Enter your keyword

Senarai Cinta

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Sabtu, 11 November 2017

Seseorang Bertanya tentang Zenja

By On November 11, 2017

Seseorang bertanya; mengapa tidak pernah kau tag Zenja di status-statusmu yang puitik?

Aku tak ingin menjawab. Tapi seseorang itu terus mendesak. "Aku penasaran," ucapnya.

"Tidak semua statusku kutujukan untuk Zenja. Dalam sepuluh status mungkin hanya satu dua yang benar-benar kutujukan, atau terinspirasi dari Zenja. Selebihnya bisa dari dan untuk siapa saja," jawabku kemudian.

"Mengapa begitu?" ia bertanya lagi.

Kali ini, pepatah diberi hati minta jantung benar adanya. Tapi demi sorot matanya itu aku berbaik hati menjawab.

"Jika duniaku hanya tertuju kepada Zenja, betapa sempitnya hidupku. Sedangkan aku ingin punya kehidupan yang seluas kehidupan itu sendiri."
"Wow... Bagaimana caranya?"

Hahaha. Aku tergelak. Dia bertanya lagi. Aku enggan menjawab. Pertanyaan yang terjawab adalah bibit untuk pertanyaan baru. Tumbuhnya seperti diberi mantra. Dalam sekali tarikan napas.

"The last quest," katanya membujuk. Matanya mengerjap-ngerjap jenaka.

"Caranya adalah dengan berikhtiar untuk tidak mengorek-ngorek informasi tentang kehidupan orang lain."

Mata yang berbinar itu tiba-tiba padam.[]

*Status Facebook 10 November 2017

Selasa, 07 November 2017

Menyeduh Narasi Dalam Secangkir Kopi

By On November 07, 2017
Tampilan blog saya

SETELAH menunggu sekitar sepuluh menit, kopi yang kupesan akhirnya terhidang juga. Semerbak aroma kopi Gayo seketika menyerbu indra penciumanku. Merasuki otak. Tak berselang lama setelah aku menyeruputnya, kantuk yang tadi masih hinggap di pelupuk mata rasanya menjadi luruh seketika. Ini memang hanya karena faktor sugesti saja. Tapi setidaknya setelah membaui aroma kopi, ide-ide yang ada di kepala lebih mudah dituangkan menjadi narasi.
Kopi dan narasi adalah dua hal yang sangat kugilai. Entah dari mana 'hal gila' ini kuwarisi. Sebab ayah dan ibuku bukanlah penikmat kopi, mereka juga tidak pernah bergelut dengan kata-kata.
Aku tak pernah lupa bersyukur untuk hal ini. Melalui hobi yang kulakoni sejak belasan tahun silam ini, aku lebih mengenal diriku sendiri. Aku menjadi seperti apa yang aku inginkan.
+++
Saat aku menuliskan catatan ini, ingatanku seketika terlempar ke masa lebih dari dua puluh tahun silam. Aku masih seorang gadis kecil yang tomboy. Orang tuaku tinggal di desa dengan topografi perbukitan di Aceh Timur sana. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah kebun kelapa dan kakao milik warga setempat. Dengan topografi desa yang seperti ini, kesulitan air bersih menjadi makanan sehari-hari. Terutama di musim kemarau panjang.
Tapi bagi kami yang masih anak-anak, musim kemarau tetap memberikan keasyikan tersendiri. Saban sore kami harus menempuh jarak berkilo-kilometer untuk mandi. Anak-anak di desa kami sangat kompak, termasuk dalam hal mandi bersama. Inilah yang selalu kami tunggu-tunggu.
Pukul empat sore kami mulai bergerak menuju kaki bukit. Berjalan bergerombol mengikuti jalan setapak di antara kebun-kebun warga. Kadang-kadang kami berpapasan dengan babi hutan. Tapi itu tidak membuat kami takut. Karena babi-babi itu juga akan lari terbirit-birit mendengar sorak-sorai kami yang riuh. Pulangnya kami membawa air dalam jeriken isi lima liter, sebagai bekal mandi besok pagi.
Suatu sore, dalam perjalanan pulang dari kaki bukit di musim kemarau, seperti biasa kami melewati jalan setapak yang berada di antara kebun-kebun warga. Kaki-kaki kecil kami kembali dipenuhi bunga-bunga rumput. Meski sudah mandi, keringat kembali membanjiri tubuh karena kelelahan naik turun bukit. Suara sandal jepit berdecit-decit saat bergesekan dengan telapak kaki yang licin. Tapi tidak sekalipun itu menjadi sumber keluhan kami.
Tidak seperti biasa, aku malah sibuk dengan imajinasiku sendiri. Sama sekali tidak terusik dengan keriuhan dan keusilan teman-teman. Aku membayangkan masa-masa ketika aku sudah besar nanti, jadi apa aku, tinggal di mana aku. Hatiku saat itu mengikrarkan; kelak ketika aku dewasa aku ingin menjadi seseorang yang berbeda dari teman-temanku.
+++
Terus belajar mengasah kemampuan diri

Kembali kuseruput kopi pesananku yang masih mengepulkan asap. Kombinasi pahit dan manis memberikan sensasi tersendiri di lidah. Kuedarkan pandangan ke sekeliling warung, sekadar untuk merileksasi mata setelah lama menatap layar laptop.
Toko dua pintu yang disulap jadi warung kopi ini tampak sepi . Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di tiga meja terpisah, aku salah satunya. Belakangan datang dua wanita muda yang duduk di dekat meja kasir. Suasana yang lengang membuatku sangat nyaman untuk menulis.
Bertahun-tahun setelah sore di jalan setapak itu, aku menyadari kini aku menjadi sosok yang sangat berbeda dengan teman-temanku dalam hal pekerjaan. Apakah impian di masa kecilku itu telah terwujud? Aku bilang iya, sebab tidak ada satu pun teman masa kecilku yang pekerjaannya berhubungan dengan literasi, seperti yang aku lakoni. Hobi menulis yang terus kuasah ini telah menjadikanku berbeda dengan mereka. Setidaknya aku kini menjadi lebih terkenal dibandingkan mereka ha ha ha.
Ngomong-ngomong soal hobi, aku memaknainya laiknya seperti seorang kekasih saja. Berlebihan? Ah, tidak juga. Bukankah kita rela melakukan dan mengorbankan apa saja demi menyenangkan hati kekasih kita? Itu juga yang kulakukan untuk menyalurkan hobi menulisku yang 'kumatnya' tak pernah kenal waktu.
Aku belum lupa bagaimana rasanya jari-jari tangan ini ‘keriting’ dan pegalnya minta ampun karena harus menulis di atas kertas. Itu zaman saat aku belum memiliki gawai untuk menulis. Hampir setiap malam aku bergadang hanya untuk membuat satu dua catatan, puisi atau cerpen.
Lalu besoknya atau saat punya waktu luang, aku ke warung internet untuk menuliskan ulang sebelum dikirim ke media massa atau sekadar untuk diposting di blog. Tapi hal itu justru membuatku bahagia dan senang. Terutama ketika ada orang-orang yang mengapresiasi karya tulisku.
Hobi menulis ini pula yang mengantarku menjadi seorang pekerja media seperti saat ini. Sebuah pekerjaan yang membahagiakan, sebab aku bekerja untuk menyalurkan hobiku. Sebuah pekerjaan yang awalnya sempat ditentang oleh ibu. Kata ibu suatu ketika, menjadi perempuan itu 'jangan aneh-aneh', bekerja kantoran saja, syukur-syukur bisa jadi PNS karena itu jauh lebih fleksibel. Kalau jadi wartawan, kapan di rumahnya?
Tapi aku ---meski pendiam namun keras kepala- tetap bersikukuh pada keputusan yang sudah kuambil. Buatku ini tantangan, bukan cuma soal sekadar menyalurkan hobi menulis. Tapi bagaimana menjadikan hobi ini bermanfaat bagi orang lain. Bisa menjadi 'suara' bagi orang lain. Karena ada banyak persoalan yang tak hanya cukup secara lisan saja untuk menyuarakannya, tapi harus lewat tulisan. Karena berangkat dari hobi ini pula, aku sangat menikmati pekerjaanku.
Bersepeda ke Glee Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar

Memiliki hobi menulis memiliki kesan tersendiri. Banyak teman atau bahkan orang yang tak dikenal memercayakan aku untuk berbagi rahasia mereka. Sebuah pengalaman saat masih SMA misalnya, seorang teman tiba-tiba memintaku untuk menuangkan isi kepalanya dalam sebuah diari. Waktu itu saat dunia daring belum booming seperti sekarang, diari menjadi alternatif jitu untuk menuliskan semua perasaan penulisnya.
"Tapi harus siap dalam malam ini juga," kata temanku dengan suara bergetar.
"Siap malam ini? Diari ini tebal lho.." jawabku kaget.
"Iya, karena besok akan kuberikan pada si A."
Oow... pahamlah aku sekarang. Ternyata temanku ini mau memberikan diari itu kepada mantan kekasihnya yang baru putus beberapa hari lalu. "Aku ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya..." kata si teman lagi dengan mata berkaca-kaca.
Jadilah malam itu kami (aku) menulis hingga larut malam. Temanku itu bercerita, lalu aku merangkum ceritanya dan menuliskannya menjadi narasi yang puitik dan melankoli. Tujuannya cuma satu, agar si mantan kekasihnya itu merasa menyesal dan bersalah karena telah memutuskan dia. Besoknya aku juga yang ditugaskan untuk memberikan diari itu pada mantan kekasih temanku itu, yang temanku juga. Dan ternyata cowok itu benar-benar menyesal. Dia minta balikan, tapi temanku ini tidak mau. Di situ aku merasa misiku telah berhasil ha ha ha.
Di lain waktu, seorang ibu muda yang berdomisili di pulau seberang tiba-tiba mengirimkan pesan melalui Facebook. Sesaat setelah aku menayangkan sebuah cerita tentang cinta segitiga di blogku. "Cerita hidupku nggak kalah satirenya dengan kisah orang yang ada dalam cerita itu, maukah kamu menuliskannya?"
Permintaan itu sejenak membuatku terkesima. Tak lama kemudian perempuan itu menumpahkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam. "Aku ingin perempuan-perempuan di luar sana tidak mengalami kejadian seperti yang menimpaku," katanya di ujung cerita.
Mungkin terkesan sederhana ya? Hanya menuliskan apa yang kulihat dan kurasakan menjadi sebuah tulisan. Tapi itu menjadi sangat luar biasa rasanya ketika melihat mata yang penuh binar, karena kita menuliskan cerita tentang mereka dengan baik dan apik.
Buatku pribadi, menulis adalah menyempurnakan rasa. Saat lisan tergagap dalam menyampaikan sesuatu, maka tulisan akan mengambil alih pekerjaan itu. Lalu ia mengabadikannya bersama waktu. Atau serupa kopi, yang tak hanya menjadikan candu tapi juga menggairahkan.[]

Minggu, 05 November 2017

Menjaga Leuser, Menjaga Sumber Air

By On November 05, 2017

Terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa Perempuan Peduli Leuser merupakan satu hal yang sangat saya syukuri. Walaupun workshopnya baru berlangsung sekali, namun banyak pengetahuan baru yang saya dapat sehingga membuka lebar-lebar cakrawala berpikir saya. Khususnya mengenai Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menjadi wilayah sentral kerja USAID Lestari di Aceh.
Menyebut Leuser, tentu bukan nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Aceh. Wujudnya sebagai gunung dengan ketinggian 3.404 mdpl menjadikannya sebagai gunung tertinggi di Aceh dan tentunya menjadi primadona. "Digunjingkan" semua orang terkhusus para pecinta alam dan aktivis lingkungan. Bagi seorang pendaki gunung, bisa menapakkan kakinya di puncak Leuser yang misterius adalah kebahagiaan tak terdefinisi. Nyatanya menaklukkan Leuser memang tak mudah.
Leuser kian masyur ketika pemerintah pada 1980 menabalkan namanya sebagai Taman Nasional Gunung Leuser yang mencakup Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Tamiang. Termasuk sebagian wilayah Sumatera Utara meliputi Kabupaten Dairi, Karo, dan Langkat. (wikipedia)
Kita, masyarakat di Provinsi Aceh, patut berbangga akan hal ini. Leuser, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser adalah milik seluruh umat yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup manusia. Tak hanya sebagai penyedia oksigen yang kita hirup setiap kali menarik nafas, Leuser adalah cembung air bagi kita.

Maka menjaga Leuser adalah tugas dan tanggung jawab semua orang, bukan hanya masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan saja. Itulah pesan tersurat yang disampaikan Bang Ivan Krisna, Koordinator USAID Lestari Aceh, dalam serial workshop pertama pada pertengahan Oktober 2017 di Blangkejeren, Gayo Lues.
Secara gamblang Bang Ivan menjelaskan, Gayo Lues misalnya, sebagai salah satu kabupaten yang menjadi inti dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) saja memiliki lima Daerah Aliran Sungai (DAS) besar yang menjadi pemasok air bagi 13 kabupaten. Kelima DAS itu adalah DAS Alas, Tamiang, Perlak, Jambo Aye, dan Kuala Tripa. Begitu juga dengan Aceh Tenggara yang memiliki DAS besar pemasok sumber air ke wilayah tetangganya. Bisa dibayangkan jika kawasan ini rusak? 
Sayangnya, sungai-sungai itu debit airnya terus menyusut. Sejalan dengan perusakan hutan yang membabi buta. Namun tidak dibarengi dengan peremajaan hutan atau reboisasi. 
Apakah memang sama sekali tidak ada yang berusaha menyelamatkan hutan? Ada, tentu saja ada. Tetapi jumlah mereka tentu bisa dihitung dengan jari. Itupun dengan imbalan yang hanya bisa diharapkan kepada Tuhan saja sebagai pemilik semesta. 
Dengan luas mencapai 2,6 juta hektar, KEL juga memiliki fungsi lain sebagai sumber mataha pencarian warga, perlindungan bencana, jasa lingkungan, hingga penyerap karbon.
Dihuni Lima Spesies Kunci
Keistimewaan lainnya Leuser adalah kaya akan flora dan fauna yang selalu mengundang rasa penasaran bagi peneliti. Berdasarkan lembar informasi yang saya dapatkan dari USAID Lestari, lebih dari 4.500 spesies tanaman tumbuh di kawasan ini, ada 382 jenis burung, 350 spesies serangga, 92 spesies melata, dan 81 spesies ikan.
Angka ini sama dengan 45% dari estimasi spesies tanaman di Indo - Malaya Barat, 85 % estimasi total spesies burung sumatera dan 54% estimasi hewan darat di Pulau Sumatera, ada di Leuser. Sungguh, kita akan kekurangan kosa kata untuk menggambarkan betapa luar biasanya karunia Allah yang dititipkan di bumi Aceh ini.
Leuser juga menjadi rumah bagi lima spesies kunci yaitu gajah, orangutan, harimau, beruang, dan badak. Sayangnya hewan-hewan ini semuanya terancam punah. Hewan-hewan itu dijadikan komoditas bernilai tinggi. 
Padahal, seperti kata Bang Ivan, keberadaan hewan-hewan ini adalah pelengkap siklus kehidupan itu sendiri. Gajah misalnya, berperan penting dalam proses penyebaran biji-biji tumbuhan. Meminjam istilah Bang Ivan, disebut dengan suksesi di alam.
Sayangnya manusia --yang diutus sebagai khalifah di bumi-- justru tak bisa mengaplikasikan perannya dengan baik. Manusia sering salah dalam melakukan perencanaan ekonomi, sehingga tidak bijak dalam mengelola hutan sesuai fungsi dan keberadaannya. 
Tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah niat baik bukan?[]
Ket foto: 
1. Aliran air dari pegunungan di Kecamatan Dabun Gelang, menuju ke Kecamatan Pining, Gayo Lues. @ihansunrise
2. Kami beberapa peserta Perempuan Peduli Leuser main-main ke objek wisata Genting di Kecamatan Pining, Gayo Lues @ihansunrise

Selasa, 10 Oktober 2017

Saturday with My Boy Bike

By On Oktober 10, 2017

BERSEPEDA kini menjadi aktivitas baru yang sangat menyenangkan buatku. Selain rutin berlatih aikido dua kali seminggu, bersepeda masuk dalam daftar aktivitas mingguan yang kulakukan. Terutama di akhir pekan dan waktu-waktu senggang. Alhasil kegiatan berlari yang sebelumnya juga rutin kulakukan terpaksa dipending dulu untuk waktu yang tidak terbatas.
Karena susah menyocokkan waktu dengan teman-teman, jadinya aku lebih sering bersepeda sendirian. Teman-teman di komunitas selalu gowes bareng di hari Minggu, sementara aku pada hari itu malah kerja. Jadinya belum sekalipun niat gowes bareng mereka terwujud sampai hari ini. Kalau ingin bersepeda dengan rute yang jauh aku harus melakukannya di hari Sabtu, karena hari itu aku libur.
Setelah sebelumnya sempat bikin janji dengan dua teman untuk bersepeda bersama di Sabtu pagi, eee.... lagi-lagi aku harus gowes sendirian. Teman yang satu malamnya harinya terpaksa membatalkan karena ibunya datang dari kampung. Mira juga membatalkan karena ada acara di kampus. Karena memang sudah diniatkan untuk gowes, aku tetap bergerak.
Kali ini aku menjajal rute menuju arah matahari terbit. Pukul delapan pagi aku mulai bergerak dari markas di Peulanggahan, Banda Aceh menyusuri jalanan kota yang lengang. Setidaknya cukup nyaman saat harus melewati Jalan Teungku Chik Ditiro yang sedang ada proyek pembangunan jalan layang. Untuk keluar dari Kota Banda Aceh aku memilih menyusuri jalan kampung di sepanjang bantaran Krueng Aceh. Debit air sungai terlihat lebih banyak dari biasa dan warnanya kecokelatan.
Sampai di Lamteungoh, lewat bundaran Lambaro, aku memutuskan mampir di rumah Kak Syarifah Aini. Teman sesama blogger dan juga anggota Forum Aceh Menulis (FAMe). Ide ini muncul tiba-tiba di tengah perjalanan saat aku berhenti sebentar di Pagar Air untuk sarapan. Selain untuk menyambung silaturrahmi, bisa sekalian istirahat kan? Di rumah Kak Aini aku disuguhi secangkir kopi. Dalam obrolan singkat itu kami mendiskusikan dua hal yaitu tentang buku dan disleksia.
Setelah kopi habis dan obrolan pun dirasa cukup, aku berpamitan setelah sebelumnya melihat-lihat kelinci di kandang samping. Kak Aini ini adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran Hewan dan sangat suka pada kelinci. Bersama suaminya Bang Yudi, ia berternak kelinci. Sekali waktu saat buka puasa bersama ia membawa kelinci rendang. Dan ternyata rasanya..... sangat enak lho!

Tujuanku selanjutnya adalah menuju Gampong Lubuk Sukun di Kecamatan Ingin Jaya. Lubuk Sukon ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh kementerian terkait pada 2013 lalu. Aku sering melewati desa ini karena ada kerabat yang tinggal di Paleuh Blang. Desa ini cukup menarik secara visual, suasana desanya masih sangat kental. Ciri khas desa ini adalah rumah-rumah berpagar tanaman perdu yang kita kenal sebagai teh-tehan atau bak te. Memberikan kesan asri dan teduh. Di sini juga masih banyak dijumpai Rumoh Aceh.
Karena sendirian, aku tidak berlama-lama di sini, lagipula rute yang harus kutempuh masih panjang. Dari Lubuk aku langsung mengambil jalan pintas melewati Gedung SKB dan tembus ke Gampong Dham Cukok. Terus mendayung hingga bertemu jalan besar menuju Bandara SIM, dari sini aku mengarahkan kemudi ke kanan melewati Gampong Gani, lalu belok kiri melintasi Gampong Lam Siem.
Rute ini sudah tidak asing lagi buatku, dulu aku sering melintasinya dengan sepeda motor. Dan kali ini ingin kembali menjajalnya dengan kereta angin alias sepeda. Walaupun jam digital sudah menunjukkan angka di pukul sepuluh lebih, namun matahari masih sangat bersahabat. Melewati perkampungan yang hijau dengan paparan matahari yang tidak begitu garang sangat mengasyikkan.

Sampai di Gampong Lam Baet aku berhenti sejenak di pinggir sawah untuk minum dan meluruskan kaki. Harusnya ada kopi ya, biar santainya jadi lebih terasa. Jalanan ini cukup lengang, tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Di Lam Baet ini sebenarnya ada juga seorang teman, tapi aku urung menghubunginya dengan pertimbangan harus sampai ke rumah sebelum Zuhur. Benar saja, kalau aku telat pasti sudah kehujanan. Sebab tak lama setelah aku sampai di rumah hujan turun dengan lebatnya.
Setelah jembatan Cot Irie sebelum SPBU aku kembali berhenti. Setumpuk kelapa muda di sebuah kedai bakso seketika menjadi sangat menggoda. Air kelapa muda bagus untuk mengganti ion tubuh yang hilang.

Tiang warna-warni yang memisahkan Taman Bustanussalatin atau Taman Sari Banda Aceh dengan Masjid Raya Baiturrahman adalah pemberhentian terakhirku kemarin. Azan Zuhur baru saja usai berkumandang saat aku tiba di sini. Sudah lama aku ingin mengabadikan sepedaku dengan tiang warna-warni yang menyolok tersebut, tapi baru kesampaian kemarin. Alhamdulillah....[]

Sabtu, 07 Oktober 2017

Zahida

By On Oktober 07, 2017

Ini merupakan siluet sahabatku Nurzahidah Getlatela. Foto ini kuambil pekan lalu saat kami sama-sama berkonsultasi pada seorang psikolog. Barangkali kami sudah sama-sama 'gila', sebab itulah kami tak merasa canggung dan merasa perlu menjaga privasi saat konsultasi pada psikolog yang sama, di hari yang sama, pada waktu dan ruangan yang sama pula. Selama ia berkonsultasi, aku duduk manis sambil mendengar curcolnya yang sangat menggelitik. Dan selama aku berkonsultasi, dia juga mendengarkan sambil duduk (tak) manis. Yang sama-sama menjadi pertanyaan kami begitu waktu konsultasi selesai adalah; mengapa tidak ada salah seorang pun di antara kami yang membahas mengenai calon pasangan hidup di depan psikolog? Ini membuktikan, yang memiliki 'masalah' ternyata bukan kami, melainkan orang-orang di sekeliling kami. Yang tak pernah bosan tanya kapan? Kapan? Kapan? :-D Pertemanan kami belum terlalu lama, baru genap setahun. Bermula dari memesan sekotak donat hasil kreasinya, jadilah kami berteman hingga detik aku menuliskan catatan ini. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini kupercayakan dia untuk menampung sedikit cerita gilaku yang itu-itu saja. Nyaris tiada hari yang terlewatkan tanpa membahas satu topik yang itu-itu saja, bukankah itu gila namanya? Dan siang tadi, di sebuah bengkel, kegilaan yang setengahnya masih rahasia itu hampir terbongkar hihihi... Kemarin, sejak siang hingga magrib kami menghabiskan waktu bersama-sama. Ibarat musafir, kami berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk salat Zuhur dan Asar. Serta pindah dari warung kopi menuju beberapa rumah untuk silaturrahmi. Tetap yang menjadi topik obrolan kami selama itu adalah yang gila-gila itu saja hahaha. Ngomong-ngomong, dia pun tak malu lagi menceritakaan kegilaannya padaku hahahah. Ini tentang Nurzahida. Namanya memiliki unsur 'Z' yang sangat kusukai. Ngomong-ngomong hampir semua cerpen-cerpenku nama tokohnya memiliki konsonan Z. Zahida ini menurutku unik, sanguinnya lebih menonjol dibandingkan dua karakter personaliti lain yang ada dalam dirinya yaitu koleris dan melankoli. Dua personaliti terakhir ini yang membuatnya mampu mengembangkan Getlatela hingga sudah berusia tiga tahun. Btw Getlatela ini adalah industri rumah tangga yang memproduksi donat dengan bahan dasar utama labu dan ketela. Sudah banyak testimoni tentang usahanya ini, jika kamu penasaran tinggal stalking saja di beranda Facebook-nya atau googling. Berbagai penghargaan pun sudah ia dapatkan berkat mengelola usaha tersebut. Sudah sering diminta jadi pembicara di mana-mana untuk sharing mengenai wirausaha. Tiga hal positif tentangnya adalah; cerdas, pekerja keras, humoris. Sementara karakter sanguin membuatnya menjadi seseorang dengan pribadi yang menyenangkan dan ramah. Keramahtamahan inilah yang membuat obrolan pertama kami melalui beranda ini berlanjut ke ruang private lainnya, hingga akhirnya kami sudah berteman lebih dari 365 hari. Dan siapa sangka, dengan usia pertemanan yang baru 'segitu' kami sudah menghadap ke psikolog hihihihi.[]

Dipindahkan dari status Facebook pada 19 September 2017

Minggu, 01 Oktober 2017

(Bukan) Makan Malam Biasa

By On Oktober 01, 2017

KUSEBUT ini bukan makan malam biasa. Sebab kami baru makan saat perut(ku) sudah tak lapar lagi. Saat orang-orang kukira sudah mengosongkan lambungnya dan bersiap-siap untuk istirahat.

***

Sudah pukul sepuluh tepat saat kakiku melangkah masuk ke sebuah kafe di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh pada Rabu malam. Riuh live music menyambutku. Panggung kecil di sudut kanan depan ruangan langsung menyita perhatianku. Ada seperangkat alat musik dan seorang biduan yang menjadi asal muasal 'keriuhan' itu.

Aku memilih duduk di kursi yang berlawanan arah. Dua deret meja kayu memberi jarak dengan panggung. Posisi ini memberiku keleluasaan untuk mengamati isi ruangan, juga ke arah jalan raya. Memudahkanku yang sedang menunggu. Hingga tiga puluh menit kemudian aku menunggu kedatangan Zelda ditemani bait-bait tembang yang sama sekali tak kuingat lagi liriknya.

Kusebut ini bukan makan malam biasa, sebab seporsi martabak India yang kupesan setelah Zelda tiba sama sekali bukan menu yang ingin kusantap. Juga mie goreng yang dipesan Zelda. Aku mencicipinya sedikit, rasanya asin. Dan karena itulah Zelda sengaja menyisakan setengah hidangannya. "Semoga yang meraciknya mau mencicipinya sedikit, biar tahu rasanya seperti apa," kata Zelda iseng.

Ini memang bukan malam biasa, sebab tujuan awal kami memang bukan untuk bersantap di kafe ini. Melainkan sebuah kafe di lokasi yang sama yang jaraknya hanya terpaut beberapa puluh meter saja. Kwetiaw siram di kafe itu berhasil memikatku dan aku ingin menikmatinya kembali bersama Zelda. Tapi sayangnya selera makan yang sudah kusiapkan sejak awal itu terpaksa menguap, bercampur dengan angin malam yang semakin senyap.



Segelas jeruk peras dingin yang kupesan di kafe itu ternyata tak bisa menahanku untuk berlama-lama di sana. Entah aku yang datang terlalu malam, entah kafe dengan banyak lampu kerlap-kerlip itu yang terlalu cepat menghentikan aktivitasnya. Yang pasti, lima belas menit setelah aku memesan es jeruk kafe itu pun tutup. Tiga menit sebelumnya aku sempat mengabarkan Zelda, kalau aku ingin pulang saja. Tak ingin lagi meneruskan rencana makan malam kami.

Tapi syukurlah ia cepat merespons, tidak seperti biasanya. Dan kali ini, karena alasan keterlambatannya cukup 'syar'i', aku tak mempermasalahkan. Itu artinya, dengan sadar dan rela aku harus pindah ke kafe lain dan menunggu Zelda untuk waktu yang tidak sebentar.

Ada banyak kata untuk menggambarkan seperti apa Zelda. Tapi dua hal ini menurutku sangat identik dengannya; in time dan kocak. Soal in time ini, jangan bayangkan kalau dia --selama membuat janji denganku-- hadir jauh sebelum waktu yang disepakati tiba. Lazimnya adalah setelah itu, bahkan hingga berpuluh-puluh menit.

Pernah suatu pagi di akhir pekan, kami sudah sepakat untuk bersepeda bersama. Hari itu dia benar-benar membuatku dongkol karena harus menunggu lebih dari satu jam. Lebih mengesalkannya lagi, dia menyuruhku menunggu di tempat yang salah. Hanya saja hari itu aku bisa melampiaskan dengan menghujaninya tinjuan-tinjuan kecil. Sebuah protes yang tidak mungkin kulakukan malam kemarin. Selain karena alasannya terlambat sangat bisa dimaklumi, juga karena itu di tempat umum.

Lagipula melihatnya muncul dengan masih berbalut baju kerja, dan senyum yang sudah jatuh duluan --dengan lelah yang tak bisa disembunyikan-- rasanya tak adil jika harus berunjukrasa. Lagipula, sebuah perjalinan sejatinya adalah perwujudan dari sebuah pemakluman. Dan untuk itu ada kalanya ada ego pribadi yang harus ditundukkan untuk menegakkan ego yang lain.

***



Kusebut itu bukan makan malam biasa. Sebab kami harus menyantap hidangan sambil bertukar cerita dengan volume suara yang terpaksa harus dikeraskan. Agar suara kami tak kalah dengan suara musik. Tidakpun kuingat lagi apa yang kami bicarakan semalam, sebab aku sama sekali tak ingin mengingat percakapannya. Aku hanya ingin mengabadikan fragmen pertemuannya saja.

Dan, oh ya, jauh-jauh hari sebelum rencana makan malam itu terlaksana aku sudah menyimpan satu pertanyaan untuk Zelda. Tapi hingga acara makan malam itu berakhir, dan kami berpisah jelang pukul 00:00, pertanyaan itu urung kutanyakan. Mungkin akan kutanyakan di lain waktu, atau tidak sama sekali.[]

Rabu, 20 September 2017

Zelda

By On September 20, 2017

Ketika semuanya menjadi nyata, maka itulah akhir dari sebuah cerita. 

Bukan, bukan aku ingin menyudahi semua proses yang penuh warna ini. Bahkan belum semua warna kita guratkan di atas kanvas. Kita juga belum mencoba semua kuas bukan? Semuanya baru berupa sketsa yang kita belum tahu akan seperti apa bentuknya. Ah, sketsa yang abstrak. Sebab ia sama sekali belum bisa ditebak.

Jika boleh kuandaikan sebagai sebuah rumah. Aku baru sadar, ternyata selama ini ada pintu yang kurang rapat. Dan ada jendela yang merenggang. Mungkin aku yang alpa, atau setengah sengaja? Agar menimbulkan tanya, seperti apa rupa warna-warna di dalamnya?

Aku hanya ingin mendesain ulang sketsa ini. Aku ingin menikmati prosesnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Mungkin sudah cukup kita bertemankan riuh, yang membuat potongan-potongan cerita ini dengan mudahnya berceceran.

Aku ingin menikmatinya dalam diam. Bagai bunga-bunga rumput yang tak lena meski dibuai kesiur angin. Yang tetap kokoh meski angin kencang berusaha merebahkannya. Atau seperti karang, yang tak terpancing menyahuti empasan ombak.

Zelda,

Luas hati kita melebihi luasnya semesta. Bukankah itu sudah cukup untuk menyimpan warna-warna?[]
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email