Enter your keyword

Senarai Cinta

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 16 April 2018

Pesona Seribu Bukit

By On April 16, 2018

GEROMBOLAN angin yang mencuri-curi masuk lewat celah jendela minibus L300 membangunkan saya pagi itu. Udara dingin menyergap. Menyelinap menembusi jaket yang membalut tubuh. Merasuk hingga ke tulang. Bahkan, syal berbahan wol yang saya lilitkan di leher tak membantu banyak untuk memberikan rasa hangat.
Saya mengerjap-ngerjap, menghilangkan sisa kantuk yang masih melekat di pelupuk mata. Matahari belum sempurna terbit. Sekelebat pemandangan tiba-tiba tertangkap oleh indera. Sungai lebar yang berkelok-kelok di kejauhan, sawah hijau yang berundak-undak, rumah-rumah penduduk, begitu padu dengan lanskap di sekitarnya yang hijau. Pucuk-pucuk pinus menjulang di lembah dan puncak bukit.
Kabut yang masih mengapung di udara menambah kesyahduan pagi itu. Perlahan mentari mulai muncul di ufuk timur. Menumpahkan cahaya jingganya ke pucuk-pucuk pohon.
"Saya sudah sampai ke Gayo Lues.” Hati saya membatin penuh girang. Kegirangan yang sama agaknya juga dirasakan teman-teman.
Belakangan saya tahu, jalan mulus berliku-liku di tubir bukit dengan hamparan pemandangan memesona itu ada di Kecamatan Pantan Cuaca. Pemandangan yang kurang lebih sama juga terhampar di sepanjang Kecamatan Rikit Gaib, hingga ke Kota Blangkejeren, Ibu Kota Gayo Lues.
Mata yang tadi masih dihinggapi kantuk jadi membelalak. Tak peduli lagi pada rasa gigil yang serasa menggigit tulang, saya justru nekat membuka setengah kaca jendela. Mencondongkan wajah dan membiarkan angin menampar-nampar kulit. Ingin merasakan langsung hawa sejuknya yang selama ini cuma mampir di telinga. Lalu sebisa mungkin mengabadikan keindahannya lewat lensa kamera. Tapi sayang, pacu mobil yang terlalu cepat tak memberi saya kesempatan untuk itu.
Ternyata saya juga tak cukup kuat menantang suhu yang teramat dingin. Terpaksa kembali saya rapatkan kaca jendela mobil. Sudah cukup puas walau hanya memandangi kepingan keindahan itu dari balik jendela yang berkabut.
Di sisa perjalanan sebelum sampai ke Kota Blangkejeren, tak henti-hentinya saya mengucap syukur. Kagum pada keindahan daerah yang dijuluki Negeri Seribu Bukit ini.
+++

Senin, 16 Oktober 2017 lalu, untuk yang pertama kalinya bagi saya dan kelima teman perempuan: Yelli, Seila, Cut, Ayu, dan Uswah menjejakkan kaki di tanah Gayo Lues.  Kabupaten muda yang mendiami gugusan Bukit Barisan. Yang setiap lekukannya seolah menebarkan aroma segar dari sere wangi. Salah satu komoditas unggulan daerah ini.
Kami semua berangkat dari Banda Aceh, beberapa di antaranya baru saling kenal jelang keberangkatan pada sore sebelumnya. Karena ini pengalaman pertama, tingkah kami terkadang agak norak. Tapi kami menikmatinya. Terutama saat merasakan betapa sejuknya wilayah ini. Berbeda dengan suhu Kota Banda Aceh yang panas karena berada di pesisir.
Kedatangan kami ke kota ini untuk belajar. Saya, bersama lebih dari 20 perempuan yang berasal dari Banda Aceh, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara mendapat kesempatan mengikuti Serial Perempuan Peduli Leuser yang dibuat USAID Lestari. Program beasiswa ini berakhir pada Maret 2018.
Gayo Lues sebagai salah satu zona inti Kawasan Ekosistem Leuser, dipilih USAID Lestari sebagai tempat pelaksanaan workshop pertama. Selanjutnya, pada November nanti workshop yang kedua akan digelar di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Sesuai arahan panitia kami sudah tiba sejak Senin pagi, dengan asumsi sisa hari itu akan kami gunakan untuk beristirahat. Tentu saja agar saat workshop dimulai esok harinya kami sudah segar dan siap menerima informasi. Tapi, rasanya sayang sekali jika sudah jauh-jauh ke sana, menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam dari Banda Aceh, hanya untuk tidur di hotel.
Sekitar pukul sembilan, usai check in kami memutuskan mencari sarapan. Walaupun semalam sempat mengisi lambung dengan martabak di Pante Raya, Bener Meriah tapi sepagi itu perut sudah minta diisi lagi. Mungkin karena dingin, atau karena penasaran ingin mencicipi kuliner khas Gayo Lues. Rachmi, peserta dari Aceh Selatan yang juga baru tiba bergabung dengan kami.
Rupa-rupanya mencari sarapan di sana tak semudah yang kami bayangkan. Dari Hotel Mulia, tempat kami menginap di Jalan Kuta Panjang, kami harus berjalan kaki hingga ke Jalan Kolonel Muhammad Din. Tak begitu jauh.  Sebuah warung dengan nama penyanyi terkenal Syahrini menjadi tempat perhentian.
Di warung ini saya memilih menu belut goreng dan ikan mas acar. Ikan air tawar memang menjadi menu andalan di warung-warung di daerah ini. Maklum, lokasinya yang sangat jauh dari pantai, tentu saja tak mudah menemukan ikan laut di sini. Namun di hari terakhir di Blangkejeren, saat berkeliling pasar tradisional di Kampung Durin, saya melihat seorang pedagang ikan menjajakan ikan tongkol.
+++

Setelah memekarkan diri dari Aceh Tenggara pada 2002 silam, Gayo Lues terus bergerak menuju kabupaten yang mandiri. Posisinya yang berada di gugusan Bukit Barisan tentunya menjadi daya jual yang luar biasa. Ditambah sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser. Dua hal ini saja sudah membuat Gayo Lues begitu memikat. Terutama bagi para penikmat keindahan lanskap alam dan peneliti lingkungan.
Belakangan tari saman yang berasal dari Gayo Lues, ditetapkan menjadi warisan dunia takbenda oleh UNESCO pada 2012 silam. Hal ini semakin menjadikan Gayo Lues bak mercusuar yang menarik perhatian dari seluruh penjuru mata angin. Lapangan Seribu Bukit menjadi saksi dua event saman massal yang digelar pada 2014 dan Agustus 2017.
Bagi saya pribadi, setiap jengkal tanah Gayo Lues ini adalah keindahan.  Beberapa lokasi wisatanya sudah akrab di telinga. Sebut saja Bukit Cinta di Tenggulun, dataran tinggi Genting di Kecamatan Pining yang berbatasan dengan Aceh Timur, dan objek wisata Kedah yang menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser di Gayo Lues. Dan masih banyak objek wisata lainnya yang tersebar di sebelas kecamatan.
Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat main-main ke Bukit Cinta dan Genting. Plus mengunjungi Masjid Asal yang sudah berusia delapan abad di Kampung Penampaan, Blangkejeren di hari terakhir. Setidaknya, masih ada alasan bagi saya untuk kembali mengunjungi Gayo Lues di lain waktu.
Menuju ke kabupaten ini bisa ditempuh dari Aceh Tengah, maupun dari Aceh Tenggara dengan pintu masuknya dari Sumatera Utara. Hanya saja jalur lintas ke Aceh Tengah baru dilalui angkutan umum setelah konflik antara GAM dan Pemerintah RI berakhir. Kondisi ini membuat Gayo Lues pernah menjadi wilayah yang sangat terisolir di Aceh.
Lima Daerah Aliran Sungai yang ada di Gayo Lues, yaitu DAS Alas, Tamiang, Perlak, Jambo Aye, dan Kuala Tripa menjadi pemasok sumber air ke belasan kabupaten. Ini membuktikan, meski Gayo Lues bagi sebagian kita seolah-olah berada di ‘negeri asing’, namun sangat krusial.
Kehangatan dan keramahtamahan orang Gayo menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Kesan ini saya dapatkan setelah bertamu ke rumah keluarga Nurcahya dan Hasan di Blangbengkik, Kecamatan Blang Pegayon. Putri mereka, Eva, adalah teman kuliah Yelli saat sama-sama menjadi mahasiswa di Unsyiah. Eva telah berbaik hati membawa kami ke Genting. Sebagai gantinya saya dan Yelli –sembari memulangkan sepeda motor- bertamu ke rumah Eva.
Nurcahya, di usianya yang sudah paruh baya masih terlihat muda dan bersemangat. Cerita-cerita mengenai keunikan dan kekhasan Gayo Lues lebih banyak mengalir dari mulutnya. Berbeda dengan suaminya yang agak pendiam. Hasan hanya menimpali obrolan kami sesekali saja.
“Kalau di Dabun Gelang tempat anakku lewati tadi, banyak sere wangi di sana. Kalau kopi banyak tumbuh di Pantan Cuaca. Kalau di daerah sini sayur-sayuran pun banyak, ada kemiri juga, coklat,” ujar Nurcahya. “Besok datang lagi biar ibu ajak ke ladang, foto-foto nanti kita di sana, pemandangannya bagus.”
Soal ini, Nurcahya tidaklah mengada-ngada. Dalam perjalanan pulang, dari ketinggian pedesaan di Blang Pegayon saya menyaksikan pendar-pendar lampu dari pusat kota. Seperti laiknya gugusan bitang di galaksi. Menakjubkan.
Saya menyimak setiap kata yang diucapkan Nurcahya, sambil diselingi canda tawa. Kami tidak merasa kikuk sama sekali. Nurcahya juga mengatakan, 80 persen penduduk Gayo Lues adalah suku Gayo asli, sisanya pendatang seperti Aceh, Padang, atau Jawa. Hal yang sama sebelumnya dikatakan oleh tukang becak yang membawa kami ke Bukit Cinta.
Lewat kehangatan yang diberikan Nurcahya, saya mendapat kesempatan untuk mengenakan upuh ules. Yaitu kain panjang kerawang Gayo dengan kombinasi warna kuning, hitam, dan merah, bermotifkan mata itik. Kain ini menjadi bawaan wajib atau isi talam dari pengantin pria kepada pengantin wanita, bersama seperangkat pakaian lainnya yang disebut kain selingkuh.
Pengalaman tak terlupakan berikutnya saya dapatkan dari seorang nenek yang dipanggil Mak Eda. Kami bertemu dengannya di tangga Masjid Asal. Meminjam istilah Ayu, Mak Eda adalah pop up yang membawa kami masuk jauh dalam kehangatan masyarakat Gayo.
Dia juga seorang pemasar yang luar biasa. Terbukti, usai berkenalan dengannya kami membawa pulang beberapa souvenir dan kopi Gayo sebagai oleh-oleh. Mak Eda juga memberikan kami sumpit, karung kecil yang terbuat dari anyaman pandan duri sebagai kenang-kenangan.
Lewat Mak Eda kami berkenalan dengan Ridwan, pedagang kopi yang tinggal di Kampung Arul Lemu. Kampung ini tak begitu jauh dari pusat kota. Tapi saat dibawa dengan berjalan kaki, itupun setelah kami berkeliling kota untuk mencari souvenir, perjalanan menuju rumah Ridwan menjadi cukup melelahkan. Kami justru takjub pada Mak Eda yang usianya sudah di atas 60 tahun, namun masih cukup prima.
Dia bahkan sama sekali tidak kesulitan saat harus melewati alur yang terhubung ke sungai Arul Lemu yang berhulu ke Porang, dan melintasi Kampung Penampaan di bawah sana. Sayangnya Mak Eda tak bisa menemani kami lebih lama di rumah Ridwan, karena hari sudah semakin sore.
Ketika senja semakin gelap kami meninggalkan kediaman Ridwan dengan membawa sepotong cerita yang berkesan. Di ufuk barat semburat jingga perlahan memudar. Pucuk-pucuk pohon kini dikulum gelap. Kami bergegas disertai lambaian Ridwan yang mengantar hingga ke persimpangan. Perlahan saya kembali merasakan hawa dingin yang menusuk-nusuk.[]

Jumat, 06 April 2018

Senyum Senja Mentari Pagi

By On April 06, 2018


"Kalau kita punya anak, aku yang berikan nama, ya?" kataku pada Zenja di suatu pagi.

"Boleh."

"Aku sudah siapkan dua nama lho."

"Wow. Mantab."

Hingga pagi itu Zenja masih menuliskan mantap dengan 'b' bukan dengan 'p'. Biasanya aku selalu protes, tapi bukankah cinta adalah pemakluman? Biarkan saja dia menulis tanpa tertib bahasa seperti itu.

"Kalau laki-laki aku akan beri nama Senyum Senja. Kalau perempuan Mentari Pagi," kataku pada hari yang lain.

"Nama Islam saja. Nama itu doa."

"Itu kan juga doa, Sayang."

"Ya, boleh aja nggak dilarang. Kalau mau berpuisi ikuti Jalaluddin Rumi."

"Aku suka nama berbahasa Indonesia yang puitis. Senyum Senja itu representasi dirimu, dan Mentari Pagi itu aku."

"Aku ingin punya baby, kalau kita punya bayi kembar tiga seru ya."

"Iya, seru."

Lalu kami sibuk berbincang tentang bayi kembar. Kerepotan seorang ibu. Kerepotan seorang ayah. Apa yang anak-anak panggil untuk kami sebagai orang tuanya nanti. Dan di setiap ujung perbincangan kami tak lupa mengatakan, "semoga Tuhan memudahkan cinta kita ya, Sayang."

Zenja adalah teman ribut yang asyik, teman untuk merengek-rengek yang selalu hangat. Sekaligus teman untuk merajuk yang menyebalkan.

Perihal nama-nama itu, memang sudah lama terpikirkan. Eh, tapi 'Pagi' yang melengkapi 'Mentari' baru saja terpikir dalam beberapa hari ini. Setelah aku tergila-gila pada Pagi yang hangat, yang riuh, yang sejuk seperti embun. Pagi dan Senja. Senja dan Pagi. Senja yang selalu tersenyum, dan Pagi yang selalu hangat.[]

Minggu, 04 Maret 2018

Selamat Pagi, Cinta

By On Maret 04, 2018

Selamat pagi, Cinta.
Pagi juga buat mu, Cinta.
Adakah alasan untuk tidak menyapamu pagi ini? Aku ingin selalu menjadi burung yang pertama kali berkicau untukmu di pagi hari, meski aku selalu kalah cepat dengan mentari yang terbit di kedua matamu.
Aku tahu kamu paling pandai merayu, kamu tidak akan pernah kalah, walaupun kamu secara cepat, aku akan tetap memenangkan kamu dari pada mentari.
Aku ingin selalu memberimu ucapan selamat pagi dengan selembar surat cinta sebelum kau beranjak pergi. Aku ingin kau turut merasakan uap gebu di dalam ruang jiwaku yang berkatup-katup. Setiap katupnya, sudah penuh dengan cerita tentang aku dan kamu; kita.
Aku juga merasakan, kadang uap kamu berlebihan sehingga menjadi embun dan membuat hujan yang terasa panas
Bagaimana suasana hatimu pagi ini, lebih bahagiakah? Ataukah lebih hangat dari hari-hari sebelumnya? Atau, mungkin saja tetes embun terakhir di pagi ini telah hinggap di hatimu?
Aku sangat bahagia atas suratmu yang sangat romantis
Bisakah kau ceritakan, apakah seseorang pagi ini menghidangkanmu secangkir kopi atau teh? Jika iya, pastinya itu menjadi bekal semangat yang menyenangkan untuk sepanjang hari bukan? Aku terjaga hingga lewat tengah malam demi memikirkan itu. Ada seliris cemburu mengiris hatiku. Membuat hatiku sedikit pedih, dan mataku sedikit perih.
Aku sudah biasa membuat kopi sendiri, apa lagi sudah dua hari tidurku sangat minim, terima kasih untuk semuanya dan selalu mencintaiku
Apa kau ingin tahu seperti apa suasana hatiku pagi ini? Aku bahkan tidak bisa melukiskan seperti apa perasaanku sendirii. Mungkin kau lebih tahu, melebihi banyak hal yang kuketahui tentang diriku sendiri. Tapi kau tidak perlu cemas, aku tahu bagaimana menghibur diriku sendiri. Cinta dan rindu-rinduku yang abstrak adalah racun, sekaligus penawar atas luka bertahun-tahun.
Aku tahu kamu, sepertinya aku lebih tahu kamu dari pada engkau mengetahui dirimu sendiri, aku selalu tahu apa yang kamu pikirkan, terima kasih atas penantianmu dan mencintai aku, jangan pernah berputus asa, karena Dia yang di atas sana selalu memberikan kita yang terbaik, kadang kita merasa lelah, dan di situ letak kekuatan kita akan bertambah, terima kasih atas penantianmu, cinta yang banyak dariku, peluk cium untukmu.
Maaf atas segala hal yang tidak menyenang kan kamu.
Let's take coffee first and relax
27 Februari 2018

Senin, 26 Februari 2018

Luka Angin

By On Februari 26, 2018


Siapa bisa menerjemah luka angin karena tertusuk beku?

Oh, jangan menyaru sebagai daun, hanya untuk memata-matai gerak-gerik angin

Jangan pula menyaru sebagai hujan, hanya untuk tahu apakah angin punya air mata

Kamis, 22 Februari 2018

Memoar Matahari Terbit #2; Gadis Kecil di Keranjang Rotan

By On Februari 22, 2018
motor@bukalapak.jpg
Keranjanganya bukan model seperti ini, tapi cukuplah untuk mengilustrasikannya. Foto diambil dari bukalapak.com
Tahun 1990
Usiaku belum genap lima tahun ketika itu. Tidak banyak yang bisa kuingat pada masa-masa sebelum itu. Kecuali beberapa potong fragmen saja. Misalnya, di suatu sore yang cerah, Ibu memakaikan aku baju terusan kembang selutut. Berwarna putih dengan kombinasi hijau. Rambut panjangku dikucir dua. Aku menonton permainan voli di halaman rumah Wak Baren yang luas.
Namun ada satu fragmen yang tidak mungkin kulupakan. Kenangan itu telah berubah menjadi piringan hitam, kapan pun aku ingin memutarnya, tinggal kutekan tombol on di memori ingatanku. Lalu muncullah gambar-gambar bergerak tentang sepasang gadis kecil di dalam keranjang rotan di jok sepeda motor Ayah. Kepala mereka menjulur-julur. Mirip kepala kura-kura yang melongok-longok keluar dari cangkang untuk melihat situasi. Gadis kecil di dalam keranjang itu adalah aku dan sepupuku, Rina.
Keranjang itu biasa digunakan Ayah untuk menggalas. Biasanya yang diisi di sana cabai atau biji kakao. Tapi hari itu digunakan untuk mengangkut manusia-manusia mungil. Sementara yang lainnya keluar dari kampung sambil berjalan kaki.
+++
ilustrasi liputan6.jpeg
Ilustrasi diambil dari liputan6.com
Pagi menjelang siang hari itu, aku sedang asyik bermain ayunan di samping rumah. Tiba-tiba datang Kak Isah dan Bang Pudin, lari terbirit-birit dengan keringat jagung membulir di wajah mereka. Melihat kondisi mereka aku jadi ketakutan. Panik. Pun Ibu, yang sedang memegang pisau mengupas mancang untuk kami. Kak Isah adalah sepupuku, anak kedua dari kakak Ayah. Sedang Bang Pudin adalah anaknya Wak Ren. Masih kerabat jauh kami juga.
"Rumah sekolah dibakar!"
Kata Kak Isah masih terngiang-ngiang di telingaku sampai hari ini. Aku berusaha mengingat-ingat, beberapa malam terakhir rumah kami selalu ramai. Ada topik-topik tertentu yang dibicarakan sambil berbisik-bisik. Orang tua kami sepertinya memang sudah menduga-duga sesuatu. Dan kabar rumah sekolah yang dibakar itu adalah puncak dari desas-desus itu.
Siapa pun yang pernah tinggal di Aceh pasti tahu, tahun 1989 adalah awal dari pemberlakuan Darurat Operasi Militer di Aceh. Operasi ini dibentuk untuk memburu gerakan sipil yang ketika itu disebut Gerakan Pengacau Keamanan oleh pemerintah. Hari-hari setelah itu menjadi hari-hari yang gelap bagi rakyat Aceh. Di setiap pelosok terdapat pos tentara. Bahkan sudah dimulai jauh dari sebelum itu.
Ibu segera menyuruh Kak Isah dan Bang Pudin ke Lhok Jeuruweng. Di sanalah ladang-ladang warga Lorong Pelita ketika itu digarap. Mereka membuka kebun, menanam cabai, kacang kuning, sayuran. Ayah, Wawak, dan beberapa warga bertani di sana. Aku menduga Kak Isah dan Bang Pudin pastilah menggunakan jurus terbangnya hari itu. Karena jarak dari desa ke Lhok Jeuruweng lumayan jauh.
Ibu segera mengemasi barang-barang. Cuma baju, karena tidak ada aset penting lainnya yang bisa diselamatkan.
Itulah pengalaman pertamaku menjadi pengungsi. Di usia yang belum genap lima tahun. Di usia yang seharusnya aku masih mengorek-ngorek tanah mencari binatang undur-undur dengan tenang tanpa waswas. Kami mengungsi ke kampung nenek di Keude Dua.
Dari dalam keranjang, dengan perasaan senang --karena bisa naik motor-- bercampur takut, aku berusaha melihat ke sekeliling. Setelah melewati turunan bukit kecil di depan rumah Yahwa Leman, sampailah kami di depan SD N Padang Peutua Ali di Lorong Pelita. Saat itulah mulut kecilku terganga. Ketakutanku menjadi-jadi. Jantungku berdegup-degup. Aku ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Aku melihat gumpalan asap hitam menebal seperti melesak-lesak mencari jalan keluar dari dalam gedung sekolah. Lidah api menjulur-julur. Merah!
Kampung Keude Dua, yang menjadi tujuan kami untuk menyelamatkan diri ketika itu, pun tak jauh lebih aman. Kondisinya mencekam. Sangat mencekam. Rasa-rasanya dunia tempat kami berdiri ketika itu diselimuti monster besar berjubah hitam.
Kondisi itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian suasana kampung berangsur normal. Ayah dan Ibu, dan sejumlah warga lainnya kembali pulang ke Padang Peutua Ali. Tapi setelah itu kusadari ada yang berubah dari desa itu. Separuh warganya yang berasal dari suku Jawa memilih tak kembali lagi.
Kematian Lek Momo yang tragis setelah ditembak orang tak dikenal menjadi trauma bagi mereka. Rumah-rumah mereka ditinggalkan begitu saja dalam keadaan kosong. Belakangan, beberapa di antara mereka memberanikan diri untuk pulang. Dengan harapan kondisi yang sama takkan terulang lagi.[]
Cerita sebelumnya:

Sabtu, 17 Februari 2018

Memoar Matahari Terbit #1; Padang Peutua Ali

By On Februari 17, 2018
Village @bbc.jpg
Lanskap yang menunjukkan kondisi alam pedesaan. Foto dari bbc.com
Desa itu, Padang Peutua Ali namanya, dalam ingatanku adalah sebuah surga. Sulit sekali melepasnya dalam ingatan meskipun nyaris dua puluh tahun tak lagi tinggal di sana. Sejak beberapa tahun terakhir malah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana. Inilah punca kerinduan bertubi-tubi, sehingga kerap hadir di dalam mimpi.
Ya, mimpi menjadi semacam medium tertentu buatku. Ketika aku memikirkan sesuatu, ketika aku mengingat seseorang yang jauh, yang kupikir dan kuingat itu kerap hadir di alam mimpi. Bunga-bunga tidur. Begitulah rindu menyelesaikan persoalannya di dalam hidupku.
Tak terkecuali Padang Peutua Ali, sebuah desa nun di pedalaman Aceh Timur sana. Masih kerap mampir di mimpi-mimpi indahku hingga hari ini. Mimpi-mimpi itulah yang menggerakkan aku untuk melahirkan catatan ini. Hm, tidak, pedalaman itu dulu, ketika jalan masih berlubang, ketika listrik belum ada, ketika moda transportasi belum massal seperti sekarang. Tapi kabarnya, jalan menuju Padang Peutua Ali sampai sekarang masih bopeng-bopeng. Namun jaringan listrik sudah tersedia (kembali).
Secara administrasi, Padang Peutua Ali masuk ke Kemukiman (kelurahan) Lhok Leumak di Kecamatan Darul Ihsan (setelah dimekarkan dari Kecamatan Idi Rayek), Aceh Timur. Desa ini terdiri dari beberapa lorong, di antaranya Lorong Mampre, Lorong Binjai, dan Lorong Pelita. Di lorong yang terakhir inilah kenangan masa kecilku banyak terserak. Dan aku sedang berusaha mengumpulkan kembali kenangan yang terserak itu.
Ayah dan ibuku berdarah Pidie, walaupun keduanya sama-sama lahir dan besar di Aceh Tamiang. Orang tua mereka sama-sama berasal dari Teupin Raya sebelum merantau ke timur Aceh. Tempat aku menumpang dilahirkan, sebelum dibawa pulang ke Idi Rayek, dan dibesarkan di Padang Petua Ali. Di sanalah Ayah dan Ibu menguji kemandirian mereka dalam berumah tangga.
Ingatanku akan desa itu tak pernah pupus. Konturnya berbukit-bukit. Yang sejauh mata memandang dibungkus pemandangan hijau berupa kebun-kebun penduduk. Umumnya kelapa dan kebun kakao. Jalannya berlapiskan tanah dan dipenuhi rerumputan. Nyaris tak ada beda antara jalan utama dengan jalan menuju kebun. Kalau hujan sudah pasti becek dan licin. Padang Petua Ali adalah desa transmigrasi yang heterogen. Belakangan kusadari, keheterogenan ini memberikan dua dampak sekaligus; positif dan negatif.
Di tahun 90-an, saat aku masih duduk di sekolah dasar. Saban pagi aku bangun karena kicauan Ibu dan kicauan burung-burung. Uap hangat mentari pagi merambati rumah kami yang kecil. Paru-paruku yang kerap dibelit asma selalu berlimpah udara segar. Pengalaman bangun tidur paling indah adalah ketika hidungku menangkap aroma dari kuah Indomie yang sedang mendidih.
Rupa rumah kami itu tak lebih dari sebuah kotak dengan sebilah ruang tamu, dua bilah kamar tidur yang sempit, dan sebilah ruangan berlantai tanah sebagai dapur. Ruang tamu dan kamar tidur, sudah beralaskan semen namun kondisinya mengenaskan. Pecahan-pecahannya mirip cermin retak. Rumah itu dipayungi atap dari daun rumbia, yang di sudutnya kerap bolong karena tertimpa buah kelapa yang pohonnya tumbuh persis di sudut dapur.
Rumah itu adalah rumah pertama yang ditempati Ayah dan Ibu. Aku masih ingat detailnya sampai sekarang. Di ruang tamu, cuma ada satu perkakas, yaitu lemari (hias) warna kuning pucat dengan kombinasi hijau di sudut-sudutnya. Sebuah tempat tidur berangka besi dipasangkan Ayah di kamar untuk aku dan adikku yang nomor dua. Itulah istana kami. Sebelum tidur kami kerap bermain rumah-rumahan. Kadang Ibu ikut bergabung bersama kami dan menceritakan cerita zaman. Tempat tidur rangka besi itu menjadi saksi bagi perkembangan imajinasi kanak-kanakku.
Belakangan lemari hias di ruang tamu itu menjadi tempat bertenggernya sebuah televisi hitam putih second ukuran 14 inci merk Fuji Electric yang dibeli Ayah. Di tumpuk kami, Ayah adalah orang pertama yang membeli televisi ketika itu. Televisi bertenaga aki itu menjadi saksi bagi sejumlah warga untuk menonton acara hiburan seperti Kamera Ria, Safari, Irama Masa Kini. Dan yang paling sukar dilupakan adalah acara film G30 SPKI yang diputar saban 30 September setiap tahunnya.
fuji elektrik.jpg
Seperti inilah rupanya televisi Fuji Elektrik di rumah kami dulu. Foto dari jayaserviselektronik.blogspot.co.id
Terkikik-kikik aku jika mengenang akan hal ini. Pernah suatu kali, saat sedang asyik menonton film G30 SPKI, tiba-tiba baterai aki itu habis pula dayanya. Televisi yang besarnya tak lebih dari laptop yang kita pakai sekarang itu akhirnya seperti tersuruk-suruk sebelum padam. Lalu muncullah inisiatif jitu, aki di rumah Wak Sabar yang baterainya sedang habis, diambil dan digandengkan dengan aki di rumah kami. Inilah makna sebenarnya dari rumus minus (-) tambah (+) minus (-) sama dengan (=) plus (+). Televisi ini juga menjadi saksi dari serial kartun Jepang seperti Doraemon, Ultraman, Satria Baja Hitam, dan lainnya.
Nyaris seratus persen warga Padang Peutua Ali adalah petani. Rumah-rumah warga memiliki bentuk yang serupa walau tak sama. Penghuni desa ini hanya berkisar puluhan KK saja yang tersebar secara berkelompok di beberapa titik. Di tahun 90-an itu, Padang Petua Ali masih gelap gulita. Sumber energi untuk menerangkan rumah-rumah penduduk masih mengandalkan lampu sumbu dan minyak tanah. Harganya masih Rp300 perliter. Harga sebungkus Indomie waktu itu masih Rp250. Ayo... siapa yang masih ingat? Harga emas satu mayamnya masih berkisar seratusan ribu. Tapi tak juga sanggup membelinya.
bunga.jpg
Di Lorong Pelita tempat kami tinggal inilah berdiri sebuah rumah sekolah. Pada tulisan berikutnya akan aku tulis dengan detail bagaimana kisah mula berdirinya sekolah ini. Di sekolah ini aku belajar tulis baca. Itu di era kejayaan black board. Era di mana kapur tulis masih berdiri tegak di papan tulis hitam. Lalu sisa puntungnya menjadi rebutan bocah-bocah SD kemaruk belajar. Modal belajar kembali di rumah. Daun pintu, dinding, atau daun jendela adalah papan tulis kami di rumah.
Kesulitan utama warga desa adalah kebutuhan akan air bersih. Memang susah mendapatkan mata air dengan kondisi desa yang berada di dataran tinggi. Parit-parit menjadi andalan utama setiap warga. Jika musim kemarau tiba, tak jarang jarak berkilo-kilometer harus ditempuh demi satu ember atau satu dua jeriken air bersih. Sumur-sumur kecil digali di pinggir-pinggir parit di dekat pohon pisang untuk menampung air.
Tapi warga di sana tetap hidup bahagia. Aku, pun sering kutanyakan pada Ibu, mengapa kadar kebahagiaan kami terasa berbeda ketika tinggal di Padang Peutua Ali dulu dengan di kampung yang sekarang? Kata Ibu, karena silaturrahmi antarwarga di sana terjalin dengan akrab. Sesama warga saling membudayakan tradisi memberi satu sama lainnya. Entah itu makanan, sayuran, hasil panen, atau apa pun. Setiap lebaran tiba, nyaris tak ada rumah yang terlewati untuk dikunjungi. Kue-kue disajikan, minuman dihidangkan. Meriah!
Laiknya bayi, Padang Petua Ali tumbuh menjadi balita yang sehat dan menggemaskan. Perlahan tapi pasti, ia mulai bertumbuh. Kebun-kebun yang ditanami tanaman tua mulai memasuki masa panen, sehingga berdampak langsung pada perekonomian warga yang membaik. Sembilan tahun kemudian Lorong Pelita tiba-tiba berubah gelap gulita. Kehidupan berhenti berdenyut. Nadinya terputus. Meninggalkan trauma dan luka di hati kecil kami.[]

Senin, 12 Februari 2018

Teman Bertengkar yang Tak Seru

By On Februari 12, 2018

Teras kost-ku yang sempit telah aku sulap menjadi small garden untuk beberapa pot bunga. Ada jeumpa, seulanga, beberapa jenis mawar, melati, kembang sepatu, lavender, krisan. Beberapa di antaranya sedang mekar. Menyiram bunga-bunga itu kini menjadi aktivitas baruku saban pagi dan senja.
Kini, setiap pulang beraktivitas di sore hari, aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Melainkan menyempatkan diri untuk membersamai bunga-bunga itu. Aku sempatkan untuk menyapa tanaman-tanaman itu dengan menyentuh daun-daunnya, memeriksa batangnya, melihat-lihat kelopak bunganya, hingga merapatkan hidungku dengan kuntum-kuntum bunganya. Menyesap wewangian yang berasal dari inti sarinya.
Aku juga sering memotret bunga-bunganya yang sedang mekar. Ini adalah ungkapan kasih sayangku kepada tanaman yang telah memberi kesenangan tersendiri setiap aku melihatnya. Begitu juga di pagi hari, hal terindah yang aku rasakan adalah setiap membuka pintu, bunga-bunga itu seperti mengucapkan halo dan selamat pagi. Kini, selain Zenja, bunga-bunga di teras rumah itu adalah sumber kebahagiaan baru buatku. Kadang-kadang aku berbagi kebahagiaan itu dengan mengirimkan Zenja foto-foto bunga di taman mungilku.
Menyebut nama Zenja, hatiku berubah mekar seperti bunga-bunga di atas. Ia adalah inspirasi yang menggerakkan aku dalam berkreativitas. Teman bertengkar yang tak seru. Sebab tak pernah mau meladeni rajukanku. Suatu ketika, dengan emosi di puncak kepala aku mengatakan, "aku masih ingin marah denganmu."
"Marahlah biar hatimu puas," jawabnya dengan santai.
"Mana bisa aku marah kalau kau tidak merespons."
Krik-krik. Zonk
Sore tadi kembali kami berbalas cerita di bilik chatting. "Kenapa harus selalu aku yang menyapa lebih dulu setiap kali setelah aku merajuk-rajuk."
"Karena kamu yang merajuk. Not me."
"Kau tahu aku merajuk, tapi kenapa tidak membujukku. Merajuk itu artinya aku rindu padamu."
"Tidak membujuk itu aku juga rindu artinya."
"Hmm..."
Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sebab cinta hanya meminta kita untuk merasakan. Maka aku merasakan setiap gejolaknya. Lalu memilih bahagia dengan caraku. Dengan cara mencintai tanpa syarat.[]
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email