Langsung ke konten utama

Takdir Kita *

aku menuliskan ini untukmu, seseorang yang telah melekat begitu kuat di hatiku, sehingga membuatku tidak rela bila ada seorangpun yang menyakiti hati dan perasaanmu, apalagi sampai mengobrak-abrik hidupmu, tulisan ini bukan obat, dan aku tidak pernah sembuh karenanya, dan aku tidak pernah berharap engkau akan sembuh dengan hanya membacanya.

aku tidak tahu semalam engkau tidur pukul berapa, kalaupun tidur entah engkau dapat memejamkan hatimu yang sedang ditikam amarah. dan aku juga tidak dapat melihat entah seberapa banyak darah yang mengalir dari nganga lukamu yang disebabkan oleh jiwa-jiwa yang sakit itu.

maaf, bila kau tidak berkenan dengan perkataanku, aku bukan bermaksud untuk memojokkan siapapun, tetapi kupikir aku adalah cermin yang tepat bila kau ingin melihat siapa dirimu sekarang. aku adalah seseorang dengan posisi terbalik dari hidupmu sekarang.

apakah mudah menjadi aku? jawabannya tidak, karena mesti menggadaikan perasaan untuk keberlangsungan hidup untuk jangka waktu yang tidak dapat kuprediksi. apakah gampang menjadi aku? juga tidak, sebab begitu banyak kenyataan yang dengan kesadaran dan kerelaan penuh harus kubungkus seolah-olah adalah mimpi yang akan hilang setelah pagi.

apakah aku ingin kembali ke diriku sebelum aku menjadi seperti ini? jawabannya iya, tetapi itu hanya kemustahilan sebab kita belum mempunyai mesin waktu yang bisa mengembalikan kita ke masa lalu. tetapi, apakah aku menyesal dengan semua ini? satu-satunya jawaban yang kupunya adalah TIDAK!

sebab, satu-satunya hal yang tidak pernah berani kuingkari adalah takdir. Takdir mengajarkanku untuk berani mencintai ikhlas. takdir membawaku pada kedewasaan berfikir dan sikap berani menerima kenyataan. takdir membawaku pada rasa percaya diri untuk tidak menyalahkan sesuatu. takdir mendidikku.

takdir mempertemukan kita, dan aku ingin belajar darai caramu menjalaninya, begitupun engkau, dan juga mereka.

aku memahami, tentang rasa sakit yang tak sanggup dijelaskan, tentang air mata yang tertahan di sudut bibir yang mengembangkan senyum, tentang jiwa yang telah remuk oleh perasaan yang dilumuti kecewa.

aku menyayangimu, dan biarkan engkau tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu.

*kutulis dengan hati dan perasaan yang dalam untuk seorang sahabat, kakak, yang hanya pernah kutemui sekali dalam hidupku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.