Langsung ke konten utama

Proses Menuju Sukses*

Proses Menuju Sukses

Oleh; Ihan Nurdin

The world hates change, yet it is the only thing that has brought progress- Dunia benci perubahan, sayangnya hanya itu yang akan membawa kemajuan” – George Kettering-

Pepatah di atas terlihat sederhana, tetapi untuk meresapi setiap katanya jelas membutuhkan kematangan akal dan pikiran yang tidak sederhana. Apalagi bila ingin mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, jelas membutuhkan latihan dan kerja keras. Barulah perubahan yang akan membawa pada kemajuan itu terwujud.

Tulisan ini bukanlah hasil dari penelitian yang ilmiah, tetapi muncul murni karena adanya keresahan yang mendalam dalam benak diri penulis.

Lama berkecimpung dalam masyarakat tampaknya dapat memberikan sedikit jawaban atas teka-teki mengapa mayoritas dari masyarakat kita susah menjadi maju atau berkembang.

Perubahan itu sendiri sifatnya umum, tergantung dari perspektif apa kita melihat dan menelaahnya. Tetapi dalam konteks ini marilah kita menyamakan sudut pandang bahwa perubahan itu sendiri adalah kesuksesan. Yang dapat meningkatkan integritas dari setiap individu, dan dapat membawa para pelakunya pada enam aspek kehidupan yang ideal dan seimbang yaitu spiritual, mental, keluarga, sosial, fisik, dan kemapanan secara finansial.

Kita semua tentu sepakat bahwa untuk mencapai kesuksesan yang ideal mencakupi enam aspek tersebut tidaklah mudah. Tetapi bukan tidak mungkin, artinya bila sedikit saja kita mau keluar dari zona nyaman pasti kita dapat meraihnya. Hanya saja untuk dapat keluar dari zona nyaman tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana yang cukup seperti lingkungan dan informasi yang positif serta sikap antusiasme untuk bekerja keras dan bekerja pintar.

Kesuksesan milik semua orang, tetapi realitanya hanya sedikit orang yang mau memperjuangkannya. Ini tidak terlepas dari pemikiran bahwa untuk menjadi sukses hanyalah milik orang-orang mampu saja. Padahal untuk menjadi sukses tidak begitu rumit dan hanya dibutuhkan sedikit tenaga untuk mengeluarkan diri dari rasa kemalasan dan egoisme. Ada beberapa hal yang dirasa cukup mempengaruhi apakah seseorang bisa meraih keberhasilan ata tidak dalam hidupnya yaitu:

Impian. Bagi sebagian besar kita tentu masih merasa asing dengan kata-kata impian. Itu tidak seluruhnya salah sebab selama ini pembicaraan mengenai impian hanya terbatas pada tingkat Sekolah Dasar saja. Setelah dewasa kita bahkan menjadi lupa pada hal-hal besar yang ingin kita capai. Kita cenderung mengikuti kemauan lingkungan tempat di mana kita tumbuh dan berkembang.

Bagi mereka-mereka yang ingin terjadi perubahan berarti dalam hidupnya akan mustahil terjadi tanpa adanya impian. Impian adalah visi jangka panjang. Hal mendasar yang harus dipunyai oleh personal maupun lembaga tertentu yang ingin tetap terus bertahan di muka bumi ini.

Pikiran. Kedengarannya memang sederhana, tetapi percayalah segala sesuatu yang besar dimulai dari pikiran. Pikiran yang positif akan melahirkan tindakan yang positif, tindakan yang positif akan melahirkan kebiasan yang positif sehingga dengan sendirinya akan mengubah karakter diri seseorang. Nah, karakter positif inilah yang akan membawa kita pada perubahan sesuai dengan yang kita inginkan.

Kita akan sulit maju dan berkembang bila mempunyai pemikiran yang sempit seperti halnya kepesimisan yang bisa melanda siapa saja. Rasa putus asa yang tinggi ataupun munculnya rasa tidak percaya diri yang bisa menghambat proses bertumbuhnya diri seseorang.

Pikiran yang positif ini akan membuat kita terfokus pada pemecahan masalah setiap mengalami kendala tertentu dalam menjalankan aktivitas. Berbeda dengan orang-orang yang berfikiran negatif, mereka lebih terfokus pada masalah sehingga banyak hal-hal yang seharusnya bisa dicapai menjadi tidak mungkin.

Kepercayaan dan nilai; Keberagaman beliefe dan value yang dianut oleh masyarakat juga sangat menentukan apakah mereka bisa mencapai perubahan itu atau tidak. Sebagai contoh misalnya, ketika kita beranggapan bahwa dunia politik itu kejam dan licik maka jadi kejam dan liciklah politik itu sendiri. Sehingga akan sulit untuk mewujudkan iklim perpolitikan yang bersih.

Sama seperti halnya ketika kita beranggapan bahwa seseorang yang memiliki uang banyak akan menjadi sombong dan angkuh, maka kita akan takut untuk menjadi kaya. Kepercayaan dan nilai tersebut akan melekat di alam bawah sadar kita sehingga akan membentuk prilaku. Uniknya, manusia hidup dengan kepercayaan dan nilai yang berbeda pada setiap individu, oleh karena itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dalam hal memandang sesuatu. Kondisi ini membuat kita tidak bisa sembarangan dalam menghakimi seseorang.

Goals; setiap dari kita tentu sudah sangat familiar dengan kata ‘misi’. Misi selalu bersanding dengan ‘visi’. Artinya sebesar apapun visi yang kita rancang untuk hidup kita maupun untuk organisasi tertentu, akan menjadi tidak berarti bila tidak ada misi. Misi dan goal mempunya arti yang sama. Goal adalah target jangka pendek di mana dalam penentuan target tersebut ada tenggang waktu yang dibuat. Misalnya bila seseorang mempunyai visi menjadi seorang penulis terkenal, misinya adalah ia harus menghasilkan karya dalam jangka waktu tertentu.

Kegiatan harian; banyak orang yang menyepelekan hal yang satu ini, tetapi tanpa daily activity yang jelas sebesar apapun impian dan sebagus apapun goal yang sudah dirancang akan hancur berkeping-keping. Daily activity ini adalah proses latihan yang perlu dilakukan berulang-ulang secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Siapapun yang mempunyai impian besar harus bisa mengatur jam demi jam waktu yang mereka punyai setiap harinya. Sehingga jelas apa saja yang mereka lakukan untuk mencapai target yang sudah ditentukan.

Kegiatan harian ini merupakan hal-hal kecil hasil penjabaran dari goals yang telah dibuat. Namun dalam pelaksanaannya tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik, karena itu dibutuhkan impian yang besar dan kuat untuk menggerakannya. Kita tahu bahwa hanya kebiasaan-kebiasaan kecil yang berkelanjutan saja yang bisa membawa dampak besar bagi pelakukanya, siapapun anda.(*)


tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah Potret edisi 29, november 2009

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.