Langsung ke konten utama

Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri


 
ilustrasi @vemale.com
AKU duduk dan membuang pandang ke jalan raya. Menyaksikan lalu lalang kendaraan dari meja kerjaku. Matahari mulai bersujud. Pertanda sebentar lagi hari akan gelap. Sesekali kupandangi kotak masuk di email. Ada banyak pesan yang masuk dari sebuah nama. Sudah dua hari ini, setiap kali memandangi kotak masuk di email, hatiku selalu bergerimis. Nyeri. Perih. Sakit.

Seperti saat ini. Tanpa sadar mataku kembali menjadi basah saat melihat nama itu di deretan pesan masuk. Hatiku bergemuruh. Emosiku menjadi tak karuan. Perbincangan dua hari lalu dengan pemilik nama itu kembali terngiang. Seolah seperti hantu yang terus membayangi dan memunculkan wajahnya. Ya, percakapan melalui email. Percakapan yang bisu namun telah meruntuhkan perasaan dan harapanku.

Email-email itu dari Juan (nick name). Lelaki bergelar kekasih yang sudah lebih sepuluh tahun bersamaku. Waktu yang teramat lama untuk mendefinisikan sebuah perasaan, cinta dan juga kesetiaan. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Menyebut namanya lebih banyak daripada menyebut namaku sendiri. Aku tak pernah alpa mengingatnya, atau merinduinya. Bahkan hingga sepuluh tahun lebih kebersamaan kami, perasaanku padanya tak pernah berubah. Sering kukatakan padanya kalau aku selalu tergila-gila padanya.

Juan adalah lelaki yang luar biasa menurutku. Ia sangat istimewa. Kami berkenalan awal 2005 silam melalui produk teknologi bernama internet. Berawal dari keseringan chatting, kami akhirnya menjadi dekat. Di mataku yang saat itu baru beranjak 20-an, Juan merupakan sosok yang sangat dewasa. Ia sangat mengayomi, cerdas, penyayang, bijak. Juan begitu menginspirasi dan memotivasi. Usia kami yang terpaut hingga 18 tahun membuat Juan sangat memahamiku. Aku merasa nyaman saat 'bersamanya'.

Di balik sikapnya yang hangat, Juan sering bercerita tentang keluarganya. Tentang istrinya yang cantik, yang katanya campuran Pakistan dan Banten. Tentang anak-anaknya yang cerdas dan menggemaskan. Tentang kehidupannya yang mapan. Cerita-cerita yang menurutku sangat indah untuk dibayangkan. Kehidupan yang nyaris sempurna. Membuatku diam-diam memimpikan kehidupan, juga seorang suami seperti Juan, kelak.

Aku tak lagi sungkan menceritakan banyak hal pada Juan. Mencurahkan semua isi hatiku. Tentang kesibukanku di kampus, hari-hari selama di perantauan, dan banyak lagi. 

Perlahan tapi pasti benih-benih cinta tersemai di hati kami. Aku menjadi sering menunggu kehadiran Juan di chatt room. Juan juga tak pernah alpa mengirimkan pesan untukku jika ia sedang online. Sesekali Juan menghubungiku dari luar negeri, kami berbincang lama tentang apa saja. Juan yang tinggal berbeda kota denganku dan bekerja di luar negeri. Bukankah suatu 'pengorbanan' jika ia mau menghubungiku dari jarak yang sangat jauh?

Beberapa bulan kemudian, tepatnya di bulan Juni aku memberanikan diri untuk menyampaikan isi hatiku padanya. Aku telah jatuh cinta pada Juan. Pada seorang pria yang sudah tak sendiri lagi. Aku terpesona pada kedewasaannya.
Di luar perkiraan, Juan ternyata juga menaruh perasaan yang sama padaku. 

"Abang sudah lama punya perasaan padamu, tapi tidak abang sampaikan, karena kamu sering bercerita tentang seseorang," begitulah sepotong jawaban Juan yang membuatku lega setelah itu. 

Hatiku menjadi berbunga-bunga. Dunia berubah menjadi merah muda. Sajak-sajak tentang cinta selalu kukirimkan untuk Juan. Begitu sebaliknya. Hatiku mengembang setiap kali membaca surat cintanya yang tanpa basa-basi. Aku memaklumi, sebab ia berlatar belakang teknik. Surat-surat cinta yang ia kirimkan tak pernah mendayu-dayu. Ia selalu apa adanya.

Hatiku menjadi riuh sejak saat itu, riuh karena rindu. Riuh karena gelora perasaan. Mataku berbinar tiap kali memandang fotonya. Yang kurasakan bukan cuma itu. Karena pada saat yang bersamaan mendung juga kerap menghinggapiku. Wajahku terkadang dibalur muram manakala Juan tak pernah menghubungiku, terutama saat ia berada di Indonesia. Aku sadar ada hal-hal yang harus diprioritaskan Juan yaitu anak dan istrinya. Aku berusaha memaklumi semuanya dan aku selalu berusaha berbesar hati. Menghibur diriku sendiri dengan segala yang kubisa.

Aku juga tak bisa membendung air mata manakala rindu terasa begitu menusuk-nusuk sanubariku. Kadang aku merasa marah, kesal, tapi tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa-siapa. Bertahun-tahun, aku menahan gejolak hati tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun. Aku menyembunyikan hubunganku dengan Juan. Bahkan, seorang teman pernah menyangka aku lesbian karena ia tak pernah melihatku bersama pria.

Sebenarnya pernah beberapa kali aku dekat dengan pria lain, tentu saja tanpa sepengetahuan Juan. Dengan harapan bisa mencintai pria itu dan melupakan Juan yang telah beristri. Ingin mempunyai hubungan yang lazim. Tapi hubungan yang terjalin tak sampai seumur jagung. Aku sama sekali tidak menemukan keistimewaan pada mereka. Aku tidak bisa nyaman dengan pria lain.

Meski Juan kerap kali membuatku terluka karena statusnya itu, tapi tak bisa sedikitpun aku berpaling darinya. Aku tak bisa mengkhianati cinta dan perasaannya. Aku tak ingin ia menduakan istrinya meski secara perasaan ia telah melakukannya.Aku tak ingin ia melukai perasaan dan hati anak-anaknya. Aku tak pernah menaruh harapan apapun pada hubungan yang kami jalani. Aku hanya mencintainya dan ingin terus mencintainya. Aku tak ingin menjadi parasit yang menggerogoti Juan. Karena itulah aku tak pernah meminta Juan untuk menikahiku. Ya, aku tak pernah memintanya untuk itu.

Jauh di lubuk hati sebenarnya aku ingin hubungan ini usai. Terkadang aku terbayang wajah istri dan anak-anaknya. Kadang kala perasaan bersalah menghinggapiku. Tapi aku tidak menyesali cinta yang terjalin di antara kami. Aku mencintai dan menyayanginya sepenuh hatiku. Sungguh, aku tak pernah mengharapkan apapun yang dimiliki Juan selain cinta dan sayangnya untukku. Aku tak pernah mengharapkan uangnya yang banyak. Tak pernah meminta apapun padanya. Walau aku sering mengatakan ingin hidup dengannya, tapi aku tak pernah memintanya menikahiku. Karena aku tak ingin ada orang lain yang tersakiti. Cukup aku. Cukup aku saja.

Aku juga tahu hubungan Juan dan istrinya tidak begitu harmonis. Bahkan jauh sebelum Juan bertemu denganku. Tapi bukan itu yang membuatku terus bertahan untuknya. Aku selalu ingin ada di dekatnya walaupun bukan secara fisik, mendukungnya melewati hari-harinya yang berat, aku ingin menjadi sahabatnya. Susah untuk menjabarkan seperti apa rasa yang bercokol di dalam diri ini. Aku sering menangis diam-diam atas takdir yang kualami.

Belakangan hubungan Juan dan istrinya semakin memburuk. Itupun kuketahui dari cerita Juan yang sepotong-sepotong. Komunikasiku dengan Juan juga tidak intens, kami hanya berkomunikasi via email saja. Selama kami bersama bisa dihitung dengan jari berapa kali kami bertemu dan terakhir kali pada tahun lalu. Aku tak pernah mempermasalahkan hal ini. Aku sudah terbiasa dengan hubungan yang diam-diam ini dengan segala konsekuensinya. Aku telah terbiasa dengan sepi yang panjang, juga emosi yang tidak tersalurkan.

Belakangan Juan bercerita jika istrinya mulai meminta cerai. Mereka menjadi sering bertengkar.Tapi ia tidak mengabulkannya. Ia akan bertahan demi anak-anaknya, juga demi istrinya. Ya, Juan masih mencintai istrinya yang cantik. Ia sangat menyayangi anak-anaknya. Aku tahu itu. Rasa sayangnya padaku tak melebihi rasa sayangnya pada mereka. Itulah yang membuatnya selalu membatasi pertemuan atau komunikasi denganku. Aku tak pernah menyalahkannya atas itu. Walau Juan tak pernah mengatakan, tapi aku mengetahuinya.

Aku mendengar semua curahan hati Juan. Memberi saran dan menyemangatinya semampuku. Beban kerjanya yang berat sudah cukup membuatnya lelah, ditambah lagi dengan masalah keluarganya, aku berusaha untuk memahaminya. Aku bahkan sampai menitikkan air mata saat tahu istrinya menguggatnya cerai saat ia sedang di luar negeri. Mengapa wanita itu tega sekali. Aku terus berusaha membesarkan hati Juan. Aku memang mencintainya, dan sangat ingin memilikinya. Tapi mendengarkan ia dalam proses cerai sangat mengerikan buatku.

Persoalan Juan dan istrinya mencapai klimaksnya awal Januari 2016 lalu. Tiba-tiba di suatu malam Juan mengirimkanku sebuah foto, foto surat cerai yang dikirimkan istrinya. Tak bisa kulukiskan bagaimana perasaanku saat itu. Sedih. Aku sangat sedih dengan kenyataan itu. Juan juga sangat marah. Hingga lewat tengah malam aku menemaninya, menenangkan emosinya yang meletup-letup. Tak ada yang bisa kulakukan setelah itu. Selain berdoa untuk kebaikannya.

Setelah Juan dan istrinya bercerai entah mengapa aku mulai melihat hubungan kami dari sudut yang berbeda dari sebelumnya. Aku mulai menemukan secercah harapan. Aku mulai berangan-angan tentang pernikahan. Ya, aku menaruh harapan suatu saat nanti kami bisa menikah. Tanpa perlu melukai siapapun. Aku rasa itu wajar, karena status Juan kini sudah berbeda.

Hari-hari yang sibuk dan masalah yang datang silih berganti membuatku jarang berkomunikasi dengan Juan. Beberapa kali aku menghubunginya lewat email tapi responsnya tak seperti biasa. Akupun tak begitu menanggapi. Mungkin ia terlalu sibuk. Begitulah, aku selalu berpikir positif tentangnya.

Hingga beberapa hari yang lalu feeling-ku tidak enak. Aku terus memikirkannya. Dalam perjalanan ke luar kota aku seperti memutar ulang kembali kisah cinta kami yang satir. Awal perkenalan kami di dunia maya. Kerinduan-kerinduan kami yang menakjubkan. Pertengkaran yang berakhir dengan kemesraan. Dan juga kekakuannya yang sering mendapat protes dariku. Entah mengapa tiba-tiba aku berpikir kalau hubungan Juan dan istrinya membaik. Feeling-ku mengatakan mereka telah rujuk kembali.

Kubuang jauh-jauh perasaan itu. Malamnya aku mengirimkan sepotong pesan pendek untuknya; semua tentangmu adalah kerinduan bagiku, kekasihku sayang, Juan-ku tercinta.

Pesan untuk meneguhkan dan meyakinkan hatiku sendiri. Tapi hingga esok, perasaan tidak enak itu masih bercokol di pikiran. Sepanjang setengah hari itu aku terus memikirkannya. Siangnya kuputuskan untuk mengirimkan email pada Juan.

From: Me
To: Juan

aku bermimpi abang dan kakak sudah rujuk kembali.

From: Juan
To: Me

Memang dah rujuk

Mendapati balasan seperti itu dari Juan membuatku gemetar. Mataku berkaca-kaca. Hatiku terasa panas. Jantungku berdegub kencang sekali. Aku mengerjap-ngerjap agar air mataku tidak tumpah. Jangan sampai aku menangis, karena aku sedang bersama ibu.

Badanku terasa lemas. Aku bahkan tak sanggup mengetik, hanya menatap layar laptop dengan nanar. Aku marah, ya, marah, karena Juan telah mempermainkan aku. Aku merasa nasibku sangat malang. Seandainya ada dia di depanku, barangkali aku sudah berteriak. Sudah kupukul dia berkali-kali untuk melampiaskan kemarahanku.

Sejenak kemudian aku menjadi lebih tenang. Aku berfikir rasional, apa yang membuatku marah padanya. Bukankah ia tak pernah memberiku harapan. Ia tak pernah menjanjikan apapun. Dan, bukankah aku selalu mendoakan kebahagiaan untuknya? Lalu mengapa aku harus bersedih atau marah dengan membaiknya hubungan mereka? Bahkan ia tak pernah merenggut apapun dariku, sehingga aku tak perlu memintanya bertanggung jawab atas hubungan ini. Ya, aku tak perlu protes atau marah. 

From: Me
To: Juan

Oh ya? Kok nggak bilang-bilang?

From: Juan
To: Me

Tiba-tiba tapi masih ribut, anak-anak protes

From: Me
To: Juan

Kalau begitu hubungan kita tidak perlu dipertahankan
From: Juan
To: Me

Dulu juga ada istri kita masih berhubungan

From: Me
To: Juan

Iya, tapi tidak mungkin selamanya begini, aku juga ingin menikah seperti orang lain, punya keluarga, kalau abang punya istri bagaimana bisa menikah sama orang lain.

Sekarang jadi jelas mengapa abang tidak peduli padaku sejak Februari lalu.

From: Juan
To: Me

Abang cuma berdiam

From: Me
To: Juan

Abang selalu punya alasan untuk membuatku terluka

From: Juan
To: Me

Kok begitu?

From: Me
To: Juan

Apalagi yang bisa kukatakan?
Tragis sekali kisah cintaku, you make me cry

From: Juan
To: Me

Pusing masih ribut juga

From: Me
To: Juan

Aku senang abang dan kakak bisa rujuk dan melanjutkan hidup sebagai keluarga lagi, tapi jauh di lubuk hatiku, aku sangat menginginkanmu. Aku nggak pernah punya kesempatan untuk mengatakan semuanya pada abang, komunikasi kita cuma via email, tidak pernah bertemu, aku menderita dan tersiksa, kesepian, terluka, tapi tidak ada yang bisa kulakukan, kesal tapi nggak tau mau marah pada siapa, kalau memang kita nggak bisa hidup bersama kenapa nggak kita sudahi saja semuanya, mungkin abang memang tidak mengharapkanku, katakan saja, tidak apa-apa.

Tidak perlu memikirkan tentang sakit yang aku rasakan, aku sudah terbiasa dengan itu, bahkan sekarang saat aku sangat ingin menangis tapi tidak bisa kulakukan. Tidak ada yang bisa mengerti bagaimana sakit dan nyerinya hati ini.

From: Juan
To: Me

Abang ingin berdiam sejenak, kondisi kesehatan abang tidak baik

From: Me
To: Juan

Diamlah hingga berjenak-jenak, tak ada gunanya lagi membicarakan tentang kita.

Itulah akhir dari percakapan kami dua hari yang lalu. Aku sudah sangat lelah. Sudah tak sanggup lagi menyusun hati yang hancur berkeping-keping. Tak sanggup lagi membuang air mata. Tak sanggup lagi walau sekadar untuk menghibur diriku sendiri. Aku sudah memutuskan, aku tak ingin lagi menambah luka yang menganga. Jika cinta hanya membuatku sakit, bukankah sebaiknya aku tak memiliki cinta? Aku ingin seperti karang, kokoh dan teguh di dalam kesendiriannya. Yang tak pernah peduli pada rayuan ombak dan gelombang.

Hari telah sempurna gelap. Sama seperti dengan bergantinya waktu, aku ingin semua tentangnya berubah menjadi gelap. Hingga aku tak mampu lagi melihatnya, walau secuil bayang wajahnya.[]

Seperti diceritakan I kepada saya 

Komentar

  1. Kisah yang rumit. Mencintai tapi tidak bisa memiliki. Karakter tokohnya sangat kuat sampai terbawa emosi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di sini :-), jika mudah tentu bukan cinta namanya kan?

      Hapus
  2. Nice kak, tapi kurang dapat 'perselingkuhan perasaannya'.

    BalasHapus
  3. Nice kak, tapi kurang dapat 'perselingkuhan perasaannya'.

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. terimakasih Bang Momo sudah menyempatkan mampir dan membaca

      Hapus
  5. Wow... Ternyata api yg di"main"kan dari dulu belum juga padam hingga saat ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dear Anonim, seperti tajuk lagunya Sandhi Sandoro, tak pernah padam :-)

      Hapus
  6. Ga perlu menanti yg tdk pasti, apalagi jalannya berduri.
    Waktu terus berlari sambil menghadiusiaahi kita tambahan usiatambahan.
    Semoga Allah SWT berikan yg terbaik menurut Nya, bukan terbaik menurut ihan sunrise

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.