Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2009

Zal, Aku kangen Kamu

Zal, debar jantungku; aku kangen kamu, aku kangen semua kebersamaan kita, waktu-waktu yang penuh kalimat panjang, canda tawa, penuh tautan untuk selalu bersama, saling berbagi dan mempermainkan waktu sebagai tali yang memintali percakapan kita.

Aku kangen tawamu, jerit dan marah manjamu. kangen suaramu yang masih disisai kantuk, juga jeda diantara tawa kita yang acap pecah bersama.

Aku rindu pagi Sabtu di bulan April itu, Zal. Mungkin kita tak perlu mengulangya di pagi sabtu bulan April berikutnya. Sebab semua hari adalah sabtu, dan semua bulan adalah april. dan setiap waktu adalah kerinduan. kerinduan yang tak pernah pupus. kerinduan yang selalu hadirkan harapan. dan harapan yang selalu hijaukan cinta.

Aku kangen kamu, kangen tawamu, yang begitu menggeletarkanku, kangen semua kicaumu, yang meski hanya dua patah kata, tapi selalu memantik api semangat dalam jiwaku, mengubah hari-hariku. kangen dengan pertanyaan-pertanyaanmu, yang kadang tak sepenuhnya bisa kujawab.

Zal, aku kangen kam…

Proses Menuju Sukses*

Proses Menuju SuksesOleh; Ihan Nurdin

The world hates change, yet it is the only thing that has brought progress- Dunia benci perubahan, sayangnya hanya itu yang akan membawa kemajuan” – George Kettering-Pepatah di atas terlihat sederhana, tetapi untuk meresapi setiap katanya jelas membutuhkan kematangan akal dan pikiran yang tidak sederhana. Apalagi bila ingin mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, jelas membutuhkan latihan dan kerja keras. Barulah perubahan yang akan membawa pada kemajuan itu terwujud. Tulisan ini bukanlah hasil dari penelitian yang ilmiah, tetapi muncul murni karena adanya keresahan yang mendalam dalam benak diri penulis. Lama berkecimpung dalam masyarakat tampaknya dapat memberikan sedikit jawaban atas teka-teki mengapa mayoritas dari masyarakat kita susah menjadi maju atau berkembang. Perubahan itu sendiri sifatnya umum, tergantung dari perspektif apa kita melihat dan menelaahnya. Tetapi dalam konteks ini marilah kita menyamakan sudut p…

Meramal Kematian

Mati! Kata yang begitu mengerikan bagi seseorang seperti saya. Walaupun usia masih muda tetapi penjemputan oleh Izrail bisa terjadi kapan saja. Bisa siang, bisa malam, bisa pagi bisa sore, bisa di rumah, bisa di jalanan. Bisa ketika terang, bukan tak mungkin ketika dalam gelap gulita. Apalagi dengan bekal yang masih nol besar. Ketakutan itu sering sekali menghantui. Apalagi ketika sendirian. Membayangkan kubur yang gelap, binatang tanah yang liar, dan siksa kubur yang azab. Dan Malaikat-malaikat yang tak kenal ampun. Sungguh pembayangan yang memerindingkan bulu roma.Anehnya, aroma kematian itu kerap menghinggapi saya dalam seminggu terakhir ini. Mengaduk-ngaduk ingatan untuk terus mengingatnya, memikirkannya, hingga melahirkan ketakutan berulang-ulang. Semoga ini bukan pertanda bahwa kematian akan menemui saya dalam jarak yang begitu dekat. “Bekal saya masih nol besar ya Allah”.Tapi ini sungguh mengganggu. Bermula jumat siang (13/11) ketika seorang teman mengirimkan pesan singkat, men…

Obrolan Senja

“Mau ikut minum kopi bareng aku? Mungkin pada segelas kopi kita menemukan jawaban atas masalah kita”. Melalui short message service aku mengajakmu. Hanya sebuah basa-basi yang benar-benar basi. Sebab, kalaupun kamu mau sudah pasti itu mustahil kau penuhi untuk saat ini. Jarak yang beratus-ratus kilo meternya adalah jawaban mengapa aku cukup berbasa-basi. “Tos! Gw juga lagi ngopi kaleng. Sambil mikirin keruwetan ini hahahaha” jawabmu melalui media yang sama. Setelah saling beradu argumen tadi aku ingin sekali melihat wajahmu. Apakah kau benar-benar bisa tersenyum lega, atau senyum penuh kesatiran seperti yang kulakukan. Senyum untuk mengelabui orang-orang di sekitar kita. Senyum untuk menyembunyikan kelemahan kita. Senyum tegar seorang ayah dan suami. Atau senyum keikhlasan seorang kekasih. Tapi paling tidak seperti yang kukatakan padamu, i feel better today. “Keruwetan diciptakan Tuhan untuk dinikmati” jawabku lagi.

Lelaki Bukan Suamiku*

Lelaki Bukan SuamikuOleh; Ihan SunriseGundah ini membatu setelah bertahun-tahun waktu terlalui begitu saja. Aku yang sering terdiam menjemput gelisah setiap kali menjelang tidur. Bahkan mimpi yang datang sebagai bunga tidur tak ada satupun yang bisa membuatku senang. Hingga pagi kesubuhan membuatku terburu-buru untuk segera beranjak lalu segera ke luar untuk memandang matahari. Lelaki bukan suamiku menanti di sana. Dalam wujud yang hanya aku sendiri yang dapat memaknai.“Setiap kali kamu merinduiku, ke luarlah dan lihatlah matahari pagi. Aku akan ada di sana untukmu. Hanya matahari pagi, Sayang.” Ucapnya belasan tahun yang lalu. Hangat sentuhan tangannya di pipiku masih kurasai sampai hari ini. Mesra tatapannya masih bergelantung dalam pundak ingatku. Nafasnya yang harum masih kuhirup hingga detik ini.Mematung aku di bawah langit. Hangat merayap menjalari seluruh tubuhku. Kusapu lembut kehangatan itu pada wajahku yang kian kusut. Desir darah mengalir deras dalam nadiku. Ia hadir hingga…

Kabut di bulan November

Suatu malam diawal bulan November. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut kepadaku. Dan hujan benar-benar turun kala itu, tapi di matakuku. Dan kabut benar-benar ada, tapi di hatiku.
Aku terseok pada kebingungan yang menggulana. Nostalgia lama yang kembali melilit setengah jiwa yang telah lama hampa. Aku terdepak dari keputusan akut. Di antara rintik hujan, di antara asap kabut. Di mataku. Di hatiku. Di antara kehadirannya.
Aku tergeletak dalam palung labirin keruwetan keinginan. Rindu yang membabi buta, dan kebersalahan yang membentang dalam ingatan. Setengah hatiku tercabik, dan setengah yang lainnya bertumbuh. Sebagai syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan. Kepadaku; kamu dan anak-anak kita.
Aku gugu dalam diam. Pada malam diawal bulan November tahun ini. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut. Dan hujan benar-benar turun, untuk mensucikan ingata…

Aku masih mencintaimu

Lama aku tak mencandaimu, mungkin waktu selama ini lebih banyak milik hening daripada milik kita. Ritme yang tidak teratur sering kali pertemukan kita pada persimpangan yang tidak searah.Dan aku berusaha mengerti. Sebab waktu mungkin memang sedang menguji kita. Aku dan kamu. Kita berhenti untuk kekalahan, atau kita bertahan untuk kemenangan. Dan aku lebih menyukai yang ke dua. Sebab kau selalu ajarkan itu padaku melalui cintamu.
Siang ini, kau membuatku tercenung, diam dalam kebermainan rasa yang menyelubungi benak. Menggoda diri ini untuk terus bertanya pada diri. Mungkinkah sudah ada yang berkurang setelah faselita ini? Apa benar semuanya mulai terlihat tak sempurna? Ataukah memang apa yang ada di hati ini bukan lagi seperti faselita yang lalu.
Tapi sejak semalam aku mengingatmu, semalamnya lagi, semalamnya lagi, aku sering memimpikanmu, aku sering kesal karena setiap hari tidak bisa bilang rindu padamu. Aku sebal karena harus menunggu lama untuk bisa membelai wajahmu. Aku menemukan j…