Langsung ke konten utama

Siapa yang Menanggung Dosa karena PLN?

ilustrasi @sindonews.com

SUDAH habis kata untuk melukiskan kedongkolan yang disebabkan oleh PLN. Listrik padam tiba-tiba saat sedang bekerja sudah menjadi santapan sehari-hari. Mau tidak mau, terima tidak terima, suka tidak suka harus ditelan. Sayangnya, dalam sehari bukan cuma sekali saja padamnya, tapi bisa dua hingga tingga kali. Durasinya juga bukan cuma satu dua jam, tapi sampai berjam-jam.

Sungguh! PLN sudah membuat para pelanggannya seperti narapidana yang disekap di penjara bawah tanah. Berkubang kegelapan. Tanpa cahaya. Tanpa harapan. Melalui hari-hari hanya untuk mengutuk dan memaki. Siapa yang akan menanggung dosa karena itu? Apakah Manajer PLN? Ataukah pemimpin daerah yang seolah ikut menikmati 'drama' kezaliman ini?

Saya adalah salah satu dari jutaan masyarakat Aceh yang menjadi korban kezaliman perusahaan negara itu. Jangan tanya berapa besar kerugian yang kami alami akibat efek domino dari sering padamnya listrik. 

Saat ini, saat sedang menuliskan ini kekesalan saya benar-benar sedang memuncak. Saat saya sedang berjibaku dengan tugas yang menumpuk listrik tiba-tiba padam. Padahal saya harus berburu waktu untuk menyiapkan laporan triwulanan yang harus diserahkan ke klien. Jika tidak, kami tidak bisa mengamprah tagihan yang menjadi sumber pemasukan perusahaan. 

Sebagai seseorang yang bekerja di perusahaan media, listrik menjadi kebutuhan yang sangat primer bagi saya dan kawan-kawan. Kalau listrik padam komputer juga ikut padam, okelah komputer bisa digantikan dengan laptop. Tapi bagaimana dengan internet yang bergantung pada speedy? Bisa sich pakai modem dari handphone, tapi jaringannya tidak bisa diandalkan.  

Apakah PLN memahami kesulitan-kesulitan yang kami alami seperti ini? Apakah PLN memahami kalau laporan tersebut tidak selesai tepat waktu, otomatis proses amprahannya jadi mundur. Dan secara otomatis pula pencairan dananya jadi mundur, itu artinya, jeri payah kami juga akan dibayar tidak tepat waktu oleh perusahaan. Apa PLN memahami itu? 

Oh PLN, please.... kami ini bukan buruh pemerintah yang bekerja atau tidak tetap mendapatkan gaji di akhir bulan. Yang (mungkin) tidak berpengaruh dengan padam atau tidaknya listrik. Pekerjaan kami sangat bergantung pada energi listrik. Tolong pahami.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n