Langsung ke konten utama

Postingan

TERBARU

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

"Bendera, Pak! Bendera!"  Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini. Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari.  Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim. Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedan…
Postingan terbaru

Anak Muda Keren Itu Namanya Akbar

Ambivert sepertiku, menjadi dekat dengan seseorang itu tidaklah mudah. Dekat dalam artian seseorang itu bisa menjadi 'teman ngopi' atau 'teman cekikikan' di aplikasi chatting. Minimal bisa jadi kawan buang suntuklah kalau sedang stres dan ingin gila-gila sedikit. Nggak perlu 'jaim-jaiman' dan bisa berekspresi apa adanya saja. Lebih dari itu, jika memungkinkan bisa jadi kawan curcol yang kadang-kadang kerap kambuh seperti PMS.

Dan Akbar adalah teman baru yang belakangan cukup sering terlibat obrolan dan menjadi dekat. Kami mengobrol apa saja, mulai dari film, musik, tempat-tempat wisata, hingga sepak bola. Olahraga yang tadinya bagai belantara penuh duri buatku. Akbar, si pemuda berkacamata yang sangat tergila-gila pada bola itu sedang berusaha menularkan virusnya padaku.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Akbar awal Februari lalu, saat berburu mie ikan di Laweung, Pidie. Saat itu Akbar ikut dengan Rio, teman sesama blogger di komuni…

Belajar dari Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro

Nama Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro ini sudah saya dengar sejak Maret 2009 silam. Saat itu saya mengikuti Success Seminar (yang menjadi cikal bakal BBS di Banda Aceh) yang pembicaranya adalah Bu Putu Srirahmaningsih, ibunya Bu Rahmasari.

Yang tertangkap dalam ingatan saya adalah, Bu Putu ini sangat bangga pada Bu Rahmasari. Dari Bu Rahmasari pula Bu Putu mengenal usaha yang dengan izin Allah SWT membuat mereka punya kehidupan yang lebih baik hingga saat ini. Lain kali saya akan ceritakan siapa sih Bu Putu ini. Sedikit spoiler, beliau ini adalah mantan penjahit yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Pernah divonis hidup enam bulan lagi karena menderita kanker rahim, tapi ia masih hidup sampai sekarang.

Nah, belakangan nama Bu Rahmasari ini makin sering saya dengar karena sering dipromosikan. Khususnya selama empat bulan terakhir. Beliau akan hadir ke Medan sebagai guest speaker di Leadership Seminar yang dibuat N21 Indonesia di Grand Antares Hotel, 29-30 Juli 2017. Dan saya, demi me…

Ketukan Pintu dari Bu Dhe

Jelang magrib kemarin begitu sampai di rumah setelah pulang lari, ada suara yang memanggil-manggil dari pintu depan. Ternyata ibu kost yang kami panggil Bu Dhe. "Kak, ke rumah ya ambil sayur," ujarnya nyaris berbisik.

Rupanya beliau tidak mengantarkan langsung karena di rumah sedang ada teman yang mampir usai lari bareng. "Wahhh Bu Dhe, jadi nggak enak nih," kataku dengan perasaan tak enak yang sesungguhnya.

Bukan apa-apa, pasalnya, siang sebelumnya Bu Dhe baru saja mengantarkan lauk ke kost-an kami yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Daun singkong santan dan tumis udang sabu yang enak banget. Petang kemarin lauk yang diberikan lebih banyak lagi, sayur asem, rendang telur dan oseng tempe. Sebelumnya kami juga pernah mendapat hantaran dua piring munjung nasi goreng dengan lauk ayam semur yang menggoda selera.

Belum genap dua minggu menjadi salah satu penghuni kostnya, sudah tiga kali mendapat kiriman rezeki dari ibu kost. Sampai sampai adikku nyeletuk…

Kau yang Menggelitik Hatiku

Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu kini menjadi penting

Aku masih ingat saat pertama kali kita bertukar nama dan cerita
Amat riuh dan heboh
Seolah semua kata adalah milik kita
Dan ruang itu hanya milik berdua

Aku masih ingat, 
Suatu senja setelah hujan usai
Kau mengajakku ke kaki bukit
Kita akan melihat kabut, katamu
Sore itu kau menjadi saksi betapa aku sangat bahagia

Apa perlu menyebutmu sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu telah menggelitik hatiku

Bagai cawan yang selama ini kosong,
lalu penuh dengan rasa hangat
Bagai pintu yang selama ini rapat, 
lalu terkuak perlahan
dan berbagai rasa menerobos masuk

Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa
Karena aku tidak sedang mencari definisi

Apa yang akan Kukatakan?

Apa yang akan kukatakan pada diriku tentangmu?

Meski kau hadir di hidupku saat senja hampir tenggelam, tetapi kau masih sempat menunjukkan ranum matahari yang berwarna jingga.

Saat aku tergesa-gesa akan melangkah,
Kau masih sempat memanggil, menahanku sejenak, lalu mengatakan; jangan pernah berhenti menciptakan kebahagiaan.

Kau mengatakannya secara tersirat, dengan tatapanmu yang jenaka, dengan gelagatmu yang menggelitik.

Aku ingin bertanya, tentu saja pada diriku sendiri.
Apa yang hati kita inginkan dari sebuah pertemuan?
Dan apa yang akan dirasakan hati kita karena sebuah perpisahan?

Kita membersamai keadaan dalam waktu yang sangat singkat
Bahkan secangkir teh ini masih mengepulkan asap
Kita bahkan belum sempat membicarakan warna langit sore itu
Atau tentang rintik hujan yang menempel di pipi kita
Ah, itu bulir hujan atau air mata?

Permata Puni, 11 June 2017

Mencicipi Rendang Kelinci yang Gurih dan Maknyusss

AKU barangkali salah satu dari sekian banyak orang yang awalnya menduga daging kelinci itu nggak halal untuk dikonsumsi. Ternyata eh ternyata, kelinci itu halal kok. Sama seperti unggas kayak bebek atau ayam, atau kayak mamalia sejenis sapi dan kerbau.

Bahkan, daging kelinci mengandung protein hewani yang low kolesterol. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita kolesterol tetapi tetap ingin memenuhi kebutuhan protein hewaninya.

Ngomong-ngomong soal daging kelinci, aku memang belum pernah mencoba sebelumnya. Sampai kemarin sore, saat buka bareng sejumlah anggota GamInong Blogger di Masjid Raya Baiturrahman, olahan daging kelinci menjadi salah satu menu yang kami santap.

Ceritanya Kak Aini, salah satu GIB-ers, sehari sebelum hari H udah halo-halo di grup kalau dese mau bawain daging kelinci. Tawaran itu langsung saja kami sambut dengan sukacita. Pasalnya, seumur-umur kami (aku) memang belum pernah mencoba seperti apa rasanya daging kelinci. Jadi, wajarlah ya kalau penasaran banget …