Langsung ke konten utama

Postingan

Love Me Like There's No Tomorrow

  Cintai aku seperti tidak ada hari esok. Kira-kira, seperti itulah terjemahan dari judul tulisan ini. Kalimat itu kutemukan di awal paragraf salah satu bab dalam Time of Your Life- -Bagimu, masa muda hanya sekali-- yang ditulis Rando Kim, seorang profesor di Seuol National University. Kalimat itu terdengar romantis. Bagi penggemar Freddie Mercury, mungkin lagu ini sudah familier di telinga mereka. Namun, tidak denganku. Satu-satunya lagu Freddie-Queen yang akrab di telingaku cuma I want to break free . Yeah! Aku ingin bebas! Kalimat itu membuatku gayang. Tentu bukan dalam arti sebenarnya. Setidaknya, membuatku tergerak untuk membuka laman ini dan terbersit ingin menuliskan sesuatu. Walaupun, walaupun setelah layar terbuka dan jari-jemari sudah bertengger di atas kibor, aku malah dilanda kebingungan. Apa yang harus kutulis? Pada akhirnya, aku cuma bisa menatapi layar .... Dua tahun lalu, aku mewawancarai seorang pria paruh baya. Kami sepakat membuat janji temu di salah satu kafe premiu
Postingan terbaru

Kapan Terakhir Kali Kita Berdua?

Sumber foto: pixabay Kapan terakhir kali kita berdua? Duduk, untuk saling sekadar menautkan jari jemari di atas meja. Saling menatap dalam diam. Membiarkan perasaan melanglang buana. Seperti elang yang mengepakkan sayap di cakrawala. Kau, mungkin, sambil menikmati secangkir cokelat panas. Yang dihidangkan dalam cangkir porselen bergambar abstrak. Aku? Mungkin hanya memesan secangkir kopi. Mungkin. Karena akhir-akhir ini kami mulai tak bersahabat.  Setiap minum kopi, malamnya aku selalu terjaga, bahkan hingga menjelang pagi. Itu menyiksa. Bukan, bukan karena tak bisa tidur. Tetapi karena insomnia selalu melahirkan konspirasi. Menghadirkanmu dalam berbagai fragmen kebersamaan kita. Itu sangat menyiksa. To the Bone -nya Pamungkas mengalun lembut. Aku suka bait-baitnya. Merepresentasikan apa yang kurasa saat ini. Matahari mulai tinggi. Tetapi aku masih di sini, menikmati hangat yang bercampur semilir angin. Duduk di tepi sungai. Memandangi permukaannya yang bergelombang dipermainkan angin.

Edukasi Bencana di Produk Kerupuk Teripang Raja Gubang

Kerupuk Teripang Raja Gubang @Bukalapak KERUPUK teripang? Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan nama olahan kerupuk yang satu ini. Tetapi bagi masyarakat Kabupaten Simeulue, ini menjadi salah satu produk UMKM andalan yang telah mengangkat nama kabupaten itu. Teripang merupakan jenis hewan laut dengan tekstur tubuh yang lunak (avertebrata) dan menyukai dasar laut.  Di tangan kreatif warga Simeulue, hewan ini mampu disulap menjadi kudapan yang gurih dan bergizi tinggi. Produk ini turut menghiasi stan Kabupaten Simeulue dalam UMKM Expo 2019 yang dihelat oleh Dinas Koperasi dan UKM Aceh pada 22-26 November 2019 lalu di Banda Aceh. Usaha kerupuk teripang ini dirintis oleh seorang pria bernama Zulfikar Zaintisa dengan istrinya yang dimulai antara tahun 2006-2007 silam. Kini telah lebih dari sepuluh tahun, produk yang dipasarkan dengan jenama Kerupuk Teripang Raja Gubang ini masih mampu bertahan.  Saat berbincang-bincang dengan Sukma pada 23 November 2019 lalu, Zulfikar mengakui bila

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Kisah Orang-Orang (Tak) Biasa

Kami--saya dan Hayat--langsung antusias saat mendengar penjelasan Pak Mustafa Sabri—Kepala Biro Mahasiswa dan Alumni Unsyiah—tentang niatnya yang ingin membukukan kisah para mahasiswa penerima Bidikmisi di Unsyiah--setelah sebelumnya mendapat informasi melalui telepon oleh salah satu guru literasi kami Pak Sulaiman Tripa. Ia menceritakan secuplik kisah tentang segelintir mahasiswa dari keluarga miskin dan kuliah di Unsyiah, membuat kami merinding dan nyaris tak bisa mengungkapkan kata-kata. Kisah-kisah yang mirip seperti di sinetron-sinetron. Penuh drama. Beraroma satire. Bergelimang air mata. Terbelenggu oleh kemiskinan. Nyaris tanpa harapan. Sayangnya, semua itu nyata. Bukan cerita mengada-ada. Namun, apa yang membuat kisah mereka patut dibekukan menjadi karya yang abadi? Semangat! Ya, para mahasiswa itu memiliki semangat dan daya juang yang membuat mereka memiliki gelar paling prestisius yaitu menjadi mahasiswa. Dengan menyandang gelar itu, kelak insyaallah mereka bisa menyibak tira

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja