Langsung ke konten utama

Yang Menghapus Airmataku


HAMPIR setahun ini kami sekeluarga harus menjalani hari-hari yang teramat sulit. Seperti badai! Kesulitan itu datang tanpa pertanda apapun. Lantas memporak-porandakan apa yang ada di sekitar kami. Menghancurkan tiang-tiang yang selama ini menjadi tempat kami berpegang dan bersandar. Menerbangkan atap-atap yang selama ini melindungi kami dari hujan dan terik.

Semuanya terjadi begitu cepat. Berawal dari sakitnya Ibu pada awal September tahun lalu. Waktu seolah berlari. Tanpa terasa waktu setahun hanya tersisa beberapa bulan lagi.

Badai juga ikut memadamkan lampu-lampu yang selama ini memberi terang untuk kami. Lalu apa yang terjadi? Ya, kami terseok-seok, kesulitan mencari jalan sekadar untuk melangkah. Konon lagi untuk berlari. Kami terpisah satu sama lainnya. Kami terpuruk!

Kami seperti berada di sebuah lorong yang gelap dan panjang. Pengap. Saat kami melewati lorong itu yang terdengar hanya suara kami sendiri. Suara yang menyiratkan kegelisahan dan ketakutan. Kami terus berjalan meski belum tahu akan ke mana lorong ini menyeret kami.

Saat kondisi demikian tak menentunya, aku membutuhkan orang yang mau mengulurkan tangannya dan membantuku untuk bangkit. Mereka yang menyodorkan sapu tangan agar aku bisa menyeka air mata. Atau seseorang yang mengirimkan sepotong senyum, dan menempelkannya di bibirku yang telah kaku. Atau seseorang yang mengirimkan untaian-untaian doa dan kata-kata yang bisa menjadi obor.

Dengan obor itu aku mampu melihat, mampu melangkah, mampu mengetahui arah yang akan kutuju. Dengannya aku takkan tersesat dan salah langkah. Dengannya aku mempunyai tujuan dan harapan. Dengannya aku mengumpulkan puing-puing harapan yang telah diempaskan badai.



Aku bersyukur, sebab Tuhan begitu pemurahnya.

Aku bersyukur, sebab Tuhan telah mengirimkan orang itu bertahun-tahun lamanya sebelum badai itu datang.

Dia yang dengan sukarela mengulurkan tangannya, menyodorkan selembar sapu tangan, mengirimkan berkeping-keping senyuman, dan ribuan doa dan kata-kata penyemangat.

Dia yang kata-katanya selalu menenangkan, selalu memahami, dan selalu berempati. Dia yang selalu mengingatkanku agar tak pernah mengeluh, atau mempertanyakan kehendak Tuhan atas semua ini.

Dia yang sudah bersedia mendengar curhatku, bahkan hingga larut malam, membantku mencari solusi dengan segala kemampuannya. Bahkan saat aku sedang tersedu-sedu karena kebingungan. Dia, dengan segala kerendahan hatinya tak pernah mengatakan "tak bisa membantu" meski sebenarnya aku tahu ia tak punya solusi atas masalah yang kami hadapi.

Dia yang kata-katanya seperti air, menenangkan amarah dan emosiku yang kadang hadir sesukanya. Ya, dengannya aku bisa berterus terang, dengannya aku tak perlu malu, dengannya aku berbagai kesedihan.

Aku bersyukur, sebab Tuhan begitu pemurahnya.
Dia telah mengirimkan orang yang entah siapa ke dalam hidupku. Yang tak pernah menjauh, meski orang yang kuharapkan mendekat menjauh dengan cara yang tak perlu dijelaskan. Ya, kini aku mulai paham apa artinya 'memiliki'.

note: untuk kakak yang tak pernah bosan mendengar curhatku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n