Langsung ke konten utama

7 Mei


Aku terjaga dari tidur. Ketika itu matahari sudah begitu liar hingga nekat menerobos masuk ke kamarku yang gelap. Aku menepiskan selimut. Menepiskan bantal. Lantas meraba-raba mencari telepon genggamku. Mataku mengerjap-ngerjap karena silau ketika benda itu kunyalakan. Kemudian menjadi terbelalak saat sebuah pesan muncul di layar datarnya.

Pesan itu dikirimkan seseorang. Meski namanya tidak tertera di phonebook, tapi aku tahu siapa pengirimnya. Aku hafal benar kode tiga angka pertamanya.

Aku membaca pesannya perlahan. Dengan hatiku. Dengan sisa kantuk yang masih ada namun tiba-tiba menghilang dalam hitungan detik. Aku membacanya berulang-ulang. Tanpa kusadari bibirku menarik segaris lengkung. Hatiku serasa mekar seperti adonan yang diberikan pengembang. Mataku berbinar-binar. Aku bisa merasakannya. "Terimakasih sudah membuatku istimewa, aku mencintaimu," balasku singkat kepadanya. Aku mengecup layar ponselku sebagai ganti mencium pipinya.

7 Mei adalah hari lahirku sesuai yang tertera di Kartu Keluarga dan ijazah. Sebenarnya aku lahir pada 5 November. Tapi itu tidaklah penting. Mau 7 Mei atau 5 November sama saja, tak ada yang istimewa. Tidak pernah ada tiup lilin dan potong kue sekalipun selama aku lahir ke dunia ini. Karena merayakan ulang tahun memang bukan kebiasaan yang dihidupkan di keluarga kami. Sudah ingat saja sudah alhamdulillah.

Seperti pagi kemarin, seseorang mengirimkanku ucapan selamat ulang tahun dengan kata-kata yang begitu manis. Beberapa teman dekat mengirimkan ucapan yang sama dengan doa-doa yang menyenangkan untuk dibaca.

Kebahagiaan yang mengingatkanku pada usia yang kembali bertambah. Jatah hidup yang terus berkurang. Aku menyadari kini aku bukanlah anak-anak yang suka mengejar gerobak es krim seperti dulu.

Sepotong pesan itu rasanya seperti oase. Sungguh, ketika kau sedang sulit bernapas karena berbagai himpitan persoalan, kata-kata yang menyejukkan adalah oase  yang menyembuhkan. Sekalipun tidak menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Tak ada make a wish kecuali  meminta kepada Allah agar badai ini segera berlalu.[]


Komentar

  1. Kakak. Tulisanmu selalu membuatku melumer, leleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Aini Aziz, melumerlah, kemudian kembali membeku ketika musim dingin tiba

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.