Jumat, 12 Januari 2024

Menjelang Akhir Pekan Kedua



Menjelang akhir pekan kedua di tahun ini. Ah, kenapa aku jadi sibuk menghitung hari, ya? Padahal ini masih Januari. Baru tanggal dua belas hari ini. Justru. Justru itulah aku menghitung hari. Karena di bulan yang masih "sedini" ini, aku sudah harus pasang gigi tarik. Siap-siap untuk menanjak.

Aktivitas tahun ini langsung terasa sejak hari-hari pertama di tahun baru. Rapat demi rapat. Tugas demi tugas. Ini bukan keluhan atau semacamnya. Tapi, karena intensitas yang padat itu, ditambah beban pikiran yang terus menghantui, akhirnya tubuhku jadi terkena dampaknya. Sudah tiga hari ini badanku terasa meriang. Sudah tiga hari pula aku menelan obat antidemam untuk mencegah tumbang. Esok mau ke Gayo. Udara di sana tak begitu akrab denganku. Kalau badanku tidak fit, aku jadi khawatir.

Hari ini aku ingin tiduran saja sebenarnya. Tapi, pukul delapan kurang lima menit pagi tadi aku sudah di kedai kopi. Ada rapat dengan penulis buku yang sedang kusunting. Dari situ, pukul 9.45 bergerak ke arah Tibang, ada rapat juga di sana dengan salah satu lembaga. Kelar sudah pukul dua belas lewat. Menjelang salat Jumat. Buru-buru aku pulang karena kepala sudah terasa berat. Nanti malam aku masih harus mempersiapkan diri untuk diskusi online selama dua jam.

Sehari sebelumnya, sejak pukul setengah sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam aku berada di luar. Dari kedai kopi ke kedai kopi. Seharian tak kena air di badan, rasanya gerah rah rah. Badan capek. Mata mengantuk. Kepala semakin berat. 

Pulangnya, masih harus merampungkan satu pekerjaan. Praktisnya baru pukul satu malam selesai. Setelah itu barulah aku mencoba tidur. Tapi, efek kopi yang kuminum di pagi hari, efek terlampau lelah, efek cerita yang sudah berjubel di kepala, alih-alih tidur nyenyak, malah sebaliknya. Aku cuma bisa golek sana sini dan mungkin baru terpejam setelah pukul dua lewat.

Hari sebelumnya lagi juga kurang lebih begitu. Dua malam menginap di rumah sakit karena ibu sedang dirawat. Tapi, ya, mana bisa tidur juga. Syukurlah ibu bisa pulang di hari kedua setelah dirawat. 

Dengan segala kelelahan ini, aku bersyukur masih ada yang bisa kukerjakan. Masih ada interaksi dengan teman-teman. Masih ada tempat berbagi. Dan... tentu saja untuk itu kita harus perbanyak syukur.[]

Previous Post
Next Post

Coffee addicted and mother of words

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)