Enter your keyword

Senarai Cinta

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 18 Mei 2018

Obrolan Lezat dengan Zenja

By On Mei 18, 2018
Sie reuboh khas Aceh Rayek.


Seumur-umur belum pernah terpikir olehku untuk membuat sie reuboh, olahan daging rebus khas Aceh Besar dengan bumbu sederhana berupa cuka, kunyit, cabai rawit, merica, dan ketumbar. Bumbu-bumbu inipun aku tahu dari Zenja. Dia mengirimkannya melalui pesan Whattsapp dua hari lalu. Aku sendiri baru mengenal olahan daging ini sejak beberapa tahun terakhir, padahal sudah lama menetap di Banda Aceh. Bahkan akhir-akhir ini nama sie reuboh kian populer saja. Ini baik, pertanda citra kuliner Aceh Besar ini terus populer.

Sie reuboh diolah dari daging sapi/kerbau/kambing yang mengandung lemak yang bisa berfungsi sebagai pengawet alami. Dagingnya bisa tahan berhari-hari, kalau disimpan di kulkas mungkin bisa berminggu-minggu. Konon ketika masa perang dulu, sie reuboh ini menjadi perbekalan para pejuang Aceh saat bergerilya di hutan-hutan. Dengan cita rasanya yang sudah berbumbu, daging rebus ini bisa langsung disantap tanpa perlu diolah lagi. Paling tinggal dipanaskan saja supaya lemaknya cair. Di Banda Aceh, warung-warung makan khas Aceh Besar umumnya menyediakan hidangan ini.

Setelah dua hari lalu, hari ini perbincangan tentang sie reuboh dengan Zenja kembali terjadi. Bermula dari obrolah remeh-temeh yang kami lakukan di sela-sela aktivitas melalui perangkat teknologi. Entah mengapa tiba-tiba Zenja berceletuk kalau nanti sore sepulang kerja dia mau membuat sie reuboh. Aku takjub padanya, skill memasaknya sangat oke punya. Padahal dia bukan orang Aceh Besar, pun sudah lama sekali meninggalkan Banda Aceh ini. Selama ini aku sering mendapat kiriman foto-foto makanan olahan tangannya.

"Nanti fotoin step by step-nya ya, kalau Abang berhasil Ihan mau coba juga," ujarku.

"Abang pikir Ihan jago masak, pakai janjian pula," jawabnya bercanda.

"Ihan bisa masak, tapi kan nggak semuanya Ihan bisa."

"Masak putih bisa? Weekend nanti Abang mau masak putih dengan kentang."

"Bisa," jawabku cepat.

Padahal seumur-umur pula aku belum pernah membuat sendiri olahan daging yang satu ini. Tapi resepnya tidaklah susah-susah amat, aku sering melihat Ibu menyiapkan resep olahan daging masak putih.

"Ihan penasaran ingin cobain masakan Abang."

"Sudah pasti enak. Nanti dikasih resep-resepnya."

"Resep cinta?"

"Boleh juga."

Obrolan lezat kami berlanjut hingga beberapa saat kemudian. Setelah itu aku siap-siap untuk salat Zuhur, dan Zenja bersiap-siap menyudahi aktivitasnya kukira, hari ini ia hand over proyek, pasti sangat menyita tenaga dan pikirannya. Karena itu aku tidak merecokinya lebih banyak.

Makanan menjadi salah satu topik yang sering kami bincangkan berdua. Suatu kali Zenja mengirimkan foto olahan nasi Arab yang dibuatnya, di lain waktu ia mengirimkan foto soto Lamongan. Pernah juga ia mengirimkan video sedang membuat martabak bersama teman-teman di apartemennya. Dan sekarang aku menunggu dengan berdebar foto olahan sie reuboh made in Zenja. Kira-kira seperti apa bentuknya?

Suatu ketika aku punya kesempatan untuk menjamu Zenja di rumah. Hidangannya sederhana, hanya hidangan rumah biasa saja. Tapi Zenja makan dengan lahap dan memuji masakanku ketika itu. Aduh, aku senyum-senyum dibuatnya. Perempuan mana sih yang tidak kembang-kempis hatinya ketika dipuji pasangan. Hari setelah lebaran Idul Fitri itu, aku membekalinya dengan sekotak timphan saat ia pulang. Kata Zenja, timphan yang jumlahnya memang tidak banyak itu habis ia makan bahkan sebelum sampai ke rumah. "Timphannya enak," kata dia waktu itu. Ah Zenja... kamu memang paling bisa membuatku berbunga-bunga.

Sering kukatakan pada Zenja, nanti kalau kami sudah hidup berdua aku ingin mendedikasikan diri sebagai asistennya saja di dapur. Selebihnya aku ingin menghabiskan waktu untuk mencintainya. Hanya itu.[]

Sabtu, 28 April 2018

Nggak Janji

By On April 28, 2018


Gimana ya rasanya kalau orang yang paling kita harapkan bertemu tiba-tiba mengatakan 'nggak janji ya' saat kita mengusulkan waktu pertemuan, walaupun cuma bercanda. Pasti rasanya enggak enak banget, aku tahu gimana rasanya, karena baru saja mendapatkan jawaban seperti itu hahaha. Rasanya tuh, seperti kantong plastik yang tadinya menggelembung penuh oleh udara tiba-tiba kempes.

Kalau merujuk pada teori 'bahasa kasih' yang dibuat oleh Garry Chapmann, aku masuk dalam kategori manusia yang bahasa kasihnya adalah 'kata-kata pendukung' dan 'sentuhan fisik'. Dua hal ini akan membuat aku merasa sangat disayangi dan dicintai. Aku sangat sensitif dengan yang namanya 'kata-kata', setiap kata yang diucapkan/dituliskan oleh seseorang, tak bisa sekadar lewat begitu saja.

Makanya, ketika tadi ada seseorang yang aku sangat ingin bertemu dengannya dan dia menjawab 'nggak janji ya' saat aku menawarkan waktu temu dengannya, keinginan untuk bertemu dengannya seketika menguap. Ya, setidaknya sampai aku menuliskan ini, jangankan hasrat untuk bertemu, untuk mengobrol via pesan pun aku jadi malas.

Rasanya semua kerinduan yang sudah aku simpan selama ini menjadi enggak berarti sama sekali. Menjalin interaksi dengan manusia itu memang rumit, makanya kata Less Giblin, perlu seni. Kalau ingin dipahami ya harus memahami terlebih dahulu. Sama seperti konsep tuai tabur. Tapi untuk kali ini, dengan rasa rindu yang menggunung di hati, mendapat jawaban seperti itu, rasanya susah buatku untuk bisa 'memahami' kalau dia cuma bercanda.[]

Senin, 16 April 2018

Pesona Seribu Bukit

By On April 16, 2018

GEROMBOLAN angin yang mencuri-curi masuk lewat celah jendela minibus L300 membangunkan saya pagi itu. Udara dingin menyergap. Menyelinap menembusi jaket yang membalut tubuh. Merasuk hingga ke tulang. Bahkan, syal berbahan wol yang saya lilitkan di leher tak membantu banyak untuk memberikan rasa hangat.
Saya mengerjap-ngerjap, menghilangkan sisa kantuk yang masih melekat di pelupuk mata. Matahari belum sempurna terbit. Sekelebat pemandangan tiba-tiba tertangkap oleh indera. Sungai lebar yang berkelok-kelok di kejauhan, sawah hijau yang berundak-undak, rumah-rumah penduduk, begitu padu dengan lanskap di sekitarnya yang hijau. Pucuk-pucuk pinus menjulang di lembah dan puncak bukit.
Kabut yang masih mengapung di udara menambah kesyahduan pagi itu. Perlahan mentari mulai muncul di ufuk timur. Menumpahkan cahaya jingganya ke pucuk-pucuk pohon.
"Saya sudah sampai ke Gayo Lues.” Hati saya membatin penuh girang. Kegirangan yang sama agaknya juga dirasakan teman-teman.
Belakangan saya tahu, jalan mulus berliku-liku di tubir bukit dengan hamparan pemandangan memesona itu ada di Kecamatan Pantan Cuaca. Pemandangan yang kurang lebih sama juga terhampar di sepanjang Kecamatan Rikit Gaib, hingga ke Kota Blangkejeren, Ibu Kota Gayo Lues.
Mata yang tadi masih dihinggapi kantuk jadi membelalak. Tak peduli lagi pada rasa gigil yang serasa menggigit tulang, saya justru nekat membuka setengah kaca jendela. Mencondongkan wajah dan membiarkan angin menampar-nampar kulit. Ingin merasakan langsung hawa sejuknya yang selama ini cuma mampir di telinga. Lalu sebisa mungkin mengabadikan keindahannya lewat lensa kamera. Tapi sayang, pacu mobil yang terlalu cepat tak memberi saya kesempatan untuk itu.
Ternyata saya juga tak cukup kuat menantang suhu yang teramat dingin. Terpaksa kembali saya rapatkan kaca jendela mobil. Sudah cukup puas walau hanya memandangi kepingan keindahan itu dari balik jendela yang berkabut.
Di sisa perjalanan sebelum sampai ke Kota Blangkejeren, tak henti-hentinya saya mengucap syukur. Kagum pada keindahan daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit ini.
+++

Senin, 16 Oktober 2017 lalu, untuk yang pertama kalinya bagi saya dan kelima teman perempuan: Yelli, Seila, Cut, Ayu, dan Uswah menjejakkan kaki di tanah Gayo Lues.  Kabupaten muda yang mendiami gugusan Bukit Barisan. Yang setiap lekukannya seolah menebarkan aroma segar dari sere wangi. Salah satu komoditas unggulan daerah ini.
Kami semua berangkat dari Banda Aceh, beberapa di antaranya baru saling kenal jelang keberangkatan pada sore sebelumnya. Karena ini pengalaman pertama, tingkah kami terkadang agak norak. Tapi kami menikmatinya. Terutama saat merasakan betapa sejuknya wilayah ini. Berbeda dengan suhu Kota Banda Aceh yang panas karena berada di pesisir.
Kedatangan kami ke kota ini untuk belajar. Saya, bersama lebih dari 20 perempuan yang berasal dari Banda Aceh, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara mendapat kesempatan mengikuti Serial Perempuan Peduli Leuser yang dibuat USAID Lestari. Program beasiswa ini berakhir pada Maret 2018.
Gayo Lues sebagai salah satu zona inti Kawasan Ekosistem Leuser, dipilih USAID Lestari sebagai tempat pelaksanaan workshop pertama. Selanjutnya, pada November nanti workshop yang kedua akan digelar di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Sesuai arahan panitia kami sudah tiba sejak Senin pagi, dengan asumsi sisa hari itu akan kami gunakan untuk beristirahat. Tentu saja agar saat workshop dimulai esok harinya kami sudah segar dan siap menerima informasi. Tapi, rasanya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke sana, menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam dari Banda Aceh, hanya untuk tidur di hotel.
Sekitar pukul sembilan, usai check in kami memutuskan mencari sarapan. Walaupun semalam sempat mengisi lambung dengan martabak di Pante Raya, Bener Meriah tapi sepagi itu perut sudah minta diisi lagi. Mungkin karena dingin, atau karena penasaran ingin mencicipi kuliner khas Gayo Lues. Rachmi, peserta dari Aceh Selatan yang juga baru tiba bergabung dengan kami.
Rupa-rupanya mencari sarapan di sana tak semudah yang kami bayangkan. Dari Hotel Mulia, tempat kami menginap di Jalan Kuta Panjang, kami harus berjalan kaki hingga ke Jalan Kolonel Muhammad Din. Tak begitu jauh.  Sebuah warung dengan nama penyanyi terkenal Syahrini menjadi tempat perhentian.
Di warung ini saya memilih menu belut goreng dan ikan mas acar. Ikan air tawar memang menjadi menu andalan di warung-warung di daerah ini. Maklum, lokasinya yang sangat jauh dari pantai, tentu saja tak mudah menemukan ikan laut di sini. Namun di hari terakhir di Blangkejeren, saat berkeliling pasar tradisional di Kampung Durin, saya melihat seorang pedagang ikan menjajakan ikan tongkol.
+++

Setelah memekarkan diri dari Aceh Tenggara pada 2002 silam, Gayo Lues terus bergerak menuju kabupaten yang mandiri. Posisinya yang berada di gugusan Bukit Barisan tentunya menjadi daya jual yang luar biasa. Ditambah sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser. Dua hal ini saja sudah membuat Gayo Lues begitu memikat. Terutama bagi para penikmat keindahan lanskap alam dan peneliti lingkungan.
Belakangan tari saman yang berasal dari Gayo Lues, ditetapkan menjadi warisan dunia takbenda oleh UNESCO pada 2012 silam. Hal ini semakin menjadikan Gayo Lues bak mercusuar yang menarik perhatian dari seluruh penjuru mata angin. Lapangan Seribu Bukit menjadi saksi dua event saman massal yang digelar pada 2014 dan Agustus 2017.
Bagi saya pribadi, setiap jengkal tanah Gayo Lues ini adalah keindahan.  Beberapa lokasi wisatanya sudah akrab di telinga. Sebut saja Bukit Cinta di Tenggulun, dataran tinggi Genting di Kecamatan Pining yang berbatasan dengan Aceh Timur, dan objek wisata Kedah yang menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser di Gayo Lues. Dan masih banyak objek wisata lainnya yang tersebar di sebelas kecamatan.
Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat main-main ke Bukit Cinta dan Genting. Plus mengunjungi Masjid Asal yang sudah berusia delapan abad di Kampung Penampaan, Blangkejeren di hari terakhir. Setidaknya, masih ada alasan bagi saya untuk kembali mengunjungi Gayo Lues di lain waktu.
Menuju ke kabupaten ini bisa ditempuh dari Aceh Tengah, maupun dari Aceh Tenggara dengan pintu masuknya dari Sumatera Utara. Hanya saja jalur lintas ke Aceh Tengah baru dilalui angkutan umum setelah konflik antara GAM dan Pemerintah RI berakhir. Kondisi ini membuat Gayo Lues pernah menjadi wilayah yang sangat terisolir di Aceh.
Lima Daerah Aliran Sungai yang ada di Gayo Lues, yaitu DAS Alas, Tamiang, Perlak, Jambo Aye, dan Kuala Tripa menjadi pemasok sumber air ke belasan kabupaten. Ini membuktikan, meski Gayo Lues bagi sebagian kita seolah-olah berada di ‘negeri asing’, namun sangat krusial.
Kehangatan dan keramahtamahan orang Gayo menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Kesan ini saya dapatkan setelah bertamu ke rumah keluarga Nurcahya dan Hasan di Blangbengkik, Kecamatan Blang Pegayon. Putri mereka, Eva, adalah teman kuliah Yelli saat sama-sama menjadi mahasiswa di Unsyiah. Eva telah berbaik hati membawa kami ke Genting. Sebagai gantinya saya dan Yelli –sembari memulangkan sepeda motor- bertamu ke rumah Eva.
Nurcahya, di usianya yang sudah paruh baya masih terlihat muda dan bersemangat. Cerita-cerita mengenai keunikan dan kekhasan Gayo Lues lebih banyak mengalir dari mulutnya. Berbeda dengan suaminya yang agak pendiam. Hasan hanya menimpali obrolan kami sesekali saja.
“Kalau di Dabun Gelang tempat anakku lewati tadi, banyak sere wangi di sana. Kalau kopi banyak tumbuh di Pantan Cuaca. Kalau di daerah sini sayur-sayuran pun banyak, ada kemiri juga, coklat,” ujar Nurcahya. “Besok datang lagi biar ibu ajak ke ladang, foto-foto nanti kita di sana, pemandangannya bagus.”
Soal ini, Nurcahya tidaklah mengada-ngada. Dalam perjalanan pulang, dari ketinggian pedesaan di Blang Pegayon saya menyaksikan pendar-pendar lampu dari pusat kota. Seperti laiknya gugusan bitang di galaksi. Menakjubkan.
Saya menyimak setiap kata yang diucapkan Nurcahya, sambil diselingi canda tawa. Kami tidak merasa kikuk sama sekali. Nurcahya juga mengatakan, 80 persen penduduk Gayo Lues adalah suku Gayo asli, sisanya pendatang seperti Aceh, Padang, atau Jawa. Hal yang sama sebelumnya dikatakan oleh tukang becak yang membawa kami ke Bukit Cinta.
Lewat kehangatan yang diberikan Nurcahya, saya mendapat kesempatan untuk mengenakan upuh ules. Yaitu kain panjang kerawang Gayo dengan kombinasi warna kuning, hitam, dan merah, bermotifkan mata itik. Kain ini menjadi bawaan wajib atau isi talam dari pengantin pria kepada pengantin wanita, bersama seperangkat pakaian lainnya yang disebut kain selingkuh.
Pengalaman tak terlupakan berikutnya saya dapatkan dari seorang nenek yang dipanggil Mak Eda. Kami bertemu dengannya di tangga Masjid Asal. Meminjam istilah Ayu, Mak Eda adalah pop up yang membawa kami masuk jauh dalam kehangatan masyarakat Gayo.
Dia juga seorang pemasar yang luar biasa. Terbukti, usai berkenalan dengannya kami membawa pulang beberapa souvenir dan kopi Gayo sebagai oleh-oleh. Mak Eda juga memberikan kami sumpit, karung kecil yang terbuat dari anyaman pandan duri sebagai kenang-kenangan.
Lewat Mak Eda kami berkenalan dengan Ridwan, pedagang kopi yang tinggal di Kampung Arul Lemu. Kampung ini tak begitu jauh dari pusat kota. Tapi saat dibawa dengan berjalan kaki, itupun setelah kami berkeliling kota untuk mencari souvenir, perjalanan menuju rumah Ridwan menjadi cukup melelahkan. Kami justru takjub pada Mak Eda yang usianya sudah di atas 60 tahun, namun masih cukup prima.
Dia bahkan sama sekali tidak kesulitan saat harus melewati alur yang terhubung ke sungai Arul Lemu yang berhulu ke Porang, dan melintasi Kampung Penampaan di bawah sana. Sayangnya Mak Eda tak bisa menemani kami lebih lama di rumah Ridwan, karena hari sudah semakin sore.
Ketika senja semakin gelap kami meninggalkan kediaman Ridwan dengan membawa sepotong cerita yang berkesan. Di ufuk barat semburat jingga perlahan memudar. Pucuk-pucuk pohon kini dikulum gelap. Kami bergegas disertai lambaian Ridwan yang mengantar hingga ke persimpangan. Perlahan saya kembali merasakan hawa dingin yang menusuk-nusuk.[]

Jumat, 06 April 2018

Senyum Senja Mentari Pagi

By On April 06, 2018


"Kalau kita punya anak, aku yang berikan nama, ya?" kataku pada Zenja di suatu pagi.

"Boleh."

"Aku sudah siapkan dua nama lho."

"Wow. Mantab."

Hingga pagi itu Zenja masih menuliskan mantap dengan 'b' bukan dengan 'p'. Biasanya aku selalu protes, tapi bukankah cinta adalah pemakluman? Biarkan saja dia menulis tanpa tertib bahasa seperti itu.

"Kalau laki-laki aku akan beri nama Senyum Senja. Kalau perempuan Mentari Pagi," kataku pada hari yang lain.

"Nama Islam saja. Nama itu doa."

"Itu kan juga doa, Sayang."

"Ya, boleh aja nggak dilarang. Kalau mau berpuisi ikuti Jalaluddin Rumi."

"Aku suka nama berbahasa Indonesia yang puitis. Senyum Senja itu representasi dirimu, dan Mentari Pagi itu aku."

"Aku ingin punya baby, kalau kita punya bayi kembar tiga seru ya."

"Iya, seru."

Lalu kami sibuk berbincang tentang bayi kembar. Kerepotan seorang ibu. Kerepotan seorang ayah. Apa yang anak-anak panggil untuk kami sebagai orang tuanya nanti. Dan di setiap ujung perbincangan kami tak lupa mengatakan, "semoga Tuhan memudahkan cinta kita ya, Sayang."

Zenja adalah teman ribut yang asyik, teman untuk merengek-rengek yang selalu hangat. Sekaligus teman untuk merajuk yang menyebalkan.

Perihal nama-nama itu, memang sudah lama terpikirkan. Eh, tapi 'Pagi' yang melengkapi 'Mentari' baru saja terpikir dalam beberapa hari ini. Setelah aku tergila-gila pada Pagi yang hangat, yang riuh, yang sejuk seperti embun. Pagi dan Senja. Senja dan Pagi. Senja yang selalu tersenyum, dan Pagi yang selalu hangat.[]

Minggu, 04 Maret 2018

Selamat Pagi, Cinta

By On Maret 04, 2018

Selamat pagi, Cinta.
Pagi juga buat mu, Cinta.
Adakah alasan untuk tidak menyapamu pagi ini? Aku ingin selalu menjadi burung yang pertama kali berkicau untukmu di pagi hari, meski aku selalu kalah cepat dengan mentari yang terbit di kedua matamu.
Aku tahu kamu paling pandai merayu, kamu tidak akan pernah kalah, walaupun kamu secara cepat, aku akan tetap memenangkan kamu dari pada mentari.
Aku ingin selalu memberimu ucapan selamat pagi dengan selembar surat cinta sebelum kau beranjak pergi. Aku ingin kau turut merasakan uap gebu di dalam ruang jiwaku yang berkatup-katup. Setiap katupnya, sudah penuh dengan cerita tentang aku dan kamu; kita.
Aku juga merasakan, kadang uap kamu berlebihan sehingga menjadi embun dan membuat hujan yang terasa panas
Bagaimana suasana hatimu pagi ini, lebih bahagiakah? Ataukah lebih hangat dari hari-hari sebelumnya? Atau, mungkin saja tetes embun terakhir di pagi ini telah hinggap di hatimu?
Aku sangat bahagia atas suratmu yang sangat romantis
Bisakah kau ceritakan, apakah seseorang pagi ini menghidangkanmu secangkir kopi atau teh? Jika iya, pastinya itu menjadi bekal semangat yang menyenangkan untuk sepanjang hari bukan? Aku terjaga hingga lewat tengah malam demi memikirkan itu. Ada seliris cemburu mengiris hatiku. Membuat hatiku sedikit pedih, dan mataku sedikit perih.
Aku sudah biasa membuat kopi sendiri, apa lagi sudah dua hari tidurku sangat minim, terima kasih untuk semuanya dan selalu mencintaiku
Apa kau ingin tahu seperti apa suasana hatiku pagi ini? Aku bahkan tidak bisa melukiskan seperti apa perasaanku sendirii. Mungkin kau lebih tahu, melebihi banyak hal yang kuketahui tentang diriku sendiri. Tapi kau tidak perlu cemas, aku tahu bagaimana menghibur diriku sendiri. Cinta dan rindu-rinduku yang abstrak adalah racun, sekaligus penawar atas luka bertahun-tahun.
Aku tahu kamu, sepertinya aku lebih tahu kamu dari pada engkau mengetahui dirimu sendiri, aku selalu tahu apa yang kamu pikirkan, terima kasih atas penantianmu dan mencintai aku, jangan pernah berputus asa, karena Dia yang di atas sana selalu memberikan kita yang terbaik, kadang kita merasa lelah, dan di situ letak kekuatan kita akan bertambah, terima kasih atas penantianmu, cinta yang banyak dariku, peluk cium untukmu.
Maaf atas segala hal yang tidak menyenang kan kamu.
Let's take coffee first and relax
27 Februari 2018

Senin, 26 Februari 2018

Luka Angin

By On Februari 26, 2018


Siapa bisa menerjemah luka angin karena tertusuk beku?

Oh, jangan menyaru sebagai daun, hanya untuk memata-matai gerak-gerik angin

Jangan pula menyaru sebagai hujan, hanya untuk tahu apakah angin punya air mata

Kamis, 22 Februari 2018

Memoar Matahari Terbit #2; Gadis Kecil di Keranjang Rotan

By On Februari 22, 2018
motor@bukalapak.jpg
Keranjanganya bukan model seperti ini, tapi cukuplah untuk mengilustrasikannya. Foto diambil dari bukalapak.com
Tahun 1990
Usiaku belum genap lima tahun ketika itu. Tidak banyak yang bisa kuingat pada masa-masa sebelum itu. Kecuali beberapa potong fragmen saja. Misalnya, di suatu sore yang cerah, Ibu memakaikan aku baju terusan kembang selutut. Berwarna putih dengan kombinasi hijau. Rambut panjangku dikucir dua. Aku menonton permainan voli di halaman rumah Wak Baren yang luas.
Namun ada satu fragmen yang tidak mungkin kulupakan. Kenangan itu telah berubah menjadi piringan hitam, kapan pun aku ingin memutarnya, tinggal kutekan tombol on di memori ingatanku. Lalu muncullah gambar-gambar bergerak tentang sepasang gadis kecil di dalam keranjang rotan di jok sepeda motor Ayah. Kepala mereka menjulur-julur. Mirip kepala kura-kura yang melongok-longok keluar dari cangkang untuk melihat situasi. Gadis kecil di dalam keranjang itu adalah aku dan sepupuku, Rina.
Keranjang itu biasa digunakan Ayah untuk menggalas. Biasanya yang diisi di sana cabai atau biji kakao. Tapi hari itu digunakan untuk mengangkut manusia-manusia mungil. Sementara yang lainnya keluar dari kampung sambil berjalan kaki.
+++
ilustrasi liputan6.jpeg
Ilustrasi diambil dari liputan6.com
Pagi menjelang siang hari itu, aku sedang asyik bermain ayunan di samping rumah. Tiba-tiba datang Kak Isah dan Bang Pudin, lari terbirit-birit dengan keringat jagung membulir di wajah mereka. Melihat kondisi mereka aku jadi ketakutan. Panik. Pun Ibu, yang sedang memegang pisau mengupas mancang untuk kami. Kak Isah adalah sepupuku, anak kedua dari kakak Ayah. Sedang Bang Pudin adalah anaknya Wak Ren. Masih kerabat jauh kami juga.
"Rumah sekolah dibakar!"
Kata Kak Isah masih terngiang-ngiang di telingaku sampai hari ini. Aku berusaha mengingat-ingat, beberapa malam terakhir rumah kami selalu ramai. Ada topik-topik tertentu yang dibicarakan sambil berbisik-bisik. Orang tua kami sepertinya memang sudah menduga-duga sesuatu. Dan kabar rumah sekolah yang dibakar itu adalah puncak dari desas-desus itu.
Siapa pun yang pernah tinggal di Aceh pasti tahu, tahun 1989 adalah awal dari pemberlakuan Darurat Operasi Militer di Aceh. Operasi ini dibentuk untuk memburu gerakan sipil yang ketika itu disebut Gerakan Pengacau Keamanan oleh pemerintah. Hari-hari setelah itu menjadi hari-hari yang gelap bagi rakyat Aceh. Di setiap pelosok terdapat pos tentara. Bahkan sudah dimulai jauh dari sebelum itu.
Ibu segera menyuruh Kak Isah dan Bang Pudin ke Lhok Jeuruweng. Di sanalah ladang-ladang warga Lorong Pelita ketika itu digarap. Mereka membuka kebun, menanam cabai, kacang kuning, sayuran. Ayah, Wawak, dan beberapa warga bertani di sana. Aku menduga Kak Isah dan Bang Pudin pastilah menggunakan jurus terbangnya hari itu. Karena jarak dari desa ke Lhok Jeuruweng lumayan jauh.
Ibu segera mengemasi barang-barang. Cuma baju, karena tidak ada aset penting lainnya yang bisa diselamatkan.
Itulah pengalaman pertamaku menjadi pengungsi. Di usia yang belum genap lima tahun. Di usia yang seharusnya aku masih mengorek-ngorek tanah mencari binatang undur-undur dengan tenang tanpa waswas. Kami mengungsi ke kampung nenek di Keude Dua.
Dari dalam keranjang, dengan perasaan senang --karena bisa naik motor-- bercampur takut, aku berusaha melihat ke sekeliling. Setelah melewati turunan bukit kecil di depan rumah Yahwa Leman, sampailah kami di depan SD N Padang Peutua Ali di Lorong Pelita. Saat itulah mulut kecilku terganga. Ketakutanku menjadi-jadi. Jantungku berdegup-degup. Aku ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Aku melihat gumpalan asap hitam menebal seperti melesak-lesak mencari jalan keluar dari dalam gedung sekolah. Lidah api menjulur-julur. Merah!
Kampung Keude Dua, yang menjadi tujuan kami untuk menyelamatkan diri ketika itu, pun tak jauh lebih aman. Kondisinya mencekam. Sangat mencekam. Rasa-rasanya dunia tempat kami berdiri ketika itu diselimuti monster besar berjubah hitam.
Kondisi itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian suasana kampung berangsur normal. Ayah dan Ibu, dan sejumlah warga lainnya kembali pulang ke Padang Peutua Ali. Tapi setelah itu kusadari ada yang berubah dari desa itu. Separuh warganya yang berasal dari suku Jawa memilih tak kembali lagi.
Kematian Lek Momo yang tragis setelah ditembak orang tak dikenal menjadi trauma bagi mereka. Rumah-rumah mereka ditinggalkan begitu saja dalam keadaan kosong. Belakangan, beberapa di antara mereka memberanikan diri untuk pulang. Dengan harapan kondisi yang sama takkan terulang lagi.[]
Cerita sebelumnya:
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email