Langsung ke konten utama

Obrolan Senja



Teh serai @ilustrasi

“Mau ikut minum kopi bareng aku? Mungkin pada segelas kopi kita menemukan jawaban atas masalah kita”.
Melalui short message service aku mengajakmu. Hanya sebuah basa-basi yang benar-benar basi. Sebab, kalaupun kamu mau sudah pasti itu mustahil kau penuhi untuk saat ini. Jarak yang beratus-ratus kilo meternya adalah jawaban mengapa aku cukup berbasa-basi.
“Tos! Gw juga lagi ngopi kaleng. Sambil mikirin keruwetan ini hahahaha” jawabmu melalui media yang sama.
Setelah saling beradu argumen tadi aku ingin sekali melihat wajahmu. Apakah kau benar-benar bisa tersenyum lega, atau senyum penuh kesatiran seperti yang kulakukan. Senyum untuk mengelabui orang-orang di sekitar kita. Senyum untuk menyembunyikan kelemahan kita. Senyum tegar seorang ayah dan suami. Atau senyum keikhlasan seorang kekasih. Tapi paling tidak seperti yang kukatakan padamu, i feel better today.
“Keruwetan diciptakan Tuhan untuk dinikmati” jawabku lagi.

Aku sudah sampai di Kafe untuk minum kopi. Walaupun tujuanku bukanlah untuk minum kopi. Bersama seorang teman. Seorang pramusaji langsung menyodori daftar menu begitu kami menghenyakkan pantat. Sudah beberapa kali aku mengunjungi Kafe ini. Kadang dengan teman-teman namun tak jarang seorang diri. Karena itu aku tak canggung lagi.
Aku memesan beberapa jenis makanan. Kebetulan sejak siang belum makan, perut terasa lapar dan mata menjadi begitu liar menatap menu-menu. Keuangan juga sedang tidak buruk-buruknya, bolehlah menyenangkan diri sore-sore begini. Temanku memesan Nescafe dingin dan burger khas Kafe ini. Aku sendiri memesan nasi dengan ayam goreng, lauk Kangkung tumis dan goreng tempe mendoan. “Minumnya diganti dengan teh rempah saja.” Kataku. Pramusaji lelaki itu mengangguk sopan tanpa bicara.
“Sama kayak kopi untuk dinikmati” balasmu beberapa waktu kemudian.
“Yoha, sama seperti cinta!” balasku lagi. Masih melalui layanan short message service.
Pesanan teh rempahku datang. Sesuai namanya, teh dengan rasa kayu manis dan rempah-rempah begitu menggoda syaraf penciuman. Asapnya yang masih mengepul begitu menggoda untuk segera dicicipi. Ditambah lagi dengan batang serai sepanjang 10 cm yang berfungsi sebagai pengaduk. Tengahnya sengaja kubolongkan, dan batang serai itu berubah fungsi menjadi sedotan. Rasanya yang agak-agak pedas menjadi lebih sempurna. Lumayan untuk menghangatkan hati kita yang telah lama dingin hahahah.
“Apa bedanya cinta ama sayang?” tanyamu.
Aku menyeruput teh rempahku melalui batang serai sebelum membalas pesanmu. Tercenung aku sejenak. Cinta dan sayang? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Terkenang aku pada masa beberapa tahun silam. Pada masa awal-awal perkenalan kita. Jauh sekali aku melempar ingatan. Ketika itu keceriaan kerap menjadi tema setiap perbincangan kita. Tak ada kesatiran maupun kegelisahan. Sekalipun ketika itu aku mengenalmu sebagai Cerita Duka.
Ah! Tapi itu cerita beberapa tahun silam. Mungkin saat itu kita masih enggan membuka diri. Kita masih berfikir bahwa kita adalah pahlawan bagi orang-orang di sekitar kita. Maka hiduplah kita untuk ketegaran. Untuk harapan. Untuk kemenangan. Atau memang ketika itu kita masih hidup untuk cinta dan sayang. Dan kita berusaha tak mengerti apa itu kesatiran dan kesedihan. Atau memang ketika itu kita belum menemukan kenyamanan untuk saling bertukar cerita yang sebenarnya.
Aku lupa. Aku harus segera membalas pesanmu. Ya, cinta dan sayang! Sepertinya aku sudah mempunyai jawaban.
“Kalau cinta sudah pasti sayang, tapi sayang belum tentu cinta. Rasa sayang bisa muncul karena suatu kondisi tertentu. Tetapi cinta tidak peduli ruang dan waktu”. Jawabku.
Mungkin aku terlalu bijak untuk seorang dewasa bagimu. Tapi itulah jawaban yang kupunya saat itu. Setelah kurenung-renungkan. Setelah kupikir-pikirkan. Dari apa yang aku lihat, dengar dan rasakan.
Aku sendiri ingin mentertawai diriku terus menerus setelah kita berselisih paham tentang apa yang kita alami siang menjelang ashar tadi. Oh ya, aku juga mentertawaimu. Tidak, sebenarnya aku sudah merasa lucu dengan semua ini sejak percakapan kita pada malam-malam sebelumnya.
Mengapa tiba-tiba aku menjadi begitu bijaknya, memberikanmu jawaban-jawaban atas permasalahan yang sedang kau alami sejak bertahun-tahun yang lalu. dan sebaliknya, mengapa aku yang bisa bijak terhadapmu harus mengadukan pula berbagai persoalanku padamu. Dan kaupun tiba-tiba berubah bijak ketika menasehatiku. “Ini sebagai Kakak dan Adik” katamu malam itu.
Bukankah itu lucu. Kita mempunyai masalah yang sama, dengan waktu yang kian berlarut-larut. Lalu kita punya segudang solusi untuk mencarikan jalan keluar bagi yang lainnya. Tetapi mengapa kita tidak bisa mengobati diri sendiri? Ah, mengapa kita jadi saling unjuk kebijakan seperti ini?
“Sesama mati rasa kita harus saling berbagi” kataku siang tadi setelah kita berdebat cukup panjang.
“Tapi aku tidak mau mengikuti pikiranmu,” bantahmu.
Dan aku tidak sedang berusaha mempengaruhi siapapun. Jawabku dalam hati.
“Sip. Ngerti deh posisi gw sekarang kalau begitu.” Jawabmu, setelah aku menjelaskan tentang cinta dan sayang sesuai dengan definisi yang aku mengerti. Seorang adik yang berusaha mengerti kakaknya, dan seorang kakak yang berusaha memaklumi adiknya.
“Itu yang penting, kita tahu posisi kita supaya kita bisa berdamai dengan diri sendiri.” Aku menutup percakapan.
Entah apa yang kamu mengerti. Mungkin sama seperti rasa mengerti yang kumiliki.
“Karena aku mencintainya makanya aku mempertahankan semua ini. Untuk itulah aku selalu berusaha jujur pada diriku sendiri.” Jawabku diakhir perdebatan kita siang tadi.
Tetapi, paling tidak aku setuju dengan pendapatmu malam kemarin, untuk tidak main-main dengan cinta.[]

20:02 pm
12-11-09

Komentar

  1. Qe kapan traktir aku minum kopi?

    BalasHapus
  2. Seandainya aja penulis naskah sinetron indonesia mau sesekali mampir ke blog ihan, pasti akan ada peningkatan dalam soal dialog dan scene.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…