Langsung ke konten utama

Meramal Kematian

Mati! Kata yang begitu mengerikan bagi seseorang seperti saya. Walaupun usia masih muda tetapi penjemputan oleh Izrail bisa terjadi kapan saja. Bisa siang, bisa malam, bisa pagi bisa sore, bisa di rumah, bisa di jalanan. Bisa ketika terang, bukan tak mungkin ketika dalam gelap gulita. Apalagi dengan bekal yang masih nol besar. Ketakutan itu sering sekali menghantui. Apalagi ketika sendirian. Membayangkan kubur yang gelap, binatang tanah yang liar, dan siksa kubur yang azab. Dan Malaikat-malaikat yang tak kenal ampun. Sungguh pembayangan yang memerindingkan bulu roma.

Anehnya, aroma kematian itu kerap menghinggapi saya dalam seminggu terakhir ini. Mengaduk-ngaduk ingatan untuk terus mengingatnya, memikirkannya, hingga melahirkan ketakutan berulang-ulang. Semoga ini bukan pertanda bahwa kematian akan menemui saya dalam jarak yang begitu dekat. “Bekal saya masih nol besar ya Allah”.

Tapi ini sungguh mengganggu.

Bermula jumat siang (13/11) ketika seorang teman mengirimkan pesan singkat, mengabarkan kematian ayah seorang teman yang telah lama mengidap penyakit. Sejenak aku terpana, menatap layar kecil hand phone-ku. Baru beberapa hari yang lalu kami berkunjung ke rumah teman tersebut. Ah, betapa cepatnya waktu berproses.

Aku mengabaikan pesan tersebut, dan terus melanjutkan pekerjaan.. Mengecek barang-barang pesanan. Lalu mengirimkan email.

Tak lama berselang seorang teman dekat menelefon. Mengajak berkunjung ke rumah duka. “Tunggu lima belas menit lagi.” Kataku.

***

Malamnya suasana kematian semakin lengkap. Sosok ayah teman yang terbujur kaku hadir dalam mimpi. Tertidur dalam ranjang terakhirnya. Menampakkan ketirusan wajahnya dalam balutan kafan yang putih. Padahal dalam kehidupan nyata, saya bahkan tidak pernah melihatnya sekalipun.

Saya berdamai dengan diri sendiri. Tetap mengawali Sabtu dengan keceriaan seperti biasa. Melakukan rutinitas dengan penuh semangat. Mencoba melupakan segala hal menyangkut dengan kematian.

Menjelang pukul sepuluh pagi saya ke luar dari Tempat Biasa, ban sepeda motor saya mencium setapak demi setapak aspal hitam yang lembab. Terus melaju hingga berpuluh kilo meter jauhnya ke luar dari kota Banda Aceh. Di area persawahan Samahani, mendekati pasar Samahani yang kecil, sebuah gubug kecil sungguh menarik perhatian saya. Karena di gubug itu dijual ikan bakar dan ikan kayu.

Dari kejauhan aromanya telah mengusik indra penciuman saya. Menghadirkan rasa lapar yang begitu kuat. Ikan-ikan Tongkol dijerangkan di atas pemanggangan. Asapnya mengepul. Aromanya mengitari jagat sekitar. Membayangkannya saja sudah membuat air liur menetes.

Tetapi saya tidak berhenti di situ. Sebab tujuan saya memang bukan ke tempat itu. Melainkan ke desa Tumbo Baroe, Samahani.

Akhirnya saya sampai juga ke tempat tujuan. Tak ingin membuang waktu, sebab saya masih harus ke kecamatan Simpang Tiga. Begitu bertemu dengan orang yang saya inginkan, transaksi segera dimulai. Proses pembayaran terjadi begitu cepat. Dua puluh menit saya di situ. Setelah itu kembali ban sepeda motor saya bergumul dengan hitamnya aspal yang lembab. Sebab langit telah kirimkan rintik.

Tetapi ada yang aneh dengan suasana di sekitar gubug yang saya lewati tadi. Bukan karena aroma ikan bakarnya yang berubah. Bukan pula karena ikan-ikan kayu itu tergeletak di atas penjerangan. Berwarna putih. Putih! Entah mengapa tiba-tiba saya kembali teringat pada prosesi kematian. Mungkinkah ada orang tenggelam di irigasi di sepanjang jalan persawahan Samahani? Melihat begitu panjangannya antrian di sisi kiri dan kanan badan jalan.

Tetapi sepertinya bukan orang tenggelam. Sebab kerumunan orang-orang bukan di pinggir irigasi melainkan di ruas jalan. Ah, aku melihat polisi dari kejauhan. Serta merta hatiku menjadi lebih cepat berdetak. Apakah kemungkinan ada rajia besar-besaran? Bila benar, mungkin kali ini aku harus merelakan uang seratus atau dua ratus ribu melayang. Sebab aku belum mempunyai Surat Ijin Mengemudi atau SIM. Pengendara nekat!

Ugh! Hatiku semakin kacau, sebab jarak dengan polisi-polisi itu semakin berdekatan. Aku mengantri di antara pengendara-pengendara lainnya. Ban sepeda motorku lebih cocok dibilang merayap, dengan kecepatan tak melebihi kecepatan Siput berjalan.

Tapi, tampaknya bukan rajia. Tapi apa? Wajah orang-orang terlihat ketakutan dan pias. Mereka semua menoleh ke sebelah kanan badan jalan menuju Banda Aceh. Ada apakah gerangan?

Kembali kematian menjalari ingatan. Dan aku semakin yakin. Pasti telah terjadi sesuatu. Segera kubuang pandangan dibalik kerumunan orang-orang. Dan oh! Innalillah! Sesosok orang tergeletak di pinggir jalan. Ia tersungkur. Dengan helm tergeletak di sampingnya. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru, dan di kakinya berbalut sandal gunung. Entah merk apa. Pastilah ia seorang laki-laki pikirku. Aku mencari-cari kepalanya. Tapi tak kudapati. Mungkinkah kepalanya hancur? Dan yang bercecer di sampingnya adalah otak yang selama ini menempati cangkang kepalanya. Aku ngeri. Baru kali ini sejak tujuh tahun di kota ini aku menyaksikan kecelakaan di jalan raya. Dan lagi-lagi kematian begitu merajai.

***

Kematian milik siapa saja. Wajib hukumnya bagi yang hidup. Dan Tuhan selalu mengingatkan kita melalui apa saja. Melalui kejadian orang lain ataupun kejadian yang kita alami sendiri. Malam harinya, melalui sebuah jejaring social saya kembali mendapati kabar bahwa teman nenek saya siang tadi juga meninggal dunia. Ah…akhir pekan yang begitu mistis.

Dan sepertinya kemistisan itu masih berlangsung di awal pekan ini. Sebab pagi-pagi sekali sebelum terbangun sebuah sms masuk, juga mengabarkan berita kematian seseorang.

Dan siangnya, ketika saya hendak makan siang lagi-lagi berita kematian muncul melalui layanan short message service.

***

Begitulah. Segala sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya. Semua sudah digariskan oleh Allah di Lauh Mahfud sana. Bahkan untuk selembar daun yang jatuh dari pohon. Begitu juga dengan kematian.

Jika saja manusia sama seperti hewan yang dapat melihat kematian. Tentu dunia ini tidak akan riuh dan gegap gempita dengan berbagai kegemerlapan duniawi. Manusia akan seperti Gagak yang sebentar-sebentar berteriak “Kwak kwak kwak” karena bisa melihat kubue teuhah.

Dan, tentu saja rumah-rumah ibadah lebih ramai. Kekhusyukan di mana-mana.

Sayangnya, kematian tidak bisa diramal. Bila bisa tentu ayah teman saya itu akan mengatakan kepada anaknya untuk tidak perlu repot-repot mencarikan darah untuknya. “Karena sebentar lagi ayah akan pergi, Nak”. Atau pemuda yang meninggal di pinggir jalan Samahani itu, bila dia tahu Izrail menunggunya di pinggir jalan itu tentu pada hari itu dia tidak akan ke Banda Aceh.

Tetapi kematian tidak dapat diramal. Bila bisa, ingin sekali awal tahun 2008 lalu saya mengatakan “Ayah, sembuhlah, bila ayah sembuh maka ayah tidak perlu ke Meulaboh untuk berobat. Karena di Meulaboh kematian telah menanti. Ayah, teruslah hidup untuk kami, anak-anakmu.”

Tetapi kematian memang tidak dapat diramal. Bahkan ketika jenazah ayah datang saya masih bertanya-tanya “benarkah ayah sudah tiada?”

20:30 pm

On Monday

16 Nop 09

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.