Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Rumah September

Sering aku bertanya, apa yang diberikan September kepadaku? Nyatanya, ia selalu membawaku pada jalan pulang; ke hatimu!

Jika rasa ibarat belantara hutan hujan yang lembab dan basah, dan selalu menyesatkan. Maka September ibarat lentera yang berada di pucuk arah mata angin. Saat aku menoleh, ke sanalah pandanganku tertuju.

Bagai susunan tata surya yang begitu kompleks, September bagai purnama yang tak pernah alpa hadir. Cahaya terangnyalah yang membuatku paham, bahagiaku hanya ada di manik matamu. Di kilau retina matamu aku belajar untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara amat sederhana.

Bukankah bahagia tidak memerlukan syarat? Mencintaimu juga tidak memerlukan syarat, sebab kita tidak pernah menjanjikan upeti atau sesaji apa pun.

September selalu mengembalikan kita pada rindu yang bertumpuk-tumpuk. Di ujung senja, kita bercerita tentang hangatnya mesra yang tak pernah padam. Lentera kecil yang kita ciptakan bertahun-tahun silam, kau masih ingat warna cahayanya?

Merah, Sayang! Sebab…

Pengelana dan Perahu Kecil

Aku, pengelana yang selalu pulang ke rumah September.
Rumah hangat tak berdinding, tidak beratap, tidak berlantai, tidak bertiang, apalagi berpintu dan berjendela. Di sanalah aku mengurung seluruh hidupku, melarungkan kisah hidupku dalam aliran nafasku sendiri. Di rumah itu semua diksi berubah menjadi rasa, kata-kata menjadi tak berfungsi. Di rumah September aku memilih menjadi bungkam. Tempat aku ber-hibernasi.

Aku, perahu kecil yang ingin membuang jangkar ke inisial terakhir Alfabetis.
Akhir yang menjadi awal bagi sebuah harapan baru, mimpi-mimpi baru, keinginan-keinginan baru. Di inisial itu aku mengukir prasasti dengan tulangku sendiri. Menciptakan lautan dengan darahku sendiri. Gelombangnya adalah deru hasrat yang tak pernah padam. Lautan tempat karang-karang kokoh menancapkan akar-akarnya. Ke dalam diriku sendiri.

Aku, penikmat rindu dan rasa.
Oh, bahkan sehelai rumput yang tergolek masai menjadi begitu indahnya bagi seorang perindu
Konon lagi kesiur angin yang bermanja menggelitik de…

Kepada September Aku Pulang

September adalah 'rumah' kita Sayang. 
Sejauh apapun aku pergi dan berpetualang, ke hatimu jugalah aku kembali.  Hatimu adalah magnet yang akan menarik seluruh serpih besi yang menyelubungi perasaanku. Hatimu adalah umpan untuk menjinakkan keliaran-keliaran rinduku Hatimu adalah cangkang tempatku berlindung dari berbagai kepalsuan di luar sana Maka kepada September-lah aku pulang