Enter your keyword

Senarai Cinta

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 14 Agustus 2018

Yang Lebih Kurindukan Daripada

By On Agustus 14, 2018


"Selamat pagi, Cinta."

Sayup-sayup kudengar suaramu mampir ke telingaku. Aku menggeliat. Menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali.

"Sayang?"

Kembali kudengar suaramu. Aku mengerjap-ngerjap. Mengumpulkan seluruh kesadaranku. Kutoleh ke kiri, mataku langsung menangkap berkas-berkas cahaya yang menembusi jendela kaca berlapis tirai putih dan cokelat muda.

"Sudah pagi rupanya..." aku membatin seraya menangkap sosokmu di sudut ruang.

Beberapa saat kemudian setelah mandi dan berkemas-kemas aku segera ke ruang makan. Setelah sebelumnya mendapat hadiah berupa pelukan yang hangat dan erat darimu, serta ciuman yang membuatku nyaris terbakar. Kau menyusul belakangan.

"Mau kopi?" tanyaku.

Kau menggeleng. Kau memilih jus jeruk segar dan beberapa potong sus. Sedangkan aku memilih sarapan dengan secangkir kopi, dua potong puding dan beberapa potong dadu semangka. Rasanya itu menjadi ritual pagi yang menyenangkan.

"Kita ke bawah saja," katamu sesaat setelah kita usai sarapan. "Di sana kita bisa ngobrol dengan leluasa."

"Kamu tampak lebih kurus," ujarmu semalam, sesaat sebelum kita menyusuri kota ini sambil bergandengan tangan.

"Itu karena tergerus rindu," jawabku setengah bercanda.

Kau ikut tertawa. Sangat bahagia rasanya bisa melihatmu tertawa seperti itu. Aku suka melihat senyum.

"Kita sudah lama tidak bertemu. Kamu punya cerita apa? Aku ingin mendengarnya..." suaramu bercampur dengan deru angin yang meliukkan pohon-pohon di sekitar kafe tempat kita duduk. 

"Aku hanya ingin memelukmu. Menyatukan detak jantung kita," jawabku. "ada kalanya duduk diam, saling menatap, saling bertukar senyum lebih kurindukan daripada kalimat-kalimat panjang kita."[]


Selasa, 07 Agustus 2018

Kecup Terakhirmu Itu

By On Agustus 07, 2018


Apa pun yang terjadi denganmu akan kucatat sedetail-detailnya. Jika tak mampu kunarasikan dengan baik, akan kucatat di dalam memori terbaikku. Agar kelak semua itu menjadi kenangan indah buat kita. Ya kan, Zenja?
Terima kasih untuk waktumu. Terima kasih untuk cintamu yang besar. Untuk tatapanmu yang selalu penuh gebu dan cinta. Untuk kecupan hangat yang kau daratkan di keningku. Untuk genggaman erat di jemariku. Untuk lenganmu yang bisa kugandeng dengan mesra.
Untuk langkahmu saat membersamaiku menyusuri sebagian lekuk kota ini. Untuk peluk yang menenangkan dan meredam semua emosi. Untuk ruang dan waktu yang hanya milik kita berdua. Ya, hanya milik kita berdua. Untuk kesabaranmu menghadapiku yang sering tak pernah sabar.
Aku tak pernah menghitung sudah seberapa jauh perjalanan kita. Yang kutahu jarak agar kita bisa bersama semakin pendek. Semakin singkat. Kepada Tuhan kita selalu berdoa bukan?
Setiap kali memandangmu aku selalu mendapatkan kekuatan baru. Melihat senyummu, hatiku ikut mengembang. Berubah menjadi energi besar untuk hari-hari berikutnya tanpamu. Semuanya memang tak mudah, tapi yang tak mudah itu mengajarkan kita banyak hal. Mengajarkan kita tentang apa itu bersabar.
Aku jatuh cinta (lagi) padamu, Zenja. Cinta yang tak bisa kunarasikan dengan baik. Cinta yang mengacaukan segala emosi. Cinta yang menerbitkan senyum matahari.
Januari atau Juli, kehadiranmu di kota ini selalu memekarkan bunga-bunga angsana di tepi jalan. Dan kecup terakhirmu itu, Sayang... akan kuingat hingga aku lupa bagaimana caranya mengingat.[]

Minggu, 22 Juli 2018

Kita Bergandengan Tangan

By On Juli 22, 2018


Aku memimpikanmu semalam, Zenja. Kita bergandengan tangan. Lalu berjalan beriringan. Mungkinkah kita sama-sama sibuk, sampai lupa saling menyapa, lalu mimpi mengingatkan kita?

Ah, apa pun itu, percayalah aku akan selalu menunggumu di lorong-lorong waktu yang pernah kita lalui itu. Meneguk hangatnya minuman yang kau racik dengan cinta di pagi hari. Menunggu atau memberi kabar dari dan untukmu selalu mendebarkan.

Menunggu September tiba. Rumah tempat aku berpulang. Aku boleh pergi dan mengembara sejauh-jauhnya, tetapi pada Septemberlah aku kembali. September begitu nyaman dan hangat. Karena memang di sana hati dan dirimu berada.

Tak banyak yang bisa kutuliskan. Mungkinkah kata-kata telah mengendap? Entahlah, Zenja...[]





Selasa, 29 Mei 2018

(Don't Say Good) Bye

By On Mei 29, 2018


Ada satu kata yang paling tidak ingin kudengar, yaitu bye. Dalam bahasa Inggris kosakata ini artinya selamat tinggal. Ketika seseorang mengucapkan bye padamu, kau tahu itu artinya apa? Secara harfiah dia tentu akan meninggalkanmu. Meninggalkanmu di suatu tempat yang jauh, atau meninggalkanmu dari kehidupannya.

Kau lebih suka yang mana? Kalau aku tak inginkan kedua-duanya, walaupun itu mustahil. Antara meninggalkan dan ditinggalkan tak bisa dihindari, tak bisa hanya memilih salah satunya, sama seperti datang dan pergi yang menjadi sunnatullah. Tetapi ditinggalkan dengan penegasan kata 'selamat tinggal' sungguhlah tidak mengenakkan. Itu artinya ada pintu yang tertutup, mungkin juga akan tergembok rapat. Tipis harapan untuk berharap bisa bertemu kembali.

Dalam satu fragmen hidupku, aku pernah merasakan keduanya sekaligus. Pada saat yang bersamaan aku harus meninggalkan dan juga merasakan nyerinya ditinggal. Itu terjadi ketika usiaku masih belasan tahun. Saat aku belum begitu mengenal siapa diriku sendiri. Saat aku belum bisa memaknai bahwa keduanya sangat tidak menyenangkan.

Itulah saat aku harus meninggalkan kampung halaman karena direnggut konflik. Dan saat aku ditinggalkan oleh kerabat, oleh teman-teman sepermainan. Mereka pergi ke tempat-tempat yang jauh, dan sampai sekarang tak pernah bertemu lagi. Yang tinggal cuma kenangan, ya, cuma kenangan.

Kalau saja saat itu kami sempat saling mengucapkan selamat tinggal, mungkin emosiku takkan begitu teraduk-aduk. Karena tak perlu lagi berharap untuk bertemu, cukup dengan saling berkirim doa saja. Berharap kehidupan kami bisa lebih baik setelah ditinggalkan dan meninggalkan. Selalu ada kehidupan baru yang menanti bukan?

Tapi lagi-lagi itu soal takdir, siapa yang bisa menghalau kehendak Yang Kuasa? Siapa yang bisa memprediksi kejadian besok? Ahli nujum pun tidak bisa...[]


Jumat, 18 Mei 2018

Obrolan Lezat dengan Zenja

By On Mei 18, 2018
Sie reuboh khas Aceh Rayek.


Seumur-umur belum pernah terpikir olehku untuk membuat sie reuboh, olahan daging rebus khas Aceh Besar dengan bumbu sederhana berupa cuka, kunyit, cabai rawit, merica, dan ketumbar. Bumbu-bumbu inipun aku tahu dari Zenja. Dia mengirimkannya melalui pesan Whattsapp dua hari lalu. Aku sendiri baru mengenal olahan daging ini sejak beberapa tahun terakhir, padahal sudah lama menetap di Banda Aceh. Bahkan akhir-akhir ini nama sie reuboh kian populer saja. Ini baik, pertanda citra kuliner Aceh Besar ini terus populer.

Sie reuboh diolah dari daging sapi/kerbau/kambing yang mengandung lemak yang bisa berfungsi sebagai pengawet alami. Dagingnya bisa tahan berhari-hari, kalau disimpan di kulkas mungkin bisa berminggu-minggu. Konon ketika masa perang dulu, sie reuboh ini menjadi perbekalan para pejuang Aceh saat bergerilya di hutan-hutan. Dengan cita rasanya yang sudah berbumbu, daging rebus ini bisa langsung disantap tanpa perlu diolah lagi. Paling tinggal dipanaskan saja supaya lemaknya cair. Di Banda Aceh, warung-warung makan khas Aceh Besar umumnya menyediakan hidangan ini.

Setelah dua hari lalu, hari ini perbincangan tentang sie reuboh dengan Zenja kembali terjadi. Bermula dari obrolah remeh-temeh yang kami lakukan di sela-sela aktivitas melalui perangkat teknologi. Entah mengapa tiba-tiba Zenja berceletuk kalau nanti sore sepulang kerja dia mau membuat sie reuboh. Aku takjub padanya, skill memasaknya sangat oke punya. Padahal dia bukan orang Aceh Besar, pun sudah lama sekali meninggalkan Banda Aceh ini. Selama ini aku sering mendapat kiriman foto-foto makanan olahan tangannya.

"Nanti fotoin step by step-nya ya, kalau Abang berhasil Ihan mau coba juga," ujarku.

"Abang pikir Ihan jago masak, pakai janjian pula," jawabnya bercanda.

"Ihan bisa masak, tapi kan nggak semuanya Ihan bisa."

"Masak putih bisa? Weekend nanti Abang mau masak putih dengan kentang."

"Bisa," jawabku cepat.

Padahal seumur-umur pula aku belum pernah membuat sendiri olahan daging yang satu ini. Tapi resepnya tidaklah susah-susah amat, aku sering melihat Ibu menyiapkan resep olahan daging masak putih.

"Ihan penasaran ingin cobain masakan Abang."

"Sudah pasti enak. Nanti dikasih resep-resepnya."

"Resep cinta?"

"Boleh juga."

Obrolan lezat kami berlanjut hingga beberapa saat kemudian. Setelah itu aku siap-siap untuk salat Zuhur, dan Zenja bersiap-siap menyudahi aktivitasnya kukira, hari ini ia hand over proyek, pasti sangat menyita tenaga dan pikirannya. Karena itu aku tidak merecokinya lebih banyak.

Makanan menjadi salah satu topik yang sering kami bincangkan berdua. Suatu kali Zenja mengirimkan foto olahan nasi Arab yang dibuatnya, di lain waktu ia mengirimkan foto soto Lamongan. Pernah juga ia mengirimkan video sedang membuat martabak bersama teman-teman di apartemennya. Dan sekarang aku menunggu dengan berdebar foto olahan sie reuboh made in Zenja. Kira-kira seperti apa bentuknya?

Suatu ketika aku punya kesempatan untuk menjamu Zenja di rumah. Hidangannya sederhana, hanya hidangan rumah biasa saja. Tapi Zenja makan dengan lahap dan memuji masakanku ketika itu. Aduh, aku senyum-senyum dibuatnya. Perempuan mana sih yang tidak kembang-kempis hatinya ketika dipuji pasangan. Hari setelah lebaran Idul Fitri itu, aku membekalinya dengan sekotak timphan saat ia pulang. Kata Zenja, timphan yang jumlahnya memang tidak banyak itu habis ia makan bahkan sebelum sampai ke rumah. "Timphannya enak," kata dia waktu itu. Ah Zenja... kamu memang paling bisa membuatku berbunga-bunga.

Sering kukatakan pada Zenja, nanti kalau kami sudah hidup berdua aku ingin mendedikasikan diri sebagai asistennya saja di dapur. Selebihnya aku ingin menghabiskan waktu untuk mencintainya. Hanya itu.[]

Sabtu, 28 April 2018

Nggak Janji

By On April 28, 2018


Gimana ya rasanya kalau orang yang paling kita harapkan bertemu tiba-tiba mengatakan 'nggak janji ya' saat kita mengusulkan waktu pertemuan, walaupun cuma bercanda. Pasti rasanya enggak enak banget, aku tahu gimana rasanya, karena baru saja mendapatkan jawaban seperti itu hahaha. Rasanya tuh, seperti kantong plastik yang tadinya menggelembung penuh oleh udara tiba-tiba kempes.

Kalau merujuk pada teori 'bahasa kasih' yang dibuat oleh Garry Chapmann, aku masuk dalam kategori manusia yang bahasa kasihnya adalah 'kata-kata pendukung' dan 'sentuhan fisik'. Dua hal ini akan membuat aku merasa sangat disayangi dan dicintai. Aku sangat sensitif dengan yang namanya 'kata-kata', setiap kata yang diucapkan/dituliskan oleh seseorang, tak bisa sekadar lewat begitu saja.

Makanya, ketika tadi ada seseorang yang aku sangat ingin bertemu dengannya dan dia menjawab 'nggak janji ya' saat aku menawarkan waktu temu dengannya, keinginan untuk bertemu dengannya seketika menguap. Ya, setidaknya sampai aku menuliskan ini, jangankan hasrat untuk bertemu, untuk mengobrol via pesan pun aku jadi malas.

Rasanya semua kerinduan yang sudah aku simpan selama ini menjadi enggak berarti sama sekali. Menjalin interaksi dengan manusia itu memang rumit, makanya kata Less Giblin, perlu seni. Kalau ingin dipahami ya harus memahami terlebih dahulu. Sama seperti konsep tuai tabur. Tapi untuk kali ini, dengan rasa rindu yang menggunung di hati, mendapat jawaban seperti itu, rasanya susah buatku untuk bisa 'memahami' kalau dia cuma bercanda.[]

Senin, 16 April 2018

Pesona Seribu Bukit

By On April 16, 2018

GEROMBOLAN angin yang mencuri-curi masuk lewat celah jendela minibus L300 membangunkan saya pagi itu. Udara dingin menyergap. Menyelinap menembusi jaket yang membalut tubuh. Merasuk hingga ke tulang. Bahkan, syal berbahan wol yang saya lilitkan di leher tak membantu banyak untuk memberikan rasa hangat.
Saya mengerjap-ngerjap, menghilangkan sisa kantuk yang masih melekat di pelupuk mata. Matahari belum sempurna terbit. Sekelebat pemandangan tiba-tiba tertangkap oleh indera. Sungai lebar yang berkelok-kelok di kejauhan, sawah hijau yang berundak-undak, rumah-rumah penduduk, begitu padu dengan lanskap di sekitarnya yang hijau. Pucuk-pucuk pinus menjulang di lembah dan puncak bukit.
Kabut yang masih mengapung di udara menambah kesyahduan pagi itu. Perlahan mentari mulai muncul di ufuk timur. Menumpahkan cahaya jingganya ke pucuk-pucuk pohon.
"Saya sudah sampai ke Gayo Lues.” Hati saya membatin penuh girang. Kegirangan yang sama agaknya juga dirasakan teman-teman.
Belakangan saya tahu, jalan mulus berliku-liku di tubir bukit dengan hamparan pemandangan memesona itu ada di Kecamatan Pantan Cuaca. Pemandangan yang kurang lebih sama juga terhampar di sepanjang Kecamatan Rikit Gaib, hingga ke Kota Blangkejeren, Ibu Kota Gayo Lues.
Mata yang tadi masih dihinggapi kantuk jadi membelalak. Tak peduli lagi pada rasa gigil yang serasa menggigit tulang, saya justru nekat membuka setengah kaca jendela. Mencondongkan wajah dan membiarkan angin menampar-nampar kulit. Ingin merasakan langsung hawa sejuknya yang selama ini cuma mampir di telinga. Lalu sebisa mungkin mengabadikan keindahannya lewat lensa kamera. Tapi sayang, pacu mobil yang terlalu cepat tak memberi saya kesempatan untuk itu.
Ternyata saya juga tak cukup kuat menantang suhu yang teramat dingin. Terpaksa kembali saya rapatkan kaca jendela mobil. Sudah cukup puas walau hanya memandangi kepingan keindahan itu dari balik jendela yang berkabut.
Di sisa perjalanan sebelum sampai ke Kota Blangkejeren, tak henti-hentinya saya mengucap syukur. Kagum pada keindahan daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit ini.
+++

Senin, 16 Oktober 2017 lalu, untuk yang pertama kalinya bagi saya dan kelima teman perempuan: Yelli, Seila, Cut, Ayu, dan Uswah menjejakkan kaki di tanah Gayo Lues.  Kabupaten muda yang mendiami gugusan Bukit Barisan. Yang setiap lekukannya seolah menebarkan aroma segar dari sere wangi. Salah satu komoditas unggulan daerah ini.
Kami semua berangkat dari Banda Aceh, beberapa di antaranya baru saling kenal jelang keberangkatan pada sore sebelumnya. Karena ini pengalaman pertama, tingkah kami terkadang agak norak. Tapi kami menikmatinya. Terutama saat merasakan betapa sejuknya wilayah ini. Berbeda dengan suhu Kota Banda Aceh yang panas karena berada di pesisir.
Kedatangan kami ke kota ini untuk belajar. Saya, bersama lebih dari 20 perempuan yang berasal dari Banda Aceh, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara mendapat kesempatan mengikuti Serial Perempuan Peduli Leuser yang dibuat USAID Lestari. Program beasiswa ini berakhir pada Maret 2018.
Gayo Lues sebagai salah satu zona inti Kawasan Ekosistem Leuser, dipilih USAID Lestari sebagai tempat pelaksanaan workshop pertama. Selanjutnya, pada November nanti workshop yang kedua akan digelar di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Sesuai arahan panitia kami sudah tiba sejak Senin pagi, dengan asumsi sisa hari itu akan kami gunakan untuk beristirahat. Tentu saja agar saat workshop dimulai esok harinya kami sudah segar dan siap menerima informasi. Tapi, rasanya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke sana, menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam dari Banda Aceh, hanya untuk tidur di hotel.
Sekitar pukul sembilan, usai check in kami memutuskan mencari sarapan. Walaupun semalam sempat mengisi lambung dengan martabak di Pante Raya, Bener Meriah tapi sepagi itu perut sudah minta diisi lagi. Mungkin karena dingin, atau karena penasaran ingin mencicipi kuliner khas Gayo Lues. Rachmi, peserta dari Aceh Selatan yang juga baru tiba bergabung dengan kami.
Rupa-rupanya mencari sarapan di sana tak semudah yang kami bayangkan. Dari Hotel Mulia, tempat kami menginap di Jalan Kuta Panjang, kami harus berjalan kaki hingga ke Jalan Kolonel Muhammad Din. Tak begitu jauh.  Sebuah warung dengan nama penyanyi terkenal Syahrini menjadi tempat perhentian.
Di warung ini saya memilih menu belut goreng dan ikan mas acar. Ikan air tawar memang menjadi menu andalan di warung-warung di daerah ini. Maklum, lokasinya yang sangat jauh dari pantai, tentu saja tak mudah menemukan ikan laut di sini. Namun di hari terakhir di Blangkejeren, saat berkeliling pasar tradisional di Kampung Durin, saya melihat seorang pedagang ikan menjajakan ikan tongkol.
+++

Setelah memekarkan diri dari Aceh Tenggara pada 2002 silam, Gayo Lues terus bergerak menuju kabupaten yang mandiri. Posisinya yang berada di gugusan Bukit Barisan tentunya menjadi daya jual yang luar biasa. Ditambah sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser. Dua hal ini saja sudah membuat Gayo Lues begitu memikat. Terutama bagi para penikmat keindahan lanskap alam dan peneliti lingkungan.
Belakangan tari saman yang berasal dari Gayo Lues, ditetapkan menjadi warisan dunia takbenda oleh UNESCO pada 2012 silam. Hal ini semakin menjadikan Gayo Lues bak mercusuar yang menarik perhatian dari seluruh penjuru mata angin. Lapangan Seribu Bukit menjadi saksi dua event saman massal yang digelar pada 2014 dan Agustus 2017.
Bagi saya pribadi, setiap jengkal tanah Gayo Lues ini adalah keindahan.  Beberapa lokasi wisatanya sudah akrab di telinga. Sebut saja Bukit Cinta di Tenggulun, dataran tinggi Genting di Kecamatan Pining yang berbatasan dengan Aceh Timur, dan objek wisata Kedah yang menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser di Gayo Lues. Dan masih banyak objek wisata lainnya yang tersebar di sebelas kecamatan.
Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat main-main ke Bukit Cinta dan Genting. Plus mengunjungi Masjid Asal yang sudah berusia delapan abad di Kampung Penampaan, Blangkejeren di hari terakhir. Setidaknya, masih ada alasan bagi saya untuk kembali mengunjungi Gayo Lues di lain waktu.
Menuju ke kabupaten ini bisa ditempuh dari Aceh Tengah, maupun dari Aceh Tenggara dengan pintu masuknya dari Sumatera Utara. Hanya saja jalur lintas ke Aceh Tengah baru dilalui angkutan umum setelah konflik antara GAM dan Pemerintah RI berakhir. Kondisi ini membuat Gayo Lues pernah menjadi wilayah yang sangat terisolir di Aceh.
Lima Daerah Aliran Sungai yang ada di Gayo Lues, yaitu DAS Alas, Tamiang, Perlak, Jambo Aye, dan Kuala Tripa menjadi pemasok sumber air ke belasan kabupaten. Ini membuktikan, meski Gayo Lues bagi sebagian kita seolah-olah berada di ‘negeri asing’, namun sangat krusial.
Kehangatan dan keramahtamahan orang Gayo menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Kesan ini saya dapatkan setelah bertamu ke rumah keluarga Nurcahya dan Hasan di Blangbengkik, Kecamatan Blang Pegayon. Putri mereka, Eva, adalah teman kuliah Yelli saat sama-sama menjadi mahasiswa di Unsyiah. Eva telah berbaik hati membawa kami ke Genting. Sebagai gantinya saya dan Yelli –sembari memulangkan sepeda motor- bertamu ke rumah Eva.
Nurcahya, di usianya yang sudah paruh baya masih terlihat muda dan bersemangat. Cerita-cerita mengenai keunikan dan kekhasan Gayo Lues lebih banyak mengalir dari mulutnya. Berbeda dengan suaminya yang agak pendiam. Hasan hanya menimpali obrolan kami sesekali saja.
“Kalau di Dabun Gelang tempat anakku lewati tadi, banyak sere wangi di sana. Kalau kopi banyak tumbuh di Pantan Cuaca. Kalau di daerah sini sayur-sayuran pun banyak, ada kemiri juga, coklat,” ujar Nurcahya. “Besok datang lagi biar ibu ajak ke ladang, foto-foto nanti kita di sana, pemandangannya bagus.”
Soal ini, Nurcahya tidaklah mengada-ngada. Dalam perjalanan pulang, dari ketinggian pedesaan di Blang Pegayon saya menyaksikan pendar-pendar lampu dari pusat kota. Seperti laiknya gugusan bitang di galaksi. Menakjubkan.
Saya menyimak setiap kata yang diucapkan Nurcahya, sambil diselingi canda tawa. Kami tidak merasa kikuk sama sekali. Nurcahya juga mengatakan, 80 persen penduduk Gayo Lues adalah suku Gayo asli, sisanya pendatang seperti Aceh, Padang, atau Jawa. Hal yang sama sebelumnya dikatakan oleh tukang becak yang membawa kami ke Bukit Cinta.
Lewat kehangatan yang diberikan Nurcahya, saya mendapat kesempatan untuk mengenakan upuh ules. Yaitu kain panjang kerawang Gayo dengan kombinasi warna kuning, hitam, dan merah, bermotifkan mata itik. Kain ini menjadi bawaan wajib atau isi talam dari pengantin pria kepada pengantin wanita, bersama seperangkat pakaian lainnya yang disebut kain selingkuh.
Pengalaman tak terlupakan berikutnya saya dapatkan dari seorang nenek yang dipanggil Mak Eda. Kami bertemu dengannya di tangga Masjid Asal. Meminjam istilah Ayu, Mak Eda adalah pop up yang membawa kami masuk jauh dalam kehangatan masyarakat Gayo.
Dia juga seorang pemasar yang luar biasa. Terbukti, usai berkenalan dengannya kami membawa pulang beberapa souvenir dan kopi Gayo sebagai oleh-oleh. Mak Eda juga memberikan kami sumpit, karung kecil yang terbuat dari anyaman pandan duri sebagai kenang-kenangan.
Lewat Mak Eda kami berkenalan dengan Ridwan, pedagang kopi yang tinggal di Kampung Arul Lemu. Kampung ini tak begitu jauh dari pusat kota. Tapi saat dibawa dengan berjalan kaki, itupun setelah kami berkeliling kota untuk mencari souvenir, perjalanan menuju rumah Ridwan menjadi cukup melelahkan. Kami justru takjub pada Mak Eda yang usianya sudah di atas 60 tahun, namun masih cukup prima.
Dia bahkan sama sekali tidak kesulitan saat harus melewati alur yang terhubung ke sungai Arul Lemu yang berhulu ke Porang, dan melintasi Kampung Penampaan di bawah sana. Sayangnya Mak Eda tak bisa menemani kami lebih lama di rumah Ridwan, karena hari sudah semakin sore.
Ketika senja semakin gelap kami meninggalkan kediaman Ridwan dengan membawa sepotong cerita yang berkesan. Di ufuk barat semburat jingga perlahan memudar. Pucuk-pucuk pohon kini dikulum gelap. Kami bergegas disertai lambaian Ridwan yang mengantar hingga ke persimpangan. Perlahan saya kembali merasakan hawa dingin yang menusuk-nusuk.[]

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email