Senin, 15 November 2021

Ceroboh

Ilustrasi


Saya meyakini, ketelitian pasti akan membawa pada manfaat. Untung. Sebaliknya, kecerobohan pasti akan berujung pada kemudaratan. Rugi. Terlepas apakah untung dan ruginya besar atau kecil itu persoalan lain. Begitu juga bentuk untung ruginya, bisa macam-macam. Tak melulu berkaitan dengan uang. Sore tadi, saya mengalami kerugian akibat kecerobohan pemilik warung kopi. 

Ceritanya, selepas asar tadi, saya pergi ke warung kecil di bantaran Krueng Aceh. Sudah lama saya tidak ke warung itu dan tiba-tiba saat terjaga dari tidur siang tadi, terlintas di pikiran saya untuk ke sana. Seperti biasa, saya membawa laptop dan buku. Tergantung mana yang akan saya dahulukan setiba di sana: mengetik atau membaca.

Warung itu letaknya di ujung kampung. Pemiliknya salah satu warga di sana. Bangunannya sederhana saja, seluruh konstruksinya bermaterial kayu. Tiang-tiangnya terpacak di dalam sungai. Lantai kayunya agak sedikit berderik saat dipijak dan membuat saya pelan-pelan saat melangkah. Khawatir menimbulkan derik-derik yang mengusik pengunjung lain. 

Yang membuat nyaman duduk di sana, selain angin pesisir yang lalu-lalang dengan bebas karena kedainya terbuka, juga dimanjakan dengan hijaunya area sekitar yang ditumbuhi bakau. Ada dermaga kecil yang digunakan nelayan untuk menambatkan perahu-perahu mereka. Sesekali lewat perahu bermesin berbadan jumbo. 

Begitu tiba di warung dan sebelum duduk di kursi yang menghadap ke seberang sungai, saya memesan sirup ABC dingin. Sore-sore, meski langit tampak mendung, pasti enak menikmati yang segar-segar dan asam.

Tak lama setelah saya duduk, pemilik warung, perempuan paruh baya yang juga terlihat segar menghidangkan segelas sirup berperisa jeruk. Gelondongan es kristal tampak mengapung. Es yang menyublim melahirkan butiran embun di badan gelas. Saya terbayang pada iklan di televisi yang mempromosikan jeruk dari salah satu negara di Afrika. Ah... betapa segarnya.

Namun, bayangan akan kesegaran itu dengan sendirinya kabur dari pikiran setelah saya mendapati banyak butiran halus berwarna cokelat tua di bibir gelas. Bahkan, ada juga yang sudah bercampur dengan air. Saya menduga, butiran halus itu semacam bubuk kayu atau orang Aceh biasa menyebutnya boh jawa. Menempel di bibir gelas yang diletakkan atau ditelungkupkan (Aceh: gom) di tempat/rak yang sebelumnya sudah ditumpahi bubuk kayu.


Akan tetapi, setelah saya lihat-lihat lagi, itu bukan boh jawa.  Entahlah! Saya tidak berhasil mengidentifikasinya. Yang pasti, saya sudah tidak berminat lagi untuk meminumnya.


Saya terpikir untuk memberi tahu pemilik warung, kalau ia sudah ceroboh. Tak mungkin benda halus yang mencolok seperti itu luput dari pandangannya. Saya ingin komplain. Sebagai pelanggan, saya berhak, kan? Berhak pula mendapat ganti minuman yang baru. Namun, mengingat banyak orang di warung yang kecil itu, saya urungkan keinginan untuk mengomplain.

Akhirnya saya putuskan untuk memesan teh manis. Hati kecil saya bilang, "Sudah, pesan yang lain saja, jangan beri tahu pemiliknya kalau minuman itu ada kotorannya. Tak mengapa rugi sedikit, paling-paling hanya beberapa ribu." 

Saya beralasan minuman yang tadi dimasuki lalat, padahal tak satu pun ada lalat yang melintas selama saya duduk. 

Dengan cepat pemilik warung menyuguhkan minuman baru. Kali ini, untuk mengantisipasi lalat-lalat nakal yang kemungkinan gerah dan ingin berenang, minumannya ditutup dengan plastik.

Sebelumnya, sempat saya dengar si Ibu berkata pada suaminya, "Sayang sekali, padahal belum sempat diminum."

Saya meneguk teh manis yang sangat manis itu. Biarlah saya rugi beberapa ribu, tapi 'untung' banyak.[]

Senin, 01 November 2021

Selamat Datang, November

sumber foto: allaboutof.com


Selamat datang, November.

Biar seperti orang-orang, aku pun ingin menyambut hadirmu dengan sepotong basa-basi.

Hari ini, langit yang mula-mula begitu cerah, pada akhirnya takluk pada mendung, lalu hujan benar-benar mengambil alih cuaca.

November dan hujan. Seolah seperti karib yang tampak enggan berjauhan. Dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, guru Ilmu Pengetahuan Alam-ku bilang, Indonesia ini cuma punya dua musim; kemarau dan penghujan. 

Musim kemarau akan datang sepanjang Januari hingga Juni, seterusnya, akan masuk musim penghujan. Semua bulan yang berakhir dengan -ber akan menjadi bagian dari musim penghujan. Salah satunya kamu, November. Tapi kini, akibat anomali cuaca, hal itu sepertinya tidak lagi bisa menjadi patokan. Sama seperti hujan yang bisa datang kapan saja, kemarau pun seperti itu.

Di masa kanak-kanak dulu, aku selalu menantikan hujan. Bermain hujan selalu menghadirkan kesenangan tersendiri, walaupun setelah itu aku akan demam, asmaku kumat. Karena itu pula, Ayah selalu melarangku bermain hujan. Namun, jika hujan turun dan Ayah tidak di rumah, aku akan tetap bermain hujan. Merengek-rengek pada Ibu sampai hatinya luluh. Lalu saat hujan mulai reda buru-buru aku menyudahi dan selanjutnya tidur. Salah satu trik untuk mengelabui Ayah, seolah-olah aku tidak bermain hujan. 

Namun, manakala malam harinya atau esoknya tubuhku mulai memanas dan aku mulai kesulitan bernapas, Ayah akan segera tahu kalau aku pasti bermain hujan. Tetapi Ayah tidak pernah memarahiku, paling-paling cuma mengatakan itulah akibatnya kalau aku tidak mendengarkan amaran mereka.

Selamat datang, November.

Hari ini, saat melihat kalender di gawaiku dan mendapati sudah tanggal 1 November, aku merasa 'takjub' sendiri. Oh, betapa cepatnya waktu berjalan, uhm, padahal aku tahu, waktu itu bukanlah makhluk yang kasat mata, alih-alih punya kaki untuk berjalan. 

Rasa-rasanya, baru kemarin tahun berganti. Rasa-rasanya baru kemarin aku menikmati euforia tahun baru. Tahu-tahu, sekarang kau sudah tiba dan itu artinya enam puluh hari sejak hari ini, tahun akan kembali berganti.

Hari-hari yang begitu amat cepat berjalan, membuatku tak sempat untuk menengok ke dalam nganga luka di hati. Aku berterima kasih pada kesibukan yang telah merenggut sebagian besar waktuku, hingga sedikit sekali waktu yang kupunya untuk meresapi kehilangan. 

Satu hal yang kusyukuri dari waktu yang terus bergerak maju, yakni usiaku yang terus bertambah. Usia yang matang, membuatku kini punya banyak jendela untuk memandangi kesedihan yang terbit dari sebuah kehilangan. Kesedihan, sama halnya seperti kebahagiaan, harus dinikmati dengan paripurna. Kesedihan, yang sering kali hadir karena suatu kehilangan, merupakan jalan untuk membuka pintu bagi yang datang dan menjanjikan kebahagiaan.

Selamat datang, November.

Aku teringat pada sebuah kidung yang mengatakan bahwa tak selamanya mendung itu kelabu. Ya, hanya karena suatu kehilangan, tak lantas dunia jadi berubah muram, kan? Satu kehilangan, harus menjadi pemicu untuk menghadirkan tunas-tunas baru. Aku selalu meyakini, untuk melihat warna dunia, hanya pada bagaimana kacamata diletakkan.[] 



Sabtu, 30 Oktober 2021

Hujan, Kopi, dan Semangkuk Soto Daging



Aroma soto daging dengan rajangan daun bawang dan sepotong tomat segar langsung membiusku saat pramusaji menghidangnya di meja. 

"Soto dagingnya," ujar pramusaji yang kutaksir usianya lebih separuh abad sambil menaruh semangkuk soto, sepiring nasi putih yang masih mengepulkan asap, kecap, dan sambal rawit halus. 

"Terima kasih, Pak."

Sebelumnya aku juga memesan kopi dan sepiring camilan campuran tempe, sosis, kentang, nuget, dan kentang goreng. Tanpa menunggu kedatangan dua hidangan lain, aku segera menyantap hidangan soto dengan nasi putih yang harum dan pulen. Kulumuri nasi dengan sesendok demi sesendok kuah soto yang sudah kutuang habis sambal rawit dan perasan sepotong jeruk nipis. Isi sotonya minimalis; cuma ada potongan daging dan tauge saja.

Aku mulai melahap santapan siang ini. Perutku memang sudah mulai terasa lapar, padahal belum pun pukul dua belas. Pagi tadi, saat berangkat ke kampus, aku hanya sempat "sarapan" air putih saja. 

Ya, pagi tadi aku sudah bergerak dari rumah sejak pukul setengah delapan pagi. Karena aku akan pergi ke Kampus UIN Ar-Raniry di Darussalam dengan Trans Kutaraja, mau tak mau aku harus berangkat lebih pagi. Supaya tidak terlambat. Hari ini perdana aku mengisi kelas jurnalistik dari tiga hari yang telah disepakati dengan panitia dari Jurusan Teknologi Informasi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry. Sudah menjadi kebiasaan, entah itu sebagai peserta, lebih-lebih sebagai pemateri, aku selalu mengusahakan datang lebih awal. Baik itu daring maupun luring. Pagi tadi, aku sudah berada di tempat acara sebelum pukul setengah sembilan. 

Akhir-akhir ini jadwalku bisa dibilang sangat padat. Aku merasa nyaris kekurangan istirahat. Intensitas aktivitasku meningkat mulai setelah Iduladha lalu; menjadi tim penulis tiga buku di Universitas Syiah Kuala, menjadi asisten riset di sebuah lembaga dan harus bertungkus lumus dengan banyak dokumentasi untuk disarikan; dan terlibat beberapa fellowship, seperti dengan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara-Kedutaan Kerajaan Belanda sejak awal tahun, Deutsche Welle (DW)-AJI Indonesia, dan terakhir dengan Tempo. 

Sepanjang dua fellowship yang kusebut terakhir, membuatku intensitasku nge-Zoom meningkat drastis. Minimal sekali Zoom bisa berlangsung selama lima jam, bahkan yang dengan Tempo karena jadwalnya dipres menjadi empat hari, diskusi daringnya berlangsung dari pukul sembilan hingga pukul lima sore. Secara tenaga, aku merasa staminaku betul-betul tersedot. Malamnya sering merasa kelelahan, tetapi rutinitas lainnya tetap harus dilakukan, toh? Namun, setidaknya aku harus bersyukur, karena setiap kali pagi tiba, aku merasa energiku selalu pulih kembali.

Puncaknya memasuki Oktober ini. Diawali kelas intensif dengan Tempo selama empat hari berturut-turut yang diakhiri dengan membuat proposal liputan, dilanjutkan membuat proposal untuk DW. Membuat proposal untuk Tempo sangat menyita waktu karena dua hari berturut-turut aku harus  ke lapangan untuk melakukan reportase dan juga mewawancarai beberapa warga untuk mendapatkan informasi awal. Proposal ini harus kami presentasikan di hadapan dewan juri pada Selasa, 23 Oktober 2021. 

Di sela-sela menyelesaikan proposal, aku menyegarkan diri dengan mengikuti diskusi grup terpumpun yang dibuat oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Aceh. Barulah pada Sabtu dan Minggu aku pergi ke daerah Aceh Besar untuk reportase lapangan. 

Sabtu malam, sembari merampungkan proposal, aku juga sempat nge-Zoom untuk berbagi informasi seputar jurnalisme berperspektif anak yang digagas oleh Komunitas Revisi Qanun. 

Sepanjang minggu ini, aku memulai kesibukan dengan mempresentasikan proposalku di hadapan dewan juri pada Selasa. Ini sungguh mendebarkan, meskipun berlangsung secara daring, tetapi berhadapan dengan tiga dewan redaksi Tempo yang bertindak sebagai juri bukan persoalan gampang. Aku tak masalah dengan presentasinya, tetapi ide liputannya yang kurang sesuai dengan topik liputan investigasi membuatku masuk dalam kelompok yang tak lolos. Dari 20 peserta, juri hanya memilih enam orang saja untuk dibiayai. 

Aku malah bersyukur saat dua hari berikutnya diumumkan dan namaku tak masuk sebagai peserta yang lolos. Berkali-kali aku mengucapkan hamdalah. Selanjutnya, aku menyiapkan diri untuk webinar Penguatan Literasi Agama bagi Penghulu yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh pada Rabu, 27 Oktober. Sorenya setelah asar, dilanjutkan dengan proses penjurian calon Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh tahun 2021 yang dibuat oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. 

Kamis pagi, aku menghadiri opening ceremonial di UIN Ar-Raniry untuk kegiatan yang dimulai pada hari ini. Selanjutnya kelas akan berlangsung dua kali Sabtu  berikutnya (jadwal tatap muka) dan Kamis (konsultasi/diskusi secara daring di grup WA). Karena ini pula aku terpaksa menolak tawaran menjadi moderator FGD untuk kegiatan yang diselenggarakan Kemenag. Sorenya, lanjut rapat dewan juri Raja dan Ratu Baca untuk membahas mekanisme pada penjurian hari terakhir.



Kemarin, seharian waktuku tersita untuk penjurian di DPKA. Aku pulang dan sampai ke rumah setelah azan Magrib berlalu, di tengah hujan yang mulai jatuh rintik-rintik. Tepat sampai ke rumah dan aku turun dari ojek online, hujan pun turun dengan lebatnya. Rupanya hujan semalam begitu awet, sampai pagi tadi langit masih dikulum mendung kemudian berubah menjadi titik-titik hujan yang meriangkan tumbuh-tumbuhan.

Aku bersantap siang seorang diri. Kupilih sebuah kafe di bilangan Jalan Panglima Nyak Makam. Hujan sudah turun sejak aku masih di kampus. Setelah kutimbang-timbang, aku urung pulang naik kendaraan umum, tetapi demi kulihat beberapa mahasiswi yang ada di area parkir, entah mengapa spontan aku menawarkan diri agar menjadi salah satu tumpangan mereka. Mahasiswi yang baik hati itu pun bersedia mengantarkanku hingga ke tujuan.

Dan, di sinilah aku sekarang. Di sebuah kafe dengan konsep terbuka dan berada di dekat areal pertanian milik salah satu instansi. Aku menikmati makan siangku dengan santai. Tak lama kemudian pesana kopi dan camilan dihidangkan. Hujan-hujan seperti ini, menghirup kepulan uap kopi yang masih panas, rasanya.... ughhh..... Tapi, tiba-tiba saja aku terusik oleh rasa kangen yang jeri.[]

Rabu, 13 Oktober 2021

Surat-Surat untuk Arunika

Ilustrasi studybahasainggris.com


 

INI hari kelima Arunika menghabiskan dua puluh empat jam waktunya di rumah. Hari pertama, ia merasa happy-happy[1] saja, bahkan sangat menikmatinya. Bisa tidur dengan puas. Sesuatu yang terasa sangat mahal selama ini. Lalu bangun dan makan. Bisa leyeh-leyeh sambil menonton acara-acara favorit di situs penyedia layanan media streaming digital. Hari kedua Arunika mulai bereksperimen di dapur. Membuat puding dan sup iga favoritnya. Makan dengan hidangan yang dimasak sendiri ternyata bisa senikmat itu. Ia makan sampai dua kali tambah. Arunika jadi sedikit menyesal, mengapa selama ini ia membiarkan kesibukan merenggut nyaris seluruh waktunya. Hingga tak punya lagi tenaga untuk memasak.

Usai bersantap, Arunika bisa menghabiskan waktu sambil membaca buku-buku yang sudah kusam dan berdebu karena tak pernah disentuh selama ini. Keasyikan membaca hanya ia sudahi ketika azan bergema. Arunika tak pernah menyangka, di rumah saja selama berhari-hari ternyata senikmat ini. Otot-ototnya terasa regang dan longgar. Pikirannya yang selama ini selalu keruh karena beban pekerjaan menjadi lebih jernih. Sebagai seorang pekerja di lembaga bantuan hukum, Arunika telah menjelma menjadi sosok yang supersibuk. Makanya, momen di rumah ini sangat ia nikmati.

Namun, di hari-hari berikutnya Arunika mulai merasa jenuh. Aktivitas yang ia lakukan mulai terasa monoton. Tidur, bangun, mandi, makan, menonton, membaca, memasak, atau chatting, menjadi tidak asyik lagi. Arunika jadi kangen suasana kantor yang ramai. Kangen ketemu Inga yang masakannya juara dan sesekali memasak untuk mereka. Kangen celotehan Aryana yang mengalahkan cericit burung beo. Kadang-kadang terbit juga rasa kangen diomeli Bu Rani, bosnya yang sering kumat-kumatan galaknya. Kangen juga pada sapaan Pak Isa, satpam kantor yang tak pernah benar menyebut namanya.

“Selamat pagi, Bu Arungka.” Begitulah ia selalu menyapa Arunika.

“Arunika,” jawab Arunika yang tak pernah bosan mengoreksi.

“Eh, iya, Bu Arungka. Maaf, khilaf,” jawab Pak Isa lagi sambil tersenyum dan mengangguk-anguk.  

Kalau sudah begitu Arunika hanya bisa menggeleng-geleng sambil mengulum senyum yang tak mampu ia sembunyikan. “Khilaf apanya. Lidah Pak Isa perlu dikerok sama koin emas tuh kayaknya, seperti burung jalak, biar nggak khilaf lagi,” jawab Arunika sambil berlalu. Ia meninggalkan Pak Isa dengan wajah tersipu-sipu.

Membayangkan semua kebersamaan itu membuat Arunika semakin merasa terbelenggu. Semakin ia berusaha menghalau kejenuhan itu, semakin besar pula rasa jenuh itu muncul. Menjelma menjadi kerangkeng raksasa yang membuatnya tak bisa ke mana-mana. Kerangkeng itu adalah rumahnya sendiri. Dan ini baru hari kelima, sementara ia masih harus mengerangkeng dirinya di rumah selama belasan hari lagi.

Arunika merutuki dirinya. Ia kembali memutar otak. Dari siapa ia terinfeksi virus bermahkota itu. Namun, semakin dicari-cari rasanya tak kunjung ketemu di mana titiknya. Sebelumnya ia memang pernah bertemu dengan beberapa klien, tetapi ia merasa sudah mematuhi semua protokol kesehatan. Tak pernah lupa memakai masker, rajin cuci tangan, dan rutin menggunakan disinfektan. Hingga pekan lalu, saat bangun tidur Arunika merasa tubuhnya menggigil, penciumannya sedikit terganggu. Merasa curiga, ia pun memeriksakan dirinya ke laboratorium. Hasilnya? Sudah bisa ditebak.

Arunika bahkan tak berani membayangkan. Dia yang mobilitasnya sangat tinggi, tiba-tiba harus dipingit seperti ini. Kalau dipingit sebagai calon pengantin barangkali akan lain ceritanya. Pingitan ini membuatnya takut. Sulit sekali menyugesti diri kalau semuanya akan baik-baik. Kematian sesekali membayanginya. Mati sendirian. Dikubur tanpa dihadiri sanak keluarga. Arunika bergidik.

***

Nyaris seharian ini Arunika tidak melakukan apa-apa. Bahkan hampir tidak keluar kamar kecuali untuk ke kamar mandi ataupun salat. Rasa malas mulai menderanya. Ia merasa kehilangan gairah. Pesan-pesan yang masuk ke ponselnya untuk memberikan dukungan moral terus masuk. Kiriman makanan, buah, vitamin, susu, dan sayuran juga tak pernah putus. Arunika bersyukur banyak yang memperhatikannya. Namun, tetap saja ia merasa nelangsa. Arunika juga dibebaskan dari tugas-tugas kantor agar bisa fokus pada pemulihannya. Namun, beban kantor yang bertumpuk-tumpuk rasanya lebih baik daripada di rumah sendiri seperti ini tanpa seorang pun diperbolehkan menjenguk. Arunika merasa roda hidupnya berputar bukan karena virus sedang bersarang di tubuhnya, tetapi karena dia tidak bisa melihat hiruk pikuk di luar sana. Dia berusaha untuk bersikap normal, tetapi tetap saja semuanya tak sama.

Parahnya lagi, efek kebanyakan tidur di siang hari, sudah dua malam ini Arunika dilanda insonia. Dia baru tertidur setelah dini hari. Kondisi ini bukan saja membuat tubuhnya terasa lelah, tetapi juga pola istirahatnya jadi terganggu. Rasa suntuknya mulai bercabang-cabang.

Hari berikutnya Arunika baru bangun saat jarum jam genap pukul sebelas. Mungkin karena semalam ia baru bisa tidur menjelang pagi. Bisa juga karena sisa hujan semalam yang membuat langit hari ini dikulum mendung. Membuatnya tak sadar hari sudah siang. Cuaca seperti ini memang membuat malas. Namun, Arunika memaksa diri untuk tetap bangkit. Gontai ia melangkah dan membuka jendela kamar. Udara dan sedikit cahaya berebut masuk ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, hidungnya menangkap aroma petrikor yang segar. Bersenyawa dengan aroma melati yang tumbuh di dekat jendela. Arunika menghirupnya berkali-kali. Suasana hatinya sedikit lebih baik.

Keasyikan menghidu perpaduan aroma itu membuat Arunika jadi berlama-lama berdiri di dekat jendela. Hingga netranya menangkap ada benda yang tergantung di pintu pagar. Sebuah beluam dari serat berwarna cokelat muda. “Apa itu?” batin Arunika.

Rasa penasaran membuatnya segera berlari ke luar untuk mengambil beluam itu. Beluam itu pasti sengaja ditaruh di sana dan memang ditujukan untuk Arunika karena posisinya ada di bagian dalam pagar. Arunika yakin itu sehingga diambilnya beluam itu tanpa ragu. Dipandanginya sebentar beluam yang di bagian lehernya diikat dengan pita merah. Arunika penasaran. Apa isi di dalamnya? Demi menenangkan rasa penasarannya yang mulai meronta-ronta, Arunika membuka beluam itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu isinya hanya sebuah pesawat kertas.

Di bagian sayap sebelah kanan tertulis “Untuk Arunika”. Tak salah lagi. Beluam dengan isi pesawat kertas ini jelas-jelas tertuju untuknya. Namun, siapa yang mengirimnya? Apakah ini pesawat mata-mata? Arunika meneliti ke sayap sebelah kiri dan bagian perut pesawat. Tidak ada tulisan apa pun. Akhirnya ia putuskan untuk membongkar tubuh pesawat yang terbuat dari kertas HVS biru muda itu. Terdapat banyak kata-kata di dalamnya.

“Untuk Arunika Nirmala.”

Arunika membaca kalimat pertama itu dengan hati berdebar-debar. Siapa sih orang iseng yang menuliskan namanya dengan sangat lengkap. Dia selalu merasa tersanjung setiap kali namanya disebut dengan utuh. Ada kebahagiaan tersendiri yang merayapi relung batinnya. Saraf-saraf bibirnya mengendur.

“Andai kau tahu arti namamu. Atau kau memang sudah mengetahuinya?”

Arunika berhenti membaca. Ia malah jadi menyebut-nyebut namanya sendiri. Arunika Nirmala. Arunika Nirmala. Apa artinya?

Selama ini ia tak pernah berpikir tentang arti namanya. Orang-orang bilang namanya bagus, tetapi itu sama sekali tidak menggelitiknya untuk mencari tahu artinya. Arunika hanya tahu, nirmala adalah nama salah satu panti asuhan di kota ini. Arunika? Mungkinkah itu saudara jauhnya Srebenika? Ibunya juga tak pernah bercerita mengenai sejarah di balik pemberian nama itu.

“Barangkali kau tidak akan membiarkan matahari pagi berlalu begitu saja.” Refleks Arunika mengerutkan alis. Apa maksud orang ini menuliskan begitu?

“Memingit dirimu itu baik, karena itu artinya kau menjaga orang lain agar tidak ikut sepertimu. Tetapi mengurung diri terus-terusan di dalam rumah itu yang tidak baik.”

Alis Arunika semakin berkerut. Orang ini sudah menceramahinya. Ada sesuatu yang bergolak di dalam diriku. Arunika tidak terima. Bukannya Arunika tak tahu kalau berjemur di pagi hari baik untuk kesembuhannya.

“Keluarlah. Biarkan arunika menyiramimu.”

Hei. Orang ini menyebut namanya lagi. Eh, tapi tunggu dulu. Dia menuliskan arunika dengan huruf a kecil. Kalau sebuah nama seharusnya a besar, kan? Apa maksudnya arunika menyiramimu. Arunika semakin penasaran.

“Dua puluh atau tiga puluh menit di bawah matahari pagi tidak akan serta-merta membuatmu menjadi cokelat. Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kau justru akan terlihat seperti Rihanna atau Chef Farah Quinn?”

Ha ha ha. Arunika tiba-tiba jadi terbahak-bahak. Padahal baru saja beberapa detik sebelumnya emosinya sedikit terusik. Namun, kini ia malah bisa tertawa lepas seperti itu. Otaknya langsung menghadirkan dua sosok mungil selebritas dengan kulit yang eksotis. Lalu ia alihkan perhatian pada kulitnya yang pucat.

Arunika masih ingin membaca surat itu, tapi sayangnya sudah tak ada kata-kata lagi yang bisa dibaca. Semuanya terasa menggantung. Si pengirim surat kaleng tampaknya sengaja membuat Arunika penasaran dan mencari sendiri apa makna dari namanya itu. Lalu buru-buru ia buka Google dan mengetikkan kata “arunika dan nirmala” secara terpisah di pencarian. Betapa takjubnya dia. Artinya sangat indah. Rasa hangat menjalari hatinya. Ingin dia berterima kasih pada orang itu.

Setelah membaca surat kaleng itu Arunika seperti mendapat suplai energi baru. Dilipatnya kembali kertas itu hingga menjadi seperti semula dan diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sedangkan beluam tadi ia gantung di paku di ruang tamu. Arunika bergegas mandi. Dia jadi merasa lebih segar. Dan sepanjang itu pula senyum kecil senantiasa menghias bibirnya. Sesekali Arunika kembali tertawa lebar. Bagaimana bisa dia terpesona pada surat tak jelas itu?

Pagi ini Arunika bangun lebih awal. Pagi yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tanpa cuci muka terlebih dahulu Arunika segera melongok ke pagar lewat jendela kamarnya. Kembali tergantung sebuah beluam dari kain beludru putih bersih. Buru-buru Arunika melesat ke halaman untuk mengambil beluam itu. Kali ini isinya sebuah buku. Sebuah novel terbitan terbaru dari penulis kenamaan. Dia tahu penulis itu, tapi belum pernah membaca buku-bukunya. Arunika tak suka buku-buku bergenre sastra.

“Wow!” Arunika takjub sambil membolak-balikkan novel tersebut.

Sampulnya manis. Seorang perempuan berkimono ungu dengan rambut tergerai memegang payung motif bunga sakura. Segera dibukanya buku itu. Namun, saat Arunika sedang membolak-balik halamannya, seperempat lembar kertas terjatuh. Juga tertulis: Untuk Arunika.

“Dalam keadaan seperti ini, bacalah buku-buku yang lebih ringan. Topik-topik tentang hukum atau yang berat-berat lainnya nanti saja dibacanya, Arunika Nirmala. Suplai pikiranmu dengan bacaan-bacaan yang menyenangkan. Buku ini asyik. Aku jamin!”

“Siapa sih kamu?” wajah Arunika jadi berubah serius.

Hari-hari berikutnya Arunika selalu mendapatkan kiriman tak bertuan setiap paginya. Arunika bingung, kapan seseorang yang menurutnya tak ada kerjaan itu menaruh beluam-beluam itu di pagar. Suatu malam, Arunika mematung di jendela kamarnya hingga lewat tengah malam untuk mengintai. Arunika ingin menangkap basah orang itu. Namun, tak ada siapa pun. Ia hanya melihat tetangganya yang bekerja di sebuah laboratorium baru pulang kerja. Seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter. Jarang sekali mereka berinteraksi karena memang sama-sama sibuk.

Pernah juga setelah salat Subuh ia coba memantau kembali, tetapi tetap tidak ada gelagat yang mencurigakan. Namun, saat hari sudah terang dan dia membuka jendela, selalu didapatinya ada yang tergantung di pintu pagar. Isinya macam-macam. Ada gantungan kunci. Lukisan mini. Beberapa butir permen. Bahkan pernah isinya cuma batu pipih yang sudah dilukis gambar daun. Pesannya pun sangat menggelitik: masih ada beberapa hari lagi, aku sudah bingung ingin memberimu apa. Bagaimana Arunika tak penasaran.

Tanpa sadar Arunika sudah berada di rumah genap tujuh belas hari. Empat belas hari masa karantina plus tiga hari untuk memastikan bahwa dirinya sudah benar-benar sehat. Tiba-tiba saja ia jadi menyadari satu hal. Bagaimana mungkin waktu selama itu bisa terlalui begitu saja? Ke mana rasa jenuh dan frustrasi yang pernah menyerangnya hebat di beberapa hari pertama karantina? Mengapa hari-harinya yang sempat terasa gloomy[2] tiba-tiba menjadi secerah mentari pagi. Meskipun seorang diri melewati semua itu, tetapi Arunika merasa seperti ada teman yang khusus menemani. Siapa dia? Hati kecil Arunika berbisik. Setiap kali bertanya pada diri sendiri, setiap kali pula ia teringat pada beluam-beluam yang tergantung di pagar. Selalu terbit pula senyumnya. Namun, pagi ini ia tidak melihat ada beluam yang tergantung di pagar. Hatinya sempat pias.

Buru-buru ia tepis perasaan tidak nyaman itu. Arunika pun pergi ke kamar mandi dan perlu bersiap-siap untuk ke laboratorium. Dia ingin melakukan rapid test, untuk memastikan bahwa dia sudah tidak reaktif lagi.

Di luar apa yang Arunika pikirkan, tetangga depan rumahnya yang sudah siap dengan setelan dinasnya tampak terburu-buru menggantungkan beluam biru muda di pagar rumah Arunika. Semalam dia tidur sangat pulas sehingga terlewatkan menggantungkan beluam yang biasa dilakukannya setiap kali bangun untuk salat Tahajud. Dialah yang sebelumnya memeriksa sampel Arunika di laboratorium. Dokter muda itu sempat kaget saat melihat nama tetangganya berada di daftar antrean tabung sampel yang harus diuji. Saat hasilnya keluar dan Arunika diketahui positif Covid-19, dia sempat ingin memberitahukannya secara langsung. Namun, ia tak cukup punya nyali.

Lalu sebuah ide konyol tiba-tiba muncul di pikirannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk “menemani” hari-hari Arunika selama masa karantina. Dia tahu Arunika gadis yang sibuk, tapi dia juga tidak begitu kuat untuk melewati semuanya. Dia harus mendukungnya.

 

Untuk Arunika:

Hebat! Kamu sudah melewati tujuh belas hari dengan baik. Semoga ke depan tak ada lagi yang memenjarakanmu seperti ini. Kecuali... kecuali terpenjara oleh rasa penasaran. :-D

 

Jantung Arunika jadi tak karuan setelah membaca isi surat kaleng itu yang disertai dengan sebuah cokelat premium. Berkali-kali ia meyakinkan diri kalau sesaat sebelum dirinya ke kamar mandi tadi, tak ada apa pun di pagar. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu sudah ada beluam di sana? Tiba-tiba ia mendengar suara sepeda motor tetangganya yang berangkat kerja. “Dokter Oding?” ia menebak-nebak.[]

 

Cerpen ini mendapatkan penghargaan Terbaik II Lomba Penulisan Cerita Wana be the Best Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh 2020

 

[1] Senang

[2] Muram 



Sabtu, 02 Oktober 2021

Permen Kopi di Bandara




 "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?"

Pertanyaan itu. Aku lupa, entah siapa di antara kita yang melontarkannya. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan dalam satu perjalanan dengan tujuan yang sama. Kita sama-sama terjebak di bandara ini. Uhm, kata terjebak rasanya terlalu berlebihan. Tapi, apa bedanya, toh kita memang harus menunggu lama untuk keberangkatan subuh nanti.

Malamnya, seperti juga aku, kau memutuskan menginap di bandara. Ada rest area yang nyaman untuk tidur selama beberapa jam. Ada charging box juga, jadi aku bisa menambah daya dengan leluasa di sana.

Sayangnya, sofa bed yang tersedia, meski empuk, tak bisa membuatku leluasa untuk meluruskan kaki. Jadinya, aku harus tidur sambil meringkuk. Kucoba alihkan perhatian pada tayangan televisi LED yang ada di ruangan. Nyaris semua chanel menayangkan kondisi Kota Palu dan beberapa kabupaten lain di Sulawesi Tengah yang sepekan lalu baru saja dihantam gempa dan tsunami. Tayangan itu sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik.

Suhu di ruangan ini tak ubahnya seperti di dalam kulkas saja. Dan, seperti juga kamu, rasa dingin yang menggigit-giti tulang membuatku tak bisa memejamkan mata walau sesaat saja. Padahal, tubuhku terasa sangat letih. Perlu tidur. Aku memang kurang bersahabat dengan suhu yang terlalu rendah. Jaket dan kupluk yang kupakai untuk membalut tubuh tak begitu menolong. Hawa dingin dari sejumlah standing air conditioner rasanya seperti masuk ke rongga-rongga telinga dan hidungku. Bisa mati kalau aku terus bertahan di ruangan ini. 

Sama juga sepertimu, lalu kuputuskan untuk keluar dari ruang istirahat. Aku menuju ruang tunggu yang terasa lebih hangat. Mungkin karena ruangan yang lebih luas. Juga masih ada orang yang berlalu lalang, jadinya hawa sejuk itu terserap oleh banyak tubuh.  

Sudah pukul setengah dua malam. Ruang tunggu yang tadinya ramai dengan lalu-lalang manusia mulai tampak lengang. Sejumlah penumpang terlihat merebahkan tubuh di kursi-kursi. Satu-satunya yang kulihat masih teronggok di kursi hanya kamu. Kalau bukan karena senyummu yang menawarkan pertemanan, barangkali aku urung melangkah.

"Kedinginan juga?" pertanyaan itu membuatku memutuskan untuk duduk sejajar denganmu. Kata orang, mengobrol bisa mengatasi kebekuan. Aku tidak terlalu yakin, tetapi kenapa tidak dicoba saja, kan?

"Mau ke mana?" 

Pertanyaan basa basi khas orang orang yang bepergian. 

"Palu."

"Sebagai relawan?"

Aku mengangguk. Meski sebetulnya bukan, tetapi hingga detik itu kau masih orang asing bagiku. 

"Aku juga akan ke Palu."

"Sebagai relawan juga?"

Kau mengangguk. Aku menangkap keraguan pada anggukanmu, tetapi seperti halnya aku, sampai detik itu aku pun orang asing bagimu. 

Kau menawarkan aku kopi. Permen kopi tepatnya, yang kuterima dengan senang hati. 

"Orang-orang yang suka kopi konon memiliki hati yang hangat."

"Dan karena itu hati mereka nyaman untuk didiami?"

Aku tak berharap kau menanggapi seserius itu. Tetapi memang, berawal dari situlah semuanya bermula. Kita bukan lagi orang asing yang beberapa menit lalu baru saja berkenalan, tetapi kita adalah sahabat lama yang bertemu kembali di ruang tunggu terminal bandara. Banyak cerita yang mengalir. Dari yang remeh temeh hingga hal-hal yang menurut kita serius, seperti asal usul kita. 

Namun, entah mengapa, tidak ada seorang pun di antara kita yang berusaha untuk mengenalkan atau menanyai nama masing-masing. Terbersit di hatiku untuk bertanya, tetapi sejurus kemudian aku teringat. Mengapa nama seolah-olah menjadi begitu penting. Apakah haram bercerita karena kita tidak tahu siapa nama lawan bicara kita?

Bukankah menyenangkan bercerita pada orang asing. Tidak perlu merasa malu karena toh kita tak akan pernah ketemu lagi dengan mereka?

Kulihat kau menerawang. Aku mengekori tatapanmu tanpa sedikit pun ingin menyela. Meski begitu benderang, tetapi wajahmu terlihat agak samar. Aku benar-benar sudah tidak merasa mengantuk lagi. Padahal seharian ini waktuku habis untuk perjalanan. Tidak ada istirahat yang begitu berarti. Di pesawat siang tadi pun sebentar saja aku bisa tidur.

"Palu... Bukankah terlalu berisiko untuk seorang sepertimu? Maksudku, bukankah ini perjalanan pertamamu ke sana, dan keadaannya sekarang sedang bencana. Sewaktu-waktu masih bisa terjadi gempa... Atau tanah bergerak."

Aku tidak menampik. Tetapi aku juga tidak pergi tanpa persiapan. Aku menunjukkan lembaran berisi cek list berbagai persiapan yang telah kulakukan. 

"Wow! Kau begitu detail." 

Aku senang mendengar suaramu yang antusias. Seolah-olah yang kulakukan ini di luar kebiasaan. Padahal, siapa pun yang terbiasa bepergian, lazim melakukan ini. Disadari atau tidak.

"Memang tidak ada yang merisaukan aku selain ibuku, tetapi kupikir, aku tidak ingin menyesal jika terjadi hal hal buruk padaku. Makanya aku buat cek list sebanyak ini, setidaknya aku tahu harus menghubungi siapa dan menghindari kondisi yang bagaimana saat di sana nanti. Aku juga sudah mencari tahu hotel yang masih bisa diinapi."

"Aku bahkan tak lagi punya orang tua. Masih punya beberapa kerabat, tetapi kuyakin mereka tidak peduli padaku. Aku terbiasa hidup sendiri... Setidaknya sejak beberapa bulan terakhir. Mungkin karena itu, nyaris tidak ada persiapan yang kulakukan, selain beberapa helai pakaian, beberapa obat untuk pertolongan pertama, dan... Tentu saja uang yang banyak. Hahahaha."

"Sebelumnya?"

"I have some one yang... setidaknya ada yang merecoki hidupku. Membuat hari-hariku sedikit lebih berwarna. Sesekali aku mengiriminya foto-foto hasil karyaku di dapur, atau kadang kadang kami bercerita tentang aktivitas masing-masing."

"Kau pandai memasak?"

"Aku terbiasa mandiri sejak kecil, menurutku memasak bukan kepandaian, tetapi itu kecakapan hidup yang harus kita kuasai. Paling tidak, memasak mi instan atau menanak nasi, kan?"

"Ya, kau benar. Seharusnya, reaksiku biasa-biasa saja, ya, tak ada yang perlu diistimewakan," aku seolah mengklarifikasi reaksi spontanku tadi.

Kau tergelak. Mengangguk sebagai tanda persetujuan.

"Oh ya, ke mana seseorang itu sekarang?"

"She is gone."

"Ups..."

"Setidaknya itulah kesimpulanku, sebab sebelumnya komunikasi di antara kami baik-baik saja. Aku bahkan tak pernah menduga dia pergi dengan tiba-tiba. Tak ada masalah, tak ada perdebatan, semuanya menjadi dingin dan canggung tiba-tiba."

"Mengapa kau berpikir kalau dia meninggalkan kamu?"

"Uhm.... entahlah, tapi soal itu aku mempunyai perasaan yang tajam. Suatu hari aku menemukan sesuatu di media sosialnya."

Kau membuat tanda telinga kelinci saat menyebutkan sesuatu. Aku mengangguk, meski tak paham apa yang kaumaksud, tapi yang pasti itu sungguhlah membuatmu kecewa dan sakit hati.

"Sejak itu  aku tidak lagi menaruh harapan padanya. Kupikir, tugasku sudah usai... "

"Tugas?"

"Ya, membantunya melewati masa-masa sulit, membantunya menemukan jati diri setelah terpuruk dan terpukul oleh kehidupan. Aku bersyukur karena dia masih bisa melihat dunia yang lebih terang dan indah..."

"Kamu tidak berusaha mengonfirmasi?"

"Aku bukan wartawan," ucapmu dengan senyum lirih.

Ya ampun, kau bahkan masih berusaha untuk melucu. Atau memang begitulah cara orang-orang sepertimu menghibur diri?

"Mereka dengan hati yang hangat konon lebih sering tersakiti."

"Mengapa harus?"

"Karena mereka memiliki kepedulian yang tinggi, apalagi terhadap orang yang suka merecoki hidupnya. Aku mengenal beberapa orang yang punya hasrat berkorban tinggi sepertimu."

"Apa termasuk dirimu sendiri?"

Hahahah. Giliran aku yang tergelak. Sial! Pandai sekali kau memancing segala yang kusembunyikan di dalam diriku. 

"Orang-orang yang merecoki hidup kita dalam tanda kutip memang seperti pisau bermata dua. Sewaktu-waktu memang bisa berbalik melukai," lanjutmu kemudian.

"Dan karena itu kau ke Palu?"

"Uhmmm..."

"Seseorang pernah bilang padaku, saat hati terluka kita hanya perlu mencari kesibukan, itu sebabnya banyak orang yang terluka memutuskan untuk mengembara..."

"Apa kita pengembara?"

"Hahahaha...."

"Ada kesakitan yang paling sakit, saat kita menyadari yang hilang dalam diri kita bukanlah sesuatu yang berbentuk..."

Lalu hening. Dan saat tak ada suara-suara yang merambat, hawa dingin kembali terasa menusuk-nusuk. Aku membuka WhatsApp. Membaca status teratas dari beberapa teman. Sudah dinihari, tetapi masih saja ada yang belum tidur. Masih ada yang membuat status. Status-status bernada muram.

"Barangkali mereka juga seperti kita."

Sepertinya kau tahu apa yang bermain di pikiranku.

"Orang orang sekarang lebih beruntung karena punya media untuk meluapkan emosi, bisa bikin status di medsos atau WhatsApp. Itu termasuk ampuh untuk mengurangi beban psikologis."

"Ya, aku setuju, tetapi tetap saja, tempat bercerita yang menyenangkan adalah kepada manusia. Manusia bisa merespons. Bisa menunjukkan empati. Sedangkan benda, secanggih apa pun tidak pernah bisa..."

"Tetapi saat kita tidak bisa menemukan seseorang yang tepat untuk bercerita bagaimana?"

"Kita bisa menciptakan manusia. Pikiran kita bisa menciptakan apa saja..."

Tepat setelah kau mengatakan itu, aku jadi tersentak. Aku terkejut saat kudapati tidak ada seorang pun di sampingku. Kosong. Kuedarkan pandangan ke ruangan yang terhampar. Orang-orang masih tergeletak di kursi. Tidak ada satu manusia pun yang berlalu-lalang. Juga tidak ada tanda-tanda ada pernah ada orang di sampingku sebelumnya... tetapi...bungkus permen kopi ini...

Lamat-lamat, pertanyaan "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?" muncul kembali di dalam diriku.[]


Jumat, 24 September 2021

Life Begin After Coffee with Scarlett Series

Foto Ihan Sunrise


FELICYA ANGELISTA. Nama artis yang satu ini memang akrab di kupingku. Bukan cuma nama, melainkan wajahnya pun sangat sering kulihat di layar kaca. Itu karena salah satu chanel televisi di rumah kami menayangkan sinema elektronik yang diperankan oleh Feli. Yap! Dunia Terbalik judulnya. Di sinetron itu, Feli memerankan karakter Tuti yang ikonik dan kejenakaannya sukses mengocok perut. Apalagi saat dia memanggil Momski dengan gaya manja untuk ibunya yang diperankan Mike Amalia.

Belakangan nama Feli menjadi ramai dibicarakan. Bukan, bukan karena dia terlibat gosip murahan seperti beberapa selebritas lainnya. Atau membuat gimmick tertentu untuk menarik perhatian publik. Namun, karena ia berhasil membuat brand beauty miliknya menjadi ramai diperbincangkan publik. Scarlett by Felicya Angelista. Begitulah jenama yang dipilih untuk mewakili aneka produk kecantikan, kosmetik, dan perawatan diri yang lahir dari tangan dingin artis muda kelahiran seperempat abad silam itu. 

Sampai di sini, tanpa bermaksud berlewah-lewah, saya kagum dengan sosoknya yang cukup merepresentasikan anak muda yang pantas ditiru. Feli adalah perpaduan sosok anak muda yang energik, mandiri, dan produktif. Sama seperti empunya, Scarlett pun berhasil tampil sebagai jenama produk yang merepresentasikan kemewahan dan ekslusif.

Felicya Angelista @Pikiran Rakyat


Sebagai new comer, Scarlett bisa dibilang cukup cepat diterima masyarakat. Ini bisa dilihat dari banyaknya jenis produk Scarlett yang berseliweran di lini masa media sosial (ku). Surprise-nya lagi, pada suatu malam, di grup WhatsApp yang isinya teman-teman lamaku, mereka membahas beberapa produk Scarlett yang sudah mereka pakai. 

"... dibanding dengan produk artis lain, Scarlett cukup rekomended dan harganya terjangkau," kata seorang teman setelah menyebutkan jenis produk yang dia pakai. 

"... Saya juga pengin coba yang warna putih. Mana tahu lebih wangi dari orange. Haha," kata teman yang ternyata sudah lama memakai Scarlett body lotion.  

"Saya pakai warna ini, sebelumnya warna kuning, sekarang waktunya coba warna ini, suka ditanya orang2 aku pakai parfum apa, padahal cuma pakai hand body Scarlett," komen teman yang lain.

Begitulah. Obrolan demi obrolan dengan topik perawatan tubuh dari Scarlett terus berlanjut di grup. Aku cuma menyimak, soalnya sampai detik itu, belum ada satu pun produk Scarlett yang pernah kucoba. Namun, testimoni dari teman-teman membuatku akhirnya mencoba tiga jenis produk perawatan kulit dasar dari Scarlett, yaitu body scrub, brightening shower scrub, dan body lotion masing-masing dengan aroma kopi yang memikat dan jolly yang lembut. Tiga produk ini termasuk rangkaian body care atau perawatan tubuh dari Scarlett.

Tiga varian produk Scarlett untuk perawatan tubuh dasar harian dan mingguan @Ihan Sunrise


Aku memang bukan tergolong orang yang telaten merawat kulit dengan pergi ke tempat spa atau klinik kecantikan lainnya, tetapi untuk perawatan dasar seperti scrubing dan memakai body lotion, rutin kulakukan. Jadi, meskipun kulitku cenderung eksotis, tetapi tetap sehat lo. Tidak kering dan kusam.

By the way, sebagai pencinta kopi, aku begitu klik dengan varian produk yang ini. Aromanya membuatku teringat pada roti boi. Andai bisa dicolek dikit dan dinyam-nyam... ha ha ha.

Life Begin After Coffee

Yess! Kopi memang cocok banget sebagai mood booster untuk memulai aktivitas harian. Sebagai pencinta--kalau tidak dibilang pencandu--kopi, aku tahu betul efek sugesti kopi. Secangkir kopi di pagi hari, akan menjadi penanak energi untuk sepanjang hari. Rutinitas pekerjaan yang kadang terasa menjemukan, menjadi lebih relaks kalau sudah meneguk secangkir kopi hitam atau sanger. Nah, jika biasanya menyesap kopi baru kumulai setelah tiba di kedai kopi atau kafe, dengan hadirnya dua varian produk berupa Scarlett scrubb dan shower scrub varian kopi, aku sudah bisa menyesap semerbak kopi sejak di kamar mandi.

Memiliki kulit yang sehat memang harapan semua orang, khususnya perempuan. Kulit yang sehat juga akan memberikan efek positif berupa meningkatnya rasa percaya diri. Namun, untuk mendapatkan kulit sehat tak cukup hanya dengan mengasup makanan dari dalam tubuh saja, tetapi juga penting memberikan sentuhan eksternal untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagai organ terluar manusia, kulit menjadi "lapangan" tempat mendaratnya partikel-partikel debu atau kotoran lainnya. Efeknya kulit jadi kusam, tak jarang malah ada yang sampai bersisik. Salah satu sebabnya karena menumpuknya sel-sel kulit mati dan berkembang biaknya kuman atau bakteri.

Namun, tak perlu khawatir, sel kulit mati ini bisa dikikis kok dengan eksfoliasi atau pengelupasan yang lazimnya dikenal dengan istilah scrubbing. Syaratnya cuma perlu telaten melakukan minimal dua kali seminggu. 

Scarlett Body Scrub mengandung vitamin E dan glutathione yang bermanfaat untuk: 

1. Membantu mengangkat sel kulit mati, 

2. Mengembalikan kelembaban kulit, 

3. Membantu mencerahkan kulit, 

4. Membantu melancarkan peredaran darah, 

5. Sebagai sarana untuk relaksasi tubuh, 

6. Meregenerasi kulit setelah eksfoliasi, 

7. Meningkatkan kadar hidrasi yang dibutuhkan kulit.

Bagi kamu yang suka varian lain juga tersedia varian Romansa dan Pomegrante dengan floral-fruity gourmand.

Cara scrubbing juga sangat mudah, kamu bisa melakukannya di pagi hari dan hanya perlu mempercepat jadwal mandimu beberapa menit saja dari biasanya. Pertama, balurkan scrub ke bagian tubuh yang ingin di-scrubbing, kemudian diamkan sekitar 3-5 menit atau setengah mengering (sembari ini kamu bisa gosok gigi :-D), selanjutnya gosok perlahan scrub sehingga sel-sel kulit mati di tubuhmu bisa terangkat.

Shower scrub
Setelah selesai bilas tubuh dengan menggunakan shower scrub untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Berbeda dengan scrub, kamu bisa menggunakan shower scrub setiap hari. Setelah selesai mandi, baru deh kamu mengaplikasikan body lotion ke seluruh tubuh untuk menutrisi kembali. 

Shower scrub ini mengandung colagen, glutathione, vitamin E, dan beads yang berfungsi untuk membantu memaksimalkan saat membersihkan tubuh, membantu mengangkat sel-sel kulit mati, membuat kulit jadi lebih halus setelah eksfoliasi, membantu mengembalikan kelembaban kulit, dan membantu mencerahkan kulit. Selain yang varian coffee, juga ada wangi mango, cucumber, dan pomegrante.

Body lotion varian Jolly 

Sedangkan yang body lotion variannya lebih beragam, seperti romansa, fantasia, charming, freshy, dan jolly. Berbagai aroma ini bisa disesuaikan dengan kepribadian kamu. Kalau yang jolly, seperti yang saat ini kupakai, aromanya lembut dan menurutku sangat feminin. Meski begitu, tetap menyatu meskipun aku mandi dengan shower scrub aroma kopi. Dengan Shower Scrub dan Body Scrub Perfect Coffee Edition ini, aku bisa mendapatkan double manfaat: untuk kulit dan mood yang menenangkan. Horeee......

Oh ya, sebagai info tambahan untuk kamu yang penasaran dengan rangkai body series dari Scarlett, produk ini sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia lo, sudah teregister juga di Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) RI. Selain itu juga aman dipakai oleh ibu hamil, tetapi untuk lebih yakin ada baiknya konsultasi dengan dokter kamu dulu. Harganya, seperti yang dibilang sama temenku juga ekonomis. Body scrub isi 250 mili,  shower scrub isi 300 mili, dan body lotion isi 300 mili masing-masing hanya Rp75 ribu. Kamu juga bisa mendapatkan produknya dengan membeli secara online via:

Line @scarlett_whitening
Shopee: Scarlett_Whitening
Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop
Whatsapp: 0877-0035-3000

***

Jumat, 09 Juli 2021

Love Me Like There's No Tomorrow


 

Cintai aku seperti tidak ada hari esok.

Kira-kira, seperti itulah terjemahan dari judul tulisan ini. Kalimat itu kutemukan di awal paragraf salah satu bab dalam Time of Your Life--Bagimu, masa muda hanya sekali-- yang ditulis Rando Kim, seorang profesor di Seuol National University. Kalimat itu terdengar romantis. Bagi penggemar Freddie Mercury, mungkin lagu ini sudah familier di telinga mereka. Namun, tidak denganku. Satu-satunya lagu Freddie-Queen yang akrab di telingaku cuma I want to break free. Yeah! Aku ingin bebas!

Kalimat itu membuatku gayang. Tentu bukan dalam arti sebenarnya. Setidaknya, membuatku tergerak untuk membuka laman ini dan terbersit ingin menuliskan sesuatu. Walaupun, walaupun setelah layar terbuka dan jari-jemari sudah bertengger di atas kibor, aku malah dilanda kebingungan. Apa yang harus kutulis? Pada akhirnya, aku cuma bisa menatapi layar ....

Dua tahun lalu, aku mewawancarai seorang pria paruh baya. Kami sepakat membuat janji temu di salah satu kafe premium di kota ini. Soal tempat, kubiarkan dia yang memutuskan. Walau bagaimana pun, kenyamanan orang yang akan diwawancarai tetaplah menjadi prioritasku. Selama, tempat itu mudah diakses, terbuka untuk publik, dan, tentu saja, ini yang paling penting: tidak berisik.

Kami janji ketemu sore hari setelah asar, tetapi pria itu datang agak terlambat. Itu tidak masalah buatku karena sepanjang sore hingga magrib memang sudah kusediakan waktu untuknya. Jadi, kalaupun dia datang terlambat, masih ada waktu untuk berbincang. 

Pria itu mengenakan setelah jin dan kemeja lengan pendek. Meskipun kepalanya tertutupi topi sejenis beret, jelas sekali kalau kepalanya sudah dipenuhi uban. Usia memang tak bisa menipu. Namun, ia masih terlihat gagah. Posturnya yang tinggi besar meneguhkan kesan itu. Jalannya masih tegak. Selera humornya juga bagus. Barangkali itu resep dia tampak lebih segar dan bersemangat meski usianya sudah setengah abad lebih. Sepanjang wawancara berlangsung, suasana terasa sangat cair. Lebih mirip obrolan dengan seorang kenalan baru. Dia juga tak canggung saat menceritakan tentang kehidupan pribadinya, tentang keluarganya, tentang siapa dirinya.

"Keluarga kami bukan orang berada," katanya di tengah perbincangan, "ayah saya meninggal dunia terlalu cepat," katanya lagi.

Itu sebabnya, sebagai anak lelaki tertua, dia mengambil peran dan tanggung jawab yang lebih besar menggantikan ayahnya. Adik-adiknya perlu sekolah, mereka juga perlu biaya hidup, dialah yang harus memenuhi biayanya. 

"... itu sebabnya anak saya masih kecil," dia menunjuk ke arah seorang remaja berusia sekolah menengah atas, menuntun seorang balita yang tak lain adalah adiknya. 

Keduanya adalah anak pria yang duduk di hadapan saya. Dia lantas menyuruh mereka menunggu di kursi lain.

Aku menyimak ceritanya. Pria itu, saat teman-teman sebayanya sibuk menjalin kisah asmara, bersekolah tanpa perlu dipusingkan dengan biaya SPP, dia malah mengabaikan segala kesenangan masa mudanya untuk mengurus adik-adiknya. Di akhir cerita, adiknya lulus sebagai sarjana, saat itu, dia merasa etape terberatnya sebagai seorang abang sedikit berkurang. Barulah kemudian dia memikirkan dirinya sendiri, menemukan belahan jiwa, menikah, dan... meniti kariernya yang memang telah dibangun sejak awal.

Ketika malam ini aku membaca Time of Your Life dan menemukan judul tembang lagu yang menjadi judul tulisan ini, entah mengapa ingatanku malah melayang pada pria paruh baya itu. Aku menemukan makna dari kalimat itu. Makna yang sangat dalam. Itulah ekspresi cinta yang sebenarnya. Yang membuat kita selalu tak sabaran, bahkan terpikir bahwa tak ada lagi hari esok untuk mengekspresikan cinta. Cinta yang besar, yang tak bisa menunggu waktu, selalu berbarengan dengan pengorbanan, kan? Meskipun pria itu tak pernah mengatakan "i love you", tetapi bukti cintanya pada keluarga tentulah sangat besar.

Sebagai individu yang pernah merasakan jatuh cinta. Aku pun kerap begitu. Cinta selalu membuatku tak pernah bisa bersabar. Misalnya, aku selalu merasa malam selalu panjang; hanya agar aku bisa mengucapkan selamat pagi pada kekasihku. Atau, aku merasa waktu dua belas bulan di Bumi seperti di Pluto, karena aku ingin selalu menjadi yang pertama memberi ucapan ketika kekasihku berulang tahun. 

Namun, ternyata ketidaksabaranku itu masih tidak ada apa-apanya dibandingkan ketidaksabaranku jika menyangkut dengan ibu. Satu-satunya orang tua yang kupunya sekarang. 

Aku masih ingat betapa jarak Banda Aceh--Idi Rayek terasa sangat jauh saat pulang untuk menengok ibu yang telah dibawa ke rumah sakit. Begitu juga jarak Idi Rayek--Banda Aceh, yang rasanya seperti tak sampai-sampai saat mendampingi ibu di dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit terbesar di Banda Aceh. Menyaksikannya termegap-megap seperti ikan menggelepar di daratan, aku bahkan tak sempat berpikir jika hari esok masih ada. Saat berbulan-bulan ibu dirawat di ruang intensif, aku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Dan karena terlalu banyak berdiri, betisku sudah seperti balok kerasnya. Aku bahkan tak lagi bisa merasakan seperti apa rasanya lelah. Begitulah, aku selalu merasa bahwa esok adalah misteri, waktu yang kupunya untuk menunjukkan bahwa aku sangat mencintai ibuku hanya hari itu. Saat itu. Jadi aku tak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan. Jangan ada sedetik pun yang sia-sia. Ibu harus tahu kalau aku mencintainya. 

Itulah, itulah yang selalu kulakukan pada orang-orang yang kucintai; aku tak pernah sungkan menyatakan perasaanku. Entah dengan sikap, perlakuan, emosi, atau dengan sesuatu. Selalu berusaha mendahulukan selama memungkinkan. Walaupun, kadang-kadang, ego juga melunjak. 

Sekali waktu di Hari Ibu. Sambil memeluk dan menciumnya, kuselipkan sepotong kertas bertuliskan perasaan cinta yang dalamku padanya. Di waktu yang lain, ketika aku sudah punya uang lebih, kubelikan sepotong kue tar dan selembar baju gamis untuk ibu di Hari Ibu. Tangisnya pecah. Kata terima kasih disertai doa panjang terucap di bibirnya. Itulah, itulah cinta yang seolah seperti tak ada hari esok.

Begitu juga pada kekasihku. Sekali waktu, aku memberikan lukisan sebagai kado hari ulang tahunnya. Di lain waktu, aku hanya bisa menuliskan pesan pendek yang kukirim ke ponselnya. Tentang hari esok... aku tidak tahu, apakah aku masih mencintainya, ataukah dia masih mencintaiku. Esok, entah dia masih mau bertemu denganku, atau justru aku yang sudah enggan bertemu dengannya. Karena esok, aku tidak pernah tahu, cinta yang dalam dan besar entah masih perlu disampaikan dengan pesan dan lisan, atau cukup dikirimkan lewat doa-doa yang pendek saja; semoga selalu bahagia, selalu hidup dalam cinta, selalu ... selalu... selalu....

Jadi, kupikir, berusaha datang lebih awal dalam setiap janji temu, adalah ekspresi dari cinta. Berusaha memberi meskipun tak pernah dipinta, juga ekspresi cinta. Tetapi kadang-kadang, merelakan juga bagian dari ekspresi cinta... sebab, jika hari ini kita tak pernah bisa merelakan, besok pun mungkin tak pernah bisa...[]