Langsung ke konten utama

Catatan di RSZA; Ketika Kami Jadi Warga Rumah Sakit

MENJADI warga rumah sakit? Sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya, apalagi hingga berpuluh-puluh hari. Sekeren dan setinggi apapun tipe rumah sakit tersebut, tetap saja saya dan keluarga tidak pernah mengidam-idamkannya untuk menjadi salah satu pasiennya.

Kenyataannya hingga hari ini, Rabu, 28 Oktober 2015, sudah 53 hari kami menjadi warga rumah sakit. Enam hari di RS Graha Bunda Idi Rayek, sisanya di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Semua cerita ini berawal dari sakitnya Ibu; perempuan terkasih yang saya panggil Mak.

Hampir dua bulan berada di rumah sakit bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang kami (saya) rasakan namun sulit untuk diungkapkan, apalagi dituliskan. Sebagai orang yang beriman, kami tidak lupa kalau ini bagian dari Qada dan Qadar-nya Allah. Saya selalu menguatkan Mak agar ikhlas dan sabar (bukan berarti menyerah), karena sakit akan menggugurkan dosa-dosa kecil seseorang. Sedangkan saya sebagai anak, menjadikan kondisi ini sebagai ladang amal dan ladang jihad saya. Saya merawatnya dengan sepenuh hati. Yang terbayang di mata saya adalah betapa lelahnya Mak dulu saat merawat saya yang menderita asma ketika masih kecil. Inilah saatnya gantian.

Selama Mak sakit aktivitas saya juga berubah total. Hampir dua bulan ini saya tidak pernah mencium bau kantor (terimakasih saja rasanya tidak cukup untuk membayar pengertian teman-teman Sikureung Sipakat). Konon lagi untuk nongkrong bersama teman sambil menikmati kopi hitam yang nikmat. Saya sudah rindu bau anyir pantai Ulee Lheue sambil makan jagung bakar bersama karib saya Nita Liana. Rindu bermalas-malasan setelah pulang kerja di rumah sahabat saya Etty Livia Harahap. Saya juga sudah rindu kasur busuk saya di rumah, tempat saya membuang penat dan menyulam mimpi.

Aktivitas saya hanya berkutat di sekitar rumah sakit saja; mengantre di apotik untuk mengambil obat; kadang ke laboratorium untuk mengantar sampel darah Mak, mengantre di Bank Darah untuk mengantarkan sampel darah untuk keperluan crossmatch atau mengambil darah untuk transfusi, selebihnya memang lebih banyak di kamar menjaga Mak.

Banyak yang penasaran dan bertanya-tanya kenapa fokus saya tiba-tiba hanya terpusat pada Mak, Mak dan Mak. Kenapa sampai saya tidak bisa membagi sedikit waktupun untuk nyambi masuk kantor. Atau tetap bekerja sambil merawat Mak misalnya. Atau sekadar untuk santai sejenak di kantin rumah sakit seperti keluarga pasien lainnya. Menjelaskan ini memang tidak mudah. Dan tidak semua orang bisa memahami.

Kondisi Mak tidak memungkinkan saya untuk meninggalkannya lama-lama (tentang diagnosa penyakit Mak saya ceritakan lain waktu). Komplikasi penyakit membuat tubuhnya sangat lemah, yang paling kentara adalah sesak. Karena sesak ini pula Mak sempat mendapatkan perawatan khusus di Intensive Care Unit atau ICU. Paru kirinya yang tidak normal membuat Mak hanya bisa tidur terlentang, tidak bisa berbalik ke kiri ataupun ke kanan. Berbalik sedikit saja langsung batuk dan sesak berat. Selain itu, di rusuk kirinya juga dipasang selang Water Seal Drainase atau  WSD untuk menyedot cairan di paru. Otomatis ruang gerak Mak semakin terbatas.

Suhu tubuhnya juga tidak stabil, demamnya naik turun. Belum lagi reaksi obat yang membuatnya sepanjang hari dan malam mual muntah. Mual muntah ditambah sesak napas, ditambah nyeri punggung dan pinggang hebat sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana kondisinya. Kadang Mak hanya bisa terkulai di bahu saya karena tidak sanggup lagi menahan tubuhnya. Tenaganya terkuras habis untuk mengeluarkan isi perutnya yang tinggal cairan. Hingga hari ini, semua kegiatan Mak hanya berlangsung dari tempat tidur. Untuk mengurangi sakitnya yang kami lakukan adalah memijit dan mengipasinya sampai ia tertidur.

Tidur adalah sesuatu yang paling kami dambakan agar bisa dialami Mak. Kesempatan kami untuk beristirahat adalah ketika Mak tidur. Entah itu sekadar untuk menghirup udara segar sejenak ke luar ruangan, atau merebahkan badan untuk mengendurkan syaraf, atau untuk tidur sebentar. Tapi sayangnya Mak tidak pernah bisa tidur lama. Ini juga yang membuatnya semakin lelah.

Bukan hanya Mak yang lelah, kami anak-anaknya juga lelah. Lelah fisik yang kami rasakan tida seberapa dibandingkan lelah psikologis. Melihat mata Mak yang kadang-kadang redup karena hampir putus asa adalah siksaan berat bagi kami, khususnya saya. Adakalanya cerita yang kami sampaikan untuk menghibur Mak sama sekali tidak berguna. Saya hanya bisa menahan kesedihan itu di hati, kalau sudah tidak tahan lagi saya tinggal masuk ke kamar mandi dan menangis sepuasnya di sana.[]

*Ditulis di sela-sela gesa di  depan ruang ICU RSUZA


Komentar

  1. Ihan sayang, lama tak mendengar kabarmu dan postingan ini memberikan gambaran akan situasi yang sedang Ihan sekeluarga hadapi. Semoga Allah menambah kekuatan dan kesabaran bagi Emak, Ihan dan anggota keluarga lainnya dalam menghadapi cobaan ini, ya... Semoga Emak segera diberi kesembuhan. Aamiin. *gerimis baca postingan kamu, Ihan. Yang sabar yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Alaika :) apa kabar, sehat kan?

      Hapus
  2. Peluk ihan kuat-kuaaattt :'(
    Sabar kawan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan kuat kuat sangat, nggak bisa bernafas nanti hehehe

      Hapus
  3. Sejujurnya, saya tidak sanggup baca sampai habis. Seperti yang kita bicarakan di layanan chatting itu, saya paham apa yang Ihan rasakan. Saya hanya bisa membantu dengan doa, semoga diberikan kemudahan dalam segala urusan....

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…