

Gempa buaian-buaianmu

Gemuruh gendang-gendangmu

Petir cahaya-cahayamu


Tibo nelinon fesang

Uwek asen suruik

Mahea kumuding mek delong

Saat gempa datang

Air laut surut

Segera lari ke gunung



Jumat, 02 Oktober 2020

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D



Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung. 

Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel.

Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, tetapi sesekali butuh juga udara segar, kan? Warung kopi selalu jadi alternatif mengingat tempat-tempat terbuka lainnya kurang mendukung untuk bekerja. Di sana pula biasanya saya duduk berjam-jam untuk mengikuti webinar.

Pagi tadi, saya kembali menemukan sebuah kedai kopi yang menurut saya cukup asyik jadi tempat menyendiri. He he he. Kedai kopi ini berbeda dengan kedai kopi-kedai kopi sebelumnya yang saya datangi. 

Kedai kopi ini sederhana saja. Kedai kopi kampung. Seluruh konstruksinya dari kayu yang seadanya saja. Tanpa nama pula. Berada di Gampong Jawa, tepatnya di bantaran Krueng Aceh. Sebagian bangunannya menjorok ke badan sungai. Kedai kopi ini menjadi tempat persinggahan bagi para nelayan yang hendak maupun pulang melaut. Di sini tidak ada internet. Jadi, kalau mau bekerja di sini ya harus punya modal sendiri (baca: kuota internet). 

Ada kapal besar lewat


Ceritanya, saat bangun tidur pagi tadi saya mendadak ingin duduk di pinggiran sungai. Terbayang oleh saya duduk di taman tepi sungai di depan Bank Indonesia pasti asyik. Namun, mengingat matahari pagi yang pastinya kian beranjak naik, saya pun urung untuk ke sana. Akhirnya, saya menyusuri jalan menuju arah Gampong Jawa. 

Awalnya saya hanya ingin duduk di bawah pohon cemara saja. Dengan laptop satu. Beberapa potong kue dan susu kedelai yang sudah saya beli, pasti asyik sekali merasakan nikmatnya siraman matahari pagi sambil duduk bertelekan alas rumput. Namun, di tengah keasyikan menyusuri jalan sambil melihat-lihat lokasi yang strategis, mata saya menangkap sebuah pondok yang ternyata adalah sebuah warung.

Aha! Sesuai benar dengan keinginan saya. Tanpa pikir panjang, saya pun segera parkir dan masuk ke pondok alias kedai kopi tersebut. Saat saya datang hanya ada dua pengunjung di sana, satu pemuda dan satu lagi orang tua. 

Saya duduk di kursi dengan meja panjang yang langsung rapat ke dinding. Dari sini saya bisa melihat langsung penampakan Krueng Aceh yang bermuara ke laut. Perahu-perahu nelayan parkir di sebelah sini dan di seberang. Sesekali tampak perahu lewat. Di seberang tampak bangunan-bangunan permanen. Suasana di sekitarnya tampak asri karena banyak pohon bakau.

Duduk di sini menyenangkan sekali. Angin semilir hilir mudik. Duduk di sini hilang rasanya kebosanan saya pada suasana kedai kopi modern yang menawarkan aneka hidangan premium. Di sini, secangkir kopi sareng hanya empat ribu rupiah. Duduk di sini, saya jadi lupa pada banyaknya tenggat yang sedang kejar tayang. Hehehe. Makin ke sini, saya makin merindukan suasana kampung tempat saya menghabiskan masa kecil dulu. Berada di sini rasanya jadi mendekatkan dengan kampung halaman, walaupun kampung saya bukan di pesisir.[]