Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Kantung Rahimku Berisi Tequila Ley

Apakah hidup hanya bermuara pada satu hal bernama pernikahan? Aku selalu tergelitik pada pertanyaan sederhana ini. Sebab kulihat, terutama perempuan akan merasa khawatir bila di usianya yang telah cukup untuk menikah tetapi belum menemukan pasangan yang cocok dan siap menikahi mereka. Aku perempuan, dan aku sangat memahami bahwa menjadi perempuan terkadang cukup kompleks. Awal mula kompleksitas itu muncul ketika pertama kali kudapati celana dalamku dipenuhi bercak merah yang mengerikan. Kengerian yang kemudian memunculkan sensasi lain; semacam perasaan lega bahwa aku telah benar-benar menjadi perempuan, sebentar lagi payudaraku yang awalnya hanya seperti duri pohon randu akan tumbuh besar, padat, kenyal dan menggemaskan, dan bersamaan itu muncul pula perasaan lain dalam diriku, mungkin sedikit rasa bangga akan sesuatu yang menonjol di dada yang tak lagi bidang. Menjadi perempuan berarti harus bersiap-siap untuk bermetamorfosis, bersiap-siap ketika tubuh mengirimkan sinyal ragawi,

Di Panca Inderaku, Wangi Tubuhmu Melekat

my beloved Z in frame Pagi ini, aku bangun dengan wajah kusam, mata bengkak dan sembab, bekas air mata semalam. Ada lelah di batinku yang membuat tubuhku terasa berat, membuatku enggan beranjak dari kasur yang ringkih. Hawa dingin menambah kesan beku di hatiku yang memang telah beku. Aku tak langsung teringat padamu, Cinta. Karena mengingatmu saat bangun tidur adalah ritual yang telah bertahun-tahun kulakukan, meski terkesan sepele namun aku mendapatkan energi dari ritual tersebut. Dan karena aku telah mengingatmu semalam suntuk, pagi ini aku ingin alpa sekali. Aku terngiang pada pertanyaan semalam, dari seorang Alvin yang memiliki wajah kuning khas Rusia. “Apakah kamu benar mencintai dia?” Tanyanya di ujung telepon. Sungguh, jika waktu tidak selarut semalam aku tidak ingin terjebak dalam diam panjang, yang membuatku tak mampu berkutik dan gugup meski kami sedang tidak berhadapan. Dan dengan diam itu lelaki keturunan rusia itu akan membuat kesimpulan yang jauh da

Takdir Kita *

aku menuliskan ini untukmu, seseorang yang telah melekat begitu kuat di hatiku, sehingga membuatku tidak rela bila ada seorangpun yang menyakiti hati dan perasaanmu, apalagi sampai mengobrak-abrik hidupmu, tulisan ini bukan obat, dan aku tidak pernah sembuh karenanya, dan aku tidak pernah berharap engkau akan sembuh dengan hanya membacanya. aku tidak tahu semalam engkau tidur pukul berapa, kalaupun tidur entah engkau dapat memejamkan hatimu yang sedang ditikam amarah. dan aku juga tidak dapat melihat entah seberapa banyak darah yang mengalir dari nganga lukamu yang disebabkan oleh jiwa-jiwa yang sakit itu. maaf, bila kau tidak berkenan dengan perkataanku, aku bukan bermaksud untuk memojokkan siapapun, tetapi kupikir aku adalah cermin yang tepat bila kau ingin melihat siapa dirimu sekarang. aku adalah seseorang dengan posisi terbalik dari hidupmu sekarang. apakah mudah menjadi aku? jawabannya tidak, karena mesti menggadaikan perasaan untuk keberlangsungan hidup untuk